My Husband Have A Boyfriend

My Husband Have A Boyfriend
Minggu ketiga



Minggu ke-3 di pagi hari hwa young menutup matanya rapat-rapat dengan taspack di genggamannya di depan cermin kamar mandinya. “ku mohon satu garis satu garis…” ucapnya pelan. Matanya membuka perlahan ada dua garis merah sejajar. Jiwa hwa yeong seperti melayang setelah melihatnya. Ia terus saja menganga “tidak mungkin.. pasti ada yang salah..” dia sengaja tak masuk kerja dan pergi ke rumah sakit. Hwa young duduk di kursi tunggu dengan tegang menunggu namanya di panggil. Ketika ia menemui dokter yang seorang wanita paruh baya, dokter memintanya untuk tes urine “hasilnya akan keluar 2 jam lagi, setelah 2 jam anda bisa kembali ke sini” “baik terimakasih dokter”. Hwa young berniat pergi tapi ia kembali duduk. “oh ya dokter.. sebelumnya saya sudah melakukan tes dengan tespack tapi saya ada ketakutan mungkin bisa saja alatnya tidak sepenuhnya akurat oleh karena itu saya datang ke rumah sakit untuk melakukan tes”. “alat tes kehamilan yang ada di apotek-apotek sebetulnya memang akurat tapi memang ada beberapa kasus tes kehamilannya tidak akurat. Terkadang dalam tes menunjukkan negatif tetapi ketika di periksa ternyata positif. ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Yang pertama cara penggunaannya lalu yang kedua waktunya. Ini yang sangat penting yang menunjang keakuratan dari alatnya. Urine pertama di pagi hari cukup efektif untuk melakukannya karena kemungkinan akuratnya cukup tinggi” “dokter jika sudah melakukan sesuai prosedur dan waktu yang tepat dan hasilnya positif. Apa ada kemungkinan itu sebetulnya negatif ?” dokter itu memandang hwa young sejenak “ada kemungkinan juga kecuali memang ada yang salah dengan alatnya. Tapi itu sangat jarang terjadi, dan hampir tidak ada kasus seperti itu. Jadi jangan khawatir nona.” Ucap dokter sambil tersenyum ramah, hwa young menanggapinya dengan tersenyum kecut. Hwa young duduk resah di kursi tunggu dan tidak bisa menunggu tenang selama 2 jam. Hwa young sudah berada di loby rumah sakit dengan berjalan keluar sambil memegang sebuah kertas. Ia menelpon jin young “iya hallo noona ada apa ?” “jin young-ah tolong kirimi alamat bar klub tempat ahn yeon jun bekerja” “apa ? baiklah akan aku kirim alamatnya” hwa young memutus telpon. Hwa yeong menggenggam erat setir di depan gedung bar. Ia menarik napas sebelum keluar dari mobilnya. Ketika hwa young masuk dalam bar, semua mata heran melihatnya. Hwa young masuk dalam bar khusus pria dengan semua mata pria yang heran menatapnya. Hwa young tidak peduli dengan tatapan semua orang yang memandangnya. Hwa young berjalan mencari yeon jun, ia mendapati yeon jun sedang melayani pelanggan dengan menunangkan segelas minuman pada pelanggan. “lihat apa yang di lakukan gadis itu di tempat ini ?” ucap seorang pelanggan yang duduk di hadapan youn jun “paling juga adik yeon jun, memang siapa lagi gadis yang masuk dalam klub ini kecuali adiknya” yeon jun hanya diam mendengarkan. “bukan, dia bukan adiknya yeon jun”. yeon jun menoleh hwa young berjalan menghampirinya dengan semua pria di bar yang memandangnya dengan heran. Hwa young berdiri tepat di hadapan yeon jun dengan menggenggam kertas hasil tes. Keduanya saling diam bertatapan, waktu seakan berhenti ketika mata keduanya bertemu. “sesuai ucapanku 3 minggu lalu… kedatanganku menemuimu adalah penentunnya. Dan malam ini saya datang menemuimu” yeon jun masih diam berdiri ia menunduk sejenak sebelum kembali menatap hwa young.