My Ketos My Love

My Ketos My Love
Eleven



Kelva merebahkan dirinya di ranjang kamar, raut bahagia terlihat jelas di wajahnya. Tapi, ia tetap terkejut saat mengetahui Lia yang mengidap Leukimia. Otaknya kembali memutar setiap kejadian Lia yang mendadak lemas dan mimisan. Dia juga mengingat bagaimana perjuangannya membujuk Ayah Lia agar mengizinkan ia mengajak Lia pergi.


Flashback on


Kelva menatap Reza, Bayu dan Siska yang baru saja keluar dari rumah Lia. Wajah ketiganya nampak putus asa. Kelva menunggu ketiganya di depan pagar rumah Lia.


"Gimana?" tanya Kelva. Siska menggeleng, Kelva berdecak kesal dan melangkah ke ke arah rumah Lia. Memencet bel dan mengucapkan salam. Kelva masuk dengan beraninya mendekati Herman yang duduk di ruang tamu menatapnya tajam.


"Dimana sopan santumu anak muda?" cibir Herman.


"Maaf sebelumnya om, saya cuman mau minta izin sama om buat ngajak Lia ke acara promnight nanti malem" ucap Kelva.


"Punya nyali kamu buat ngajak anak saya keluar malam" ucap Herman.


Luhan muncul dengan setoples kue nastar, dia duduk dengan tenang di samping sang ayah dan ikut menatap Kelva dengan santai. Kelva melihat ke arah Luhan seolah-olah meminta bantuan. Luhan mengedikkan bahunya acuh sambil mengunyah kue nastar.


"Saya bakal jagain dia dan bawa dia pulang sebelum jam sebelas malem" ucap Kelva tanpa ada keraguan.


"Putriku bukan gadis yang suka keluar malam dan kamu berani ngajak dia keluar" cibit Herman tak suka.


"Mungkin om merasa tidak senang, tapi saya janji akan jagain dia" ucap Kelva.


"Bohong tuh" ucap Luhan. Kelva mendengus melihat sikap kompor Luhan mulai bangkit.


"Hmmm tipe wajah yang sulit di percaya" ucap Herman.


"Bener banget Yah, bahaya kalau Lia sama dia" ucap Luhan. Kelva rasanya ingin menyumpal mulut kompor Luhan dengan kaos kaki yang tidak di cuci selama sebulan.


"Sekali nggak ya nggak" ucap Herman tegas.


"Saya mohon om, kali ini aja ngajak Lia keluar malem" ucap Kelva dengan tatapan memohon.


Herman menatap Kelva lama, Luhan menyeringai. Ia yakin sang Ayah tidak akan mengizinkan Kelva membawa Lia. Kelva mulai menunduk saat melihat Herman tidak meresponnya. Sepertinya dia akan pergi sendiri malam ini.


"Jam 10, lewat dari itu saya penggal kamu" ucap Herman.


Luhan melongo, Kelva mendongak dan terkejut. Tak lama kemudian senyum terbit di wajahnya. Herman memberinya izin.


"Makasih om, makasih" Kelva terus mengucapkan terima kasih. Ia lalu pamit pulang untuk menyiapkan diri nanti malam.


"Ayah kok diizinin?" tanya Luhan saat Kelva sudah keluar dari rumah.


"Udah biarin, adik mu itu udah gede dan juga kayaknya cowok itu baik" ucap Herman.


"Yes Yes Yes" Kelva terus bersorak senang tanpa henti.


Flashback off


Kelva menghela nafasnya, meraih ponselnya dan membuka aplikasi chat.


To: My Sweety


Udah tidur?


Kelva tak mendapat balasan setelah beberapa menit berlalu, ia menyimpulkan bahwa Lia sudah tertidur. Kelva mengganti pakaiannya dengan kaus putih polos dan celana pendek. Mulai menjelajah alam mimpi.


.


.


.


.


.


Lia mengerjabkan matanya saat matahari mulai memasuki kamarnya melalui cela-cela jendela. Lia merasakan adanya tangan kokoh yang membelit tubuhnya. Menoleh ke belakang dan mendapati wajah damai Luhan yang masih terlelap. Lia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Luhan. Tangannya terulur ke arah wajah Luhan, jari telunjuknya menusuk-nusuk pipi tirus Luhan.


"Ngh Lia jangan nakal" ucap Luhan dengan mata terpejam. Dirinya masih mengantuk karena baru bisa tidur jam tiga pagi setelah menonton pertandingan sepak bola di tv.


"Bangun, udah siang" ucap Lia.


"Satu jam lagi" ucap Luhan makin mengeratkan pelukannya.


"Dasar mentang-mentang hari minggu" dengus Lia.


"Berisik, mending ikut tidur juga" ucap Luhan menghentikan jari Lia yang menusuk pipinya. Baru saja Lia akan merespon, dering ponsel terdengar.Lia meraih ponselnya dan melihat nama yang menghubunginya.


My Boy🙉


"Speaker..." ucap Luhan saat melihat nama tersebut.


"Halo?..."


"Pagi bu ketos" Suara Kelva terdengar di seberang sana.


"Ck, pagi-pagi udah nelpon lo ganggu" ucap Luhan ketus


"Lah? kok lo sih? mana Lia?" terdengar nada bicara Kelva yang tidak terima saat Luhan yang mengangkat telponnya.


"Masih tidur" jawab Luhan. Lia mengabaikan obrolan keduanya, jarinya sibuk membuat pola abstrak di piyama biru milik Luhan.


"Lo bohong kan" ucap Kelva dengan kesal di sebrang sana.


"Terserah kalo lo nggak percaya" Luhan berbicara dengan santai sambil memainkan rambut panjang Lia.


"Ck, bilang ke Lia gue bakal ke sana jam 10 nanti" Ucap Kelva.


"Mau ngapain?" tanya Lia yang menyela ucapan Luhan.


"Eh? morning sweety, nanti aku ke sana ya kita pergi kencan" Ucap Kelva dengan nada suara yang bahagia.


"Belum boleh pergi keluar rumah sama Ayah" jawab Lia sambil mengingat ucapan Herman yang menyuruhnya istirahat ekstra di rumah.


"Yaudah, nanti aku ke sana main aja. Mau di bawain apa?" tanya Kelva.


"Pengen buah pir" ucap Lia.


"Bawak in gue Pizza, kalo nggak gue tendang lo dari rumah" ucap Luhan.


"Iya nanti aku beliin, cih kalo bukan lo calon kakak ipar gue udah gue bacok lo" ucap Kelva.


"Udah berisik, gue mau manja-manjaan dulu sama Lia bye" ucap Luhan mematikan sambungan telpon meninggalkan Kelva yang menggerutu kesal.


"Bangunin nanti" ucap Lia perlahan memejamkan matanya.


"Iya, tidur aja lagi" ucap Luhan sambil mengusp kepala Lia.


Mersa memasuki kamar Lia, dia mendapati kedua anaknya itu sedang berpelukan dengan Lia yang tertidur dan Luhan yang menonton tv yang tersedia di kamar Lia.


"Tadi udah bangun, tapi tidur lagi" ucap Luhan.


"Mandi sana, biar Lia bunda yang bangunin" ucap Mersa. Luhan mengangguk dan bangkit dari tidurnya, berjalan menuju kamarnya sendiri meninggalkan Mersa dan Lia.


"Sayang bangun dulu" ucap Mersa mengguncang lembut bahu Lia.


"Ngh~ Bunda?" Lia mengerjabkan matanya, tangannya terulur ke arah sang bunda seperti minta di gendong.


"Manja banget sih anak Bunda" Mersa dengan gemas memeluk Lia.


"Mandiin bunda" rengek Lia.


"Ish udah gede juga masih mau di mandiin" ucap Mersa.


"Biarin, em jam berapa sekarang?" tanya Lia dengan mata yang masih mengantuk.


"Jam setengah sepuluh" jawab Mersa.


"Oh" respon Lia.


"HAH? JAM SETENGAH SEPULUH?" Lia terlihat terkejut.


"Aduh sayang jangan teriak gitu dong" ucap Mersa.


"Bunda, Kelva mau dateng setengah jam lagi" ucap Lia.


"Setengah jam? dia udah di bawah lagi ngobrol sama Ayah" ucap Mersa.


"Huee Bunda, gimana jadinya?" ucap Lia.


"Sana mandi terus pakek baju yang rapi" ucap Mersa. Lia segera meraih handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Mersa hanya geleng geleng melihat tingkah putrinya itu.


.


.


.


.


.


Lia turun dengan stelan rok merah panjang dan baju hitam berlengan pendek. Rambunya ia gerai karena masih basah. Ia mendapati Kelva sedang duduk di sofa dengan keluarganya. Lia duduk di samping Kelva.


"Maaf lama" ucap Lia.


"Nggak papa kok, nih pesenan kamu" ucap Kelva menyerahkan separsel buah pir.


"Eh? ini kebanyakan" ucap Lia.


"Udah, buat stokkan seminggu" ucap Kelva.


"Kalian jadian?" tanya Mersa melihat interaksi keduanya. Luhan memilih diam dan menghabiskan Pizza miliknya.


"Yah gitu deh tante" ucap Kelva gugup. Herman menatap pemuda itu tajam.


"Pacaran boleh tapi jangan sampe ngaruh sama pelajaran" ucap Mersa.


"Masih bocah udah mau pacaran" dengus Herman. Kelva hanya bisa bersabar, dia harus menaklukan terlebih dahulu Ayah dari Lia yang overprotektif.


"Maaf ya, Ayah emang gitu" ucap Lia sambi menyandarkan kepalanya di bahu Kelva. Keduanya sedang duduk beralaskan karpet di bawah pohon besar yang ada di halaman rumah Lia.


"Iya aku ngerti kok, Ayah kamu kan cuman nggak mau anak perawannya kenapa-napa" ucap Kelva memainkan rambut panjang Lia.


"Besok sekolah berangkat bareng ya? aku jemput" ucap Kelva.


"Iya" ucap Lia. Lia bersyukur dapat memiliki Kelva yang pengertian begitupun Kelva yang merasa senang akhirnya Lia menerimanya.


"Udah minum obat?" tanya Kelva.


"Udah tadi sebelum turun ke bawah" ucap Lia.


"Nggak ngerasa pusing?" tanya Kelva.


"Nggak" jawab Lia. Kelva meraih buah Pir yang sudah di potong dan di tarub ke dalam mangkuk. Ia menyodorkan ke arah bibir Lia. Lia menerima suapan dari Kelva dengan senang.


"Aku seneng deh" ucap Kelva.


"Seneng kenapa?" tanya Lia.


"Akhirnya bisa sama kamu, padahal kamu itu galak, judes, sadis" ucap Kelva.


"Yaudah kalau aku sadis" ucap Lia menjauh dari Kelva. Kelva melirik Lia yang nampak merajuk, kekehan pelan terdengar keluar dari bibir Kelva. Ia merangkak perlahan mendekati Lia.


"Tapi, itu yang bikin kamu beda dari yang lain. Aku suka sama sikap cuek kamu, inget nggak waktu kita ketemu pertama kali?" ucap Kelva.


"Waktu kamu manjat tembok kayak maling" ucap Lia.


"Ish bukan maling, aku tu telat" ucap Kelva dengan gemas memeluk Lia.


"Dan ketauan sama yang lagi patroli" ucap Lia.


"Yang patrolinya juga galak, bawak cambuk segala" ucap Kelva.


"Em? berarti waktu itu salah ya? kalo gitu besok-besok bawak samurai aja deh" ucap Lia.


"Eh? nggak kok bercanda" ucap Kelva, Lia membawa samurai? heyol tidak boleh.


"Padahal aku mau bawak besok" ucap Lia.


"Udah ah bahas gituan, mending tidur adem ni keadaannya" ucap Kelva mengajak Lia berbaring menatap langit. Lia berbaring dengan berbantalkan lengan Kelva.


Keduanya hanyut dalam tiupan angin sepoi-sepoi, ntah sadar atau tidak keduanya memejamkan mata secara bersamaan. Mengarungi mimpi yang tak terjangkau oleh siapapun.


Sedangkan dari balik pintu terlihat Luhan dan Mersa yang berusaha menahan Herman yang hendak mengamuk karena melihat Kelva yang berani melakukan kontak fisik dengan Lia.


"Dasar bocah tengik" geram Herman.


"Udah mas udah" ucap Mersa.


"Aduh Ayah jangan kayak bocah deh" Luhan kewalahan menahan Ayahnya yang siap meledak.


Yah mari kita tinggalkan keluarga absrud nan aneh itu, biarkanlah mereka menyelesaikan masalah sendiri.


TBC


Maaf typo 🙏🙏🙏