My Husband Have A Boyfriend

My Husband Have A Boyfriend
cangkir latte



yeon jun menghampiri adiknya setelah selesai bicara empat mata dengan hwa young “choon hee-ah jangan pulang terlalu malam” “baik oppa..” yeon jun pergi. Hwa young muncul dengan wajah di tekuk dan lesu “hwa young-ah apa saja yang tadi kalian bicarakan ?” tanyanya dengan penuh penasaran. “braakk..!” Hwa young duduk dan membenturkan kepalanya di meja dengan keras. “kya.. hwa young-ah ada apa ? apa yang kakakku katakan ? apa dia ingin mengugurkan bayinya ?” hwa young mengangkat kepalanya dengan wajah melas. “kakakmu melamarku..” “benarkah ? itu bagus..” hwa young menaruh wajah di atas meja “kenapa rasanya aku malah semakin frustasi..” gumamnya dengan lemas. Choon hee malah girang, ia begitu senang sampai bertepuk-tepuk tangan sendiri seperti seekor anjing laut sangking senangnya . Hwa young mengangkat wajahnya “apa kau gila ? kenapa malah kau yang senang ?” “aku hanya merasa senang kakak keduaku akan menikah dan siapa sangka sahabatku ini adalah mempelainya” “choon hee-ah ayo kita pulang..” ajak hwa young. Yeon jun mendapat pesan singkat dari nomor tak di kenalinya. “besok temui saya saat jam makan siang, saya akan mengirim lokasinya ~hwa young” ia mendapat pesan lagi berupa link alamat tempat yang di maksud. Hwa young sudah tidak sabar menanti jam makan siang, sesekali ia terus melihat jam dinding di ruangannya. Ketika jam makan siang tiba, ia langsung beranjak dengan semangat dan pergi dari ruang kerjanya. “manajer lee..” panggil seorang karyawannya “kami semua akan makan siang di tempat makan tak jauh dari kantor, apa anda ingin bergabung ? tempatnya sangat direkomendasikan” “benarkah.. ? tapi maaf saya sudah ada janji tapi kalian gunakanlah ini..” sambil memberikan kartu kreditnya “gunakan sepuasnya.. nikmati makan siang kalian saya permisi” “baik terimakasih banyak manajer lee” sambil menunduk hormat. Karyawan itu dengan wajah senang menunjukkan kartunya pada rekan-rekan kerjanya yang di sambut sorakan senang. Ketika berjalan hwa young di panggil oleh kang min “baru saja saya akan ke ruanganmu, saya ingin mengajakmu makan siang” “terimakasih tawarannya direktur choi tapi saya sudah ada janji makan siang, mungkin di lain waktu. Maaf saya permisi” ia menunduk hormat. Kang min melihat punggung hwa young yang semakin menjauh. Para karyawan divisi pengembangan menunduk hormat padanya. “selamat siang direktur choi” “selamat siang, kalian akan makan siang bersama ?” “benar, kami di traktir manajer lee” sambil memperlihatkan kartunya. “apa saya boleh bergabung ?” “tentu saja direktur choi”. Hwa young masuk ke sebuah café. Yeon jun sudah menunggu dengan secangkir latte, hwa young melambaikan tangan pada yeon jun yang tak di tanggapi. Hwa young yang tersenyum ramah langsung menghapus senyumnya melihat yeon jun tidak merespon. Ia memilih untuk memesan makanan. “saya sengaja datang awal rupanya anda sudah di sini” sapa hwa young sambil duduk di hadapannya. “apa yang ingin anda bicarakan ?” “anda memang orang yang to the point” “saya tidak suka basa-basi” “baiklah.. saya ingin membicarakan mengenai pernikahan. Kita perlu menentukkan waktu juga alur yang kita bawa dalam ikatan ini dan yang terpenting pilar dan planning setelahnya” “jadi anda ingin ada drama dan kontrak ?” “itu tepat sekali..” pelayan membawakan makanan dan pesanan hwa young. Hwa young mulai menyantap spaghetti “saya bisa mengurusnya dan menyewa pengacara, anda juga bisa mengajukkan syarat. Yang terpenting ini tidak merugikan kedua belah pihak” “saya setuju” hwa young tersenyum sambil mengunyah. Rombongan karyawan kantor masuk bersama kang min, hwa young yang melihatnya sembari memasukan spaghetti ke dalam mulutnya langsung tersedak. Hwa young meraba meja karena membutuhkan minuman tetapi minumannya belum datang. Yeon jun hanya duduk diam tak peduli melihat hwa young. Tanpa pikir lagi hwa young segera mengambil cangkir minuman yeon jun dan meminumnya. “ah.. panas..” ucap hwa young sembari menjulurkan lidahnya “kya.. ! apa yang kau lakuakan” ucap yeon jun tak suka minumannya di minum orang lain. Hwa young tak menanggapinya ia langsung menutupi wajahnya dengan rambut. “kenapa mereka di sini ?” gumamnya.