My Husband Have A Boyfriend

My Husband Have A Boyfriend
direktur choi kang min



Semua karyawan kembali bekerja, hwa young kembali ke ruangannya. Ia menghela napas “dunia ini sempit, kenapa aku harus bertemu dengan laki-laki itu lagi” ocehnya. Ia mengingat choi kang min adalah laki-laki di kafe tempo hari yang memberikan note nomor ponsel+alamat surel serta dua gelas minuman padanya. Malamnya di adakan pesta penyambutan direktur choi di sebuah restoran china. Kang min tampak senang dan sangat ramah, ia di kelilingi banyak orang tetapi pandangannya selalu tertuju pada hwa young yang hanya fokus makan. Ia menghampiri hwa young dan duduk di sampingnya “ah.. direktur choi” “hallo manajer lee” kang min tersenyum manis padanya. Hwa young bingung hanya terus di tatap “apa ada sesuatu di wajah saya ?” “tidak ada..” sambil terus menatap. Hwa young merasa tidak nyaman, ia beranjak berdiri “maaf direktur saya perlu ke toilet sebentar” “silahkan..” hwa young keluar dari toilet mendapati kang min berdiri menunggunya di depan toilet “Aakkh..! ya ampun aku terkejut.. maafkan saya direktur choi saya permisi” ia menunduk hormat sebelum pergi. “apa anda pura-pura tidak mengenaliku dan menghindariku ?” hwa young berhenti, ia berbalik “maaf pak direktur sepertinya anda salah paham saya tidak menghindari anda sama sekali” “kalau begitu mengenai hal yang pertama ?” “ah.. saya tidak percaya diri untuk menyapa anda duluan saya mengingat anda adalah atasan hehe..” sambil tertawa canggung. Kang min mengambil ponsel di kantongnya untuk menelpon seseorang. Ponsel hwa young yang sedang ia genggam bergetar dengan tertera sebuah nomor. Hwa young menatap atasan di hadapannya yang menaruh ponsel di telinga. “angkatlah..” hwa young mengangkatnya dan menaruhnya di telinga “jangan lupa simpan nomorku manajer lee..” hwa young terdiam kemuadian mengangguk mengiyakan. “baik saya akan menyimpannya” kang min pergi meninggalkan hwa young yang hanya menghela napas. Hwa young duduk di kursi taman menghadap sungai han dengan di temani segelas soda. “haruskah aku membawa soju (arak beras)?” ucap choon hee sembari menghampirinya, hwa young tersenyum. “ini untukmu..” sambil memberikan soda yang telah di minumnya. “kya.. kenapa kau memberikan aku minuman bekasmu ?” “dari pada aku tak menawarkannya padamu, lagipula hanya ada satu” choon hee mengambil dan meminumnya. Keduanya menatap sungai dan jembatan dengan kendaraan yang berlalu lalang. “sejujurnya aku malu untuk menemuimu setelah hari itu aahh… aku tidak ingin mengingatnya” ucap hwa young, choon hee tertawa mendengarnya “kau begitu terus terang” “aku memang harus melakukannya, saat ini aku masih takut. Aku berharap 2 minggu lagi aku tidak datang menemuinya. Kau tahu, aku begitu terkejut apalagi beberapa hari sebelumnya aku baru selesai menstruasi. Itu membuat pikiranku menjadi gila saat itu”. “awalnya aku sedikit bingung bagaimana mungkin hanya karena mabuk kalian melakukannya terlebih kakakku dia adalah tipe orang yang berhati-hati. pasti orang-orang itu yang sudah memasukkan sesuatu ke minuman kalian” “itu juga yang terus aku pikirkan” “apa ?” “kakakmu itu tidak tertarik dengan wanita..” ceplos hwa young. Ia segera menghentikan ucapannya “aahh.. maksudku..” “ternyata kau juga tau” balas choon hee dengan cepat “maafkan aku, aku tidak bermaksud..” “tidak apa.. kakakku memang sedikit berbeda dan dia juga tidak menutupinya, keluarga kami pun semua mengetahuinya. kau tidak perlu meminta maaf, Dia memang tidak tertarik dengan wanita”. Hwa young terdiam “oh ya hari kamis hei ran mengajak untuk bertemu di café waktu itu” “aku tidak akan lupa”.