
Choon hee dan hei ran langsung mengambil soda dari kantung kresek yang masih di pegang hwa young “daebakkk….. (ungkapan memuji seperti hebat/keren) kau membeli semuanya” ucap hei ran sembari memilih-melih soda. Hwa young hanya tersenyum lebar. Choon hee tidak banyak bicara ia hanya asal mengambil salah satu soda dan meminumnya. “ahhh…. segarnya” ucap hei ran setelah meneguk, ketiganya duduk bersebelahan di rerumputan menghadap air mancur. hwa young tersenyum senang sembari memegang sekaleng soda yang sedang di minumya melihat keduanya banyak menghabiskan soda. hanya tinggal beberapa kaleng soda yang tidak di minum. “terimakasih kalian sudah menolongku” “tak perlu di pikir mereka memang kurang ajar” jawab choon hee. “lagi pula kita ini kan teman sekelas sudah sepatutnya saling membantu” ucap hei ran. Hwa young tersenyum haru, awalnya ia sedikit khawatir dan merasa terbebani karena ia sempat mendengar percakapan keduanya sebelumnya. Choon hee mengambil kaleng yang masih dingin, "kau gunakan ini untuk mengompres wajahmu yang lebam” sambil menyodorkan kaleng. Hwa young terdiam sebelum menerimanya. “rapihkan juga seragam dan rambutmu, jangan sampai orang yang melihat kita berprasangka aku dan hei ran melakukan hal buruk padamu” “ah benar..” hwa young langsung merapihkan rambutnya. Choon hee memberikan beberapa petasan dengan korek api menaruhnya di hadapan hwa young. Hwa young terdiam polos melihat petasan itu “simpan itu, mungkin nanti akan berguna” hwa young menatap choon hee dengan polos “bukankah ini illegal ?” “simpan saja, aku menggunakan ini karena ada anjing gila di dekat rumahku. Ya sudah terimakasih untuk sodanya. Hei ran ayo kita pergi..” sambil beranjak berdiri. Keduanya hendak pergi “tunggu dulu..” “ada apa ?” tanya hei ran. “apa kalian mau jadi temanku ?” “apa ?” respon keduanya bingung. “kya.. choon hee-ah bukannya dia itu di kenal sombong dan mendapat julukan si ratu lebah cantik iljin” bisik hei ran yang dapat di dengar hwa young. Hwa young menunduk “semua orang salah paham kepadaku karena kebaikan mereka yang berlebih. Semua hanya mengenalku sebagai orang sombong dengan nama si cantik iljin” batin hwa young. “itu tidak benar.. aku bukan seorang iljin yang suka memperbudak dan berbuat semena-mena terhadap orang lain. Selama ini aku hanya diam dan membiarkan mereka menjadikanku ratu lebah bukan karena aku menikmati. Tapi karena aku tidak enak hati dan tidak bisa menghindari. Aku tidak punya kepercayaan diri untuk mengajak gadis lain bercengkrama karena tatapan mereka” ucap hwa young dengan tangan di samping yang mengepal karena memberanikan diri untuk mengeluarkan kalimat yang selama ini ingin ia sampaikan pada semua orang. Mata hwa young berkaca-kaca dan hampir menangis ketika mengatakannya. Choon hee dan hei ran menyadari ketulusan hwa young. Hei ran berjalan menghampiri hwa young perlahan, ia memeluk hangat hwa young. “maafkan atas ucapanku tadi teman..” hwa young tertegun, choon hee tersenyum simpul ia berjalan menghampiri ikut memeluknya. Hwa young memeluk erat keduanya, ia merasa sangat bahagia karena setelah lebih dari satu tahun masuk SMP akhirnya ia mendapatkan teman karena selama ini ia diam frustasi tidak memiliki teman kecuali para maniaknya yang hanya megejar-ngejarnya. “ya sudah teman.. kami pergi..” ucap choon hee setelah melepas pelukkan. “tunggu.. apa kita bisa berfoto sebentar ?” “apa foto ?” ucap keduanya bingung. Hwa young mengeluarkan ponsel dari tasnya. “uwaahhhh… bukankah itu ponsel layar sentuh yang sangat mahal ? lihat benar-benar hanya ada satu tombol saja di ponsel itu” melihat ponsel terbaru dengan layar sentuh karena masa itu adalah awal revolusi menggunakan teknologi touch screen. hwa young tersenyum merendah “mari kita berfoto..” ajaknya ramah. Ketiganaya berdiri berjejer dengan hwa young di tengah di antara choon hee dan hei ran dengan background air mancur di bawah tangga yang hanya terdiri tak lebih dari 10 anak tangga. Hwa young menaruh ponselnya di atas tumpukan buku di anak tangga paling atas. Ketiganya berfoto dengan ponsel kamera belakang “aku mensetel timer” “wah daebakk” respon hei ran. tak lama terdengar bunyi “cekrekkkk…” dari ponsel terlihat hasil potret dengan 3 gadis muda dengan senyum lebar yang menawan. Potret sejarah persahabatan ketiganya bermula.