
Setelah dari toilet dan menghadapi tiga karyawan itu hwa young kembali duduk di antara karyawan lain yang tengah makan dan minum-minum. Direktur kang menawarinya minum, hwa young menolaknya dengan lembut. Ketiga wanita itu menghampiri direktur kang dan hwa young untuk berpamitan pulang dengan alasan tidak enak badan. “kenapa tiba-tiba ? kalian tadi tampak baik-baik saja ?” ucap direktur kang. direktur kang akhirnya mengijinkan ketiganya pulang meski terlihat jelas alasan ketiganya sedikit tidak rasional. Hwa young hanya diam tidak berkomentar. pandangannya tertuju pada satu arah di mana ia melihat il sung pacar adiknya sedang makan berdua bersama seorang pria. Keduanya makan sambil melempar pandang dan senyuman layaknya pasangan yang sedang berkencan dan di mabuk asmara. Hwa young menghela napas. Il sung dan pria itu beranjak pergi setelah selesai makan. Hwa young segera menunduk ia jongkok di bawah meja untuk bersembunyi. “manajer lee ? apa yang sedang anda lakukan ?” Tanya direktur kang heran “saya sedang memperbaiki sepatu saya, sepertinya saya harus mengganti heels ini hehe” sembari memgangi heelsnya. ia mengintip il sung sudah keluar dari kafe, ia segera beranjak dan pergi ke luar kafe. ia melihat ilsung dan pria bersamanya pergi menggunakan mobil. “manajer lee“ panggil seseorang. Salah seorang karyawan bawahannya menghampirinya “ada apa manajer lee ?” sembari ikut menatap kea rah yang sama seperti hwa young “tidak ada” “mari kembali ke dalam direktur kang dan yang lain mencari anda” hwa young terdiam sejenak sebelum kembali ke dalam kafe “aku harus menyelidikinya” batinnya. Esoknya hwa young mulai bekerja di kantor dan pulang tepat pukul 5 sore. Di rumah yang besar dan mewah jin young duduk bersantai di atas sofa sambil bermain gadjetnya di ruang tengah. Hwa young masuk dalam rumah “ah… noona sudah pulang” ucap jin young yang melirik melihat kakaknya. “iya..” ia duduk di sofa merenggangkan kaki dan melepas heelsnya. “bagaimana hari pertama noona bekerja ?” “yaahh.. seperti itulah, ah jin young-ah” “wae ? (kenapa ?)” sambil terfokus dengan gadjetnya “di mana namchin (boyfriend) kamu bekerja ?” “dia bekerja di perusahaan ooljin furniture, wae (kenapa ?)” “tidak aku hanya penasaran saja” ia beranjak dengan bertelanjang kaki sambil menenteng heels menuju kamarnya. Siang itu hwa young antri untuk membeli minuman dingin di restoran cepat saji. Ia terfokus pada ponselnya dengan social media. Ponsel pria di hadapannya bergetar, rupanya pria itu adalan yeon jun “hallo.. aku sedang membeli minum di subway…” “minuman anda tuan satu cup ice coffe silahkan” ia mematikan ponsel dan berbalik pergi melewati hwa young. Hwa young melihatnya, ia hanya diam dan melangkah maju. “tolong ice green tea satu” “baik mohon tunggu sebentar nona.” Hwa young menatap keluar dinding kaca yeon jun berjalan ke arah sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan dengan il sung di dalam mobil. yeon jun masuk dalam mobil dengan duduk di bangku depan di samping il sung. Hwa young terus memperhatikan “silahkan nona minuman anda, satu cup ice green tea.. nona.. nona..” hwa young terus melihat keluar “nona..” panggil pegawai itu, hwa young menoleh karena baru sadar ia di panggil. “ini minuman anda nona” “ah iya terimakasih” hwa young segera bergegas pergi setelah menerima minumannya. Ia hanya berdiri di balik tembok di depan pintu masuk “kenapa mereka bertemu ? apa yang mereka bicarakan ?” “mana dompetku ?” Tanya yeon jun dengan dingin “sayangnya aku tidak membawanya” yeon jun langsung menatap tajam “kau mengabariku secara mendadak jadi aku tidak membawanya, kau hanya menanyakan dompetmu dan meminta bertemu tanpa bilang untuk membawanya”. Yeon jun merasa geram dalam diam dan berusaha mengontrol emosinya “aku sedikit sibuk hari ini, malam ini temui aku di klub malam okta di itaewon, aku akan membawanya” tanpa menjawab yeon jun keluar dari mobil.