My Ketos My Love

My Ketos My Love
Twentysix



Lia melamun di kamarnya dan tidak sadar Kelva sudah memasuki kamarnya. Kelva menyerngit melihat Lia yag melamun menatap keluar jendela kamar.


“Sayang melamun aja, mikirin aku ya?” ucap kelva mengejutkan Lia.


“Kapan dateng?” tanya Lia.


“Baru aja, ngelamunin apa?” tanya Kelva.


Lia menunduk, ia ragu ingin mengatakan hal ini. Ia takut Kelva akan marah padanya. Kelva menyadari ada yang ingin Lia katakan padanya. Ia menangkup wajah Lia yang mulai terlihat tembem kembali.


“Kenapa hm? Kasih tau aku” ucap Kelva lembut.


“Janji jangan marah” ucap Lia membuat Kelva gemas, kenapa setelah berpisah tujuh tahun Lia baru bertingkah menggemaskan kenapa tidak dari jaman mereka SMA dulu.


“Iya sayang iya” ucap Kelva gemas.


“Kita nggak usah nikah ya” gumam Lia membuat Kelva menatap Lia tajam.


“Kenapa? Kamu udah nerima lamaran aku, kasih aku alasan yang masuk akal” ucap Kelva menahan amarahnya.


“Aku nggak sempurna kelva, aku udah-“


“Aku tau, aku tau tapi aku nggak masalahin itu. Aku nerima kamu apa adanya Lia” bentak Kelva membuat Lia tersentak kaget, Lia beringsut mundur menjauh dari Kelva dengan tubuh bergetar.


“Jangan marah kan tadi udah janji hiks”


Kelva tersentak kaget, ia hanya emosi tadi karena Lia ingin membatalkan pernikahan mereka disaat semuanya mulai di urus. Kelva mendekati Lia, dan memeluk tubuh bergetar itu.


“Maaf, aku cuman emosi tadi” ucap Kelva mengusap air mata Lia. Lia terus menangis hingga terdengar hingga ke ruang tamu dimana Herman dan mersa sedang menikmati waktu berdua.


BRAK


“Kamu apain anak saya?” Herman menarik Kelva hingga pelukan dua sejoli itu terlepas. Mersa yang mengikuti Herman dari belakang langsung mendekati Lia dan menenangkan putrinya itu.


“Kelva bentak Lia tadi” ucap Kelva jujur.


“Kamu bentak dia? Saya Ayahnya aja nggak pernah bentak dia” ucap Herman murka.


“Mas udah Mas” ucap Mersa berusaha membantu Kelva.


“Lia bilang sama Ayah dia harus diapain” ucap Herman.


“Ja-jangan hiks pu-pukul Kelva hiks Lia yang salah hiks” isak Lia.


“Udah Mas” ucap Mersa membuat Herman melepaskan Kelva dan berjalan ke luar kamar bersama Mersa.


“Bikin dia nangis lagi pernikahan kalian batal” ucap Herman di ambang pintu sebelum menghilang dari pandangan Kelva.


"Kita jadi nikahkan?" tanya Kelva lembut mendekati Lia.


.


.


.


Dan disinilah Kelva dan Lia sekarang, di butik langganan Aisyah untuk memilih baju pengantin. Kesya juga ikut andil dalam memilih karena dia tidak sabar menunggu pernikahan Kakak laki lakinya itu.


“Ayo Lia Ibu bantu nyoba yang ini” ucap Aisyah membawa sebuah gaun putih dan kebaya modern berwarna biru laut.


“Abang juga coba yang ini sana, cepet ya abis itu kita mau langsung bikin undangan” ucap Kesya semangat.


Setelah memilih pakaian, perjalan berlanjut membuat undangan lalu memilih tema pernikahan.


“Kamu mau yang mana?” tanya Kelva menunjuk beberapa model undangan.


“Yang ni aja, simple tapi bagus” ucap Lia menunjuk sebuah undangan berwarna Merah gelap dengan pita.


“Temanya mau tentang apa?” tanya Kelva.


“Putih sama Biru aja” ucap Lia.


Kalau boleh jujur ia mulai lelah, tujuan terakhir mereka adalah toko perhiasan untuk mengambi cincin yang sudah di pesan. Kepala Lia sudah sangat pusing, ia berjalan pelan saat semakin dekat dengan mobil yang di parkirkan.


“Kelva...” panggi Lia sebelum tubuhnya melemas dan terduduk.


“Astaga Lia” Kelva memapah Lia menuju mobil di bantu dengan Aisyah. Kesya memberikan air mineral pada calon Kakak iparnya itu.


“Kayaknya Kak Lia udah kecapekkan Bu” ucap Kesya.


“Kalo gitu Kelva kamu anter Lia pulang biar Ibu sama Kesya yang ambil cincin kalian” ucap Aisyah.


“Nggak apa apa, aku cuman lemes aja nggak usah pulang nanti Ayah mikir yang aneh aneh” ucap Lia.


“Kamu yakin?” tanya Kelva yang diangguki oleh Lia.


“Jangan maksain diri Kak” ucap Kesya.


“Nggak apa apa, nanti aku di mobil aja” ucap Lia.


Saat sampai di toko perhiasan, Kelva menggendong Lia di punggungnya. Ia tidak yakin meninggalkan Lia di mobil sendirian, kenapa di punggung? Jawabannya adalah Lia menolak saat Kelva akan menggendongnya ala Bridelstyle. Tentu saja keduanya menjadi pusat perhatian, Kelva tidak peduli. Baginya selagi itu bersama Lia apapun menjadi tidak memalukan.


Setelah mengambil cincin, Kelva mengantar Lia pulang dan benar saja saat sampai di rumah Herman sudah menatapya tajam saat melihat Lia yang tertidur di gendongannya. Untungnya ada Aisyah dan Kesya yang membantu menjelaskan kepada Herman.


“Antar Lia ke kamar, mulai besok kalian di larang bertemu sampai hari akad” ucap Herman.


Kelva mengagguk, dia mengantar Lia ke kamar gadis itu. Ia menghela napas, seminggu dia tidak akan bertemu dengan Lia karena aturan. Bahkan dalam seminggu kedepan Ponsel Lia akan berada di tangan Herman untuk mencegah agar Kelva tidak menghubungi Lia.


.


.


.


Kelva mengcak rambutnya kesal, ini sudah memasiki H-3 menuju hari akad nikah dan ia sudah merindukan Lia. oh ayolah dia tidak mendapat kabar apapun tentang Lia beberapa hari ini. Luhan dan Bayu yang kebetulan sedang berada di perusahaan Kelva menatap sahabat mereka itu malas. Kelva sedang di landa masa Bucin.


“Bucin adek lo noh” ucap Bayu.


“Kok mau adek gue sama yang kayak dia yah? Heran gue” ucap Luhan.


“Calon adek Ipar lo” ucap Bayu.


“Pengen gue batalin tuh acara nikahan” ucap Luhan.


“Jangan Woi” sahut Kelva kesal.


“Mangkanya jangan kayak zombie gitu” ucap Luhan.


“Udah lama ya, nggak kerasa kita udah dewasa dan nggak kerasa Reza udah lama ninggalin kita” ucap Bayu membuat suasana hening seketika. Ketiganya larut dalam kenangan ketika Reza masih ada di antara mereka.


“Nanti ziarah yok ke makam Reza, gue belum ada kesana semenjak balik dari luar negri” ucap Kelva.


“Boleh” sahut Bayu.


“Gue juga lama nggak ke sana, terakhir waktu Lia baru sadar berapa hari ke sana sama Lia” ucap Luhan.


Sesuai rencana, ketiganya mengunjungi makan Reza bertepatan dengan David yang juga ada di sana.


“Bang David” sapa Kelva.


“Oh kalian, mau jengukin Reza?’ ucap David yang di angguki ketiganya.


“Saya dengar kamu dan Lia mau nikah” ucap David menatap Kelva.


“Yah gitu deh” ucap Kelva.


“Reza pasti seneng kalian beneran nikah” ucap David.


“Selamat ya, saya akan dateng nanti” ucap David menepuk bahu Kelva.


“Makasih Bang” ucap Kelva.


dari rekan kerjanya yang memamng di tugaskan oleh Kelva membagikan undangan di kantor untuk setiap pegawai.


“Eh beneran nih Bos mau nikah?”


“Iya loh, gue kaget padahal kalo gue liat Bos itu deketnya sama Alena kok malah nikah sama cewek lain”


“Tapi dari kabar yang gue denger Alena sama Bos cuman temen”


“Kalo gue liat, Alena kayaknya punya perasaan buat Bos deh”


“Duh nyesek pasti tuh”


Alena meremat keras tangannya mendengar berbagai macam pembicaraan teman kantornya.


“Alena lo nggak papa?” tanya Tiara.


“Alena lo nggak bakal gangguin Kelva kan?” tanya Mike khawatir.


“Nggak...” balas Alena singkat.


.


.


.


Kelva menatap gugup Herman yang duduk di hadapanya, siap menuntunnya mengucapkan ijab qabul. Yup, hari ini adalah hari akad nikah Kelva dan acara pestanya adalah besok atas permintaan Lia berbeda dengan acara Luhan


yang langsung di lakukan setelah akad nikah. Acara di laksanakan di rumah Lia.


“Jangan tegang gitu” ucap Aisyah menenangkan Kelva.


“Bro jangan gitu, yang nanti malem nggak udah di pikirn dulu fokus buat ijab qabul” ucap Bayu frontal.


“Otak mesumnya mulai yah” ucap Siska mencubit perut Bayu kesal membaut Bayu meringis.


Kelva semakin gugup ketika Lia duduk di sampingnya dengan kebaya yang melekat pas di tubuh kecilnya. Keduanya di tudungkan menggunakan selendang putih oleh Mersa.


“Bismillah, acara akan segera kita mulai” ucap pak penghulu yang membimbing jalannya acara. Herman menjabat tangan Kelva yang berkeringat dingin.


“Bismillah, Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Lia Andristha binti Herman Wijaya dengan Mas kawin seperangkata alat solat dan mahar sebesar seratus juta di bayar tunai”


“Saya terima nikah dan kawinnya Lia Andristh Binti herman Wijaya dengan Mas Kawin tersebut di bayar tunai”


“Bagaimana para saksi sah?”


“SAH”


Kelva bersyukur, dalam sekali tarikan napas dia bisa mengucapkan Ijab Qabul. Lia mecium punggung tangan kelva setelah mendatangani surat nikah dan memasang cincin. Kelva membalas dengan mengecup dahi Lia.


“Mohon bimbingannya Mas” ucap Lia. Kelva tersenyum mendengar panggilan baru Lia untuknya.


Setelah acara selesai di jam delapan malam. Lia dan Kelva di persilahkan untuk istirahat ke kamar Lia yang sudah di tata sedemikian rupa. Saat masuk, aroma mawar semerbak karena banyaknya taburan bungan mawar di lantai dan ranjang.


“Ekhm kamu mandi duluan” ucap Kelva, Lia mengangguk dan masuk ke kamar mandi.


“Tenang Kel tenang” gumam Kelva.


Lia menatap bingung Kelva yang terus menatapnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Kenapa Mas?” tanya Lia bingung.


“Gaun itu?” tunjuk Kelva pada gaun hitam yang di kenakan Lia. kalau boleh kelva jujur, gaun itu transparan.


“Oh ini, adanya cuman ini. Baju aku yang lain nggak tau pada kemana” ucap Lia.


“Grrh Mas mandi dulu, jangan tidur” ucap Kelva menyambar handuk.


Lia duduk di atas ranjang dengan kaki yang di luruskan, kakinya begitu pegal. Ia memijit pelan bahunya, menghela napas berat karena besok harus bersiap untuk acara. Kelva sudah selesai dengan mandinya, ia mendekati Lia dan memijit bahu Lia pelan. Ia tahu istrinya itu pasi lelah.


“Lia, bolehkan?” tanya Kelva dengan suara serak membuat Lia merinding seketika.


“A-apa?” tanya Lia.


“Minta hak Mas"  ucap Keva serak. Seketika bayangan kejadian dulu kembali di pikiran Lia. tubuhnya bergetar ketakutan, dan kelva menyadari itu.


“Kamu tenang aja, Mas bakal lembut kok” ucap Kelva mengecup dahi lia.


“A-aku takut” ucap Lia.


“Ini Mas, suami kamu bukan orang lain” ucap Kelva menatap mata Lia dalam. Lia dengan ragu mengangguk.


“Mas janji bakal lembut” bisik kelva.


CUP


“Ngh...”


Silahkan berfantasi sendiri :)


.


.


.


Kelva mengerjabkan matanya saat mendengar suara ketukan dari pintu kamar, dia meraih celana pendeknya lalu memakainya dan berjalan ke arah pintu.


“Bunda? Ibu? kenapa?” tanya Kelva dengan muka bantalnya, dia masih mengantuk setelah kejadian tadi malam yang memakan waktu hingga jam tiga pagi.


“Ish anak ini, pakek baju dulu” ucap Aisyah mencubit perut kotak kotak anaknya.


“Aduh Ibu  jangan nanti Lia ngambek roti sobeknya memar” ucap Kelva.


“Kelva, Lia nggak berontak tadi malem?” tanya mersa khawatir.


“Bunda tenang aja, Kelva nenangin dia kok” ucap Kelva tersenyum.


“Yaudah ini sarapan, kamu tadi malem pasti kasar. Istirahat aja dulu nanti Ibu bangunin lagi buat siap siap acara” ucap Aisyah menyerahkan nampan yang berisi dua porsi nasi dan ayam kecap serta seteko air putih dan sebuah gelas.


Kelva menutup pintu dan menaruh sarapannya dan Lia di meja samping ranjang. Kelva dengan lembut membangunkan Lia yang masih terlelap damai. Terlihat jelas raut lelah di wajahnya.


“Sayang bangun dulu ya, sarapan” ucap Kelva.


“Ngh nggak mau Mas, capek mau bobo lagi” ucap Lia dengan mata terpejam.


“Sarapan dulu, abis itu baru bobo lagi” ucap Kelva.


“Suapin” ucap Lia mendudukkan dirinya dengan perlahan karena tubuhnya terasa remuk yang di sebabkan oleh Kelva tadi malam.


“Ayo buka mulutnya” ucap Kelva, Lia memuka mulutnya dan menerima suapan dari kelva dengan mata terpejam. Ia tidak sadar bahwa selimutnya melorot sehingga menampakkan pemandangan bagi Kelva.


"Sayang ini masih pagi loh, kamu jangan mancing aku” ucap kelva memperbaiki selimut Lia.


“Ish nggak puas apa tadi malem? Liat badan aku banyak merah merahnya” ucap Lia membuka matanya.


“Puas kok sayang puas banget malah” ucap Kelva mengalah sebelum Lia meledak ledak nantinya.


.


.


.


“Liat aja, permainan baru aja dimulai” Alena menyeringai kejam di kamarnya seorang diri.


TBC