My Ketos My Love

My Ketos My Love
Sixteen



Lia menatap sekitarnya yang nampak indah, ia sedang duduk di sebuah ayunan yang terbuat dari akar pohon. Pakaiannya putih bersih, matanya menatap sekitar yang nampak sepi. Dimana semua orang? Itu lah yang ada


di pikiran Lia. Ia berjalan lurus, mencoba mencari keberadaan seseorang dan bertanya.


“Ayah? Bunda? Abang?!” Lia berusaha memanggil keluarganya. Dia bingung, ini dimana kenapa semuanya nampak sunyi.


Lia tersentak saat merasakan tetesan air membasahi wajahnya, ia mendongak melihat apakah hujan. Tapi, yang ia dapati hanya tetesan air yang terus membasahi pipinya di tempat yang sama.


“Lia...” Lia tersentak, itu suara Kelva. Tapi, dimana pemuda itu?.


“Kelva?  Kamu dimana?” Lia berusaha memanggil Kelva dan mencari sumber suara Kelva.


“Bangun Lia, Bangun” Lia menatap satu titik terang, ia melangkah ke arah titik terang tersebut yang semakin dekat menyilaukan mata.


Suara alat medis terdengar bersamaan dengan suara isak tangis dari Kelva yang menggenggam tangan Lia. wajahnya ia sejajarkan dengan wajah Lia. keadaan ruang rawat Lia sedang sepi, hanya terdapat Kelva yang menjaga Lia.


“Bangun Lia bangun” bisik Kelva bersamaan dengan air matanya yang menetes. Jemari Lia yang berada dalam genggaman Kelva bergerak membuat Kelva tersentak kaget. Ia menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Lia. Mata Lia perlahan terbuka, Kelva segera memencet tombol merah diatas kepala ranjang Lia agar Dokter datang,


“Kamu sadar Lia kamu sadar, Alhamdulillah” Kelva sangat bersyukur melihat Lia yang sudah bangun. Seorang Dokter yang menangani Lia bersama dengan perawat masuk dan segera mengecek keadaan Lia. Kelva langsung mengabari Herman, Mersa dan Luhan.


“Apa yang kamu rasain?” tanya sang Dokter bername tag Agung.


“Lemas...” ucap Lia.


“Itu hal wajar karena kamu baru bangun dari tidur panjang, perbanyak makan buah. Nanti Saya akan datang dan mengecek keadaan kamu lagi” ucap Dokter Agung yang perlahan meninggalkan ruang rawat Lia, sebelum keluar ia menoleh kebelakang dan mendapati Kelva yang membantu Lia bersandar di kepala ranjang. Ia tersenyum, pemuda itu tidak pernah absen menjenguk Lia bahkan beberapan dokter dan perawat hapal nama Kelva.


“Pelan-Pelan minumnya” ucap Kelva membantu Lia minum.


“Ayah sama Bunda mana?” tanya Lia dengan wajah pucat. Kelva menaruh gelas minum Lia di atas meja dan merapikan rambut gadisnya yang nampak berantakan.


“Mereka lagi di jalan, aku udah ngabarin mereka tentang kondisi kamu” ucap Kelva.


“Laper...” lirih Lia, Kelva tersenyum lembut.


“Bentar ya, kita nunggu Bunda kamu. Katanya dia bakal bawain makanan” ucap Kelva. Lia mengangguk, tubuhnya benar benar lemas entah sudah berapa lama ia tertidur.


Pintu kamar rawat Lia di buka dan menampakkan keluarga Lia yang masuk dengan terburu buru. Kelva mengabil alih bingkisan yang di bawa Mersa dan menaruhnya di meja.


“Alhamdulillah, kamu sadar sayang” Mersa tak bisa membendung air matanya, ia memeluk Lia bersamaan dengan Herman. Roseta menahan air matanya dalam pelukan Luke yang tersenyum haru. Alex dan Penelope mendekati Lia dan ikut memeluknya.


“Cucu Grandpa kuat” ucap Alex.


“Lia...” Luhan masuk ke kamar rawat Lia dengan nafas memburu, ia segera menuju rumah sakit saat mendapat kabar dari Kelva kalau Lia sudah bangun.


“Bang Hanhan” lirih Lia. Luhan memeluk Lia erat setelah melihat semua pelukan di tubuh Lia terlepas.


“Nggak boleh bobo lama lama lagi” bisik Luhan.


“Iya...” balas Lia membalas pelukan Luhan.


Mersa memotong Apel untuk semua yang ada di ruang rawat lia yang sedang duduk di sofa. Sedangkan Kelva menyuapi Lia bubur ayam yang di bawa oleh Mersa tadi. Dia dengan telaten menyuapi Lia tanpa menyadari pandangan keluarga Lia terhadapnya.


“Kelva, nih kasih Lia nanti” ucap Mersa memberikan Kelva sepiring kecil potongan Pir yang merupakan buah kesukaan Lia.


“Ah iya makasih tante” ucap Kelva menerima piring yang di berikan Mersa. Lalu Mersa meninggalkan keduanya.


“Satu suap lagi ayo abisin” ucap Kelva. Lia membuka mulutnya dan memakan suapan terakhir. Kelva membantu Lia minum, lalu ia menyuapi Lia sepotong pir.


“Udah, ngantuk” ucap Lia saat Kelva hendak memberinya potongan Pir ketiga. Kelva membantu Lia berbaring, ia memperbaiki posisi Lia agar nyaman.


“Usap...” ucap Lia meraih tangan Kelva dan mengarahkan ke kepalanya.


“Ugh manja banget sih” ucap Kelva mengusap kepala Lia. Lia tersenyum saat merasakan usapan Kelva pada kepalanya. Perlahan Lia jatuh tertidur.


“Dia ngerepotin kamu ya” ucap Mersa saat Kelva duduk di sofa samping Luhan.


“Nggak papa kok tante, Kelva malah seneng kalo bisa bantu Lia” ucap Kelva.


“Nih makan, lo belum makan dari kemaren” ucap Luhan memberikan kotak nasi.


“Thanks...” ucap Kelva.


“Nih juga, lo belum mandi dua hari. Untung gue udh izinin lo ke Wali kelas” ucap Luhan memberikan paperbag kepada Kelva.


“Mas, kita nemuin dokter dulu buat nanya masalah Lia” ucap Mersa yang di anggui oleh Herman. Kelva memakan makanannya dengan tenang, rasnya ia beitu senang akhirnya Lia bangun dari tidur panjangnya.


.


.


.


Suasana ruang rawat Lia sedang ramai. Mersa datang berkujung bersama dengan Bayu, begitu Juga Aisyah yang datang bersama dengan adiknya Kelva dan Suaminya. Mersa dan Herman juga ada, sedangkan Luke, Roseta,


Alex dan Penelope pamit pulang karena ingin mempersiapkan keperluan untuk besok berangkat kembali ke Australia.


“Nggak usah peluk peluk cewek gue” ucap Kelva menahan Siska yang hendak memeluk Lia.


“Bacot ya anda” sungut Siska.


“Pulang sana” usir Kelva.


“Lo aja yang pulang sana” balas Siska berusaha mendekati Lia yang tertawa melihat kelakuan keduanya.


“Kalian berisik” ucap Bayu yang berdiri di samping ranjang Lia sambil memberikan buah anggur untuk Lia yang di terima dengan senang oleh Lia.


“Heh jauh jauh dari cewek gue” ucap Kelva mendorong Bayu.


“Hah maaf nih jadi rame sama tingkah Kelva” ucap Hendra- Ayah Kelva, di pangkuannya terdapat adik Kelva yang sedang tertidur.


“Namanya juga anak muda” ucap Mersa.


“Oh ya, kondisi Lia kayak mana?” tanya Aisyah.


“Kami lagi nyari pendonor Sumsum tulang belakang yang cocok” ucap Mersa dengan senyum kecutnya. Aisyah merasa bersalah etelah menanyakan hal itu, ,mendadak tak ada obrolan antar orang tua.


“Jangan...” ucp Lia memeluk pinggan Kelva yang berdiri di sampingnya. Kelva rasanya berbunga bunga-


“Nanti nggak ada yang gue jadiin bahan siksaan lagi”


-Oke tidak jadi berbunga bunga. Kelva mencebikkan bibirnya, oh ayolah dia sudah berbunga bunga dan di jatuhkan begitu saja.


“Ululu ngambek nih” ucap Lia menggoda Kelva.


“Pffft gue dapet aib” ucap Bayu menggoyangkan ponselnya yang menampakkan sosok Kelva yang sedang cemberut.


“Ketua berandal tapi kayak bocah kalo udah sama Lia” ejek Siska.


“Bacot...” ucap Kelva menatap keduanya datar.


“Udah ah jangan ngambek lagi” ucap Lia.


“Iya iya, nggak ngambek kok” ucap Kelva.


“Oh iya, Reza mana? Biasanya sama kalian” ucap Lia.


“Oh Reza katanya dia lagi ada acara keluarga jadi nggak bisa dateng mungkin besok” ucap Bayu. Sedangkan Kelva mendengar nama Reza menjadi bergidik ngeri karena kembali mengingat ucap Reza beberapa hari lalu.


“Kamu kenapa?” tanya Lia melihat Kelva yang bergidik ngeri.


“Nggak papa kok” ucap Kelva, dia tidak mungkin membicarakan hal ini kepada Lia.


.


.


.


Luhan mengintip dari balik pohon besar di taman, di tangannya terdapat kotak kado berukuran kecil yng sudah di bungkus dengan kertas kado berwarna putih dan terdapat pita merah muda disana. Seorang gadis cantik yang sedang melukis menjadi perhatian Luhan beberapa hari ini. Gadis dengan surai sebahu yang sering melukis pada sore hari dan sudah menarik perhatian Luhan belakangan ini.


“Oke Han lo bisa, tarik nafas terus buang hah” Luhan memantapkan hatinya dan berjalan mendekati gadis yang sedang melukis itu bernama Cantika.


“Ekhm...” Luhan berdehem saat sudah tiba di samping Cantika, dia sudah berusaha mendekati Cantika beberapa hari lalu tapi rasanyaa tetap saja canggung.


“Luhan? Kok baru muncul? Biasanya kamu kesini tiap hari” ucap Cantika menghentikan aksi melukisnya.


“Oh itu, gue jagain adek gue di rumah sakit” ucap Luhan.


“Adik kamu sakit apa?” tanya Cantika.


“Em Leukimia...” ucap Luhan.


“Oh ya ampun” Cantika menepuk kursi di sebelahnya menyuruh Luhan duduk.


“Ayo coba cerita, aku penasaran sama adik kamu” ucap Cantika.


“Namanya Lia, kami kembar....” dan mengalirlah cerita Luhan tentang Lia kepada Cantika.


“Pasti berat ya” ucap Cantika.


“Yah gitu, oh iya gue ada ini buat lo” ucap Luhan menyerahkan kotak kado yang dia bawa tadi.


“Oh ini juga Lia nitip, katanya mau ketemu lain kali” ucap Luhan menyerahkan Paperbag.


“Makasih ya, jadi ngerepotin” ucap cantika mengecek isi Paperbag yang Lia titipkan.


“Ya ampun, ini kan alat lukis baru” ucap cantika kaget.


“Lo suka? Coba cek punya gue” ucap Luhan. Cantika membuka kotak pemberian Luhan yang berisi sebuah kalung dengan bandul hurf L yang tertimpa huruf C. Ada surat juga di dalamnya, Cantika membaca surat itu dengan teliti dan seksama.


“Luhan? Ini?” Cantika menatap Luhan tidak percaya.


“Jadi?...” tanya Luhan penuh harap.


“Yes...” ucap Cantika.


“Serius? Yes gue di terima” Luhan berjingkrk senang karena jawaban Cantika. Isi surat tadi adalah surat cinta yang di buat oleh Luhan.


“Aku pakein ya?” ucap Luhan mengambil kalung di tangan Cantika.


“Udah makek aku kamu nih” ucap Cantika.


“Ish, kan udah jadian masa masih manggil lo gue” ucap Luhan memasangkan kalung di leher Cantika.


.


.


.


“Bagaimana keadaanya?” seorang pria berusia dua puluh lima tahun bertanya pada seorang dokter.


“Cuci daranya sudah selesai”


“Tapi, dia tidak akan bertahan lebih lama lagi dengan satu ginjal” ucap Sang Dokter menjelaskan.


Pria tadi memasuki salah satu ruangan dan mendapati adiknya dengan wajah pucat sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.


“Abang, gue ada permintaan...”


“Bilang, bilang apa permintaan kamu”


“Abang harus setuju sama permintaan aku”


“Iya Reza...”


TBC


Maaf Typo