
7 Years Later
Sekelompok Mahasiswa sedang berkumpul di sebuah cafe dekat Fakultas mereka. Mereka adalah Kelva, Tiara, Mike, dan Alena. Keempat mahasiswa semester akhir itu sedang menikmati waktu berkumpul mereka. Berasal dari negara yang sama membuat keempatnya mudah akrab.
Kelva yang sudah bisa bergaul dengan baik sudah memiliki beberapa teman diantaranya tiga orang tadi. Sekarang ia sedang bersantai karena berhasil lulus S2 dengan nilai terbaik.
“Kelva kamu mau makan apa?” tanya Alena kepada Kelva yang sibuk memperhatikan bungan mawar Biru yang di letakkan di vas atas meja Cafe.
“Pesan yang kayak biasa aja, kayak nggak tau Kelva aja” ucap Mike.
“Lo kok kayaknya seneng banget ngeliat warna biru” ucap Tiara.
“Warna biru tuh cantik tau, gue aja suka” sahut Alena setelah memberi tau pesanan mereka kepada pelayan.
Kelva tersenyum tipis, warna biru mengingatkannya pada seseorang yang jauh di sana dan tidak ia ketahui kabaranya.
“Gue suka biru karena dia suka biru” ucap Kelva tersenyum. Tiara menyikut Alena yang merona, oh sepertinya Alena mengira bahwa Kelva tertarik dengannya.
“Wih, siapa tuh?” tanya Mike ikut menggerling pada Alena karena memang Alena dan Kelva dekat sejak awal masuk Kuliah.
“Seseorang yang berharga dan bikin gue nyaman” ucap Kelva masih fokus dengan mawar Biru.
“Wow siapa namanya?” celetuk Tiara penasaran. Kelva mengalihkan atensinya kepada ketiga temannya dan ternyum ke arah Alena.
“Kalian bakal tau nanti kalo udah waktunya bakal gue kasih undangan” ucap Kelva. Alena semakin merona, kepalanya menunduk. Dia sudah menaruh hati kepada Kelva sejak pertama kali bertemu itu lah kenapa ia gencar mendekati Kelva selama di Fakultas.
“Gue penasaran banget nih” ucap Tiara dengan nada menggoda.
“Oh iya, perusahaan lo kan namanya KL Corp apa tu artinya?” tanya Mike.
Meskipun masih berstatus mahasiswa, Kelva sudah berhasil membangun perusahaan sendiri. Ia bahkan sudah membangun beberapa cabang di beberapa negara salah satunya Indonesia.
“Nama singkatan gue sama dia” jawab Kelva menatap langit menerawang jauh.
Alena semakin salah paham karena menyangka bahwa itu adalah singkatan nama dia dan Kelva.
“Besok kita balik ke Indonesia” ucap Kelva.
“Yah, untungnya kita kerja di tempat lo jadi nggak bakal pisah” ucap Mike.
Seluruh pelanggan Cafe menyerngit mendengar pembicaraan mereka yang tidak di mengerti oleh pengunjung lain.
.
.
.
Kelva menghirup udara dengan tenang saat sudah mendarat di tanah kelahirannya. Ketiga temannya mengikutinya dari belakang saat Kelva berjalan. Alena menggandeng tangan Kelva dengan alasan kepalanya pusing jadi memerlukan tumpuan untuk berjalan. Kelva membiarkan saja, ia celingak celinguk mencari keberadaan keluarganya yang menjemputnya.
“Wah wah wah Bro lo udah sukses nih”
Tiba tiba Bayu datang dan merangkul bahu Kelva dari belakang. Siska yang juga ada segera menarik tangan Kelva yang di rangkul oleh Alena. Siska menatap tajam Alena membuat Alena berdecak kesal. Hilang sudah acara modusnya.
“Loh kalian? Mana Ayah sama Ibu?” tanya Kelva.
“Kamu nyari kami sayang?”
Kelva segera menerjang Ibunya dengan pelukan rindu. Ia begitu merindukan orang yang telah melahirkannya itu. Lalu ia berlalu memeluk sang Ayah dan tidak lupa adiknya yang sudah SMA.
“Bisa juga kamu gede” ucap Luhan.
“Ish Bu Abang nyebelin” ucap Kesya kesal.
“Ugh becanda, Abang kangen banget sama Adek Abang ini” ucap Luhan memeluk tubuh adiknya gemas. Kelva lalu menoleh ke segalah arah mencari seseorang yang sudah lama ia rindukan.
“Lo nyari Lia? dia nggak bisa dateng” ucap Siska dengan nada menggoda. Kelva berdecak kesal, Alena melihat raut wajah Kelva yang kesal. Ia menyimpulkan bahwa Kelva sebenarnya tidak ingin seorang gadis yang bernama Lia ini datang menjemputnya.
“Oh iya Bu, ini temen aku Mike, Tiara sama Alena” Kelva memperkenalkan ketiga temannya.
“Tante...” Alena mencium punggung tangan Aisyah dan berusaha ramah pada orang tua Kelva, begitu juga Tiara dan Mike.
“Cuman temen kan?” tanya Aisyah menekan kata temen di kalimatnya. Alena mengangguk kaku, ia rasa ia harus berjuang mendapat restu dari Ibunya Kelva.
.
.
.
Mersa mengusap kepala Lia yang sudah tertidur, ia menatap putrinya itu lamat. Luhan memasuki kamar Lia pelAn agar tidak menimbulkan suara sedikitpun yang bisa membuat Lia terganggu.
“Kelva udah pulang Bun, gimana kita ngasih tau tentang keadaan Lia?” tanya Luhan.
“Nggak ada pilihan, kita udah nyembunyiin ini lama kita harus ngasih tau Kelva yang sebenarnya” ucap Mersa menghela nafas lelah.
“Bunda...” igau Lia dalam tidurnya. Mersa mengusap pelan kepala Lia.
“Tapi Bunda, aku takut Kelva nggak bakal nerima Lia yang keadaannya gini” lirih Luhan.
“Nak, itu pilihan dia, kalo emang Kelva nggak mau nerima Lia yang sekarang nggak papa. Berarti Kelva bukan jodohnya Lia” ucap Mersa.
“Bunda ke kamar aja, biar malam ini aku jagain Lia” ucap Luhan menghela nafas.
Mersa mengangguk, setelah yakin Mersa telah pergi Luhan segera membaringkan tubuhnya di samping Lia membuat Lia terganggu tidurnya.
“Sssst tidur lagi” bisisk Luhan mengelus punggung Lia. ia menerawang jauh membayangkan bagaimana ekspresi Kelva saat melihat Lia yang sekarang.
.
.
.
Kelva meregangkan tubuhnya saat bangun tidur. Tidur di kamar lamanya yang tidak berubah sama sekali membuat Kelva kembali mengenang masa lalu. Dulu di kasur ini tempat Lia biasa berbaring membaca komik jika berkunjung ke rumah Kelva.
“Aku kangen, pengen ketemu” gumam Kelva. Ia memilih cuti beberapa hari dari pekerjaan dan menyerahkan pekerjaan kepada asisten pribadinya.
Setelah mandi dan mengganti pakaian, Kelva turun untuk makan siang karena ia baru saja bangun jam sebelas siang.
“Kelva kangen banget masakan Ibu” ucap Kelva memakan masakan Aisyah.
“Makan yang banyak” ucap Aisyah.
“Oh iya Bu, nanti aku mau ke rumah Luhan ketemu sama Lia” ucap Kelva. Aisyah diam sejenak lalu menghela nafas, dia tidak yakin ingin mempertemukan Lia dan Kelva di saat kondisi Lia yang kurang baik.
“Kelva, bukannya Ibu mau ngelarang kamu tapi jangan sekarang ketemu Lianya ya?” ucap Aisyah.
“Nggak Bu, Kelva kangen dia. Kalian nggak ada ngasih kabar tentang Lia sama Kelva” ucap Kelva. Aisyah nafas, dia tau betul bagaimana kondisi pujaan hati putranya itu sejak sadar dari koma panjangnya.
“Malam ini aja sama Ayah, kebetulan keluarga Lia ngundang makan malam bareng” ucap Aisyah. Kelva mengangguk, dia harus menahan diri hingga malam nanti.
“Hei Bro apa kabar? Udah sukses aja lo” ucap Luhan meniju pelan lengan Kelva.
“Gue baik, gue kan pinter makanya gue sukses” ucap Kelva sombong, matanya mencari sosok Lia dan Luhan menyadari itu.
“Ayo duduk, kita makan dulu nanti makanannya dingin” ucap Mersa.
“Senang menerima undangan makan malam dari kalian” ucap Hendra.
Herman menatap Kelva yang mengalami perubahan fisik. Di mata Herman, kelva terlihat lebih dewasa dari terakhir kali dia lihat.
“Ayah seneng kamu udah sukses” ucap Herman berusaha mengalihkan perhatian Kelva yang terus mencari keberadaan Lia.
“Ini berkat doa dan dukungan kalian semua” jawab Kelva menduduki kursi di sebelah sang Ayah. Kelva hendak bertanya ada dimana Lia, tapi ia urungkan saat makan malam di mulai. Apa mungkin Lia gugup karena akan bertemu dengannya? Baiklah kelva akan menunggu Lia. Tapi hingga makan malam selesai, Lia tidak muncul sama sekali membuat Kelva menahan kekesalan dan kerinduan yang mendalam.
“Maaf menyela obrolan kalian tapi aku-“
“Bunda...”
Kelva menoleh secepat kilat saat mendengar suara yang sangat ia rindukan, tanpa sadar kalimatnya belum selesai. Kelva terbelalak kaget, dia melihat tubuh kurus Lia terbungkus gaun tidur berwarna Biru. tubuh itu terlihat kurus dan pucat, rambutnya sudah panjang lagi.
“Bunda temenin Lia tidur” lirih Lia dengan kepala tertunduk sat menyadari kalau ada tamu di rumahnya.
“Lia, kamu beneran Lia?” Kelva berdiri dari kursinya dan mendekati Lia. Lia segera menjauh dari Kelva dan mendekati Mersa.
“Bunda ayo tidur” lirih Lia dengan tubuh bergetar.
“Lia aku kangen banget sama kamu” Kelva tanpa pikir panjang menerjang Lia dengan pelukan hangat.
“Nggak, lepasin hiks lepasin Bunda tolong Lia Bunda hiks Bunda dia jahat hiks” Kelva tersentak kaget saat merasakan tubuh Lia yang bergetar hebat dalam dekapannya. Kenapa? Apa yang terjadi dengan Lia?.
“Kelva tolong lepasin Lia” ucap Mersa menarik Lia ke pelukannya. Lia menangis kencang, dia ketakutan. Mersa menuntun Lia menuju kamarnya.
“Han, Lia kenapa?” tanya Kela kepada Luhan.
“Lo udah liat, Lia stres” ucap Luhan.
Flashback On
Semuanya bergegas menuju rumah sakit saat mendapat kabar bahwa Lia telah sadar. Saat sampai, mereka semua masuk dan mendapati Lia yang duduk termenung.
“Lia kamu udah sadar” Luhan memeluk Lia dengan air mata yang mengalir.
“Aaaaa menjauh, jangan sentuh” Lia mendorong Luhan dan menatap sekitar dengan liar.
“Lia kamu kenapa?” tanya Luhan menyentuh bahu Lia.
“Nggak, menjauh, jangan sentuh jangan sentuh” Lia memeluk dirinya sendiri.
“Mas, Lia kenapa?” tanya Mersa.
“Dengan orang tua pasien?, Dokter menunggu kalian di ruangannya” ucap seorang perawat.
“Bapak dan Ibu harap bersabar, anak kalian jiwanya terguncang karena ingatan masa lalu yang mungkin menakutkan baginya kembali terbuka” Mersa menangis, kenapa? Kenapa putrinya selalu tertimpa masalah?.
“Apa tidak bisa kembali menutup ingatannya?” tanya Herman memeluk Mersa.
“Bisa, tapi lebih baik kalian merawatnya dan mengajarinya menghilangkan trauma berat itu” ucap sang Dokter.
Flashback Off
“Lo belum tau kan, Lia dulu pernah di culik dan di perkosa sama tiga pria hal itu bikin dia depresi karena nganggap dia udah kotor” ucap Luhan menatap Kelva. Herman pamit untuk menenangkan putrinya yang masih menangis, terbukti dari kerasnya suara tangis itu.
“Keputusan ada di tangan lo, lo udah liat dia sekarang gimana. Mungkin dia inget sama lo tapi di mata dia lo itu tiga pria yang udah perkosa dia” ucap Luhan.
“Gue terima kalo lo ninggalin Lia, lo berhak cari cewek lain” ucap Luhan.
Bugh
“Kelva” Aisyah berteriak kaget.
“Lo nyuruh gue nyari cewek laian? Lo tau nggak kalo gue udah nahan banget pengen ketemu Lia waktu lo ngabarin dia udah sadar. Gue bukan cowok brengsek yang ninggalin orang yang gue sayang kalo dia udah stres ataupun gila. Gue sayang dia, gue cinta dia, gue yang bakal bantuin dia ilangin trauma dia” ucap Kelva menggebu gebu di atas tubuh Luhan setelah memberikan bogem mentah di pipi kanan Luhan.
“Jadi ini sebab kalian nggak ngasih kabar tentang Lia ke gue? Cuman karena dia stres? Lo mikir nggak gimana perasaan gue yang tau gue seneng seneng di luar negeri sedangkan cewek gue lagi butuhin gue” geram Kelva.
Setelah keributan yang terjdi. Lia berhasil tenang, dia sedang memeluk Mersa di kamarnya karena takut. Pintu terbuka dan memunculkan sosok Kelva.
“Bunda, bisa tinggalin Lia sama Kelva?” Mersa awalnya ragu, ia tidak yakin akan meninggalkan Lia berdua dengan Kelva. Tapi melihat tatapan meyakinkan kelva, Mersapun mengangguk dan keluar kamar.
“Lia...” panggil Kelva duduk di samping Lia tapi Lia bergeser menjauhi Kelva. Bohong jika dia tidak merindukan Kelva, dia merindukan pemuda yang sudah mengisi hari harinya itu. Kelva menghela napas, dia harus sabar mendekati Lia.
“Lia nggak kangen sama aku?” tanya Kelva lembut. Lia memeluk dirinya sendiri, dia tidak merespon ucapan Kelva.
“Lia masih inget akukan?” tanya Kelva. Lia mengangguk masih dengan memeluk tubuhnya sendiri dan enggan menatap Kelva.
“Siapa aku?” tanya Kelva.
“Kelva...” lirih Lia. Kelva senang, Lia mengingatnya.
“Aku kangen kamu Lia” ucap Kelva memeluk Lia membuat tubuh Lia bergetar ketakutan dan memberontak.
“Lepasin hiks lepasin” Lia terus memberontak agar terlepas.
“Nggak” Kelva semakin mengeratkan pelukannya pada Lia.
“Lepasin hiks lepasin, takut hiks lepasin” Lia terus berontak dalam pelukan Kelva.
“Nggak Lia, tatap mata aku” ucap Kelva mencengkram pipi Lia agar mata keduanya saling tatap.
“Hiks Kelva hiks” Lia menangis keras, dia sedikit tenang saat melihat kalau itu benar benar Kelva.
“Ssst diem ya aku nggak bakal jahatin kamu” ucap Kelva memeluk tubuh bergetar Lia dan mengusap kepala Lia pelan.
“Kelva takut” isak Lia di dekapan Kelva.
“Aku disini bakal jagain kamu” ucap Kelva mengecup pucuk kepala Lia.
“Hiks Kelva kangen” isak Lia.
“Iya aku tau, aku juga kangen” ucap Kelva dengan senyum manisnya, walaupun dalam hati ia meringis melihat kondisi Lia yang sekarang. Kurus, pucat, bahkan di sekitar matanya terdapat lingkaran hitam.
Luhan mengintip di celah pintu kamar Lia bersama Cantika. Dia bersyukur Kelva tidak berpaling dengan keadaan Lia. Cantika tersenyum senang karena Kelva tidak meninggalkan Lia karena kondisinya.
“Aku disini, menjagamu, melindungimu apapun yang terjadi aku tetap bersamamu” bisik Kelva pada Lia yang mulai terlelap dalam dekapannya.
TBC
Maaf Typo