My Ketos My Love

My Ketos My Love
TwentyTwo



Kelva berjalan memasuki pemakaman umum dengan sebuket bunga Anggrek ungu di tangannya. Kakinya terus melangkah menuju salah satu pusaran tanah yang sudah mulai di tumbuhi oleh rumput liar. Berjonkok dan mulai membersihkan kuburan itu dalam diam setelah menaruh buket bunga yang ia bawa di sampingnya. Setelah diyakini bersih, Kelva tersenyum dan menaruh bunga yang ia bawa tadi di depan batu nisan.


“Maaf baru bisa kesini” ucap Kelva mengusap batu nisan tersebut dengan senyum sendu.


Hari ini tepat sudah delapan bulan setelah kejadian naas yang membuatnya kehilangan orang berharga. Ia ingat jelas dimana kala itu semuanya menangis dan tidak percaya. Ia juga mengingat ketika ia meraung keras saat mendengar penjelasan Dokter.


“Yang lain lagi pada sibuk, maklum bentar lagi ujian kelulusan”


“Nggak kerasa udah mau kuliah aja, padahal rasanya baru kemaren kita kenal”


Kelva terus bercerita sambil mengusap batu nisan tersebut. Batu nisan yang terukir jelas nama yang berbaring di sana.


Reza Ramadhan


“Lo tau Za, udah kejadian itu Lia belum bangun sampe sekarang. Kalo lo ketemu dia di sana suruh di pulang Za, semuanya khawatir sama dia” ucap Kelva.


Flashback On


“Bagaimana Dok?”


Sang Dokter melepas maskernya dan menghela nafas sambil menggeleng.


“Operasinya berhasil, tapi kami gagal menyelamatkan sang pendonor karena mendadak dia mengalami pendarahan setelah sum sum tulangnya di angkat” ucap sang Dokter.


Semuanya bungkam, sang pendonor? Itu berarti Reza. Semuanya larut dalam kesedihan termasuk Kelva yang melemas seketika di lantai. Sahabat yang sudah menemaninya selama ini pergi begitu saja tanpa pamit dan kata kata terakhir.


“Saya keluarga pendonor, bisa langsung saya bawa pulang Adik saya?” tanya Kakak Reza yang bernama David.


“Saya akan menyuruh beberapa perawat mengurus adik anda, jika sudah selesai anda bisa membawa adik anda pulang” ucap sang dokter dan permisi pergi.


“Besok pemakaman Reza, saya harap kalian datang” ucap David menatap semuanya dengan mata yang tegas menyembunyikan kesedihan karena kehilangan adik satu satunya.


“Biarkan kami yang mengurus” ucap Herman.


“Tidak, kalian datang sudah cukup. Terima kasih sudah mengabulkan permintaan terakhir Reza” ucap David menjabat tangan Herman.


“Tidak, kami yang berterima kasih karena adik kamu sudah mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk putri kami” ucap Herman.


“Tidak masalah, saya pamit” David mengundurkan dirinya berlalu meninggalkan semuanya dalm diam.


Kelva segera berdiri saat melihat beberapa perawat mendorong brangkar Reza dan Lia. mereka semua mengikuti hingga ke ruang rawat Lia.


“Harap jangan berisik jika ingin berkunjung” ucap salah satu perawat.


Kemudian keadaan kembali hening, hanya terdengar suara sesegukan Mersa dan alat medis yang ada di ruangan tersebut. Kelva hanya diam, tidak tahu ingin bereaksi seperti apa. satu sisi dia senang karena Lia bisa di selamatkan sedangkan disisi lain dia sedih karena kehilangan sahabatnya. Begitu juga halnya Luhan.


Flashback Off


Kelva menghela nafas sebentar dan berdiri karena hari sudah sore, tujuannya saat ini adalah Rumah Sakit tempat Lia di rawat. Saat sampai ia mendapati Mersa yang sedang menggenggam tangan Lia yang membengkak karena terlalu lama tertancap jarum infus.


“Sayang bangun dong, Bunda kangen” ucap Mersa mengusap lembut tangan Lia yang membengkak.


“Bunda...” panggil Kelva. Setelah kejadian waktu itu ia mulai memanggil Mersa Bunda dan Herman Ayah.


“Kelva kapan dateng?” tanya Mersa.


“Baru aja Bun” ucap Kelva mencium punggung tangan Mersa.


“Masih belum ada kemajuan Bun?” tanya Kelva melihat Lia yang masih tertidur dengan damai. Tanpa tahu bahwa banyak yang menunggunya bangun disini.


“Kata Dokter Lia udah mulai ngerespon kalo kita ngomong jarinya bakal gerak, tapi belum tau kapan bangun. Dokter nyuruh banyak banyak ngajakin dia ngobrol biar dia bisa bangun dari alam bawah sadarnya” ucap Mersa.


“Bunda belum makankan? Ke kantin rumah sakit dulu biar Kelva yang jagain Lia” ucap Kelva. Mersa mengangguk, ia mengerti kalau keduanya memerlukan waktu berdua.


Setelah Mersa pergi, Kelva segera menggantikan posisi Mersa dan mengusap pelan tangan Lia yang membengkak.


“Kapan bangunnya? Aku kengen nih? Emang di sana enak banget ya? Atau kamu lagi sama aku yang lain?” ucap Kelva.


“Bangun dong, aku kangen tau” ucap Kelva. Jari telunjuk Lia bergerak membuat Kelva tersenyum.


“Responnya bangun dong jangan jari aja yang di gerakkin” ucap Kelva.


Diluar ruangan ada Luhan yang megintip bersama Cantika. Cantika mengusap lengan Luhan mencoba menyemangati, Luhan menghela napas sebentar dan masuk ke dalam ruang rawat Lia.


“Lo udah lama disini?” tanya Luhan kepada Kelva.


“Nggak, baru aja” ucap Kelva.


“Lia gimana?” tanya Cantika, ia cukup khawatir karena semenjak Lia di rawat Luhan terus terlihat murung.


“Masih sama” jawab Kelva


“Kelva, lo bakal nerima tawaran dari sekolah?” tanya Luhan.


“Gue nggak bakal terima” ucap Kelva.


Kelva memang mendapat tawaran belajar di luar negeri karena nilainya yang meningkat dan bagus.


“Lo yakin?” tanya Luhan duduk di sofa yang tersedia. Sedangkan Cantika memperbaiki selang infus Lia yang terlipat.


“Gue yakin, gue bakal jagaian Lia sampe dia bangun” ucap Kelva.


“Lo nggak bisa begini, lo juga punya masa depan. Lo nggak takut nanti orang tua lo sedih kalo lo nolak kesempatan yang jarang di dapet ini?” ucap Luhan. Kelva berpikir sejenak, Luhan benar. Ia juga harus memikirkan orang tuanya.


“Bakal gue pikirin nanti” ucap Kelva menatap Lia yang terlelap.


.


.


.


Kelva menatap sekitarnya yang nampak seperti padang bunga, ia melihat sosok yang berdiri di tengah tengah hamparan bunga. Ia mendekat untuk bertanya ini ada dimana.


“Permisi...”


Saat sosok itu menoleh Kelva terbelalak kaget, itu Reza yang menatapnya dengan senyum dan pakaian serba putih.


“Re-Reza?”


“Bro apa kabar?” tanya Reza.


“Lo masih idup?” tanya Kelva tak percaya.


“Nggak, lo lagi ada di alam bawah sadar” ucap Reza.


“Lo nyari Lia kan?” tanya reza.


“Lo tau dia dimana? Tunjukin gue dia ada dimana?” ucap Kelva.


“Ayo ikut gue” ucap Reza. Keva mengikuti Reza mengarah ke sbuah pohon apel yang rindang.


“Itu dia” ucap Reza menunjuk sosok gadis dengan gaun putih duduk di bawah pohon sambil memeluk seekor kelinci berwarna putih.


“Lia...” teriak Kelva berlari mendekati Lia tapi terhenti saat tubuhnya terpental jauh seperti menabrak sesuau.


“Lo nggak bakal bisa deketin dia” ucap Reza.


“Gue mau ketemu sama dia, gue kangen dia” ucap Kelva.


“Lo bakal ketemu sama dia, jadi sampe waktunya tiba lo harus sabar” ucap Reza.


.


.


.


Tit Tit Tit


Suara alat pendeteksi denyut nadi terdengar di ruangan serba putih itu, seorang perawat yang sudah dari awal mengurus Lia mengganti kantung infus yang sudah kosong. Sang perawat juga memperbaiki jarum infus Lia dan selangnya. Dia tersenyum saat melihat tangan gadis itu bergerak seolah mengatakan terima kasih sudah merawatnya. Sang perawat tersentak kaget saat melihat cairan bening menetes dari mata Lia yang tertutup rapat.


“Bangunlah, dia ada disini menunggumu” ucap sang perawat mengingat sosok Kelva yang setiap hari menunggu Lia sadar.


Setelah melakukan tugasnya sang perawat pergi keluar, tidak lama kemudian Kelva datang dan memasuki ruang rawat Lia. ia langsung duduk di kursi samping ranjang rumah sakit dan menatap wajah Lia. tangan kanannya terulur mengusap rambut Lia yang sudah mulai memanjang lagi.


“Aku nggak tau kapan kamu bangun, tapi permintaan aku cuman satu kalo kamu bangun terus nggak ngeliat aku. Aku harap kamu mau nunggu aku, keputusan aku udah bulat aku bakal nerima kesempatan kuliah di luar negeri” ucap Kelva dengan tangan kirinya menggenggam tangan Lia.


“Aku mau kalo ketemu kamu nanti, aku udah sukses dan mapan. Oh iya aku punya hadiah buat kamu” ucap Kelva mengambil kotak berlapis kain beludru dari tas sekolahnya.


“Aku pakein ya” ucap Kelva mengambul kalung indah berliontinkan huruf KL yang saling menimpa dan di tengah tengahnya terdapat permata biru kecil. Ia memasangkan kalung itu di leher Lia dengan hati-hati. Lalu ia mengambul sebuah cincin perak yang terdapar ukiran nama keduanya yang juga terdapat berlian berbentuk kotak berwarna biru.


“Kamu bilang suka warna biru, makanya aku beliin serba warna biru” ucap Kelva.


Kelva terus bercerita banyak hal padahal Lia tidak akan merespon sama sekali. Mersa yang mengintip dari celah pintu menahan tangis melihat betapa sabarnya Kelva menanti putrinya yang tak tahu kapan akan bangun.


“Bangun sayang, kamu nggak liat perjuangan dia” doa Mersa dalam hati.


Bulan berlalu, hari kelulusan tiba. Semua murid berbahagia saat dinyatakan lulus dengan nilai yang bagus. Termasuk Kelva, dia lulus dengan nilai memuaskan.


“Hebat juga lo, pinter dalam waktu singkat” ucap Bayu menepuk bahu Kelva.


“Gue juga nggak bakal gini kalo bukan karna Lia” ucap Kelva.


Luhan, Bayu dan Siska mendadak diam. Keempatnya sudah lulus, sedangkan Lia? masih terbaring koma di rumah sakit.


“Nanti jenguk Lia ya gue kangen” ucap Siska.


Semuanya masih diam, larut dalam kekososngan karena


sesuatu yang tidak lengkap.


“Sebenernya Lia udah lulus sebelum dia koma” ucap Luhan membuat atensi ketiga temannya menatapnya.


“Maksud lo?” tanya Siska.


“Dia ikut kelas loncatan dan lulus waktu ujian” ucap Luhan.


“Tapi kok dia masih seangkatan sama kita waktu itu?” tanya Bayu.


“Lo tau Ayah gue bakal ngabulin semua permintaan Lia, udah di jamin Lulus Lia minta dia masih sekolah kayak biasa” ucap Luhan.


Cerita mereka terhenti saat keluarga Luhan dan Kelva mendekati keempatnya.


“Anak Bunda udah lulus, selamat ya” ucap Mersa mencium pipi Luhan.


“Sayang selamat hari kelulusan” ucap Cantika menyerahkan buket bunga kepada Luhan yang di terima dengan senang hati oleh Luhan.


“Nggak kerasa ya anak Ibu udah mau kuliah aja” ucap Aisyah memeluk Kelva, begitu pula Hendra sang Ayah.


“Gimana kamu jadi nerima kuliah di luar negeri?” tanya Hendra.


“Jadi Yah” ucap Kelva.


“Bagus, dengan begitu Ayah bisa yakin sama kamu nanti buat ngurus Lia” sahut Herman.


Obrolan berlanjut diiringi kekehan ringan satu sama lain. Kelva tersenyum, ia menatap langit dan menghela napas lega.


.


.


.


Kelva menjaga Lia seharian karena besok dia sudah berangkat ke luar negeri dan melanjutkan kuliahnya di bidang bisnis atas saran keluarganya. Ia terus bercerita kepada Lia hingga larut malam, dan berharap malam tak akan berakhir cepat.


“Jaga kesehatan kalo disana” ucap Aisyah menasehati.


“Kak Kelva jangan sampe sakit” ucap Kesya.


“Belajar yang bener biar banggain orang tua” ucap Hendra.


“Jangan jelalatan disana, istri lo lagi koma” ucap Luhan dengan tertawa kecil.


“Ntar yang ada lo kena tebas kalo berani jelalatan sama cewek bule” sahut Bayu.


“Kalo pulang oleh oleh jangan lupa ya” ucap Siska.


“Buktiin kamu pantas buat putri saya” ucap Herman serius.


“Jangan sampe aneh aneh, nanti Lia ngamuk bawa Katana” ucap Mersa.


“Kamu tenang aja, kita yang bakal jagain Lia” ucap Cantika.


Mereka semua mengantar Kelva menuju Bandara dan sebentar lagi pesawat yang akan membawa Kelva lepas landas. Jadi semuanya memberikan kata kata perpisahan. Kelva berpamitan kepada semuanya dan membalik


badan hendak memasuki pesawat, sejenak ia ragu kemudian menghela napas mencoba meyakinkan.


“Aku pergi, tunggu aku pulang” batin Kelva.


Setelah pesawat yang membawa Kelva lepas landas, ponsel Herman berdiring karena mendapat telpon dari rumah sakit.


“Pak, putri anda sudah sadar segeralah kemari”


Herman segera memberitahu semuanya dan semuanya bergegas menuju rumah Sakit.


“Lia, kamu sadar disaat Kelva udah pergi”- Luhan.


“Lia, kamu sadar di waktu yang nggak tepat”- Cantika.


“Astaga Lia, Kelva udah otw dan lo baru sadar”- Siska.


“Bro, waktu lo pergi kurang pas”- Bayu.


Semuanya sibuk dengan batin masing masing karena waktu kesadaran Lia yang kurang pas. Kenapa di saat Kelva sudah pergi Lia baru sadar? Apa mungkin ada suatu hal yang membuat hal itu bisa terjadi.


.


.


.


Saat sudah sampai di asrama kampus, Kelva merebahkan dirinya karena lelah. Ia mencari ponselnya dan segera menyalakannya. Dia tersentak bangun saat membaca pesan dari Luhan.


Bro, Lia udah sadar hari ini.


Kelva bersyukur, meskipun ada perasaan tidak rela karena di saat dia pergi kenapa gadisnya baru sadar.


“Walaupun gitu, tetap tunggu aku Lia” gumam Kelva.


END