My Ketos My Love

My Ketos My Love
Twenty



Waktu ujian tinggal menghitung hari, semua murid fokus belajar untuk mempersiapkan diri dalam  mengisi jawaban soal ujian. Er sebenarnya tidak semuanya, contohnya Kelva yang sedang berbaring di ranjang kamar sambil terus mengirim pesan pada sang kekasih. Tapi dari banyaknya pesan yang ia kiriman tidak ada satupun mendapat respon.


To:Si Bawel Kesayangan


Sayang,kok nggak bales pesan aku.


Kelva terkekeh, ia tidak ingat kapan ia mengganti nama kontak Lia menjadi seperti itu.


To:Si Bawel Kesayangan


Sayang kok nggak respon?


Lagi belajar ya?


Jalan jalan yuk


Sayang, kangen


Kelva mulai bosan, tidak ada respon dari Lia sama sekali. Ia memutuskan menelpon nomor Lia dan berhasil, di angkat.


“Sayang aku kangen” Kelva mengeluarkan suara sok imutnya.


“Jangan menghubungi anak saya sampai ujian selesai, kalau perlu jangan pernah menghubunginya sama sekali sampai kamu mati...”


Kelva bungkam seketika, suara Herman membuat senyum Kelva luntur. Argh kenapa harus Pria yang posesif kepada anaknya yang mengangkat.


“Om, saya mau ngobrol sama Lia” ucap Kelva berusaha ramah dan tenang.


“Lia sibuk, belajar sana sampe cocok buat anak saya” sahut Herman dan segera memutus sambungan telpon membuat Kelva mencak mencak dan ingin memaki Herman.


“Sabar Kel sabar, Camer lo itu” gumam Kelva.


.


.


.


Lia mendapatkan izin untuk ujian di rumah dengan syarat di awasi oleh pihak sekolah. Kondisinya sedang tidak bagus untuk pergi sekolah. Jarum infus menancap di punggung tangan kanannya. Beberapa alat medis sudah di siapkan di kamar Lia, Herman bahkan menyiapkan seorang perawat untuk berjaga jaga kalau terjadi sesuatu kepada putri bungsunya itu.


Sedangkan di sekolah, Kelva sedang menggigit jari lantaran kesal tidak bisa bertemu Lia, tadi pagi saat Kelva hendak menjemput Lia dan mengajak ke sekolah bersama sekaligus melepas rindu. Tapi apalah daya, yang ia dapati adalah Herman yang menjaga pintu dengan sebuah Katana yang pernah Lia arahkan ke lehernya melarang Kelva masuk.


“Mundur dengan perlahan dan terhormat atau saya tebas kepala kamu dan kamu mati konyol”


Kelva yang masih ingin hiduppun memilih mundur. Sekarang Kelva tahu dari mana datangnya sikap Lia yang sadis.


Kelva melihat Reza yang baru memasuki kelas, ia segera mendekati Reza hendak mempertanyakan maksud dari pesan yang Reza kirim waktu itu.


“Gue mau ngomong berdua sama lo” ucap Kelva.


“Apaan?” tanya Reza malas.


“Apa maksud lo mau ngerebut Lia dari gue? Lo mau nikung gue?” tanya Kelva datar.


“Menurut lo?” tanya Reza acuh.


“Jangan coba coba ngerebut dia dari gue” ucap Kelva tajam.


“Oh, soal itu gue nggak yakin soalnya nanti lo pasti bakal kaget banget” ucap Reza dengan seringai meremehkannya.


“Dasar temen B*ngs*t” Kelva menarik kerah seragam Reza sehingga membuat kegaduhan. Banyak murid kelas memperhatikan mereka termasuk Luhan dan Bayu yang baru saja tiba.


“Oh ya ampun, kenapa mereka berdua?”


“Bukannya Reza sama Kelva tuh sahabatan ya?”


“Masalah apaan nih?”


“Tadi gue sempet denger mereka bahas Lia si Ketos”


Berbagai macam bisikkan muncul di kelas, karena mereka tidak menyangkan Reza dan Kelva akan bertengkar. Padahal keduanya sangat dekat.


“Lo mau mukul gue? Kalo lo mukul gue, gue yakin Lia bakal marah sama lo” ucap Reza. Kelva menggeram kesal, dia memang pernah berjanji pada Lia untuk tidak melakukan kekerasa fisik di sekolah.


“Gue bakal mantau lo terus, lo deketin Lia berarti kita perang” ucap Kelva.


Luhan mencoba melerai keduanya, Kelva melepas cengkramannya pada kerah kemeja Reza. Reza merapikan penampilannya yang sedikit berantakan karena ulah Kelva.


“Kalian jangan berantem disini” ucap Luhan menahan Kelva.


“Ada masalah apaan?” tanya Bayu bingung.


“Bukan masalah serius Bay” ucap Reza melangkah menuju kursinya.


Kelva masih menggeram kesal, Luhan menepuk bahu Kelva.


“Tenangin diri lo, gue mau ngomong berdua sama lo nanti pulang sekolah” ucap Luhan.


.


.


.


Hari ujian telah selesai, selama seminggu pula Kelva dan Lia tidak bertemu dan tidak saling mengabari. Saat ini, Lia sedang mengobrol dengan Cantika yang sedang berkunjung membawa beberapa buah tangan berupa aksesoris dan makanan sehat.


“Kamu masih ingetkan kalo aku pernah janji mau ngasih kamu tiket buat acara pameran di museum” ucap cantika.


“Inget dong” ucap Lia sambil mengunyah salad buah pemberian Cantika.


“Aku udah siapin dua tiket buat kamu sama Kelva” ucap Cantika menyodorkan dua tiket kepada Lia.


“Ih makasih kakak ipar” ucap Lia menerima tiket tersebut. Cantika hanya tertawa saat mendengar panggilan Lia untuknya. Keduanya larut dalam obrolan antar gadis hingga Luhan datang bersama Kelva, Bayu, Reza dan Siska.


Kelva mendekati Lia, seminggu tidak bertemu membuat dirinya dilanda rindu yang teramat. Memasang senyum yang terasa janggal di mata Lia, tapi Lia menepis jauh pikirannya mungkin Kelva sedang ada masalah.


“Lia gue kangen nggak ketemu lo, ruang OSIS sepi nggak ada lo” Siska dengan lebaynya memeluk Lia sambil menangis.


Cantika menggelengkan kepalanya melihat Luhan yang menaruh tasnya sembarangan dan langsung berbaring di ranjang Lia tanpa melepas sepatu.


“Lepas dulu sepatu” ucap Cantika gemas sambil menepuk kaki Luhan keras. Luhan dengan ogah ogahan bangkit dari tidurnya dan melepas sepatu serta kaos kakinya.


“Gimana kedaan lo?” tanya Reza mendekati Lia.


“Eh? Udah baikan kok” ucap Lia, Kelva menatap Reza datar. Ia lalu memeluk Lia mengabaikan godaan yang di lontarkan teman temannya dan tatapan tajam Reza.


“Kangen...” bisik Kelva.


“Kata Ayah kamu nggak berani ke sini. Kenapa?” tanya Lia. kelva menggeleng, tidak mungkin dia mengatakan bahwa Herma yang menjaga pintu layaknya iblis penjaga pintu neraka.


“Ah kebetulan kalian semua disini, aku mau ngasih ini. Kalian harus dateng” ucap Cantika menyerahkan tiket kepada masing masing teman Luhan kecuali Kelva.


“Museum? Besok?” ucap Siska.


“Iya, besokkan mulai libur” ucap cantika.


“Eh? Lo udah libur? Kita mah baru selesai ujian” ucap Bayu.


“Yah jadi nggak bisa dong” ucap Cantika sedih.


“Santai aja, tinggal bolos kan absen udah nggak lagi” ucap Luhan mengambil posisi di samping Cantika dan menyadarkan kealanya di bahu sang kekasih.


“Wah gue setuju tuh” ucap Bayu menyahuti.


Kelva mengabaikan kebisingan yang ada, dia memilih untuk bermanja ria dengan Lia karena sudah berpisah satu minggu.


“Nanti sore jalan jalan yuk, aku bosen dirumah” ucap Lia kepada Kelva mengabaikan Reza yang berada di dekat keduanya.


“Kamu mau kemana?” tanya Kelva menatap Lia.


“Ke rumah kamu aja, udah lama nggak ketemu tante Aisyah” ucap Lia. Kelva pun mengiyakan kemauan Lia.


Lia merasa ada yang aneh dengan Kelva, pemuda itu lebih terkesan diam dari biasanya. Contohnya saja sekarang mereka berdua berada di atas motor menuju rumah Kelva. Biasanya Kelva akan menggodanya ataupun menganggunya tapi ini dia hanya diam layaknya orang asing.


Saat sampai, Lia mengobrol sebentar dengan Aisyah lalu menyusul Kelva ke kamar karena pemuda itu tak kunjung kembali ke bawah. Lia membuka pintu kamar Kelva dan mendapati Kelva yang sedang bermain game di ponselnya.


“Kelva...” panggil Lia.


“Hm?” Kelva menyahut tanpa menoleh karena fokus dengan gamenya.


“Kamu kok nyuekin aku” ucap Lia duduk di samping Kelva.


“...” tidak ada respon dari Kelva, dia masih fokus dengan gamenya.


“Kelva! Kok kamu nyuekin aku sih?” Lia mencoba bertanya kembali pada Kelva.


“Bisa diem nggak sih?!” bentak Kelva membuat Lia tersentak kaget, untuk pertama kalinya dia di bentak. Anggota keluarganya tidak pernah membentaknya begitu, bahkan jika dia melakukan kesalahan sekalipun mereka hanya menasehatinya dengan lembut.


“Berisik tau nggak” ucap Kelva kembali membentak Lia.


“Kamu kok bentak aku” lirih Lia dengan mata berkaca, hatinya sakit karena di bentak.


“Nangis? Dasar cengeng” ucap Kelva acuh.


“A-aku ada salah sama kamu?” tanya Lia manahan agar isak tangisnyaa tak keluar.


“Nggak, gue cuman bosen sama lo” ucap Kelva datar.


Plak


Tubuh Lia bergetar menahan tangis, tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar Kelva bergetar. Kepalanya menunduk, ia sadar kalau dia sekarang nampak menjijikkan karena rambutnya habis tapi apakah ucapan Kelva tadi pantas?. Pemuda itu yang mengejarnya dan membuat perasaanya berbunga-bunga tapi


sekarang dengan mudahnya mengatakan bahwa dia bosan.


“Gue pulang” ucap Lia keluar dari kamar Kelva, sebelum sampai ke pintu dia mengambil tiket pemberian Cantika dan memberikanya pada Kelva.


Kelva bungkam, dia menatap tiket di tangannya. Ia tahu, Lia pasti kecewa padanya. Kelva mencengkram rambutnya erat, ia hanya sedang dalam keadaan kalut karena mengingat ucapa Luhan beberapa hari lalu. Kelva berlari keluar kamar dan menyusl ia menggunakan sepeda motornya. Hari sudah gelap tidak mungkin dia membiarkan Lia pulang sendiri.


Tapi sepertinya keberuntungan tidak memihak pada Kelva, di depan matanya dia melihat Lia yang di tuntun masuk ke dalam sebuah mobil merah. Dia tahu siapa pemilik mobil itu, dia adalah Reza. Kelva dapat melihat Reza dengan lembut menuntun Lia masuk hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


“Maaf...” lirih Kelva, seharusnya dia dapat menahan diri tadi.


.


.


.


“Udah jangan nangis lagi” ucap Reza mengelap air mata Lia dengan tisu.


“Temenin gue makan bentar mau? Udah itu gue anter pulang” ucap Reza.


Lia mengangguk, dia tidak mungkin pulang dengan keadaan mata sembab bisa bisa sangan Ayah datang ke ruma Kelva sambil membawa Katana miliknya dan menebas kepala pemuda itu di tempat.


Reza mengajak Lia makan Mie ayam di pinggir jalan, dia memesan dua porsi dan mengajak Lia duduk di salah satu kursi. Lia masih diam sesekali sesegukan.


“Kok lo nangis? Abis dari rumah Kelva? Ada masalah?” tanya Reza. Lia diam, dia masih belum mau cerita. Reza mengusap Kepala Lia pelan.


“Nggak papa kalo lo nggak mau cerita” ucap Reza.


Pesanana keduanya sampai, Reza mengambil dua sumpit dan dua sendok. Ia melirik Lia yang menerima sumpit dan sendok darinya.


“Kata Luhan lo bisa makek sumpit, ajarin gue dong” ucap Reza.


Lia terkekeh pelan saat melihat Reza yang kesulitan memakai sumpit. Reza tersenyum, setidaknya dia berhasil menghibur Lia. setelah selesai makan, Reza mengatar Lia pulang.


“Yes...” Reza bersorak senang di dalam mobilnya, setelah Lia masuk ke rumah.


TBC


Maaf Typo