
Besoknya hwa young mendapat laporan dari kepala pelayan rumahnya bahwa adiknya tidak mau keluar seharian bahkan tidak makan. Hwa young masuk ke kamar, ia mendapati adiknya sedang bermain game dengan layar Komputer. “jin young-ah..” “ada apa noona ?” jin young mempause permainan dan melepas earphone. Ketika itu hwa young memukul keras kepala jin young dengan tangannya. “kya..! noona apa yang kau lakukan ?” keluhnya sambil mengusap kepalanya yang sakit. “kenapa kau tidak mau makan ? apa kau mau mati ?” jin young cemberut “ada apa denganmu ?” Tanya hwa young “tidak ada..” “kya.. jin young-ah..” “noona keluarlah dari kamarku” ucap jin young dengan kesal. “apa sungguh kau baik-baik saja ?” hwa young mengubah nadanya menjadi pelan dan lembut. Jin young terdiam menunduk “aku putus dengan il sung.. dia berkata hanya bermain-main denganku dan berselingkuh” hwa young tersenyum “bukankah itu bagus, sekarang kau bisa fokus dengan kuliahmu. Dan kau bisa mencari orang yang jauh lebih baik darinya. orang sepertinya tidak pantas kau pikirkan” jin young diam menunduk. Hwa young mengelus lembut kepalanya. “sekarang ayo kita turun untuk makan” “baiklah noona tapi aku ingin makan jampong dan kepiting pedas” “baiklaahh.. noona akan membuatkannya untukmu”. Di akhir minggu ke dua hwa young semakin sibuk, ia tengah mempersiapkan peluncuran untuk ponsel. Ia juga mengatur tempat untuk peluncuran barang “bagaimana persiapannya ?” Tanya direktur kang “persiapan semua lancar direktur kang, saat ini belum menemui kendala berarti” “baguslah.. lusa jangan sampai ada kesalahan” “baik direktur kang”. Hwa young telah bekerja keras menyiapkan acara peluncuran. Ia sangat berharap semua akan lancar sesuai dengan rencana. Kang min hadir untuk mempresentasikan produk, ia menjelaskan dengan sempurna membuat para pegawai merasa puas. Hari peluncuran berjalan sukses dan lancar, semua pegawai mengadakan makan malam di sebuah restoran untuk merayakannya. “terimakasih kepada semua karyawan yang telah bekerja keras untuk hari ini, semoga penjualan di pasar lebih tinggi dari target. Mari semua kita bersenang-senang malam ini” semua karyawan mengangkat minuman dan bersorak. Hwa young pergi secara diam-diam, ia keluar dari restoran dengan berjalan santai. Kakinya terus melangkah hingga ia sampai di toko rental komik langgananannya. “tempatnya ternyata tidak jauh..” hwa young masuk ke toko ia menuju rak komik yang sama. Hwa yeong sibuk melihat-lihat judul komik di rak buku. Yeon jun masuk dalam toko. Kakinya terhenti, ia melihat hwa young berdiri di dekat rak masih melihat-lihat komik. Hwa young menoleh kearah yeon jun keduanya saling memandang untuk beberapa saat. Sebelum yeon jun mengalihkan pandangan dan berlalu untuk melihat-lihat komik di rak yang sama. “sekarang apa yang harus aku lakukan ? apa aku harus menyapanya ? atau pura-pura tidak melihatnya ? itu tidak mungkin aku sudah telanjur basah. kenapa aku harus bertemu lagi dengannya di sini setelah hari itu. Ini baru minggu ke dua, ya ampun apa yang aku pikirkan” Hwa young menoleh pada yeon jun, dengan menelan ludah dan keringat dingin ia melambaikan tangan “hallo..” yeon jun malah berbalik pergi tanpa sepatah katapun. Hwa young terkejut ia serasa tertimpa batu besar di kepalanya. “apa dia barusan mengacuhkan aku ?” ucapnya tak percaya. Yeon jun menuju kasir dengan membwa sebuah komik dan keluar dari toko setelah membayar. Hwa young mengejar yeon jun “tunggu…!” yeon jun tetap berjalan mengacuhkan hwa young. Hwa yeong mendengus kesal, ia berlari menghadang jalan yeon jun, baru yeon jun berhenti. Yeon jun menatap hwa young dengan datar, Hwa young tersenyum sinis “apa anda mengacuhkanku ?” “tidak, saya hanya enggan melihat anda” hwa young menganga “kya..! apa anda bilang ?” yeon jun diam melihatnya dengan wajah flatnya. “ini belum minggu ke tiga, jadi jangan muncul di hadapanku atau saya harap jangan pernah” Yeon jun memilih pergi dengan berjalan melewati hwa young, hwa young menghentikannya dengan menarik lengan bajunya. Yeon jun menepisnya dengan keras membuat hwa young terkejut “jangan sentuh aku” ucapnya dengan dingin. Hwa young hanya diam dengan kesal, tiba-tiba hwa young meraih wajah yeon jun dan menariknya kuat ke arahnya. Jarak wajah keduanya sangat dekat, keduanya saling bertatapan sesaat sebelum Hwa young mencium bibirnya dengan memejamkan mata. yeon jun terbelalak, keduanya berciuman di pinggir jalan di bawah rimbunan pohon yang menghiasi jalan yang sepi dengan lampu jalan yang redup redup.