My Ketos My Love

My Ketos My Love
Thirteen



Author mau nyampein, kalau di bagian ini fokus ke sudut pandang Luhan. Tanggapan Luhan


tentang Lia bakal ada disini.


.


.


.


Namaku Luhan Adrian, aku memiliki kembaran bernama Lia Andristha. Kami hanya berjarak tujuh menit. Aku terlahir sehat tidak seperti Lia yang kondisi fisiknya lemah. Kami tumbuh bersama dalam lingkup yang sama. Tapi, aku menyadari satu hal yaitu Ayah dan Bunda lebih sayang kepada Lia dari pada aku.


Saat kami berusia tiga tahun, Ayah dan Bunda mulai mengabaikan keberadaanku. Mereka menghabiskan waktu bersama Lia, hal itu membuatku berpikir bahwa Lia adalah perebut segalanya. Aku membencinya, aku selau membentak dan memarahinya saat ia merengek kepadaku.


“Bang Hanhan hiks hiks...”


“Diam!!! Dasar cengeng”


Saat itu kami sedang bermain ke taman, Lia di jahili oleh anak lain karena dia masih berbicara cadel di usianya yang hendak masuk lima tahun. Aku diam seolah olah tak mengenalnya, dia menatapku dengan mata berkaca kaca.


“Hiks bang me-meleka jahat” adu Lia kepadaku.


“Rasain, kamu emang pantes dapet kayak gitu” ucapku ketus.


“Luhan kok kamu gitu, Liakan adikmu” ucap Bayu kala itu. Aku mendecih dan meninggalkan mereka di taman. Aku bisa mendengar Lia menangis dan memanggilku, aku juga mendengar suara terjatuh mungkin ia ingin mengejarku. Aku mengabaikannya dan terus berjalan menuju rumah. Aku tidak peduli kalau nanti Ayah dan Bunda memarahiku.


Aku sampai di rumah saat hari menjelang malam, Ayah dan Bunda sedang duduk menonton tv. Aku terus melangkah ke arah kamarku dan lia, kamar kami di satukan. Aku memutuskan untuk membersikan badan.  Aku mendengar suara gemuruh petir yang mulai muncul bersamaan dengan turunnya hujan.


Dari lantai bawah aku mendengar suara Bunda yang berteriak panik, sepertinya anak manja itu sudah sampai rumah. Aku turun kebawah untuk memastikan dan benar saja, di depan Pintu Lia berdiri dengan kedua lutut yang berdarah di tambah tubuhnya basah kuyup. Wajahnya juga terlihat pucat dan ketakutan. Matanya menatapku dengan tatapan sendu yang membuatku jijik. Bunda mendekatiku dengan raut wajah yang marah, sedangkan Ayah mengelap tubuh Lia yang basah dengan handuk.


“Kamu ninggalin adik kamu sendirian” ucap Bunda.


“Dia bukan adikku” jawabku.


“Luhan! Dia itu adik kamu, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu” bentak Bunda yang membuaktu


tersentak kaget.


“Kamu itu seharusnya jaga dia bukan malah jahat sama dia” ucap Bunda.


“Bunda hiks itu bukan salah bang Hanhan hiks, Lia yang mau pulang sendili” ucap Lia memeluk


kaki Bunda.


“Kamu, semua ini gara gara kamu. Kamu ngambil Bunda sama Ayah dari aku, aku nggak perlu pembelaan


kamu. Aku sengaja ninggalin kamu di sana dan berharap kamu nggak bakal balik ke rumah ini kalau perlu mati, seharusnya dari awal kamu nggak usah lahir. Dasar...”


Plak


Aku terdiam, kepalaku menoleh kekanan akibat tamparan dari Ayah. Pipi kiriku panas, tanpa sadar air mataku mengucur deras keluar. Kuberanikan untuk menoleh ke arah Ayah. Tubuhku terasa kaku, Ayah menatapku dengan tatapan yang membuatku takut.


“Ayah nggak pernah ngajarin kamu buat ngomong kayak gitu” ucap Ayah.


“Ngajarin? Ayah sama Bunda aja sibuk sama Lia, nganggep aku kayak nggak ada. Ayah seharusnya tau hiks aku juga mau kayak Lia dipeluk, di sayang, di perhatiin. Tapi hiks hiks...” Hari itu, aku menumpahkan keluh kesahku kepada mereka. Semua yang ku pendam ku keluarkan semuanya.


“Ayah jangan Malahin abang hiks ini salah Lia” ucap Lia. Aku mendekati Lia dan mendorongnya


hingga terjatuh.


“Aku benci kamu, aku harap kamu pergi dari hidup aku” ucapku berlari menuju kamar.


Sejak saat itu, sikap Ayah dan Bunda mulai baik padaku. Sedangkan Lia, dia meminta untuk tinggal bersama nenek di Australia sementara waktu. Aku bahagia? Tentu, katakanlah aku kakak yang jahat. Aku senang dia tinggal bersama nenek, itu artinya aku akan mendapat kasih sayang penuh dari Ayah dan Bunda.


Aku sendiri, tidak ada teman berbagi kamar. Ranjang Lia kosong begitu juga lemarinya. Saat itu aku merasakan suatu perasaan dimana rasanya semua kosong dan sepi. Biasanya di pagi hari aku akan mendengar suara cadel yang berisik. Sekarang tidak, kamar itu sunyi, hanya ada suara dentingan jarum jam.


Hingga akhirnya aku mulai memasuki masa SMP, perasaan itu masih sama. Kosong, Hampa, tidak berwarna semuanya kelabu. Aku melihat Bunda yang menyuruh beberapa orang mengeluarkan ranjang yang Lia pakai dulu. Ah ngomong ngomong soal Lia, aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi.


Bisa kulihat raut bahagia terpancar di wajah Bunda, kenapa? Ada apa? apa ada sesuatu yang bagus?. Kuikuti langkah kaki Bunda ke kamar  sebelah kamarku. Kamar itu di cat berwara Biru. Diatas kasur begitu banyak boneka yang di susun rapi. Semua perlengkapan di tata dengan rapi dan cantik.


“Bunda, emang siapa yang bakal nempatin kamar ini?” tanyaku penasaran,


“Kamu bakal tau nanti” ucap Bunda dengan senyum manisnya.


Ting Tong


Suara bel rumah terdengar membuat Bunda langsung berlari ke arah pintu, aku mengikutinya karena penasaran. Kami sampai di depan pintu mendapati Kakek, nenek, ada juga pamanku yang berusia dua tahun lebih tua dariku, dan masih ada satu orang lagi yang tersenyum manis. Dia?!’


“Lia ya ampun sayang, Bunda kangen banget” ucap Bunda sambil memeluk Lia. Aku diam mematung, dia kembali apa dia akan merebut semuanya dariku?. Mata kami saling bertemu, dia segera mengalihkan pandangannya dariku. Aku menyadari adanya tatapan ketakutan dari matanya.


“Ngapain lo balik lagi? Mau ngambil semuanya dari gue iya?” tanyaku sakartis saat kami hanya berdua di kamarnya. Ia terus menunduk tidak berani menjawab pertanyaanku, hal itu membuatku mendecih kesal.


“Ngapain sih pakek balik ke sini segala? Kenapa nggak mati aja sekalian” ucapku tajam. Dia semakin menunduk dan *** rok yang ia kenakan, rambut panjangnya jatuh ke bawah menutupi ekspresi wajahnya sekarang.


“Dasar Hama...” ucapku pergi meninggalkannya.


Aku berjalan menuju ruang tamu mendapati semuanya sedang berkumpul. Ayah dan Bunda terlihat sedih, Bunda menangis sedangkan Kakek dan Nenek hanya diam. Ada apa? apa


terjadi sesuatu?.


“Bunda? Kok nangis?” tanyaku mendekati Bunda. Semuanya diam, seakan menutupi sesuatu dariku.


“Han, main PS yuk” ajak paman kepadaku. Aku masih penasaran kenapa Bunda menangis tapi menolak permintaan paman rasanya tidak sopan.


Jam makan malam tiba, semuanya sudah berkumpul di meja makan siap untuk makan malam. Lia sudah duduk dengan tenang di sebelah Bunda, tubuhnya berbalut piyama bergambar panda. Aku memakan makan malamku dalam diam sambil memeperhatikan dia yang tidak berbicara sedikitpun.


“Luhan ajak Lia jalan jalan nanti” ucap Bunda padaku.


“Luhan ada PR Bun” ucapku mencoba membuat alasan. Oh ayolah aku enggan untuk mengajaknya jalan jalan.


“Jangan coba bohongin Bunda, besok minggu” Ucap Bunda menatapku.


“Luhan males Bun” ucapku.


“Luhan!!!”  Bunda baru saja hendak memarahiku tapi Lia menyentuh tangannya dan menggeleng. Bunda menghela nafas dan kembali duduk.


“Lima menit, kalo nggak siap juga nggak jadi pergi” ucapku datar. Dia nampak panik, dan segera masuk kedalam kamar mandi sambil membawa baju ganti.


Aku membawanya berkeliling dengan sepeda motor, selama perjalanan kami hanya diam. Dari kaca spion aku dapat melihatnya yang berbinar menatap suasana kota. Entah apa yang kupikirkan pada malam itu, hati ku mengatakan untuk tidak menjauhinya.


Beberapa hari berlalu, Kakek, Nenek dan Paman sudah kembali ke Australia. Lia mulai sekarang kembali tinggal di rumah ini dan itu artinya aku akan kembali bertemu dengannya setiap hari. Dan yang lebih membuatku kesal adalah dia dimasukkan  satu sekolah denganku.


“Luhan, hari ini Lia berangkat sama kamu. Ayah ada meeting jadi harus cepet” ucap Ayah. Aku hendak menolak tapi kuurungkan saat melihat tatapan menusuk dari ayah. Pasrah, hanya itu yang bisa kulakukan.


“Turun disini” ucapku datar saat kami berjarak satu kilometer dari sekolah.


“Turun!” ucapku, dia segera turun. Aku meninggalkannya begitu saja, mengabaikan bahwa jarak kesekolah sekitar lima belas menit kalau dia berjalan sedangkan bel berbunyi lima menit lagi. Aku terus melaju tanpa menoleh kebelakang.


.


.


.


Aku duduk di kelas yang sepi karena jam istirahat, sedari tadi aku terus memperhatikan pagar untuk memastikan Lia sudah sampai di sekolah. Tapi hasilnya nihil, sedari bel berbunyi hingga bel istirahat aku tidak melihatnya memasuki gerbang ataupun berada pada barisan orang orang terlambat. Melangkah menuju kelasnya, karena kelas kami berbeda. Aku bertanya pada teman sekelasnya tapi jawaban mereka membuatku bungkam.


“Eh? Lia? Dari tadi dia belum dateng, absennya aja alpa”


Mungkin dia memilih pulang karena berpikir kalau dia sudah pasti telat. aku mengedikkan bahu acuh, bairkan saja toh paling dia sedang tertidur di kamarnya saat ini. Tapi, jauh dilubuk hatiku aku merasa khawatir.


Hingga waktu pulang sekolah, aku pulang dan mendapati kamarnya kosong. Aku bertanya pada Bunda dan Bunda berkata kalau Lia belum pulang sedari tadi. Seketika suasana menjadi panik, Bunda mendengar penjelasanku dan dia kecewa. Bunda segera menelpon Ayah dan mengabari bahwa Lia hilang.


Segera saja kutelusuri jalan yang kami lalui tadi berharap menemukannya sedang duduk di pinggir jalan menungguku. Sial, apa yang kupikirkan dia baru disini dan pasti belum hapal jalan sekitar. Aku mencoba ertanya pada setiap warga sekitar berharap menemukan petunjuk keberadaan Lia.


“Nak, kamu mencari seorang gadis?” tanya seorang penjual gorengan disana saat aku sedang bertanya pada pembelinya.


“Iya bu, apa ibu meihatnya?” tanyaku.


“Tadi saat tengah hari dia kemari dan membeli beberapa gorenganku”


“Terus sekarang dia dimana?” tanyku tidak sabaran.


“Dia pergi, tapi saat di belokkan sana aku melihat ada mobil hitam berhenti dan membawanya


pergi”


Aku panik, apa mungkin dia di culik?. Sial, kalau begini bagaimana aku mencarinya. Aku menghubungi salah satu temanku yang dapat melacak sinyal ponsel umtuk memintanya melacak Lia. Aku juga meminta penjual gorengan tadi memberi tahukan ciri ciri mobil yang ia lihat. Sekitar setengah jama aku menunggu kabar dari temanku.


“Sinyalnya ada di deket daerah gunung, lo harus cepet soalnya sinyal disana susah buat di lacak” ucap temanku. Aku segera melajukan motorku enuju tempat yag dimaksud, untung saja tidak ada razia kalau ada mugkin saja aku sudah di tangkap karena membawa motor padahal masih di bawah umur.


Aku terus mencari hingga akhirnya aku menemukan sebuah pondok yang berada di tengah rimbunnya hutan. Si sebelah pondok itu terparkir mobil hitam yang mirip dengan ciri ciri yang di beritahukan oleh penjual gorengn tadi. Aku mendengar suara gelak tawa dari dalam, mencoba mengintip dari celah jendela. Mataku terbelalak, tangaku mengepal segera saja ku dobrak pintu itu.


“Dasar B*ngs*t” teriakku\, aku marah mereka memperlakukan Lia dengan tidak senonoh. Ada tiga pria berbadan besar disana yang sedang mengelilingi Lia yang terikat di atas ranjang. Sial\, aku tida bisa enjelaskan keadaannya sekarang. Tatapan kosong dengan tubuh yang polos. Darahku mendidih\, berani sekali mereka melakukan hal bejat itu kepadanya.


“Hei bocah, kenapa lo ada disini mau ikut gabung?” ucap salah satu dari mereka diiringi gelak tawa kedua temannya.


Kesabaranku habis, aku hajar mereka satu persatu. Hei jangan kira aku tidak berani pada mereka. Aku sudah memegang sabuk tertinggi dalam taekwondo. Ku hajar mereka satu persatu tanpa ampun. Ketiganya terkapar dengan darah yang bercucuran. Aku mendekati Lia yang masih menatap kosong. Hatiku terasa di iris saat melihat kondisinya ditambah tatapan kosong itu. Aku memelukknya dan menangis, aku gagal sebagai Kakak.


"Maaf..."


.


.


.


Bunda menangis keras dalam dekapan ayah, kami sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kondisi Lia. Ketiga penjahat tadi sudah di bawa ke kantor polisi. Aku menunduk, kejadian saat aku membentak dan berkata kasar pada Lia terus terngiang di kepalaku. Andai saja aku tidak meninggalkannya mungkin dia akan baik baik saja.


“Pukul Luhan yah pukul” ucapku bersujud didepan Ayah dan Bunda.


“Luhan salah, nggak seharusnya Luhan ninggalin Lia sendirian hiks Luhan abang yang jahat hiks” aku memukul kepalaku. Aku benar benar merasa berslah. Bukan sebuah pukulan yang kudapat tapi sebuah pelukan hangat dari Ayah dan Bunda.


“Udah nak udah, kita mulai semuanya dari awal lagi” ucap Bunda.


“Kita anggap yang lalu nggak pernah terjadi” ucap Ayah.


“Hiks hiks Luhan salah Luhan salah” isakku dalam dekapan keduanya. Betapa jahatnya aku sebagai kakak.


Kami semua semakin terpuruk mendengar penjelaan Dokter yang menangani Lia. Lia? depresi? Dan kemungkinan dia harus di bawa ke rumah sakit jiwa untuk pengobatan. Kami masuk dan mendapati Lia yang menatap kami takut, dia melempar gelas ke arah kami.


Bibirnya mengatup, matanya bergerak liar, tubuhnya bergetar ketakutan. Aku memberanikan diri memeluknya, dia memberontak dan menangis. Tidak ada suara yang ia keluarkan kecuali isak tangis.


“Maaf, maafin abang hiks maaf” kata maaf terus aku ucapkan hingga ia jatuh tak sadarkan diri.


Apalagi ini? Tidakkah kabar bahwa Lia depresi sudah membuatku stres di tambah lagi kabar dari Bunda yang mengatakan Lia Bisu dan terkena Leukimia tingkat awal. Bunda berkata bahwa Lia berhenti bicara sejak ia keluar dari rumah. Apa itu karena aku?. Jadi itu sebabnya Bunda menangis waktu itu?.


Aku mencoba mendekati Lia setiap harinya, tai dia selalu melemparku dengan buku, gelas, dan vas bunga. Hanya Bunda yang ia terima, Ayah sudah tampak terpuruk karena anaknya sendiri menolak berdekatan dengannya. Kami meminta saran Dokter dan Dokter menyarankan untuk melakukan terapi hipnotis dengan menghapus kenangan buruk Lia dan menggangginya dengan yang baru. Ayah dan Bunda setuju, kami membawa Lia untuk terapi.


“Ayah? Bunda? Abang? Kok kita disini?” tanyanya bingung. Sepertinya terapi itu berhasil, Lia kembali berbicara dan berani menatap kami. Aku memelukknya erat begitu juga Ayah dan Bunda.


Mulai saat itu aku memutuskan untuk memperbaiki segala kesalahku dulu. Tidak ada yang mengungkit ha hal yang menakutkan bagi Lia, dia kembali hidup normal.


.


.


.


Aku mengusap kepala Lia yang tertidur di pahaku, kenangan tadi membuatku sadar bahwa sikap


iri dan benci itu tidak baik apalagi itu untuk keluargamu sendiri. Aku menyukai


hidupku yang sekarang, penuh warna dan terkesan ramai. Aku berharap, hal ini akkan hancur hingga maut menjemput.


TBC


Maaf typo


oh ya ampun nih cerita makin gaje