
Lia memijit pelipisnya karena merasakan sakit yang teramat pada kepalanya. Dia sendirian di rumah, orang tuanya sedang pergi ke rumah pamannya. Tadi dia sudah di ajak tapi menolak dengan alasan ada banyak tugas. Sedangkan Luhan sedang pergi entah kemana. Tangannya meraih ponselnya dan mencari nomor Kelva bermaksud meminta tolong dibeli kan obat pereda sakit kepala.
“Halo?...”
“Ke-Kelva bi-bisa minta to-tolong?” tanya Lia.
“Loh? Kamu kenapa? Kok suaranya kayak lagi nahan sakit?” Kelva terdengar khawatir di sebrang sana.
“Ke-Kepala aku sakit tolong beliin obat” lirih Lia.
“Tunggu aku, aku langsung ke sana”
“Sakit...” lirih Lia mencengkram kepalanya yang semakin berdenyut. Hal itu di perparah dengan darah yang mengalir dari lubang hidung Lia. Erangan kesakitan memenuhi kamar Lia.
“Sayang kamu nggak apa apa?” tanya Kelva memasuki kamar Lia, ia memencet bel tapi tidak ada respon jadi ia langsung masuk saja.
“O-obatnya ma-mana?” tanya Lia menahan sakit. Kelva menopang tubuh Lia dan membantunya meminum obat. Lalu ia mengambil handuk bersih yang tergantung di kamar mandi dengan semangkuk besar air. Raut cemas tergambar jelas di wajah Kelva saat mendapati Lia yang meringkuk ke sakitan dengan darah dari hidung.
Tangannya dengan terampil membersihkan darah dan berusaha memberhentikan darah yang terus megalir dengan tisu. Setelah berhenti, Kelva menuntun Lia untuk berbaring di ranjang.
“Keluarga kamu kemana?” tanya Kelva.
“Ayah sama Bunda lagi ke rumah paman, Bang Hanhan lagi pergi ada urusan” ucap Lia.
“Makasih ya, maaf ngerepotin kamu” lirih Lia.
“Nggak kok, aku nggak ngerasa di repotin. Aku khawatir banget” ucap Kelva menyatukan dahi keduanya sehingga jarak mereka sangat tipis.
“Maaf...” lirih Lia.
“Kamu udah makan?” tanya Kelva. Lia menggeleng, ia memang belum makan dan hanya sarapan roti tadi karena nafsu makanya sedang hilang.
“Aku nelpon Siska dulu, biar dia bantu bikinin makanan” ucap Kelva menjauhkan wajahnya dan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
.
.
.
Siska menuju rumah Lia di temani oleh Bayu dan Reza, kekhawatiran terpampang jelas di wajah Siska. Saat mendapat telpon dari Kelva yang memberi tahukan keadaan Lia membuat Siska seketika kaget dan ingin menangis.
“Lo yang tenang dong” ucap Bayu saat melihat Siska sesekali menyuruhnya menambah kecepatan.
“Giaman gue mau tenag kalo sahabt gue lagi sakit” ucap Siska emosi membuat bayu kicep seketika.
Saat sampai di rumah Lia, Siska segera turun dan masuk tanpa salam. Ia segera menuju kamar Lia dan masuk dengan mendobrak pintu. Hatinya tertohok saat melihat wajah pucat Lia yang tersenyum manis ke arahnya.
“Lo bikin gue khawatir” ucap Siska memeluk Lia dengan genangan air mata.
“Gue nggak papa kok” ucap Lia membalas pelukan siska.
“Kalian ikut juga” ucap Kelva melihat keberadaan kedua sahabatnya.
“Yah gitu deh, lo udah ngabarin Luhan sama orang tua Lia?” tanya Bayu.
“Udah, mereka lagi otw” ucap kelva.
Suara gaduh terdengar dari luar, dan pintu kamar Lia kembali di buka dengan sebuah dobrakan.
“Lia kamu nggak papa sayang?” tanya seorang wanita cantik dengan rambut pirang dan mata Biru menatap Lia khawatir.
“Gila cantik bener” bisik Bayu kepada Kelva.
“Sepupu Lia kali” bisik Reza.
“Grandma?” Lia menatap bingung kenapa nenek dari pihak ayahnya itu ada di sini bukan di Australia?.
Reza, bayu dan Kelva melongo seketika. Jadi wanita cantik itu neneknya Lia, tapi kenapa masih seperti usia dua puluh tahun?. Ok fix, mereka berhasil tertipu. Berbeda dengan siska yang pernah beberapa kali bertemu dengan nenek Lia saat wanita itu berlibur ke indonesia.
“Ah cucu Grandma kita kerumah sakit sekarang” ucap Penelope panik seraya mendekati cucunya.
“Aku nggak papa Grandma, kapan Grandma kesini?” tanya Lia.
“Ugh grandma khawatir tau sama kamu Grandma baru sampai tadi malem dan nginep di rumah paman kamu” ucap Penelope dengan fasih berbahasa Indoesia.
“Swety, kau terlalu cepat berlari” Kelva, Bayu dan reza semakin melongo saat melihat seorang pria tampan yang sepertinya kakek Lia.
“Grandpa” Lia berlari ke arah Alex dan memeluk kakek tersayangnya itu.
“Aduh sayang, jangan lari lari nati kamu jatuh” Alex menggendong cucunya itu dan memperhatikan wajah pucat itu dengan seksama. Jarak wajah keduanya sangat dekat membuat Kelva cemburu.
“Hello baby...” Lia menengok ke arah pintu dan berteriak senang saat melihat sosok pemuda bersurai pirang berdiri dengan gaya coolnya. Lia melupakan fakta bahwa tubuhnya masih terasa lemas.
“Ugh kamu ringan sekali” ucap pemuda itu mengankat tubuh Lia gemas. Oke, Kelva semakin panas. Lia itu kekasihnya, tidak ada yang boleh memeluknya selain Kelva.
“Kangen...” rengek Lia mendusel kepalanya di dada bidang Luke.
“Ah semuanya kenalin ini Luke, dia...”
“Tunangan Lia...” ucap Luke memotong ucapan Lia. Lia memukul perut Luke, enak saja mengaku ngaku tunangan.
“Sembarangan, aku laporin sama Kak Roseta nanti. Aku ini keponakan kamu tau” ucap Lia menjauh dari Luke mendekati Kelva.
“Jangan marah” ucap Lia memegang ujung jaket Kelva. Kelva sempat kesal tapi hal itu luluh saat melihat tatapan Lia yang menggemaskan.
“Dia siapa Lia?” tanya Alex.
“Eh? Oh ini Kelva pacar Lia” ucap Lia riang. Kelva menunduk sopan, tapi tatapan menusuk dari Alex, Luke dan Penelope membuat Kelva meneguk ludah dengan susah payah.
“Oh pacar ya hmmm? Nah anak mua kau ikut denganku” ucap Alex menyeret Kelva keluar kamar Lia diikuti Luke di belakangnya. Ketiga teman Kelva menatap Kelva khawatir.
“Ah kalian tenang aja, dia cuman bakal di tes dengan kekerasan” ucap Penelope dengan senyum lembut membuat ketiga muda mudi itu bergidik ngeri. Mereka hanya bisa berdoa semoga Kelva selamat nanti.
.
.
.
Aisyah menatap putranya yang pulang dengan wajah lelah, ada apa?.
“Bang? Kamu kenapa?” tanya Aisyah.
“Ibuu, badan Kelva pegel semua” ucap Kelva mendekati Ibunya.
“Latihan buat dapat restu” ucap Kelva.
“Restu?” tanya Asiyah bingung.
“Kelva nggak boleh deketin Lia selama seminggu” keluh Kelva.
“Loh kok gitu?” tanya Aisyah.
“Ada Kakek sama pamannya” ucap Kelva.
“Oh pantesan” ucap aisyah sambil tertawa.
“Emang Ibu tau mereka?” tanya Kelva.
“Yah nggak sih, cuman Bundanya Lia kan sering cerita tentang gimana sikap kakek sama paman Lia kalau tau ada cowok yang deketin dia” ucap Aisyah.
“Heran deh, cewek Kelva di kelilingi sama cowok yang semuanya kayak angkatan militer” ucap Kelva.
“Emang kamu di suruh Apa?” tanya Aisyah penasaran.
“Disuruh latihan Boxing kan Kelva nggak bisa Bu” ucap Kelva.
“Sabar ya” ucap Aisyah.
Kelva masuk ke kamarnya, tubuhnya teras pegal semua. Setelah membersihkan diri, Kelva merebahkan dirinya sambil bermain ponsel. Dia mengirimkan pesan untuk Liadengan riang, tapi hal itu musnah saat melihat balasan yang ugh mengesalkan. Pesan yang berisi ancaman jika Kelva berani menghubungi Lia sampai waktu yang di tentukan maka bersiaplah tidak bertemu dengan Lia selamanya.
Kelva sudah bisa menebak, pasti Kakek atau paman Lia yang membalas pesannya. Kelva menghelas nafas, kenapa begitu sulit untuk berdekatan dengan Lia. Pertama kali Ayah Lia dan sekarang bertambah dua pengawal lagi, rasanya Kelva mau menangis saja.
Sedangkan di rumah Lia, gadis itu sedang bermanja ria dengan sang kakek, ditemani semangkuk buah Anggur dan teh hangat. Ruang tamu yang terasa ramai oleh suara teriakan Luke dan Luhan yang sedang bermain PS dan suara canda tawa yang di lontarkan antara Herman dan Alex. Sedangkan Mersa dan Penelope sedang membuat makan malam di dapur.
“Oh iya, liburan nanti Lia ke rumah Kakek kan?” tanya Alex.
“Maunya sih gitu, tapi Lia mau di sini aja liburan sama temen temen” ucap Lia.
“Gimana kalau liburan ke puncak? Anggap aja kemah keluarga” usul Herman.
“Hmmm boleh juga ide kamu, kebetulan kita punya vila di puncak” ucap Alex.
“Boleh ngajak Siska?” tanya Lia.
“Ajak aja” ucap Alex gemas melihat tingkah cucunya itu.
“Ah kalo gitu Luhan mau ngajak Bayu, reza sama Kelva” sahut Luhan masih fokus pada gamenya.
“Oh cowok letoy tadi ya? Kakek punya rencana bagus” ucap Alex dengan seringainya.
“Kalau rencana Ayah pasti aku setuju” ucap Herman.
“Aku ikut andil” ucap Luke.
“Yah ngerjain dikit boleh lah”
Lia menatap keempatnya yang sedang menyusun rencana dengan seringai dan aura gelap. Lia hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi hal yang bururk.
“Semuanya makan malam udah siap” ucap Mersa memasuki ruang tamu.
“Bunda, Lia makan di kamar ya” ucap Lia dengan wajah pucatnya.
“Kamu kenapa sayang? Sakit lagi?” tanya Mersa panik.
“Em cuman lemes sama pusing aja” ucap Lia. luke menggendong Lia menuju kamar, kemudian di susul Mersa yang membawa nampan makanan. Setelah Lia sendirian, Lia meraih ponsel dan Headshetnya.
“Halo...”terdengar suara serak di sebrang sana.
“Aku ganggu?” tanya Lia.
“Nggak kok, aku lagi tiduran aja capek banget soalnya”ucap Kelva, wajahnya mendadak cerah setelah mendengar suara Lia.
“Kamu nggak di kasarin sama Kakek kan?” tanya Lia sambil menguyah makan malamnya.
“Nggak kok, kakek kamu cuman ngajarin aku Boxing”ucap Kelva.
“Aku khawatir tadi” ucap Lia.
“Ah senengnya di khawatirin sama bu ketos, lagi makan ya?”tanya Kelva saat mendengar suara kunyahan.
“Iya, kamu udah makan? kalau aku Bu Ketos, terus kamu apanya? Pak Waketos?” tanya Lia.
“Udah tadi, yah anda benar, selamat anda berhasil mendapatkan hati saya dengan bunganya kasih sayang...” Lia tertawa sat mendenar balasan Kelva. Pemuda itu selalu bisa menghiburnya.
Dan malam itu keduanya menghabiskan waktu dengan mengobrol berdua melalui via telpon.
.
.
.
“Kenapa tuh anak?” tanya Bayu menunjuk Kelva yang sedang merebahkan kepalanya di meja dengan dagunya.
“Kakek nggak ngizinin dia buat deket deket sama Lia selama seminggu” ucap Luhan.
“Kasian...” ucap Bayu.
“Oh ya za, kok lo belakangan ini jadi pendiem?” tanya Luhan.
“Nggak papa” ucap Reza.
“Si Reza lagi puasa ngomong tuh” ucap Bayu.
“Dari pada puasa ngomong mending lo puasa sunah” ucap Luhan diiringi gelak tawa.
Kelva meratapi nasibnya yang tidak bisa bertemu Lia, bahkan ia di larang masuk ke ruang OSIS karena di sana sudah di jaga oleh para Bodyguard Alex.
“Gue kangen Lia” gumam Kelva meratapi nasibnya.
Sedangkan di ruang OSIS, Lia menatap datar para Bodyguard Kakekny. Ah sepertinya keduanya sedang di landa rindu berat.
TBC
Maaf typo