My Dream Is Mine

My Dream Is Mine
06. Keluarga yang Hangat



...BAB 06...



...~♡♡♡~...


Disebuah sekolah menengah pertama terlihat seorang wanita yang sedari tadi tak henti hentinya bolak balik mencari putrinya di area sekolah tersebut ia sangat cemas, namun putrnya tak kunjung ketemu.


Dia adalah Diana ibu Aisyah, sekitar 40 menit yang lalu ia datang untuk menjemput Aisyah anaknya, namun ternyata Aisyah sudah tidak ada di sekolah itu.


Tak lama kemudian seorang laki-laki datang menghampirnya, laki-laki itu terlihat cemas dari raut wajahnya.


"Paa.. Aisyah gak ada di sekolah" ucap Diana memberitahukan kepada suaminya yang baru saja sampai.


"Iyya mah, Aisyah mungkin masih di sekitar sini" ucap suaminya menenangkan.


"Gimana kalau Aisyah di culik pa, Aisyah gak biasanya begini.. hiks" lanjut Diana khawatir, dengan mata yang berkaca-kaca takut putrinya kenapa-kenapa.


"Jangan mikir aneh-aneh mah, Aisyah pasti ketemu" ucap Fais meyakinkan kepada istrinya.


...ו••♡•••×...


Mereka pun terus mencari Aisyah di sekitar komplek sekolah, sekitar 20 menit mereka mencari namun tak kunjung ketemu, sampailah mereka ke dekat taman yang lumayan terpencil itu.


"Pah, itu kayaknya Aisyah deh" ucap diana memberitahu ke suaminya, dengan menunjuk ke arah anak kecil berseragam SMP yang sedang duduk di taman bersama wanita yang terlihat sudah cukup tua.


"Iyya mah, ayok kita ke sana" ucap Fais mengajak istrinya.


Mereka berduapun berjalan memasuki taman, dan benar ternyata itu adalah Aisyah putri mereka.


"Aisyah.." teriak Diana berlari dan memeluk putri nya, masih dengan air matanya itu.


"Eh.. mama?. Mama nangis?" tanya Aisyah kaget karena kedatangan Diana yang memeluknya tiba-tiba dengan air mata di wajahnya.


"Mama kamu masih khawatir, dan kamu juga kalau kemana mana kabari dulu, jangan pergi sendirian, kasian mama kamu cariin dari tadi" nasihat Fais ke anaknya itu.


Diana pun melepaskan pelukannya ke putrinya itu.


"Selalu aja buat orang tua khawatir" ucap diana mencubit pipi tembem Aisyah yang menggemaskan.


"Hehe Iyya mah pah, Aiss lupa.. Udah ya mama jangan nangis Aiss kan gapapa" ucap Aisyah sembari menghapus air mata di pipi Diana.


"Tapi janji sama mama, kali ini aja, lain kali Aisyah jangan hilang tanpa kabar" ucap diana mengangkat jadi kelingking kanannya meminta Aisyah untuk berjanji.


"Iyya mahh, Aisyah janji gak akan buat mama khawatir lagi" ucap Aisyah sambil mengaitkan kelingking nya dan kelingking mama nya, pertanda mereka telah membuat janji.


Inah sedari tadi hanya menyimak kedua ibu dan anak ini.


"Mah.. kenalin ini nek Inah, dia yang nemenin Aisyah di taman, nek Inah baik tadi kasi Aiss kue strawberry" jelas Aisyah memperkenalkan nek inah.


"Lah Aisyah, bisa-bisanya terima makanan dari orang asing, ceroboh banget" tegur Faiz pada putrinya yang ceroboh.


"Gpp pah, kan nek Inah baik" jawab Aisyah.


"Benar kata papa mu Aisyah. Kamu terlalu ceroboh sayang, udah ngilang tanpa kabar, mudah percaya sama orang, untung ketemu nya sama orang baik, kalau ketemu sama orang jahat gimana? yang ada kamu di culik" jelas Diana.


"Ya tapi kan ketemu nya sama nek Inah yang baik" jawab Aisyah gk mau kalah.


"Aisyah, yang di katakan mama sama papa kamu benar, sebagai orang tua wajar kalau mereka khawatir, karena tidak ada yang menjamin kamu akan selalu bertemu dengan orang baik, bisa jadi yang kamu temui itu orang puny niat jahat ke kamu" jelas nek Inah menasehati.


"Iyyadeh, lain kali Aisyah hati-hati biar mama sama papa gak perlu khawatir lagi" ucap Aisyah mengalah setelah mendengar penjelasan nek inah.


"Nah.. pinter anak papa" ucap Fais memuji anaknya sambil mengelus rambut nya agar tidak nyambek.


"Terimakasih yah Bu udah jaga Aisyah, dan maaf kalau Aisyah nya ngerepotin" ucap Diana ke nek Inah.


"Yaudah mah, Aisyahnya kan udah ketemu, ayo papa anterin pulang istirahat, lagian papa masih ada kerjaan di kantor" ajak Fais.


"Baiklah, ayok Aiss kita pulang, Sekali lagi terimakasih banyak ya Bu" ajak Diana pada putrinya, serta berpamitan dengan nek Inah.


"Nek... Aisyah pamit dluan yah, makasih udah ngasih Aiss kue strawberry yg enak" pamit Aisyah.


"Iyya Aisyah, dan nak Aisyah juga harus semangat jangan sedih seperti tadi" jawab nek Inah.


"Hehe, Iyya nek, yaudah Aisyah duluan, dadah nek" lanjut Aisyah kemudian berdiri ingin meninggalkan taman.


Namun belum beberapa langkah kemudian nek inah memanggil Aisyah.


"Aisyah tunggu..!" panggil nek Inah.


Aisyah pun berbalik melihat nek Inah yang ada di belakangnya. "Kenapa nek?" tanya Aisyah bingung.


"Ini buku untuk Aisyah" ucap nek Inah mengeluarkan buku dari tasnya dan memberikan nya kepada Aisyah.


Aisyah pun menerima buku tersebut, yang berjudul 'Dream' karya penulis Sahara yang Aisyah tonton tadi.


"Wahhh.. ini kan buku nya yang Ais tonton tadi nek" ucap Aisyah dengan mata berbinar.


"Iyya, nenek kan sudah tua buat apa simpan buku novel" sambung nek Inah.


"Terimakasih nek, Aisyah pasti jaga buku ini baik-baik" jawab Aisyah girang.


"Sama-sama" ucap nek Inah dengan mengelus rambut Aisyah.


Kemudian Aisyah dan mamanya pun lanjut berjalan meninggalkan taman, menyusul papa Aisyah yang sudah lebih dulu pergi mengambil mobil yang ia tinggalkan di dekat sekolah sewaktu mencari Aisyah.


"Mah Aiss mau jadi penulis" ucap Aisyah.


"Bukannya tadi pagi Aiss bilang mau jadi presiden?" tanya Diana.


"Gak ah, presiden susah, Aiss mau jadi penulis aja" sambung Aisyah.


"Jadi penulis juga susah loh.." lanjut Diana.


"Tapi Aiss mau jadi penulis!" Ucap Aisyah tak mau mengubah keputusan nya dengan muka ngambek nya.


"Yaudah putri ibu pasti bisa jadi penulis" ucap Diana mencubit pipi Aisyah, gemas dengan kelakuan putri nya.


Inah sedari tadi menatap kedua punggung ibu dan anak itu semakin jauh hingga menghilang dari pandangan Inah.


"Keluarga yang hangat. Semoga kamu pun bisa merasakan kehangatan keluarga yang seperti itu Sahara. Ibu kecewa tapi ibu tetap berharap kamu bahagia dengan kehidupanmu, kamu telah melepaskan semua untuk mimpimu, semoga mimpi mu itu tidak menghancurkan mu." ucap nek Inah.


Jauh di lubuk hatinya yang terdalam Inah masih merindukan putrinya Sahara, namun ia kecewa. Lantas kenapa dia mengatakan bahwa putrinya sudah lama meninggal? padahal Sahara masih hidup bahkan bisa menjadi sangat sukses? Hal itu masih menjadi misteri.


...ו••♡•••×...


Sejak pertemuan Aisyah dengan nek Inah itulah Aisyah mulai berkeinginan menjadi seorang penulis, dan sejak itu juga Aisyah sangat menyukai karya karya dari Sahara, dan menjadikan Sahara sebagai idola nya. Mungkin pertemuan itu hanya pertemuan singkat, namun dari pertemuan itulah yang mengubah sebagian kehidupan Aisyah, dan mungkin pertemuan itu merupakan pertemuan pertama dan terakhir kalinya ia dengan nek Inah.


•Flash Back Off•


...~♡♡♡~...



.......


.......


.......