
Jin young masih sangat penasaran menemui hwa young di kamarnya. Hwa young telah membersihkan diri dan mengenakan piyama dan bersiap untuk tidur. “noona..” panggil jin young yang masuk begitu saja “ada apa ?” “apa yang terjadi ? sejak kapan kalian berkencan ? aku begitu penasaran, bagaimana bisa noona dan yeon jun hyung…” “eumm.. entahlah..” jawabnya dengan santai “yeon jun bukan orang yang mudah mengubah pendiriannya, apa yang membuatnya memilih noona ?” “entahlah.. mungkin karena aku cantik” “kya.. noona dia tidak akan tertipu dengan hal seperti itu” “jadi menurutmu kecantikanku ini adalah tipuan ?” “bukan begitu.. noona pasti tahu maksudku” “orang juga bisa berubah terutama dengan selera mereka” “jadi kalian benar-benar berkencan” “tentu saja.. apa kau ingat dengan malam di mana aku tidak pulang ? aku tidur dengannya” “apa ?” jin young sangat terkejut “noona jangan mengada-ngada” “itu benar-benar terjadi” “tidak mungkin” sangkal jin young masih tidak percaya dengan ucapan kakaknya “juga sengatan semut itu..” sambil menyentuh bibirnya sendiri. Jin young mengerutkan keningnya karena merasa rishi “sudahlah noona hentikan, aku pergi sekarang” “baiklahh.. jangan lupa tutup pintunya”. Jin young pergi dari kamar kakaknya dengan dipenuhi tanda tanya. Hari terus mendekati ke hari pernikahan, ayahnya benar-benar telah mempersiapkan segalanya dalam sekejap. Hwa young dan yeon jun hanya duduk manis. Yeon jun menemui soo won di rumah sakit, keduanya berbicara di tempat duduk yang sama saat tempo hari. “untuk apa kau masih menemuiku ? sudah ku katakan jangan pernah menemuiku lagi” soo won berdiri “apa kau akan terus seperti ini ?” ucap yeon jun “apa maksudmu ?” yeon jun berdiri di hadapannya “aku tidak bisa terus seperti ini” soo won menggelengkan kepalanya mendengar kalimat itu dari yeon jun. “kau dan aku tidak untuk bersama” soo won berbalik “aku akan menikah bulan ini” soo won terdiam sejenak. Soo won berbalik “kalau begitu selamat atas pernikahanmu, semoga kau berbahagia dengan wanitamu” soo won pergi meninggalkan yeon jun yang diam melihat kepergiannya dengan sendu. Hari pernikahan semakin dekat, hwa young dan yeon jun hadir untuk fitting gaun pengantin. Hwa yeong muncul dari balik tirai besar dengan mengenakan gaun pengantin cantik. Hwa yeong tampak begitu indah dan bersinar, yeon jun duduk di sofa tepat di hadapannya. Pandangannya terfokus pada hwa young namun diam tanpa ekspresi. “bravo.. bravo.. luar biasa.. inilah yang di sebut dengan maha karya” ucap seorang wanita paruh baya sambil bertepuk tangan dan di hias dengan senyum puas. Hwa young tersenyum dengan anggun, “menurut anda bagaimana tuan ?” Tanya wanita itu pada yeon jun, yeon jun diam sejenak. Ia berdiri dan menghampiri hwa young dengan matanya yang tajam. Ia mendekatkan wajahnya pada hwa young seolah akan mencium pipinya. Hwa young hanya diam dengan senyum canggung dengan membiarkan yeon jun melakukannya karena ada kehadiran wanita paruh baya itu. Yeon jun membisikkan sesuatu di telinganya “cepat selesaikan ini dan pergi” hwa yeong tertawa malu – malu setelahnya “oppa.. kau ini berlebihan memujiku haha..” ucapnya sambil tersenyum. Tapi dalam harti hwa young ia mengumpat yeon jun “dasar brengsek..” Yeon jun pergi begitu saja dan kembali duduk di sofa. Keduanya bersiap berpisah di depan gedung “jangan lupa akhir pekan ini ada pemotretan prewedding jangan terlambat” ucap hwa young tanpa menatap yeon jun. yeon jun hanya berlalu meninggalkan hwa young yang masih berdiri. “entah dia rubah atau lebih mirip seperti kulkas aigoo” gumam hwa young, yang malas memikirkannya lebih jauh lagi.