My Ketos My Love

My Ketos My Love
Thirty



Lia mengelus perutnya dengan sayang, dia tidak percaya akan hamil di usia penikahn mereka yang baru menginjaksebesar biji jagung. Tadi di rumah sakit, Kelva langsung membawa Lia ke dokter kandungan dan melakukan USG. Masih terekam jelas di kepala Lia wajah Kelva yang bahagia melihat adanya tiga gumpalan dalam rahim Lia.


Keinginan mereka terkabulakan, Lia mengeluhkan kepada Dokter kenapa dia tidak mengalami morning sicknes.


“Nyonya tenang saja, itu hal wajar mungkin Nyonya akan merasakannya sebentar lagi” ucap sang Dokter.


“Ya ampun, Bunda nggak nyangka bakal dapet tiga langsung” ucap Mersa.


“Nggak sabar buat denger rumah ini penuh sama tangisan bayi” ucap Aisyah.


Keluarga Lia dan Keluarga Kelva edang berkumpul di rumah Kelva. Tentunya tanpa Cantika di sana karena mereka tak ingin Cantika memberi tahukan dimana Kelva tinggal.


“Jangan kecapekkan, kamu bawa tiga cucu Ayah” ucap Herman.


“Apa perlu Ayah cariin pembantu lagi?” tanya Hendra.


Oh sepertinya dua calon kakek ini akan bersikap posesif kepada calon cucu mereka.


“Nggak perlu Yah, pembantu yang sekarang udah cukup” ucap Lia.


“Ih berntar lagi aku jadi Tante dong” ucap Kesya.


“Boleh nggak aku bantu milih perlengkapan bayi nanti?” tanya Kesya semangat.


“Boleh kok” ucap Lia kepada adik iparnya itu.


“Naira tinggal disini aja gimana? Kan Naira udah pengalaman tuh sekalian ajarin Lia biar jadi Ibu yang baik nanti” ucap Luhan yah walaupun sebenarnya ada maksud lain.


“Ide bagus tuh, Naira nggak keberatankan?” tanya Mersa.


“Eh tapi-“


“Kami nggak bisa mantau Lia terus, jadi tante mohon ya” ucap Mersa. Naira mengangguk setuju, dia tidak enak menolak keinginan seorang Ibu.


“Sekalian ajak Naya ya Kak” ucap Lia.


“Eh Kelva jagain bener bener adek sama keponakn gue, gue berdoa moga ponakan gue nggak kayak bapaknya” ucap Luhan duduk dengan santai di sofa.


“Cih ya pasti mirip gue lah, itu kan bibit unggul gue makanya langsung jadi tiga” ucap Kelva.


“Oh iya, gimana itu si sepupu Cantika?” tanya Herman. Dia sempat murka saat mendengar Lia yang masuk rumah sakit gara gara Alena.


“Aku nggak tau mau ngapain dia lagi” keluh Kelva.


“Biar Ayah yang urus” ucap Herman.


“Bunda ikut, enak aja dia dorong anak Bunda dan hampir bikin cucu Bunda ilang juga” ucap Mersa menggebu gebu.


Lia menguap kecil melihat tingkah semangat sang Bunda. Kelva mendekatinya dan mengelus rambutnya.


“Ayo istirahat, aku anterin ke kamar” ucap Kelva.


“Nggak, nanti aja” ucap Lia.


“Sayang tidur ya, kasian Triplet nanti” ucap Kelva. Lia mengagguk dan mengulurkan tangannya meminta di gendong. Kelva menggendong Lia menuju kamar.


“Oi jangan bikin bayi lagi ya, tuh yang tiga aja belum brojol” teriak Luhan yang mendapat hadiah geplakan di kepalanya dari Mersa.


“Otaknya kotor terus” ucap Mersa gemas.


~


Lia terbangun di tengah malam saat merasakan tidak adanya Kelva di sampingnya. Ia bangkit dari tidurnya dan mencari keberadaan Kelva. Ia menyerngit saat lampu dapur menyala, biasanya lampu dapur akan mati.


“Mas?” panggil Lia saat melihat Kelva yang sedang makan semangkuk besar ice cream yang ada dalam kulkas.


“Loh sayang kok bangun? Tidur aja lagi” ucap Kelva.


“Kamu ngapain makan ice cream malam malam gini? Nanti sakit perut” ucap Lia duduk di samping Kelva.


“Pengen aja” ucap Kelva.


“Kayaknya yang bakal ngidam kamu deh” ucap Lia diiringin kekehan ringan.


“Kok gitu?” tanya Kelva.


“Contohnya sekarang, jarang loh Mas orang normal makan ice cream di jam segini” ucap Lia.


“Sayang bisa bikinin aku mie instan?” tanya Kelva. Lia tersenyum dan mengangguk.


“Mau rasa apa?” tanya Lia mendekati kompor.


“Rasa Soto ya pengen banget” ucap Kelva.


~


Naira menatap Lia yang sarapan dengan porsi yang tidak biasa pagi ini. Luhan yang ikut ngeri melihat Lia makan meneguk ludahnya. Kelva? Dia sedang sibuk memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. Hal itu terjadi setelah beberapa hari Lia di nyatakan positif hamil.


“Astaga, Triplet bener bener nyiksa” keluh Kelva duduk di samping Lia yang asik mengunyah nasi goreng di piring ketiganya.


“Oh kamu ngeluh iya? Dasar cowok bikinnya aja semangat giliran ngerasain efek sampingnya ngeluh” ucap Lia kesal, ia berjalan menuju kamar membawa piring yang masih berisi nasi goreng.


“Salah lagi” ucap Kelva menghela napasnya.


“Sana susul, nanti nggak dapet jatah baru tau rasa” ucap Luhan. Kelva segera menyusul Lia, meninggalkan Luhan bersama dengan Naira di dapur.


“Naya nggak di ajak?” tanya Luhan.


“Nanti bakal saya jemput Pak” ucap Naira.


“Kan udah aku bilang, kalo cuman berdua nggak usah formal gitu kamu itu pacar aku” ucap Luhan menatap Naira yang sedang mencuci piring. Ya keduanya resmi berpacaran dua hari lalu karena paksaan Luhan dan pria itu tidak menerima bantahan sama sekali.


“Aku rasa kita ini salah, kita nggak sepatutnya kayak  gini. Maksud aku kamu udah punya istri aku nggak mau nanti di bilang perebut suami orang” ucap Naira masih sibuk mencuci piring di washtafel dapur.


Grep


“Nggak, aku yang milih kamu. Aku bakal cerai sama istri aku, kamu nggak tau tentang yang sebenarnya” ucap Luhan memeluk Naira dari belakang.


“Tapi hubungan kita salah” lirih Naira.


“Udah, jangan di pikirin. Kita jemput Naya yuk kangen pengen ketemu calon anak” ucap Luhan melepas pelukannya.


“Awas boong”


Luhan menoleh ke arah pintu dapur dan melihat Lia yang berada dalam gendongan belakang Kelva.


“Iya, nanti kita beli semua yang kamu mau. Black card aku kangen di gesek sama mesin” ucap Kelva.


“Udah baikan?” tanya Luhan.


“Kelva bilang bakal beliin apa yang aku mau” ucap Lia senang.


“Mending beli baju Ibu hamil gih, perut kamu tu mulai keliatan buletnya” ucap Naira.


“Iya ya, kok cepet banget” ucap Lia menatap perutnya setelah turun dari gendongan Kelva.


“Ya cepet dong sayangku, kan isinya ada tiga” ucap Kelva gemas.


“Bucin...” dengus Luhan.


“Eh ngatain suami aku Bucin nggak sadar diri ya” ucap Lia sewot. Luhan angkat tangan tanda menyerah, mood Ibu hamil itu buruk dan Luhan yakin dia akan kalah nanti.


“Yaudah yuk sayang kita belanja, abis itu langsung ke kantor aku” ucap Kelva menggandeng tangan Lia.


“Mereka lucu ya. Kelva yang muntah muntah Lia yang banyak makan” ucap Naira.


~


“Istri bos ramah banget ya, nggak nyangka”


“Aku mikirnya istri bos itu sombong kayak di film film”


Tidak lama kemudian, Kelva dan Lia kembali lewat.


“Kelva...” panggil Alena. Tapi Kelva mengabaikan panggilan itu.


“Eh denger denger bos bakal ke Australi ya?”


“Iya katanya ada urusan penting”


~


“Ayolah Cantika, aku ikut ke Australi ya?” ucap Alena memohon kepada sepupunya itu yang sedang menyusun pakaian ke dalam koper.


“Ngapain ikut?” tanya Cantika.


“Kelva ke sana juga” ucap Alena dengan mata berbinar senang.


“Ya udah, sana siap siap kamu ikut tapi nggak satu pesawat. Kamu nyusul makek penerbang selanjutnya biar yang lain nggak curiga” ucap Cantika.


Alena sangat senang, walaupun dia menyusul tidak masalah yang penting dia akan mendekati Kelva selama di Australia.


~


Alena menghela napasnya saat sampai di Bandara Australia, ia sudah menaiki Taksi untuk menuju alamat yang sudah Cantika berikan. Di pertengahan jalan, Alena tanpa sengaja melihat Lia dengan seorang pria berambut pirang sedang berada dalam satu mobil tanpa atap jadi memudahan Alena memperhatikannya. Dan mereka terlihat mesra?, Alena menyeringai senang. Ia menyuruh supir untuk memelankan laju kendaraan dan memotret kebersamaan Lia dengan pria pirang tadi.


Luhan memijit pelipisnya lelah, sama dengannya Kelva yang menghela napas kasar. Kenapa gadis iblis itu bisa ada disini?.


“Maaf ya, Aku bawa sepupu aku sekalian” ucap Cantika dengan senyumannya.


“Ini acara keluarga, jadi orang luar itu di larang ikut campur” ucap Luhan.


“Alena kan calon istri Kelva, jadi dia termasuk keluarga juga dong” ucap Cantika.


Herman rasanya ingin mencekik menantunya itu, berani sekali terang terangan ingin merebut posisi putri kesayangannya.


“Astaga, kalau tidak hamil udah aku cakar tuh mukanya” ucap Roseta mengelus perut besarnya, wanita hamil itu sedang duduk santai di sofa.


“Nggak tau malu” ucap Kelva datar.


“Kamu kenapa sih? Itukan fakta, lagian Cewek yang kamu nikahin itu juga selingkuh dari kamu” ucap Alena menyerahkan ponselnya yang menampakkan hasil jepretan Alena tadi.


“Coba liat” ucap Roseta merebut ponsel Alena di tangan Kelva.


“Astaga, aku nggak percaya ini” ucap Roseta, Kelva menangkap kedipan mata dari Roseta dan segera paham.


“Hm Aku juga ngga percaya” ucap Kelva pura pura sedih.


“Pelan pelan” Alena menyeringai saat melihat Lia yang di tuntun berjalan oleh pemuda pirang yang Alena lihat tadi.


“Oh liat ini, dia bawa selingkuhannya ke sini. Berani banget eh cewek ganjen lo berani selingkuh dari Kelva cih” ucap Alena menunjuk nunjuk wajah Lia.


“Sayang aku nggak tau, kamu setega itu sama aku” ucap Kelva, ia mendekati Lia dan berkedip sebelah mata. Lia paham sekarang, ini pasti ulah Roseta yang ingin main drama sedikit.


“Yah karena udah ketahuan langsung aja, semuanya ini Luke selingkuhan aku” ucap Lia menggamit lengan Luke. Luke yang paham akan keadaan segera tersenyum, jadi ini gadis yang berusaha menghancurkan rumah tangga keponakan tersayangnya.


“Kelva kamu udah liatkan, mereka emang selingkuhan” ucap Alena.


“Alena ini-“


“Cantika diem” ucap Alena. Cantika mengigit bibir bawahnya, sial Alena menggali kuburannya sendiri.


“Dasar Cewek murahan”


PLAK


Pipi Alena memanas saat merasakan tamparan dari Penelope yang merupakan Nenek Lia.


“Berani bilang cucu saya murahan? Kamu lebih murahan. Luke udah dramanya, suruh keponakan kamu duduk dia lagi hamil muda” ucap Penelope.


“Akh Ibu tidak seru” ucap Luke menuntun Lia duduk.


“Yah nggak seru lagi deh” keluh Roseta. Kelva mendekati Lia dan memeluk bahunya.


“Perlu saya perjelas ya, dia itu paman Lia dan suami dari Roseta kamu yang bodoh nggak akan bisa paham” ucap Penelope.


“A-Apa?” Alena tidak percaya ini.


“Saya sudah muak dengan tingkah kamu” ucap Herman mendekati Alena, dia mencekik Alena dengan kemarahan yang memuncak. Tidak ada yang mencegahnya, mereka hanya menonton.


“Ayah, jangan cekik Alena” ucap Cantika berusaha melepas cekikkan Herman pada Alena yang mulai kesulitan bernapas.


BRUK


“Kalian berdua sama saja, membuat saya muak. Luhan cepat urus perceraian kamu sama dia. Keluarga kita nggak bisa nerima cewek yang haus harta sama belaian cowok” ucap Herman.


Cantika memucat, ia tidak tau dari mana Ayah mertuanya itu tau sifat aslinya. Yah dia memang menikah dengan Luhan karena melihat Luhan kaya dan berharap bisa menguras habis harta Luhan.Dulu saat Luhan mendekatinya sebenarnya dia enggan tapi saat tau Luhan anak orang Kaya dia segera besikap manis dan berpura pura.


“Aku tau semua sifat kamu waktu akad nikah selesai. Kamu kira kenapa aku malas nyentuh kamu? Itu karena aku tau kamu nggk perawan lagi.ada cowok yang jelasin semuanya ke aku dan ngaku kalo itu suami siri kamu. Awalnya aku nggak percaya tapi setelah aku selidiki ternyata benar” ucap Luhan mendekati Cantika dan mencengkram dagunya.


“Mas ma-maafin aku ja-jangan ceraiin aku” ucap Cantika.


“Telat, kita udah saling tanda tangan dan pulang dari sini kamu sah bukan istri aku” ucap Luhan menunjukkan berkas perceraian yang sudah ada tanda tangannya dan Cantika.


Cantika syok, dia tau kertas itu. Beberapa hari lalu Luhan meminta tanda tangannya dengan alasan untuk mengalihkan nama perusahaan atas nama Cantika. Cantika yang senang tentu saja tanpa pikir panjang menandatanganinya.


“Kelvaa tolong aku” teriak Alena saat tubuhn ya di seret oleh beberapa pria berpakaian serba hitam.


Mersa sebenarnya kasihan melihat dua perempuan itu, tapi ia abaikan karena terlanjur kecewa terlebih lagi pada Cantika. Padahal ia begitu percaya pada Cantika. Lia hanya menatap mereka.


“Mas aku mohon jangan ceraiin aku, aku janji bakal berubah” ucap Cantika memeluk kaki Luhan.


“Terlambat, aku udah dapet pengganti kamu” ucap Luhan.


Cantika menjerit saat ia di seret ke luar dari Mansion mewah itu.


“Hah selesai” gumam Luhan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


“Yang tadi bikin aku deg degan” ucap Roseta.


“Saking deg degan sampe nggak sadar ketuban aku udah pecah” ucap Roseta membuat perhatian semuanya ke arahnya.


“Astaga Roseta kenapa kamu santai banget?”


“Astaga Sayang ayo ke rumah sakit”


“Auntie tidak sakit?”


“Sial, cucuku akan lahir”


“Astaga keponakanku kenapa Ibumu terlalu santai”


Dan kehebohanpun terjadi karena Roseta yang santai santai saja padahal ketubannya sudah pecah.


TBC


Sebenarnya mau perpanjang masa Alena tapi yah mau gimana lagi Author nggak pinter bikin konflik panjang panjang. Jadi cerita bakal tamat secepatnya.