My Husband Have A Boyfriend

My Husband Have A Boyfriend
lamaran



Hwa young menaruh kertas itu di atas meja, yeon jun melihatnya sebelum akhirnya membacanya. Di dalam kertas menunjukkan hasil laboratorium yang menyatakan hwa young positif hamil. Yeon jun menghampiri hwa young menarik tangannya ke rooftop atau atap bar. Yeon jun berdiri berhadapan dengan hwa young “saya tidak bisa menikahimu” “apa ?” “saya tidak tertarik dengan kehidupan pernikahan dan saya tidak menginginkan bayi ini” hwa yeong menatapnya diam “plaaaakk..!” seketika yeon jun menerima tamparan keras dari hwa young. “apa anda pikir saya menginginkan pernikahan ini ? Saya tidak punya pilihan lain, saya harus melahirkannya dan di sisi lain saya harus memiliki status sosial ketika perutku membesar” yeon jun diam memandangnya dengan datar. hwa young menghela napas dan memijit keningnya hingga akhirnya ia memilih pergi meninggalkan yeon jun yang terus diam berdiri di atap. Jin young masuk ke dalam bar “apa noona sudah kemari ?” batinnya. Ia melihat kakaknya berjalan cepat dengan tatapan kesal. “noona..” panggil jin young, hwa young berhenti di depannya “jadi noona benar-benar kemari.. noona kenapa ?” “aku mau pergi..” jawabnya singkat dan kembali berjalan cepat. Jin young segera ke tempat minum, ia tidak melihat yeon jun. ia bertanya pada pelanggan yang sedang duduk menikmati minuman. “permisi.. apa anda melihat yeoun jun hyung ?” “tadi dia bicara dengan wanita yang menemuinya, dan dia belum kembali.. ah itu dia..”sambil menunjuk yeon jun yang berjalan ke tempat minum. “hyung..” panggil jin young tapi yeon jun melamun. “hyung.. hyung..” panggilnya lagi, yeon jun sadar dari lamunanya dan menoleh pada jin young. “hyung.. apa yang kalian bicarakan ? kenapa kakakku pergi dengan marah ? apa terjadi sesuatu..?” yeon jun diam tak menjawab. Hwa young masuk dalam mobilnya, ia langsung frustasi dan membentur-benturkan kepalanya di setir kemudi “ahhh.. jinja.. outtokee (aakhh.. yang benar saja.. bagaimana ini..) dia menolak bertanggung jawab, lalu apa yang harus aku lakukan..”. ponselnya bergetar, ia mendapat pesan teks dari choon hee. “hwa young-ah.. anyeoongg.. (haloo..) apa kau sudah cek ke dokter ?” hwa young langsung menelponnya. Hwa young dan choon hee duduk berdekatan di tempat makan taebbokki (jajanan kue beras pedas) kaki lima di pinggir jalan dengan taebbokki sudah tersaji di hadapan mereka. “hwa yeong-ah.. bagaimana ? kau sudah melakukan pemeriksaan ?” “aku sudah menemui kakakmu..” choon hee melongo dan menutup mulutnya, kalimat itu sudah menjelaskan semuanya “lalu apa yang terjadi ? apa yang yeon jun oppa katakan padamu ?” “dia bahkan mengatakan tidak menginginkan bayi ini..” tiba-tiba “braakkk..!” hwa young memukul meja cukup keras membuat choon hee dan pelanggan di meja lain terkejut. “aku ingin sekali mengumpatnya” gumamnya sambil melirik choon hee. “kalau begitu lakukan saja, jangan pikirkan aku karena aku adiknya” hwa young menejamkan mata dan menarik napas “dia benar-benar ********.. ! brengseeekk... ! aku ingin sekali mematahkan semua tulangnya terutama memotong lidahnya yang kejam itu ! bagaimana bisa dia dengan wajahnya yang dingin itu mengatakannya dengan mudah.. apa aku pikir ingin menikah dengannya ? tidak sama sekali ! ……. Aakkhh.. apa yang harus lakukan ? ayahku bisa membunuhku.. “ hwa yeong terus mengoceh dan mengumpat, choon hee diam mendengarkan kekesalan temannya. Mata choon hee tertuju pada satu arah di mana kakaknya yeon jun berdiri tak jauh dari mereka. “kya.. ! choon hee-ah apa kau yakin orang itu keluargamu ? dia bukan manusia ! dia itu rubah berekor Sembilan !” choon hee terlihat tidak nyaman, ia memberi isyarat dengan matanya. “kenapa ? ada apa dengan matamu ?” hwa young tidak peka dengan sinyal yang di berikan choon hee. yeon jun berjalan menghampiri berdiri di antara tempat duduk keduanya. Hwa yeong terkejut dengan kedatangan yeon juan “siaalll..” batinnya. Ia terus menunduk tidak bisa menatap yeon jun. “nona hwa young.. mari kita bicara..” keduanya berdiri tak jauh dari tempat itu. Wajah hwa young cemberut “kenapa ? ada apa ?” tanyanya dengan ketus “nona hwa young menikahlah denganku..” ucap yeon jun tiba-tiba “boo..? (apa ?) apa yang barusan anda katakan ?” “saya akan bertanggung jawab dan akan menikahimu.. jadi apa jawabanmu ?”.