My Husband Have A Boyfriend

My Husband Have A Boyfriend
rental komik



Keduanya kembali bertemu setelah beberapa hari di toko rental komik. Yeon jun sedang memilih komik-komik di depannya. “sudah saya duga, anda ada di sini. Sepertinya anda kemari setiap akhir pekan” ucap hwa young yang bersender pad arak tepat di sebelahnya. yeon jun diam tak menanggapi, hwa yeong seperti sudah terbiasa dengan pria dingin di depannya. “mari kita atur pertemuan keluarga, aku sudah bicara dengan ayahku. ayahku akan pulang dari perjalanan bisnisnya di tiongkok besok. Dan lusa ayahku bisa menumuimu juga keluargamu” “apa anda barusan bicara nonformal pada saya ?” “benar.. kita harus terbiasa menggunakannya, bukankah kita juga perlu ada panggilan satu sama lain ?” yeon jun masih tidak peduli, ia pergi ke rak lain dengan hwa young yang berjalan mengekorinya. Yeon jun melihat-lihat komik yang menarik perhatiannya “opaa.. yeon jun oppa..” panggil hwa yeong dengan nada imut dan menggemaskan. Yeon jum diam sejenak, ia menoleh pada hwa young yang masih melakukan agyeo atau bertingkah menggemaskan. Yeon jun menatapnya datar tanpa ekspresi lalu pergi meninggalkannya “ah dasar aku emang gila ngapain aku melakukannya di depan orang seperti dia” ia bergegas mengejar yeon jun. keduanya berjalan beriringan di pinggir jalan “oppa.. yeon jun oppa..” panggil hwa yeong terus dengan suara manis. Yeon jun berjalan tak menghiraukannya yang terus memanggilnya. Semakin lama itu membuat kupingnya perih, dengan kesal ia berhenti berjalan dan menghadap samping “berhentilah.. jangan panggil saya lagi..” ucapnya dengan suara keras. Hwa yeong diam terpatung menatapnya. Yeon jun menghela napas..”aku akan membicarakannya dengan saudara-saudaraku” “uwaahhh… apa aku tidak salah dengar. kau menggunakan bahasa banmal (nonformal) padaku haha)” “jaga ucapanmu bagaimanapun juga aku lebih tua darimu jadi kau harus bicara sopan”. Karena rakyat di korea menjunjung tinggi tata karma terutama dalam ucapan kepada yang lebih tua atau orang asing dengan menggunakan bahasa formal. Kecuali terhadap teman sebaya yang dekat atau orang terdekat seperti pacar. “oke.. Ya sudah aku pergi, sampai jumpa lusa yeon jun oppa..”. hwa young memanggilnya dengan sebutan oppa bukan dengan hanya dengan sebutan kau. ucapnya sambil melambaikan tangan penuh ceria, yeon jun melihatnya dengan tanpa ekspresi. “teoriku ternyata benar.. aku harus membuatnya naik darah baru orang ini mau angkat bicara” sambil tersenyum puas. Sambil berbalik untuk pergi, Yeon jun menarik tangan hwa young yang kembali menghadapnya karena di tarik olehnya “ada apa ?” keduanya berhadapan dengan jarak dekat dengan tangan yeon jun masih merengkuh tangan hwa young. Jin young habis dari kampusnya setelah berolah raga bersama teman-temannya. Mereka berniat makan di area dekat kampus sambil berjalan. Dari tempatnya makan di sebuah restoran cepat saji, ia melihat kakaknya bersama yeon jun berdiri berhadapan cukup dekat di seberang jalan. “noona.. hyung..” gumamnya dengan polos, ia memperhatikan tangan keduanya saling menggenggam dan saling menatap. “jangan pernah memanggilku dengan itu lagi” “lalu aku harus memanggilmu apa ? sayang ? honey ? suamiku ?” “kalau begitu terserah kau saja” “ohooo.. apa kau barusan bicara nonformal padaku lagi” ucap hwa young sambil senyum meledek. “aniyoo..(tidak dalam bahasa formal)” jawab yeon jun dengan polos. “kau itu banyak sekali bicara” ucap yeon jun. tanpa keduanya sadari jin young terus memperhatikan keduanya. “jin young-ah kenapa tidak makan ? siapa mereka ? apa wanita itu pacarmu ?” ucap salah seorang temannya “bukan..” “oho.. siapa perempuan itu dia sangat cantik, kau mengenalnya ?” Tanya temannya yang lain penasaran “tapi dia bersama pacarnya, lihatlah keduanya tak melepaskan tangan walau sedang bicara” jin young terus terdiam sambil merenung. “biarkan saja aku banyak bicara, ya sudah sekarang lepaskan tanganku. Aku harus pergi” yeon jun tanpa sadar terus menggenggamnya, ia segera melepas tangannya. Hwa young pergi meninggalkannya sambil melambai sebelum melangkah pergi.