
...BAB 27...
...~♡♡♡~...
Angkot pun melaju melalui jalan yang bisa di bilang sangat Sepi ini, karena memang sudah pukul 11 malam, dan hujan sangat deras sehingga jalan sangat sepi.
Pak Bram tiba-tiba menginjak Rem, karena melihat seperti ada seseorang yang pingsan didepan sana.
"Kenapa pak?" tanya Tuti kepada suaminya yang menginjak Rem tiba-tiba.
"Didepan sepertinya ada wanita pingsan Bu" jawab pak Bram.
Bu Tuti mengamati dengan seksama jalan di depan mereka karena hujan deras sehingga sulit melihat apa yang adadi depan.
"Kayaknya itu perempuan deh pak, Ayo kita tolong" ucap Bu Tuti setelah memastikan.
"Tapi Bu, siapa tau itu orang jahat, sekarang kan lagi marak begal, atau kasus tabrak lari, nanti yang ada kita yang disalahkan polisi" ucap pak Bram.
Kekhwatiran pak Bram bukan tanpa sebab, tapi kasus pembegalan memang sering terjadi dengan memanfaatkan wanita, seperti pura-pura pingsan atau tertabrak di jalan sepi.
Atau bisa jadi ada kasus tabrak lari, apalagi ini merupakan jalanan yang sepi tidak ada bukti maupun saksi mata yang melihat, ia takut apabila membantu kasus seperti itu yang ada dia yang dituduh menabrak orang yang ditolong.
"Begal bodoh mana yang sengaja menunggu di tengah hujan pak, terlebih lagi jalanan ini jarang di lalui" ucap Bu Tuti melanjutkan.
"Siapa tau perempuan itu butuh bantuan pak, ayok kita turun".
Mereka pun segera turun Ingin menolong perempuan itu.
"Pak, wanita ini hamil besar pak, ayok kita segera bawa di Bu bidan depan sana untuk diperiksa, takutnya anaknya kenapa-kenapa" ucap ibu Tuti khawatir.
Pak Bram segera menggendong Sahara menaiki mobil angkot yang di bawanya.
...ו••♡•••×...
Tibalah mereka di salah satu rumah, Bu Tuti langsung berjalan turun dari Angkot menuju kerumah tersebut, dengan pak Bram mengikut di belakangnya.
Sesampainya di depan rumah, pak Bram meletakkan Sahara di bangku depan rumah itu, sedangkan Bu Tuti mengetuk pintu rumah tersebut.
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Assalamualaikum, Bu.. Bu bidann" teriak Tuti di depan pintu.
Cukup lama ia mengetuk pintu tersebut, akhirnya keluarlah seorang wanita yang sepertinya baru saja terbangun.
Bagaimana tidak, sekarang sudah larut malam, dan hujan deras, suasa yang cocok untuk seseorang tertidur lelap.
"Ada apa Bu, datang malam-malam begini?" tanya sang bidan desa.
"Begini bu, kami menemukan seorang wanita pingsan di jalan saat pulang tadi, dan dia hamil besar, takutnya sesuatu yang buruk terjadi, jadi kami bawa kemari" jelas Bu Tuti menunjuk Sahara yang di duduk di kursi luar rumah itu.
Bidan yang melihat Sahara yang pingsan langsung mempersilahkan mereka masuk, dengan pak Bram yang kembali menggendong Sahara.
Pak Bram meletakkan Sahara di kamar yang ditunjukan oleh bidan, sepertinya kamar tamu. Bidan itu kemudian langsung memeriksa kondisi Sahara.
"Bagaimana Bu? apa bayinya tidak apa apa?" tanya bu Tuti khawatir.
"Alhamdulillah tidak apa-apa, tapi sepertinya wanita ini kelelahan, jadi biarkan saja dia istirahat malam ini disini" ucap Bu bidan.
Kemudian Bu bidan meminta Bu Tuti membantunya menggantikan pakaian Sahara yang basah kuyup.
...ו••♡•••×...
Beberapa hari berlalu dan Sahara untuk sementara tinggal di rumah bidan desa. Pagi harinya Bu Tuti kembali ke rumah bidan tempat Sahara berada, ia memang selalu menemani Sahara disana.
Walaupun ia tidak mengenal Sahara, dan tidak tahu kenapa dan mengapa ia meninggal rumahnya, ia tetap menyayangi wanita itu dengan tulus, atas dasar perikemanusiaan.
Ia bukannya tidak pernah menanyakan alasan Sahara pergi sampai bisa pingsan di tepi jalan, ia pernah menanyakan hal tersebut, namun sahara hanya diam tidak menjawab, jadi ia menarik kesimpulan mungkin hal tersebut terlalu menyakitkan untuk diceritakan, sehingga ia tidak pernah menanyakannya kembali.
Dan hari yang ditunggu pun tiba, hari ini akhirnya Sahara merasakan kontraksi, ia akan segera melahirkan.
"AAAAHK" teriak Sahara.
"Woeek... Wooeek... Wooek" suara bayi yang akhirnya lahir.
Namun karena kehabisan tenaga akhirnya Sahara tidak sadarkan diri.
Terpaksa Tuti yang merawat bayi itu sementara, dengan keadaan Sahara yang lemah. Karena Bu bidan juga sedang banyak pekerjaan.
Hari itu Bu Tuti membawa bayi Sahara ke rumahnya karena ia juga belum memasak untuk suaminya, sementara Bu bidan sedang buru-buru keluar karena ada warga yang memanggilnya.
Sahara sudah sadarkan diri namun kondisinya masih lemah, makanya Bu Tuti izin membawa anaknya ke rumah nya sebentar, setidaknya dirumahnya ada suaminya yang bisa menjaga saat ia memasakkan makanan.
Rumah Bu Tuti memang tidak terlalu jauh dari rumah ibu bidan tempat Sahara tinggal untuk sementara.
Namun hari itu, tanpa Bu Tuti atau siapapun menduga, saat ia membawa anak Sahara ke rumahnya, Saharapun meninggalkan rumah Bu bidan, pergi selamanya.
Pergi meninggalkan anaknya, anak yang belum pernah ia gendong sejak dilahirkan. Yah saat sudah sadar dari pingsannya Sahara tidak mau menggendong anaknya, dengan alasan masih lemas, ia bahkan tidak menanyakan jenis kelamin anak yang ia lahirkan.
Bu Tuti yang sibuk mengurus segalanya juga sampai lupa memberitahukannya. Dan sekarang malah Sahara meninggalkan anaknya.
Tidak ada yang melihat Sahara pergi, Bu Tuti baru menyadari hal itu ketika ia membawakan bubur untuk Sahara, namun kamar tersebut sudah kosong dan hanya menyisakan secarik kertas dengan beberapa lembar uang.
Adapun isi pesan Sahara:
...Terimakasih saya ucapkan, untuk ibu bidan serta ibu Tutiasni yang sudah menjaga saya selama ini....
...Saya tau uang yang saya tinggalkan tidak akan cukup, namun hanya itu yang bisa saya tinggalkan....
...Dan untuk anak itu, saya mohon maaf karena meninggalkan nya bersama kalian, jika kalian tidak bisa menjaganya, tinggalkan saja ia di panti asuhan....
...Karena saya benar-benar tidak dapat membawanya bersama saya....
...SAHARA...
...-----...
Begitulah kira-kira pesan yang ditinggalkan sahara, jujur Bu Tuti kecewa dengan pesan itu, bukan karena uang yang ditinggalkannya tidak seberapa.
Namun ia kecewa ternyata masih ada ibu yang begitu kejam meninggalkan anaknya, atau lebih tepatnya menelantarkannya. Sedangkan ia bahkan tidak bisa menjadi seorang Ibu.
Tak lama kemudian setelah kejadian itu, Tuti dan suami meninggal kota tersebut, tak lupa membawa anak yang di tinggalkan Sahara bersama mereka ke kota C.
Ia mengubur dalam-dalam kejadian itu, dan berusaha melanjutkan hidupnya dengan bayi yang di tinggalkan Sahara. Namun pada akhirnya ia harus merelakan bayi itu dibesarkan oleh orang tua yang layak.
Setidaknya jauh lebih baik dari pada orang tua yang menelantarkannya.
•FlashBack Off•
...~♡♡♡~...
.......
.......