
...BAB 34...
...~♡♡♡~...
Aisyah hanya diam dan menatap ke arah kolam depan mereka duduk saat ini, terbayang wajah seseorang, yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
"Ezra yah?" tanya Fahri tiba-tiba.
Aisyah spontan berbalik ke arah Fahri. Fahri yang masih menatap lurus ke arah kolam kemudian meneruskan ucapannya.
"Ezra anak yang baik, sepertinya dia juga menyukai mu, kalian berdua tampak serasi" lanjut Fahri.
"Ti_tidak kok kak" ucap Aisyah terbata bata.
"Semuanya tampak jelas di wajah mu, baik kamu maupun Ezra, kalian hanya sama-sama memendam rasa" lanjut Fahri.
Mendengar ucapan Fahri barusan Aisyah hanya terdiam dan memikirkan nya, 'Apa aku benar ada rasa untuk Ezra? Hah tidak mungkin aku suka sama kulkas beku itu, mustahil'. Pikir Aisyah.
"Aaahh Lupakan Aiisss" secara tidak sadar Aisyah mengucapkan hal tersebut dengan keras, melupakan bahwa di dekatnya masih ada Fahri.
Fahri yang melihat respon Aisyah kemudian berkata, "Ternyata benar, Ezra anak yang baik kok, cocok dengan kamu" ucapnya berusaha untuk tersenyum.
"Ehh.. gak gitu kak.." sadar Aisyah atas tindakannya tadi.
"Sudahlah mungkin sekarang kamu masih belum paham. Emm sudah dah sore aku akan mengantarmu pulang" ucap Fahri.
"Baik kak" jawab Aisyah.
Mereka pun berjalan meninggalkan taman tersebut menaiki mobil Fahri kemudian melaju ke jalan raya. Selama perjalanan menuju rumah Aisyah tidak ada obrolan apapun, sangat sunyi namun mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Aisyah masih memikirkan perkataan Fahri barusan, 'Apakah aku memang menyukai Ezra? Apa Ezra juga menyukaiku?'. Pertanyaan itulah yang terus menerus berputar dalam benak Aisyah.
Berbeda dengan Fahri yang terlihat murung memikirkan banyak hal, yang entah mengapa membuat dadanya sesak.
Mobil pun terus melaju sampailah mereka ke rumah Aisyah, Aisyah segera turun, dan mengucapkan terimakasih kepada Fahri yang mengantar nya.
"Akulah yang harus berterimakasih, karena sudah menemani ku memilih hadiah" ucap Fahri.
"Fighting kak, aku yakin hadiah apapun kalau kakak yang kasi cewek manapun pasti akan suka" ucap Aisyah.
"Kalau wanita itu kamu, apa kamu suka?" tanya Fahri dengan tatapan serius.
"Haha.. Kak Fahri becanda deh.." ucap Aisyah dengan tawa, tidak menanggapi serius ucapan Fahri.
Dengan respon Aisyah tadi Fahri hanya diam dan tersenyum, seakan meyakinkan Aisyah bahwa ia hanya bercanda.
"Yasudah aku pulang dulu yah" ucap Fahri berpamitan.
"Gak mau masuk dulu kak?" tanya Aisyah.
"Besok aku sudah harus berangkat ke kota S untuk mempersiapkan pendaftaran masuk Universitas, jadi banyak hal yang harus aku urus" jawab Fahri.
"Wah, yaudah hati-hati kak" ucap Aisyah.
Mobil Fahri pun kembali melaju ke jalan raya, saat di dalam mobil ia menengok ke jok belakang, melihat beberapa belanjaannya tadi dan berkata.
"Mau aku apakah barang-barang ini?" ucapnya bingung.
Bagaimana tidak, barang itu sebenarnya ia ingin memberikannya kepada Aisyah, mengajak Aisyah memilih hadiah hanyalah alasan belaka, karena penerima hadiah itu adalah Aisyah sendiri.
Namun ia terlalu tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada wanita itu, walaupun dia telah mengumpulkan seluruh keberanian nya mengajak Aisyah memilih hadiah.
Sejak lama Fahri menyukai Aisyah, tapi dia selalu berusaha menutupi perasaannya itu. Selain itu ia juga tau Ezra wakilnya sewaktu menjabat sebagai ketua OSIS, meskipun Ezra terlihat cuek dan dingin, ia selalu memperhatikan segala sesuatu yang berkaitan dengan Aisyah.
Dan dengan melihat tingkah laku Aisyah di taman tadi Fahri sadar bahwa diantara keduanya dia hanya akan menjadi benalu penghalang dua rasa yang saling menginginkan.
Itulah alasan mengapa ia memilih tidak mengungkapkan perasaannya kepada Aisyah tadi, namun hal itu malah menghantuinya sekarang. Dia akan pergi dan entah akan kembali atau tidak, bisa dibilang ini merupakan kesempatan terakhirnya untuk mengungkapkan perasaannya, sebelum meninggalkan wanita yang dia sukai.
"Wanita lebih rumit dari soal matematika manapun" ucapnya terus melajukan mobil degan kecepatan yang tidak biasa.
...ו••♡•••×...
Setelah pulang dari Taman tadi Asiyah langsung merebahkan badannya di kasur, namun sedari tadi ia terus memikirkan ucapan Fahri, bayang-bayang Ezra pun terus beterbangan di pikiran nya.
"AAggg Aisyahh apa yang kamu pikirkan.. lupakan.. lupakan.." ucapnya mencoba mengalihkan pikirannya.
Kemudian Aisyah mengeluarkan sebuah ponsel dari tas selempang berwarna krem yang ia gunakan tadi.
Karena seharian sibuk berkeliling Mall ia tidak sempat membuka ponsel miliknya.
Disana terlihat banyak Chat dari grup chat dan chat pribadi dari dua sahabatnya.
"Astaga.. Iyya yah besok mau liburan, aku sampai lupa mempersiapkan pakaian" Aisyah segera duduk dari posisi berbaring nya tadi.
Keluar kamar dan menuju dapur di mana mamanya beserta asisten rumah tangga sedang menyiapkan makanan malam.
Diana memang lah ibu yang selalu menyiapkan makanan untuk keluarga kecilnya, ia tebiasa melakukan hal tersebut sendiri tidak melimpahkan semua pekerjaan kepada ART di rumah nya.
"Maahh.." ucap Aisyah memasuki dapur dimana sang mama sedang memasak untuk makan malam.
"Kenapa sayang?" jawab mama Diana sambil mengaduk sup yang ia masak.
"Besok Aisyah mau pergi liburan sama temen-temen ke pulau abc" ucap Aisyah.
"Lah kok tiba-tiba kesana?" tanya Diana agak kaget.
"Aisyah lupa tanya mama, sama Iren, dan Windy kok mah" jawab Aisyah.
"Teman laki-laki ada?" tanya mama Diana.
"Ada mah, Ezra sama Rafa, kami pergi ber enam Nia juga ikut" jawab Aisyah menjelaskan.
"Yaudah, tetap harus hati-hati, udah ijin ke papa kamu?" tanya mama Diana.
"Belum Maah nanti mama yang kasi tau ayah hehe" ucap Aisyah.
"Astaga.. yasudah.. Liburan berapa hari sayang? pakaian yang mau kamu bawa udah di siapin?" tanya mama Diana.
"Lima hari Mah, belum hehe" jawab Aisyah.
"Yasudah nanti mama bantu siapin" ucap Diana melanjutkan masakan nya.
Diana kemudian menyendok sedikit kuah sup lalu meniupnya, dan menyuapi Aisyah, untuk mencobanya.
"Enak?" tanya mama Diana.
"Masakan mama Terbaikk pokoknya" jawab Aisyah.
Malam pun berlalu dengan damai, Awalnya Fais tidak mengizinkan Aisyah berlibur terlebih ke pulau abc yang cukup jauh, sebagai orang tua pastilah Fais khawatir kepada sang putri semata wayang, namun dengan bujukan dari Diana Fais pun mengijinkan.
Diana pun membantu Aisyah menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa, karena bantuan dari Diana packing barang-barang Aisyah pun selesai, dan dia bisa tidur lebih awal, karena besok pagi-pagi sekali dia harus siap-siap untuk berangkat.
Karena jarak dari kota C ke pulau abc cukup jauh dan tiket pesawat yang mereka pesan itu penerbangan pagi, jadi harus lah siap-siap sedari pagi agar tidak ketinggalan pesawat.
...~♡♡♡~...
.......
.......
.......