My Ketos My Love

My Ketos My Love
Fifteen



“Arghhh...” Kelva berteriak kesal membuat Bayu dan Sisika yang sedang bersamanya menjaga jarak seketika.


“Kenapa tuh anak?” tanya Bayu pada Siska.


“Lagi kesiksa kan Lia sama dia nggak bisa deketan” ucap Siska.


“Di landa rindu” jawab bayu menyeruput es jeruk yang ia beli di kantin.


“Nggak Lia nggak Kelva sama aja” dengus Siska.


“Yah namanya juga orang lagi kasmaran” ucap Bayu.


“Mau kemana lo?” tanya Bayu melihat Kelva yang hendak pergi.


“Ruang OSIS” jawab Kelva. Dia sudah tidak tahan, ia akan menemui Lia. Masa bodo dengan larangan dari Alex dan Luke. Saat sampai di depan ruang OSIS, Kelva di cegat oleh dua Bodyguard Alex.


“Minggir, gue mau ketemu Lia” ucap Kelva.


“Anda di larang masuk bocah” ucap salah satunya.


“Bacot” ucap Kelva menerobos masuk, bukan Lia yang ia dapati tapi Luke yang duduk sambil melipat tangannya di depan dada menatap Kelva dengan seringai.


“Nyari Lia? sayangnya dia lagi pergi” ucap Luke.


“Dimana Lia?” tanya Kelva.


“Lo nggak tau? Diakan bakal pindah sekolah” ucap Luke.


“Lo boong kan” ucap Kelva, oh ayolah jangan sampai Lia pindah sekolah.


“Lo nggak percaya?-“


“Honey, disini lo rupanya” Luke meneguk ludahnya, dia kenal suara ini dan ia yakin sebentar lagi nyawanya akan berakhir.


Kelva mentap bingung wanita cantik yang berwajah khas Bule dengan mata berwarna biru dan rambut pirang. Gadis itu berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Wanita dengan pakaian yang bermerk mahal itu berjalan menuju Luke dan mencengkram kerah kemeja Luke.


“Honey kok bisa disini?” tanya Luke dengan wajah pucat.


“Keponakan tercintaku ngelapor kalo pamannya gangguin dia sama pacaranya” ucap Roseta menatap tajam Luke.


Luke menatap Lia yang sudah berdiri di samping Kelva sambil bergelanyut manja di lngan pemuda itu. Lia memeletkan lidahnya ke arah Luke.


“Pulang” ucap Roseta menyeret Luke.


“Ah, Lia makasih ya sayang udah ngelapor sama tnte kalo Luke akal nanti bakal tante hukum dia” ucap Roseta denan senyum manis.


“Huh selesai juga akhirnya” Lia menjatuhkan dirinya di sofa dan menatap Kelva yang masih bingung.


“Dia tante aku, bisa di bilang dia tunangan paman Luke” ucap Lia.


“Kamu nggak jadi pindah sekolah?” tanya Kelva.


“Pindah? Siapa bilang?” tanya Lia.


“Paman kamu” ucap Kelva. Lia meraih ponselnya dengan datar dan menguhubungi seseorang. Kelva bingung karena Lia menggunakan bahasa Australia yang kurang ia mengerti.


“Sini, nggak kangen?” ucap Lia menepuk sofa disebelahnya. Kelva segera duduk di samping Lia, dan Lia langsung merebahkan kepalanya di bahu lebar Kelva.


“Aku capek banget” ucap Lia.


“Aku kangen banget” ucap Kelva menghirup aroma sampo Lia. hidungnya ia arahkan ke kepala Lia yang sedang bersandar di bahunya.


“Nanti jalan yuk” ucap Kelva.


“Boleh, langsung aja di rumah masih ada Grandpa takutnya nggak di bolehin pergi” ucap Lia.


“Nanti kamu pakek jaket aku aja, kalo makek seragam nanti kita di kira bolos” ucap Kelva.


“Terserah kamu aja, aku mau tidur bentar capek dari bandara” ucap Lia. Kelva mengusap kepala lia dengan lembut, ia tersentak kaget saat ada beberapa helai rambut Lia menyangkut di jarinya.


“Mulai rontok ya” ucap Lia dengan mata terpejam. Kelva diam, dia tidak tau hendak berkomentar seperti apa.


.


.


.


Siska sedang menemani Bayu latihan eskul basketnya, ia memperhatikan pemuda itu dengan seksama. Cara pemuda itu menangkap bola, mendribling bola dan mengoper bola. Siska tersentak saat merasakan sesuatu yang


dingin menyentuh pipi tirusnya. Ia menoleh dan mendapati Lia yang menyodorkan sebotol minuman rasa jeruk kearahnya.


“Makasih” ucap Siska.


“Nggak bosen sama hubungan nggak jelas?” tanya Lia duduk di samping Siska sambil memperhatikan Kelva yang sedng mendribling bola.


“Yah mau gimana lagi, kita cuman temen  nggak lebih” ucap Siska meminum minumannya.


“Yakin cuman temen? Gue liat kalian berdua udah kayak orang pacaran” ucap Lia.


“Perasaan lo aja kali” ucap Siska.


“Yah gimana ya lo kan udah suka lama sama dia kenaa nggak coba nembak aja duluan” ucap Lia.


Puk


“Au sakit woi” Lia meringis saat Siska malah menepuk kepalanya cukup kuat.


“Lo kira ini manga cewek yang nembak duluan” ucap Siska kesal.


“Ya siapa taukan bakal di terima kayak manga manga gitu” ucap Lia mengusap kepalanya.


“Kebanyakan baca manga lo” dengus Siska.


“Cih kayak lo nggak aja, oh iya liburan nanti kita ke gunung yok nginep di vila punya kakek” ucap Lia.


“Ginini holang kaya, Vila punya sendiri” ucap Siska.


“Mau ikut nggak?” tanya Lia.


“Ya pasti dong gratiskan” ucap Siska.


“Dasar” dengus Lia.


Kelva dan Bayu berjalan mendekati Lia dan Siska, Lia segera menyodorkan sebotol air mineral kepada Kelva dan mengambil handuk untuk mengelap keringat pemuda itu. Bayu mengelap keringatnya dan mengambil botol air mineral.


“Sini gue bantuin” ucap Siska mengambil alih handuk di tangan Bayu dan mengelap keringat pemuda itu.


“Oh iya Lia, gue nggak liat Luhan belakangan ini kemana dia?" tanya Bayu.


“Oh bang Hanhan lagi PDKT sama gebetannya di SMA Kusuma” ucap Lia.


“Kamu udah kenal sama gebetannya?” tanya Kelva.


“Belum, katanya nanti di bawa ke rumah kalo udah jadian” ucap Lia.


“LIAAAA!!!” Lia menoleh ke arah pintu masuk, disana Luhan berdiri dengan tatapan memelas layaknya anak kucing.


“Panjang umur” ucap Siska.


“Ada maunya nih” ucap Lia. luhan mendekati Lia dengan tatapan kucingnya.


“Apa?” tanya Lia.


“Bantuin Abang nyari hadiah” ucap Luhan.


“Gebetan abang, seminggu lagi dia ulang tahun” ucap Luhan.


“Nggak, Lia sama gue mau kencan” ucap Kelva.


“Udahlah, kita kencan sambil bantuin bang Hanhan nyari hadiah” ucap Lia.


“Ugh Lia emang terbaik” ucap Luhan memeluk Lia gemas. Kelva dengan tidak relanya mengiyakan ucapan Lia.


“Dasar, nggak dapet restu dari gue baru tau rasa lo” ucap Luhan.


“Ganti dulu sana” ucap Kelva memberikan ia jaket dan kaus berlengan pendek.


“Tunggu bentar ya” ucap Lia berjalan menuju kamar mandi.


“Kalian ikut nggak?” tanya Luhan kepada Siska dan Bayu.


“Nggak deh, gue di suruh langsung pulang sama Mama” ucap Siska.


“Yaudah ayok, gue anter pulang” ucap Bayu menggandeng tangan Siska.


“Mereka jadian” tanya Luhan.


“Nggak tau gue” jawab Kelva.


.


.


.


Kelva mengantar Lia pulang setelah menemani Luhan mencari hadiah. Cukup lama mereka mencari hadiah karena tidak bisa menemukan sesuatu yang pas.


“Masuk gih, langsung mandi udah asem bau kamu tuh” ucap Kelva mengacak rambut Lia gemas.


“Ish kamu tuh yang bau asem” ucap Lia.


“Dah masuk sana” ucap Kelva.


“makasih ya, pulangnya hati hati” ucap Lia. kelva tersenyum dan mengulurkan tangannya, Lia yang bingung menyambut uluran tangan Kelva. Kelva mengarahkan punggung tangannya tepat di depan bibir Lia.


“Dah calon istri” ucap Kelva meninggalkan Lia yang merona hebat.


“Dasar...” dengus Lia. saat memasuki rumahnya, Lia menatap keadaan rumahnya datar. Oh ayolah siapa yang tidak kesal saat baru masuk sudahm di sugukan pemandangan yang ekhm kurang mengenakan. Di depannya Roseta sedang mengunci pergerakan Luke, kondisi Luke cukup memprihatinkan dimana pria itu hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada.


“Ekhm, cari lah tempat tertutup kalian mengotori mata suciku” ucap Lia.


“Ah keponakan tersayangku sudah pulang sini sini tante mau ngasih sesuatu buat kamu” ucap Roseta melempar tubuh Luke begitu saja.


“Honey kamu kejam” Luke menatap Roseta dengan ekspresi sedihnya.


“Diam...” ucap Roseta tajam membuat Luke ciut seketika.


“Ayo sayang, tante punya oleh oleh buat kamu” ucap Roseta mengajak Lia menuju kara tamu tempat ia menginap.


“Tante ini...” Lia menatap Wig di tangannya.


“Maaf kalo kamu kesinggung tapi rambut kamu mulai tipis karena Kemoterapi” ucap Roseta.


“Makasih Tante” Lia memeluk Roseta dengan erat yang di balas oleh Roseta. Luke mengintip interaksi keduanya dari balik pintu, senyum kecil terbit di wajahnya.


“LIA...” Luke masuk saat mendengar teriakan Roseta. Matanya membola kaget saat melihat Lia yang tidak sadarkan diri di pelukan Roseta dengan darah yang mengalir dari hidung.


.


.


.


Kelva menggenggam jemari mungil Lia, gadis itu sudah dua hari tidak sadarkan diri. Saat mendengar kabar dari Luhan, Kelva segera menuju rumah sakit bersama Aisyah. Kata Dokter itu hanya faktor kelelahan.


“Nih makan” Luhan menyodorkan sekotak makanan kepada Kelva.


“Nanti aja” tolak Kelva.


“Lo jangan gini, Lia nggak suka kalau ada orang yang mogok makan karena dia” ucap Luhan. Kelva menoleh ke arah Lia sejenak lalu menerima kotak makan yang di sodorkan oleh Luhan.


Herman dan Mersa memasuki kamar rawat Lia dengan wajah sedih membuat Kelva menghentikan acara makannya. Ia memiliki firasat buruk.


“Ayah apa kata Dokter?” tanya Luhan.


“Leukimia Lia hampir masuk stadium akhir, jalan satu satunya biar dia sembuh cuman operasi sum sum tulang belakang” ucap Herman mendekati Lia yang masih asyik bergelung dengan mimpinya. Luhan mengepalkan tangannya, Kelva menghentikan makannya karena nafsunya seketika hilang.


“Ambil punya Luhan aja” ucap Luhan.


“Nggak nak, kamu tau Lia bakal marah sama kamu nanti” ucap Mersa.


“Jangan kasih tau-”


“Permisi...” ucapan Luhan terhenti karena ada yang memasuki kamar rawat Lia.


“Reza?”


“Em gue denger Lia sakit, gue mau jenguk” ucap Reza memberikan parsel buah pada Mersa.


.


.


.


Reza membawa parsel buah ke arah kamar rawat Lia, ia mendapat kabar dari Siska bahwa Lia sedang di rawat. Saat tangannya hendak menyentuh handle pintu, Reza mendengar suara perbincangan.


“Ayah apa kata Dokter?”


“Leukimia Lia hampir masuk stadium akhir, jalan satu satunya biar dia sembuh cuman operasi sum sum tulang belakang”


Reza tersentak, separah itu kah?.


“Ambil punya Luhan aja”


“Nggak nak, kamu tau Lia bakal marah sama kamu nanti”


“Jangan kasih tau-”


“Permisi...” Reza memasuki kamar rawat Lia seolah olah tidak mendengar apapun tadi. Ia menyerahkan parsel buah kepada Mersa, lalu menatap Lia yang belum sadarkan diri. Entah apa yang ia pikirkan, tapi gelagat Reza yang terus menerus memperhatikan Lia membuat Kelva cemburu.


Reza pamit setelah merasa cukup menjenguk Lia, Kelva mengikutinya dan mencegat Reza.


“Gue mau ngomong” ucap Kelva.


“Apa?” tanya Reza.


“Lo Suka Lia?” tanya Kelva.


“Lo bisa liat sendiri” ucap Reza santai. Reza mendekati Kelva dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang.


“Bye...” Reza meninggalkan Kelva yang masih mematung.


“Gue nggak suka Lia, gue sukanya Lo”


TBC


Maaf Typo