
Lia duduk di kursi rodanya menunggu Kelva yang sedang berganti pakaian sekaligus membersihkan tubuh dari keringat. Cukup lama Lia menunggu hingga akhirnya Kelva muncul dengan tas di bahunya dan pakaian yang sudah berganti dengan celana training dan kaus hitam polos. Ia tersenyum ke arah Lia yang di balas senyum manis oleh Lia.
"Udah?" tanya Lia, Kelva mengangguk. Ia melirik ke arah infus Lia yang tinggal sedikit.
"Infus lo mau abis tuh" ucap Kelva.
"Iya kah? kita ke parkiran aja, disana ada Bunda sama ayah" ucap Lia.Kelva mengangguk dan mendorong perlahan kursi roda Lia. Saat sampai di parkiran Tepat di samping mobil hitam, Mersa dan Herman sedang menunggu kedatangan Lia.
"Bunda" panggil Lia. Mersa dan Herman menoleh, terlihat raut cemas di wajah keduanya.
"Kamu nggak apa-apakan?" tanya Mersa mendekati Lia.
"Nggak kok bun" ucap Lia.
"Tante" sapa Kelva.
"Eh? nak Kelva, udah lama nggak kerumah" ucap Mersa yang baru menyadari adanya sosok Kelva disana.
"Yah belakangan ini emang sibuk sih" ucap Kelva menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ugh anak muda mah sok sibuk semua" ucap Mersa dengan tawa halusnya.
"Main dong ke rumah" ucap Mersa.
"Udahlah Bun, dia nggak bakal dateng kan lagi marahan sama Luhan" ucap Luhan yang muncul sambil membawa tas punggungnya.
"Loh? kok berantem?" tanya Mersa.
"Dia cemburu" ucap Luhan.
"Cemburu?" tanya Mersa bingung.
"Dia ngira Luhan naksir Lia" ucap Luhan.
"Oh ya ampun, padahal mereka berdua itu kakak adik loh" ucap Mersa sambil tertawa kecil. Kelva hanya tertawa canggung.
"Jadi, Kelva naksir anak tante nih?" goda Mersa.
"Bundaaaa" rengek Lia.
"Nggak ada naksir-naksir, sekolah yang bener dulu" ucap Herman yang sedari tadi hanya diam. Ia menatap Kelva tak suka, berani sekali pemuda itu mendekati anak perawannya.
"Ish Mas biarin, namanya juga anak muda" ucap Mersa mencubit perut suaminya gemas.
"Ayo pulang" ucap Herman menuntun Lia masuk ke dalam mobil. Mersa ikut masuk ke dalam mobil, meninggalkan Kelva dan Luhan yang saling diam.
"Sorry nih, gue udah salah paham sama lo" ucap Kelva angkat bicara.
"Santai aja, gue emang sengaja mau ngerjain lo" ucap Luhan santai. Kelva melotot tak terima, jadi selama ini dia di kerjai.
"Gue nggak sendiri, tuh mereka bertiga juga ikutan" ucap Luhan menunjuk Reza, Bayu dan siska yang tersenyum lima jari ke arahnya.
"Sial, jadi kalian sekongkol" geram Kelva.
"Dah, gue pulang dulu" ucap Luhan memasuki mobil ayahnya. Mobil itu perlahan melaju dan menghilang dari pandangan Kelva.
"Kalian" Kelva menatap ketiga sejoli yang di belakangnya dengan senyum menyeramkan.
"Firsat gue nggak enak" ucap siska.
"Kalian harus bantu gue buat bujuk Lia ikut prom night nanti malem, baru gue bakal maafin kalian" ucap Kelva.
~
Lia membuka matanya saat merasa ada yang mengguncang bahunya. Ia mendapati Luhan yang menatapnya lembut nan hangat.
"Bangun dulu" ucap Luhan.
"Pusing..." lirih Lia. Luhan membantu Lia duduk, dan memberikan Lia segelas air putih. Lia menerima gelas yang berisi air putih itu dan meminumnya hingga tersisah setengah.
"Mandi dulu sana, udah itu makan" ucap Luhan.
"Em" Lia mengangguk, infusnya sudah di lepas sejak tadi sore setelah pulang dari menonton pertandingan basket.
Lia menyegarkan tubuhnya dengan berendam di air hangat, rasanya seluruh tubuhnya mati rasa karena terlalu lama berbaring di rumah sakit saat di rawat. Lia menghentikan acara berendamnya saat mendengar suara sang Bunda yang memanggilnya.
"Kenapa Bun?" tanya Lia keluar dari kamar mandi.
"Udah mandinya?" tanya Mersa, Lia mengangguk. mersa menuntun Lia untuk duduk di meja rias.
"Bunda emang mau kemana?" tanya Lia bingung.
"Udah diem, pangeran kamu udah nunggu" ucap Mersa. sebenarnya Lia ingin bertanya, tapi segera Mersa menaruh telunjuk di bibirnya tanda untuk diam. Lia diam dan mengikuti apa yang di lakukan Bundanya. Mersa memasangkan Lia sebuah dress panjang berwarna hitam dengan lengan spageti. Wajah Lia Mersa oles dengan make up tipis. lalu ia memberikan Lia sepatu high hills yang rendah berwarna hitam. rambut panjang Lia di tata dengan rapi dan di selipkan sebuah jepit.
"Ayo turun" ucap Mersa menuntun Lia untuk turun menuju ruang tamu. Di ruang tamu, Lia mendapati ayahnya, Luhan, dan Kelva. Pemuda itu menggunakan tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu berwarna hitam.
"Bunda?" Lia masih bingung.
"Sana pergi, nanti telat loh" ucap Mersa.
"Emang mau kemana?" tanya Lia bingung.
"Om, tante, saya pinjam Lianya ya" ucap kelva menuntun Lia menuju mobil sport merahnya yang terparkir manis di halaman rumah Lia.
"Lo cantik" bisik Kelva.
"Lo juga ganteng" balas Lia dengan wajah merona.
~
Lia menatap keadaan sekolahnya dari dalam mobil. Ia lupa kalau malam ini merupakan malam penutupan ulang tahun sekolah. Suasana sekolah nampak sudah ramai di penuhi oleh para murid. Ada beberapa wartawan dari stasiun tv untuk meliput acara malam ini. Kelva memarkirkan mobilnya, lalu ia segera keluar. Terlihat Kelva berlari kecil menuju pintu bagian Lia. Ia membuka pintu itu dan membantu Lia turun.
"Kita jadi tontonan" bisik Lia menggadeng lengan Kelva saat merasakan tatapan orang orang mengarah padanya. keduanya perlahan berjalan masuk ke dalam aula sekolah.
"Biarin..." ucap Kelva.
"Wah wah wah, liat pasangan kita udah sampe" ucap Bayu dengan nada menggoda. semuanya menoleh ke arah Lia dan Kelva yang muncul.
"Loh bang Hanhan kok udah sampe?" tanya Lia mendapati Luhan yang asik dengan segelas jus. Luhan tersedak jusnya mendengar panggilan Lia kepadanya. Ia melirik teman-temannya yang menahan tawa.
"Lia kan udah aku bilang jangan manggil gitu kalo di sekolah" ucap Luhan.
"Ugh Bang Hanhan" ucap Reza dengan nada mengejek. Yang lain tertawa termasuk Kelva. Mereka tidak menyangka Luhan memiliki panggilan yang imut seperti itu. sedangkan Lia hanya mengerjab polos.
"Ayo duduk" ajak kelva menuntun Lia duduk di bangku paling depan.
"Mau kue?" tanya Kelva.
"Boleh, sekalian minumannya" ucap Lia. Kelva mengambil beberapa jenis kue yang sudah di hidangkan dan dua gelas orange jus. Saat kembali, ia melihat Lia yang di gerumbuli oleh anggota OSIS.
"Ehm..." semua anggota OSIS yang menggerumbuli Lia menoleh ke arah Kelva.
"Jauh-jauh dari cewek gue" ucap Kelva tajam. Semua anggota OSIS malah menggerutu karena Kelva hendak memonopoli ketua mereka.
"Ish kok ngomong gitu" ucap Lia kesal. Kelva mengedikkan bahunya acuh, dia memberikan Lia segelas orange jus kepada Lia yang di terima dengan baik oleh gadis itu.
Acara dimulai, Lia memperhatikan dalam diam setiap penampilan dari berbagai macam eskul di sekolahnya. Hingga tiba di acara dansa, kelva mengajak Lia berdansa. Lia menerima ajakan Kelva. Mata mereka saling menatap seakan menyalurkan perasaan masing-masing.
"Cantik banget" bisik Kelva.
"Cih gombal" dengus Lia.
"Gue mau ngomong sesuatu" ucap Kelva.
"Apa?" tanya Lia.
"Gue suka ah nggak gue cinta sama lo, gue nggak tau kapan perasaan ini makin kuat. gue sakit waktu lo ngilang dari gue" ucap Kelva.
"..." Lia masih diam.
"So, Lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Kelva dengan tatapan penuh harap. Lia diam, perlahan ia menjauhkan tubuhnya hingga dansa mereka terhenti.
"Maaaf, gue nggak bisa" ucap Lia.
"Kenapa? gue kurang apa?" tanya Kelva.
"Gue nggak bisa bilang di sini" ucap Lia. Kelva menarik Lia ke arah atap sekolah. Ia membutuhkan penjelasan dari gadis itu.
"Sekarang jelasin" ucap Kelva.
"Gue sakit Kel sakit" ucap Lia sendu.
"Lo sakit apa?" tanya Kelva khawatir.
"Leukimia, gue sayang sama lo tapi gue nggak mau bikin lo repot sama malu nanti kalo punya pacar kayak gue hiks" Lia mulai terisak, dia jatuh terduduk memeluk dirinya sendiri. Kelva memeluk tubuh rapuh Lia, ia mengusap punggung gadis itu dengan Lembut.
"Gue seneng lo juga suka sama gue, gue nggak peduli lo sakit atau sehat yang penting gue cinta sama lo. Buat apa gue malu? gue justru seneng kalo bakal jadi penopang lo" ucap Kelva.
"HIks tapi gue hiks..."
"Sssstt, udah jangan nangis nanti jelek" ucap Kelva masih mengusap punggung Lia.
"Lia sayang Kelva" ucap Lia dengan tangisan.
"Kelva juga sayang Lia" ucap Kelva. Mereka berdua saling berpelukkan, mengabaikan dinginnya udara malam.
"Jadi, kita jadian?" tanya Kelva. Lia mengangguk dalam pelukan Kelva.
"Yes, bu ketos yang galak takluk sama Kelva yang ganteng" ucap Kelva. Lia mencubit perut Kelva gemas.
"Sakit sayang" ucap Kelva. Lia merona, Kelva memanggilnya sayang.
"Oke, Pizza Hut menanti" Kelva dan Lia menoleh ke arah pintu atap. Disana, ada Luhan, Reza, Bayu dan siska mentap mereka dengan senyum menggoda.
"Ck. sebenernya gue nggak rela ngasih kembaran gue sama lo, tapi yah selagi dia seneng gue setuju aja" ucap Luhan.
"Hueee Bang Hanhan ter thebest" Lia berlari memeluk kakak kembarnya itu. Yang lain tertawa, malam ini merupakan awal mula hubungan Kelva dan Lia. Mereka tidak tau apa yang akan menanti kedepannya. tapi, jauh di lubuk hati mereka masing-masing mereka berharap sau hal yang sama yaitu kebahagiaan selalu ada.
TBC
Maaf typo 🙏🙏🙏