My Ketos My Love

My Ketos My Love
Twentyeight



Alena berjalan dengan riang memasuki halaman rumah kediaman orang tua Kelva. Dia sengaja datang pagi pagi agar bisa sarapan di sana. Dan dia berharap Kelva akan berangkat bersamanya hari ini.


Ting Tong


Alena menyerngit, apa di rumah itu tidak ada orang? Tapi ini masih sangat pagi untuk pergi keluar. Alena mencoba menekan kembali bel rumah dan tidak ada sahutan satupun. Ia berdecak kesal, apa mereka sengaja tidak ingin ada yang bertamu.


“Ish jangan di acakin”


“Gemesin banget sih”


Alena menoleh ke belakang dan mendapati Kelva dan Lia yang sepertinya baru pulang dari lari pagi. Hal itu terbukti dari pakaian yang keduanya kenakan. Celana training Couple berwarna hitam dengan garis merah di kedua sisi celana dan kaus putih polos.


“Kelva...” panggil Alena kesal. Kelva yang sibuk mengacak rambut Lia menoleh dan memutar bola matanya dengan malas.


“Sayang, ayo masuk” ucap Kelva mengabaikan Alena yang menatap keduanya kesal.


“Mandi bareng” bisik Lia saat Kelva menggendongnya ala koala.


“Jangan nyesel sama yang kamu bilang” ucap Kelva memasuki rumah dengan semangat meninggalkan Alena begitu saja.


“Astaga pengantin baru” ucap Aisyah mengelus dadanya saat Kelva lewat layaknya kilat di depannya.


“Tante, kok nggak bukain pintu? Akukan dari tdi mencet bel” ucap Alena dengan nada merajuk membuat Aisyah jengah.


“Saya sibuk beres beres” ucap Aisyah.


“Bu, Kesya berangkat dulu soalnya piket” ucap Kesya turun dari tangga. Lengkp dengan seragam sekolahnya.


“Nggak sarapan dulu?” tanya Aisyah.


“Nggak deh bu, nanti sarapan di sekolah aja” ucap Kesya mencium punggung tangan Aisyah dan keluar dari rumah.


“Tante, Alena bikinin sarapan ya” ucap Alena.


“Nggak perlu, menantu saya sudah masak subuh tadi” ucap Aisyah.


“Kalau gitu Alena manggil Kelva buat sarapan bareng” ucap Alena berjalan cepat menuju kamar Kelva. Aisyah membiarkannya, ia berharap Alena mendapatkan sesuatu yang membuatnya berhenti mengejar Kelva nanti.


Alena berjalan dengan riang menuju kamar Kelva, ia meraih gagang pintu dan membuka pintu tanpa permisi.


“Kel-...” ucapan Alena terhenti saat melihat adegan di depannya yang membuat hatinya remuk seketika. Didepannya, Kelva mencumbu Lia dengan mesra. Alena melangkah dan melayangkan tamparan di pipi Lia membuat Kelva murka.


“Wanita sialan, berani sekali kau menampar istriku” teriak Kelva mendorong Alena hingga terjerembab ke lantai.


“Sayang...” Kelva menangkup wajah Lia yang memerah di salah satu sisinya.


“Sssh perih” ringis Lia karena sudut bibirnya berdarah.


“Kelva, kamu tega sama aku” teriak Alena.


“Berisik...” bukan Kelva melainkan Lia yang membalas teriakan Alena.


“Nggak tau malu ya? Ngejer suami orang? Sadar dong mbaknya, apa mau di cap perebut suami orang?” ucap Lia menarik Alena keluar kamar.


“Sana pergi, nggak usah kesini lagi muak ngeliat muka lo” ucap Lia membanting pintu kamar dengan keras dan mengunci pintu tersebut.


Alena masih diam, dia tidak menyangka Lia akan sekasar itu kepadanya. Ia mengira Lia orang yang kalem dan mudah di tindas.


“Gimana? Udah liat mantu saya marah?” ucap Aisyah saat melihat Alena turun dari tangga.


“Tante hiks aku di seret sama dia” isak Alena.


“Oh...” respon Aisyah.


“Tante, dia itu gila” ucap Alena.


“Lebih baik kamu pergi, saya males di ganggu” ucap Aisyah membuka pintu rumah. Alena pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal. Aisyah menghela napasnya dan memilih kembali ke kamar untuk berisirahat.


~


“Dasar gila” dengus Lia mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


“Udah tenang aja” ucap Kelva walaupun dalam hatinya juga kesal karena jatah paginya gagal berlanjut.


“Tenang tenang, gimana mau tenang kalo suami aku di kejer kejer sama cewek genit. Atau kamu suka dia ngejer kamu iya?” Kelva bungkam. Lia sedang dalam mode mood buruk.


“Nggak saya-...”


“Udahlah males aku mau mandi” ucap Lia meraih handuk dan memasuki kamar mandi.


“Loh sayang jatah aku gimana?” tanya Kelva.


“Udah nggak mood, main sendiri sana” ucap Lia kesal.


Kelva meremas rambutnya kesal, sial dia gagal bermanja ria dengan sang istri. Dan itu semua gara gara Alena.


~


Kelva berusaha membujuk Lia yang sedari tadi mendiamkan karena prihal Alena. Padahal besok keduanya akan berangkat Honeymoon.


“Sayang jangan ngambek lagi dong” ucap Kelva memegang bahu Lia.


“Jangan sentuh sentuh” ucap Lia menepis tangan Kelva. Keduanya sedang berada di ruang tamu menemani Aisyah menonton.


“Sayang...” rengek Kelva sedakan Lia menatap datar suaminya itu. Aisyah menikmati aksi Lia yang mengabaikan Kelva.


Ting Tong


Aisyah segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang. Saat pintu terbuka, senyum Aisyah mengembang. Ternyata yang datang adalah Besannya.


“Ayo masuk” ucap Aisyah kepada Herman dan Mersa.


“Duh maaf ganggu waktu santai, abisnya udah kangen sama anak bungsu” ucap Mersa.


“Nggak papa kok, ayo langsung ke ruang tamu aja” ucap Aisyah.


Herman menajamkan penedengarannya saat mendengar suara putrinya seperti mengomel.


“Lia, orang tua kamu dateng” ucap aisyah. Lia yang sedang menjambak rambut Kelva segera menoleh.


“Bunda...” Lia memeluk Mersa.


“Lia juga kangen” ucap Lia.


“Ayah nggak di kangenin?” tanya Herman. Lia tersenyum dan melompat ke dalam pelukan sang Ayah.


“Ayah, Lia mau pulang sama Ayah” ucap Lia menelusupkan kepalanya di dada sang Ayah. Mersa dan Aisyah sudah menuju dapur untuk membuat minuman.


“Kenapa? Bocah tengik itu ngapain kamu?” tanya Herman menatap tajam Kelva yang duduk di sofa.


“Lia males, Kelva ada cewek lain” ucap Lia. Kelva meneguk ludahnya kasar saat melihat tatapan tajam Herman yang siap mengulitinya hidup hidup.


“Ceraikan anak saya” ucap Hrman.


“Eh? Nggak bisa gitu dong Ayah, ini cuman salahmpaham” ucap Kelva. Ia mempersilahkan Herman duduk dan mulai bercerita yang sebenarnya, sedangkan Lia memilih bermanja kepada ayahnya.


“Jadi intinya dia terobsesi sama kamu” ucap Herman mengelus kepala Lia. Aisyah dan Mersa yang juga sudah kembali dari membuat minum sudah duduk dengan nyaman di sofa.


“Dia itu sepupunya Cantika kan?” tanya Mersa.


“Iya Bunda” ucap Kelva.


“Sebaiknya kalian cepat pindah” ucap Herman.


“Iya benar itu demi keamanan kalian” ucap Mersa.


“Masalah itu rencananya Kelva bakal langsung ngajak Lia ke rumah yang baru pulang dari Honeymoon” ucap Kelva.


“Nggak mau pergi Honeymoon” lirih Lia.


“Loh kok gitu sayang?” tanya Kelva mendekati Lia yang sudah duduk di samping Herman.


“Nggak mau, di rumah aja” ucap Lia pelan.


“Kamu yakin?” tanya Kelva yang diangguki Lia. Kelva menghela napasnya, kalau Lia sudah begini hal satu satunya hanya menuruti kemauannya.


“Kenapa nggak mau? Kelva udah mesen tiketnya loh dan juga besok kalian berangkat” ucap Mersa.


“Perasaan Lia mendadak nggak enak” ucap Lia.


“Udah ngak papa Bunda, selagi Lia seneng” ucap Kelva.


“Gimana kalo kalian makek Vila punya Luke di deket pantai? Tempatnya enak kok nyaman juga” ucap Mersa.


~


Disinilah Kelva dan ia sekarang, berada di Vila pribadi milik Luke. Suasana Vila yang sepi membuat Kelva dan Lia bisa leluasa melakukan apapun.


“Kok lemes gitu? Katanya mau main air” ucap Kelva pada Lia yang duduk menonton TV. Lia menujuk ke arah Tv yang sedang menampilkan berita.


“Aku bersyukur banget kita nggak jadi berangkat” ucap Kelva setelah melihat berita tentang pesawat menuju jepang terjatuh ke tengah laut. Pesawat itu merupakan pesawat yang akan Kelva dan Lia tumpangi jika keduanya jadi pergi.


“Nggak jadi main air?” tanya Kelva menglus bahu Lia.


“Nggak, besok aja aku capek” ucap Lia menelusupkan wajahnya ke ketiak Kelva.


“Sayang, jangan gitu. Nanti aku khilaf loh” ucap Kelva saat Lia memaikan jari jari lentiknya di sekitar rahang Kelva.


“Kenapa? Nggak mau? Padahal aku mau ngasih” bisik Lia.


“Sayang nanti aku bikin kamu nggak bisa jalan” ucap Kelva dengan suara seraknya.


“Ngh~ Daddy, Baby kedinginan” bisik Lia.


“Sial, siap siap kamu nggak bisa jalan besok” ucap Kelva membanting tubuh Lia ke ranjang. Dan terjadilah olahraga di siang hari.


~


“Mas, boleh nanya?” tanya Cantika menatap Luhan yang sedang sibuk dengan beberapa berkas.


“Nanya apa?” tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya.


“Lia sama Kelva pergi kemana ya?” tanya Cantika. Luhan menghentikan pekerjaanya dan menatap Cantika.


“Kenaa kamu mau tau? Biarin mereka berduaan” ucap Luhan.


“Tapi Mas, Alena nyuruh aku nanyain ke kamu. Kamukan Kakaknya Lia pastinya tau” ucap Cantika.


“Kamu mau aja ngelakuin apa yang di suruh sama sepupu kamu itu” ucap Luhan.


“Mas, dia itu sepupu aku. Wajar dong aku bantu dia” ucap Cantika.


“Kamu sadar kan, dia itu berusaha ngerebut Kelva dari Lia” ucap Luhan.


“Aku sadar, aku tau Alena naksir Kelva. Lagiankan nggak papa, Alena sama Kelva temen dari kampus. Mungkin aja ada peluang Alena jadi istri Kelva” ucap Cantika santai.


“Kamu itu apa apaan? Maksud kamu, kamu nyuruh Kelva nikahin Alena terus ninggalin Lia gitu” ucap Luhan.


“Nggak, Alena sama Kelva bisa nikah. Alena bisa jadi istri kedua Kelva kan nggak masalah” ucap Cantika. Luhan tak habis pkir dengan jalan pikir istrinya itu.


“Cantika, kamu sadar nggak apa yang kamu bilang itu?” teriak Luhan.


“Aku sadar Mas, emang salah ya aku mau bantuin sepupu aku? Lagian nggak ada salahnyakan punya dua istri” ucap Cantika santai. Luhan diam sejenak dan tersenyum.


“Ya, kamu bener. Nggak ada salahnya punya dua istri” ucap Luhan.


“Nah gitu dong, kamu maukan bantuin aku buat bujuk Lia biar nyuruh Kelva nikah sama Alena” ucap Cantika.


“Aku nggak akan bantu kamu, tapi mungkin saran kamu buat punya dua istri itu boleh juga” ucap Luhan membuat Cantika tersentak kaget.


“Mas, jangan bilang kamu mau nikah lagi” ucap Cantika.


“Boleh juga, aku udah dapet calon sih” ucap luhan.


“Kamu tega mau duain aku?” teriak Cantika tak terima.


“Kamu aja nggak nerima di duain apalagi adik aku” ucap Luhan datar.


Cantika diam, dia tidak tau hendak membalas apa. Tujuannya tadi adalah membantu Alena untuk mendapatkan Kelva. Cantika menggeram, rencanya gagal. Luhan menatap Cantika datar, sikap Cantika berubah setelah keduanya menikah.


TBC