My Ketos My Love

My Ketos My Love
Twentyone



Lia mengelilingi Museum sendirian, seharusnya hari ini dia pergi dan berkeliling bersama Kelva tapi apalah daya keduanya sedang dalam masa tidak akur. Tadi pagi ia berangkat bersama Luhan dan Cantika dan membantu Cantika menyiapkan persiapan untuk pameran.


“Lia...” Lia menoleh saat mendengar suara seseorang memanggilnya. Ia mendapati Reza berdiri menatapnya bersama Kelva, Bayu dan Siska di belakangnya. Sesaat tatapan Lia dan Kelva bertemu.


“Sendirian aja?” tanya Reza mendekati Lia. Lia mengangguk dan langsung mengalihkan penglihatannya dari Kelva. Bayu dan Siska meihat Lia dan Kelva bergentian seolah menanykan apakah keduanya sedang tidak baik.


“Lo lagi marahan sama Lia?” bisik Siska. Kelva hanya diam tanpa mersepon, ia hanya melihat Reza dan Lia.


“Mau keliling bareng?” tawar Reza.


“Nggak deh, gue mau nyusul Bang Hanhan aja” ucap Lia berjalan meninggal keempat remaja itu. Tidak, bukan dia tidak mau tapi karena dia sedang tidak ingin berdekatan dengan Kelva. Kelva hendak mengejar Lia tapi ia urungkan saat melihat Reza yang sudah menyusul Lia.


“Kalian berantem? Terus kok Reza kayak pengen deketin Lia?” tanya Bayu.


“Ada satu hal yang kalian nggak boleh tau” ucap Kelva menatap keduanya lalu berlalu pergi begitu saja membuat Bayu dan Siska saling lirik kemudian mengedikkan bahu acuh.


Lia memilih menjauh, enggan mendekati Kelva. Ia terus berjalan mengintari Museum sendirian. Tanpa sadar ada sebuah tangan menariknya ke arah tempat yang lebih tenang.


“Lepas!...” Lia menyentak tangan Kelva yang menariknya.


“Maaf...” lirih Kelva menahan Lia dengan memeluk dari belakang.


“Lepasin!...” Lia berusaha memberontak tapi di tahan oleh Kelva.


“Plis dengerin aku, aku lagi banyak pikiran kemaren” ucap Kelva.


“Banyak pikiran tapi jangan lapiasin ke gue” ucap Lia.


“Iya aku tau, Maafin aku” ucap Kelva.


“Aku nggak suka di bentak Kelva, nggak suka” lirih Lia.


“Maafin aku plis maafin” lirih Kelva.


“Kalo Ayah tau kamu udah di penggal” ucap Lia.


“Biarin di penggal asal kamu maafin aku” ucap Kelva.


“Oh oke aku nelpon Ayah dulu” ucap Lia meraih ponselnya.


“Ish jangan, nanti kalo aku di penggal kamu sama siapa” ucap Kelva.


“Aku belum maafin kamu” ucap Lia datar.


“Maafin dong, sebagai permintaan maaf aku bakal kabulin semua permintaan kamu” ucap Kelva. Lia menyeringai, dia mempunyai ide bagus.


“Jongkok...” ucap Lia, Kelva segera merendahkan dirinya. Lia menaiki punggung Kelva.


“Gendong keliling Museum, oh iya beli minuman dulu” ucap Lia.


“Siap tuan Putri, lagian kamu ringan banget sih jadi gampang gendongnya” ucap Kelva menegakkan tubuhnya dan berjalan mengelilingi Museum.


Keduanya tidak menyadari adanya Reza yang melihat mereka dari kejauhan dengan sebotol air mineral. Meremas botol air mineral itu dengan kuat hingga airnya membasahi lantai Museum. Tatapannya datar menatap dua insan yang sedang di landa mabuk asmara.


.


.


.


Luhan membantu Cantika memajang beberapa lukisan karya gadis tersebut. Luhan dengan gesit saat melihat Cantika kesulitan memajang lukisan yang ukurannya besar.


“Selesai akhirnya” Cantika mengelap keringat di dahinya dengan tisu yang ia bawa.


“Minum dulu” ucap Luhan menyodorkan air mineral yang ia beli di mesin minuman.


“Makasih, oh iya Lia kemana tadi?” tanya Cantika menerima air mineral dan membuka tutupnya.


“Tadi katanya mau keliling sendirian dulu mumpung Museum belum rame banget” jawab Luhan setelah meneguk air mineralnya.


“Nanti dia kecapekan, aku liat tadi mukanya agak pucat” ucap cantika Khawatir.


“Nanti kita cari dia” ucap Luhan.


“Aku khawatir aja sama dia” ucap Cantika.


“Udah, kamu tenang aja. Oh iya kata Bunda nanti dia dateng sama Ayah” ucap Luhan.


.


.


.


Bayu menemani Siska berkeliling, setelah di tinggal berdua. Keduanya memutuskan untuk membeli beberapa cemilan dan mengelilingi Museum.


“Mereka kemana sih?” keluh Siska mencari keberadaan salah satu temannya tapi tidak ada yang terlihat.


“Lagi pada mojok kali kan udah pada punya pasangan” ucap Bayu.


“Eh tolol, Reza sendirian” ucap Siska.


“Iya ya, enak deh yang udah punya doi. Gue mah apa nunggu si doi yang nggak peka peka” ucap Bayu menatap lukisan abstrak di depannya.


Siska menatap Bayu yang lebih tinggi darinya, jadi pemuda itu sudah memiliki incaran. Berarti selama ini perjuangan Siska sia sia. Tatapannya menyendu sejenak tapi segera ia gantikan dengan tatapan cerah.


“Wah lo punya gebetan? Siapa sih? Anak sekolah kita?” tanya Siska dengan nada mengejeknya.


“Iya, anak sekolah kita” ucap Bayu tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan di depannya.


“Wih, siapa cewek nggak beruntung tuh?” tanya Siska tertawa, padahal hatinya kretek kretek.


“Dia kelas XI-I” ucap Bayu.


“Loh sekelas sama gue? Siapa?” tanya Siska mulai penasaran, kepalanya menunduk menyembunyikan matanya yang mulai memerah hendak menangis.


“Dia itu cerewet, tingkahnya juga bar bar kalo udah ada tugas OSIS apalagi kalo bantuin si Ketos ngasih hukuman. Dulu aja gue naksir dia gara gara hukuman motongin rumput lapangan bola makek gunting kuku, kejam ya tapi gue suka” ucap Bayu.


“Lo...”


“Inisial dia Siska” ucap Bayu menatap Siska yang menatapnya juga.


“Gue suka sama lo, nungguin lo peka lama banget” ucap Bayu mengusap air mata siska yang sudah jatuh.


“Hiks tolol, bayu goblok hiks itu bukan inisial namanya” ucap Siska memukul bahu Bayu dengan kesal.


“Abisnya kalo-“


“Gue juga suka sama lo” ucap Siska memotong ucapan Bayu. Bayu menatap siska sejenak lalu tersenyum.


“Udah ah jangan nagis maskaranya luntur” ucap Bayu.


“A-apa? serius?” Siska mencari cermin yang selalu dia bawa di dalam tas kecilnya.


“Pffftt....” Bayu menahan tawa saat siska menatapnya kesal karena memang tidak ada Maskara yang luntur.


“Ish bikin kesel” ucp Siska.


“Udah udah ayok jalan lagi” ucap Bayu menggandeg tangan Siska.


Siska tersenyum, mengingat kembali awal kedekatan mereka saat dulu Bayu yang ketahuan membolos oleh Siska yang sedang patroli. Karena ketahuan, akhirnya Bayu di hukum memotong rumput di lapangan dengan gunting Kuku dan pastinya luas lapangan itu tidak kecil, dengan Siska yang mengawasinya sambil memegang penggaris kayu.


.


.


.


“Ayo ke sana”


“Ke sana”


“Kelva mau itu”


“Kelva beliin minuman dong”


“Kelva laper makan Bakso yuk”


“Kelva...”


“Kelva...”


“Kelva...”


Kelva mengelus dadanya saat Lia yang terus merengek tanpa henti dan menyuruhnya ini dan itu. Seperti sekarang ini, Lia memasang wajah polosnya menatap Kelva yang baru saja kembali dari membelikan minuman yang entah keberapa. Ini semua demi maaf dari Lia, kalau tidak sudah dia tendang siappun yang memperlakukannya begitu.


“Nih..." Kelva mendudukkan dirinya di samping Lia dan menghela Nafas berat.


“Capek ya?” tanya Lia meyodorkan tisu kepada Kelva.


“Nggak kok...” ucap Kelva menerima tisu tersebut dan mengelap keringatnya.


“Maaf ya, bikin capek” ucap Lia menyandarkan kepalanya di bahu Kelva.


“Jangan noleh sampe aku nyuruh noleh paham?” ucap Lia. kelva mengangguk meskipun penasaran kenapa tidak di perbolehkan menoleh.


“Nanti kalo aku pergi kamu jangan lupain aku ya, terus cari pengganti aku yang lebih baik”


“...”


“Kalo kamu kangen sebut aja nama aku, hehehe aku nggak yakin bakal di kangenin lagi”


“...”


“Aku hah capek, pengen tidur rasanya hah”


“Lia aku-“


“Jangan noleh duu, kan belum aku suruh noleh” ucap Lia lemah.


“Lia kamu kok kayak nahan sesuatu?” Kelva tidak bisa menoleh ke arah Lia karena di tahan oleh tangan Lia.


“Aku capek, mau tidur jangan bangunin aku ya” ucap Lia. tangannya yang menahan Kepala Kelva terjatuh lemah.


“Astaga Lia...” Kelva menahan tubuh Lia yang hendak terjatuh menyentuh lantai. Darah segar mengalir dari hidung Lia tanpa bisa di hentikan.


“Lia Lia...” Kelva dengan panik menggendong Lia dan berlari ke luar Museum. Sebelum keluar dia berpapasan dengan Bayu dan Siska.


“Astaga Kel lo apain Lia?” tanya Siska.


“Bay bantu gue bawa Lia ke Rumah Sakit dan lo Siska kasih tau Luhan” ucap Kelva. Bayu segera membantu Kelva membawa Lia ke rumah Sakit dengan mobilnya. Sedangkan Siska mencari Luhan di penjuru Museum.


“Lia tahan Lia tahan aku mohon” Kelva mencoba memberhentikan darah dari hidung Lia sedangkan Bayu berusaha menyetir secepat mungkin menuju Rumah Sakit.


“Aku capek...” lirih Lia dengan mata terpejam.


“Nggak, kamu harus kua Lia” ucap Kelva.


“Capek banget, aku mau tidur aja” ucapan Lia semakin melantur membuat kelva dan Bayu panik.


“Hehehe Kelva ada yang jemput aku, bilangin sama yang lain aku sayang mereka” tubuh Lia melemas sekita membuat Kelva berteriak.


“Nggak, Lia jangan ikut yang ngajak kamu Lia” ucap Kelva meneteskan air matanya.


“Kel, kita sampai. Lo bawa Lia duluan, gue markir mobil dulu” ucap Bayu. Kelva segera memanggil perawat dan menaruh Lia di sebuah brangkar.


Beberapa perawat mendorong brangkar Lia menuju ruang UGD. Kelva ikut membantu mengabaikan bajunya yang berlumuran darah.


“Tuan harap menunggu di luar”


Kelva menggeram kesal saat seorang perawat menutup pintu UGD dan melarangnya masuk.


“Kamu harus kuat Lia harus” lirih Kelva merosotkan tubuhnya di lantai rumah Sakit.


“Kel Lia gimana?” Bayu mendekati Kelva yang menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan. Kelva menujuk pintu ruang UGD dengan telunjuknya yang gemetar.


“Lo harus sabar, Lia bakal sehat lo positif thinking” ucap Bayu menyentuh bahu Kelva.


Lama mereka menunggu hingga akhirnya keluarga Lia datang. Terlihat jelas raut khawatir di wajah masing masing. Bahkan Herman yan biasanya memasang wajah garang kini memasang wajah sedih menatap pintu ruang UGD. Hingga seorag Dokter keluar dari ruang UGD.


“Keluarga pasien?” tanya sang Dokter.


“Saya Ibunya dok” ucap Mersa mendekati dokter tersebut.


“Keadaan putri anda kritis, kami akan berusaha mencari pendonor tulang sumsum dan mengoperasinya segera” ucap sang Dokter.


“A-apa tidak ada cara lain Dokter?” tanya Mersa.


“Untuk saat ini belum ada, jalan satu satunya hanya operasi” ucap Dokter.


“Berapa persen operasinya kemungkinan berhasil?” tanya Herman.


“Kami belum tau, itu akan terlihat bagaiamana keinginan anak kalian unutk bertahan” ucap Dokter itu.


“Saya permisi” setelah sang Dokter pergi, Mersa menangis kencang mendengar keadaan sang putri.


“Mas anak kita Mas” isak Mersa pada dada suaminya.


Siska menahan tangisnya melihat kondisi sahabatnya itu, Cantika sudah menangis sambil menenangkan Luhan yang menatap kosong brangkar tempat Lia berbaring yang di dorong oleh beberapa perawat unruk di pindahkan ke ruang rawat inap.


Setelah Lia di pindahkan ke ruang rawat. Keadaan mulai tenang, Herman mengabari Luke tentang kondisi Lia. Kelva menatap Lia dengan wajah pucat pasih dan mata sembap akibat menangis.


“Permisi...” Aisyah datang dan memasuki ruang rawat Lia. ia mendekati Mersa dan memeluknya. Ia segera kemari setelah mendapat kabar dari Kelva yang mengirimnya pesan.


“Gimana kata Dokter?” tanya Aisyah.


“Jalan satu satunya operasi” ucap Mersa. Aisyah menutup mulutnya tak percaya, kenapa anak semuda itu harus mengalami hal berat seperti ini?.


“Aku bakal donorin sumsum tulang belakang aku” semuanya menoleh ke arah pintu. Disana Reza berdiri sambil menatap semuanya.


“Tapi dengan satu syarat” ucap Reza. Kelva geram, Reza memanfaatkan kondisi demi kepentingan pribadinya.


Bugh


“Br*ngs*k lo\, dalam keadaan gini lo masih ngajuin syarat? Kemana otak lo itu? Lo beneran mau misahin gue sama Lia iya? Gue ngerti maksud lo baik tapi nggak gini caranya. Gue nyesel pernah kenal sama lo dan jadi temen lo. Lo nggak usah donorin buat Lia\, gue bisa nyari pendonor yang baik dan nggak kayak lo”


Napas Kelva memburu karena emosi, ia melayangkan tinju yang tepat mengenai rahang Reza. Luhan berusaha menahan Kelva yang hendak memukul Reza kembali.


“Tahan emosi lo, ini Rumah Sakit” ucap Luhan.


“Puas lo mukul gue? Lo udah marah aja padahal gue belum bilang apa syaratnya” ucap Reza menatap Kelva datar.


.


.


.


Operasi di lakukan segera setelah Reza melakukan beberapa pengecekkan. Kelva masih menunduk saat Reza dan Lia yang sudah di bawa masuk ke dalam ruang operasi. Masih terngiang di ingatannya permintaan Reza.


“Gue nggak minta yang aneh aneh, gue cuman mau minta lo jagain Lia. gue sadar gue nggak bisa dapetin Lia jadi gue milih nyerah aja dari pada makin ke siksa sama perasaan gue”


“Tpi waktu itu lo bilang suka sama gue”


“Pfft lo percaya? Gila aja gue suka sama cowok”


Cantika dan Siska baru saja kembali dari membeli minum bersamaan dengan Kakaknya reza yang juga baru saja tiba. Semuanya menunggu berharap sesuatu yang baik. Kelva terus berdoa di dalam hati semoga tidak terjadi hal yang buruk.


Lama mereka menanti hingga seorang suster berlari keluar dengan panik dan kembali membawa beberapa kantung darah. Tentu saja hal itu membuat semua yang menunggu panik. lampu di atas pintu ruang operasi berubah jadi hijau pertanda operasi telah selesai. Seorang Dokter keluar dan melepas maskernya.


“Bagaimana Dok?” tanya Kelva.


Sanga Dokter menghela nafas dan menggeleng. Mersa menangis keras dan segera di peluk oleh Herman. Cantika menenangkan Luhan yang ikut menangis. Siska menangis di tangan Bayu. Aisyah meneteskan air matanya tak percaya. Kelva hanya diam, tatapannya kosong. Selesai sudah, semuanya selesai.


TBC


Maaf Typo