
...BAB 23...
...~♡♡♡~...
Dua minggu berlalu, Sahara pun sudah kembali ke kota S, setelah malam itu ia memang langsung kembali ke kota S, setidaknya pertanyaannya selama ini sudah terjawab, alasan dibalik sikap Rafa yang sangat dingin kepadanya.
Dan satu hal lagi yang ia peroleh dari kota itu, secercah titik harapan dari sebuah kebenaran yang dikubur dalam-dalam.
Aisyah Asyifa nama gadis yang membawakan secercah harapan itu, dengan buku novel pemberiannya kepada ibunya yang dipegang gadis itu menandakan bahwa ibunya Inah memang pernah kekota itu, lantaran kapan dan apa sebab Ina ke kota tersebutpun masih di selidiki oleh asisten pribadi Sahara.
Tapi selama bertahun-tahun Sahara menyelidiki ibunya, ia tak pernah mendapat laporan mengenai kedatangan Inah ke kota C, apa mungkin Inah memang menyembunyikan kebenaran itu dari Sahara, mungkin cukup ambigu tapi harapan tetaplah harapan semoga apa yang Sahara harapkan selama ini benar adanya.
"Drtttt.. Drttt... Drtttt.." suara ponsel yang ada di atas meja menyadarkan Sahara dari lamunannya, ia segera mendekat ke meja tersebut lantaran sedari tadi ia memang berdiri di dekat jendela menatap keluar, entah memikirkan apa.
"Halo, bagaimana dengan penyelidikan mu? apa sudah membuahkan hasil?" ucap Sahara tanpa basa-basi.
"Maaf Mrs, sejauh yang saya selidiki Aisyah Asyifa adalah anak dari pasangan Dina dan Fais, Ayahnya adalah pemimpin perusahaan kecil, sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa, dia memiliki kedua orang tua yang utuh" ucap Vina dari seberang sana, ia telah menyelidiki selama dua Minggu di kota S namun hasilnya tetap sama.
"Lalu bagaimana dengan buku yang ku berikan kepada Ibu, kenapa bisa ada di tangan gadis itu?" lanjut Sahara, kecewa mungkin itulah perasaannya saat ini.
"Mengenai buku itu sepertinya didapatnya tanpa sengaja saat bertemu dengan ibu Inah, dan satu hal lagi yang saya dapatkan selama penyelidikan di kota ini.." lanjut Vina membuat Sahara semakin penasaran.
"Hal apa yang kau dapatkan?" lanjut Sahara cepat.
"Ibu Inah 5 tahun lalu memang pernah kekota ini, dan yang mengejutkan adalah beliau menemui Pak Bram dan Bu Tuti yang ternyata ada di kota ini" ucap Vina menjelaskan.
Mendengar ucapan asistennya barusan membuat Sahara agak terkejut, bagaimana tidak pak Bram dan bu Tuti adalah dua orang yang pernah menyelamatkan nyawanya, sekaligus orang yang menjadi kunci dari rahasia masa lalu kelamnya, dua orang yang selama ini ia cari-cari ternyata ada di kota C, kota yang bahkan tidak pernah dilirik olehnya, betapa cerobohnya ia.
Dan fakta lain Ternyata benar Ibunyalah yang sengaja menyembunyikan semua kebenaran ini darinya, hal itu membuat hati Sahara sakit, 'Seberapa besar kau membenciku ibu?' pertanyaan itulah yang saat ini menggores luka dihatinya.
Cukup lama berdiam kemudian Sahara membuka suara, "Lalu bagaimana apa kau sudah menemui mereka berdua?" tanyanya kepada asistennya di seberang sana.
"Saya belum menemuinya Mrs, saya mengonfirmasikan terlebih dahulu dengan anda, sebaiknya apa yang saya lakukan selanjutnya" jawab Vina, ia memang tidak gegabah dengan langsung menemui kedua orang itu, ia tidak mau perbuatannya mengakibatkan hal yang buruk kepada bosnya, apalagi hal ini merupakan harapan baru bagi Sahara, harapan yang selama ini ia nantikan.
"Kerja bagus Vin, aku sendirilah yang akan menemuinya" ucap Sahara.
Ia kemudian menutup telepon dari asistennya itu, dan segera mengatur schedule keberangkatan nya kembali ke kota C.
...ו••♡•••×...
-Di Sekolah-
Entah sejak kapan Aisyah dan kedua sahabatnya yakni Windy dan Iren menjadi akrab dengan Rafa maupun Ezra, bahkan ditambah dengan Nia yang mulai bergabung dengan Circle mereka.
Saat ini mereka sedang ke kekantin, menunggu pesanan makanan mereka. Yah Ezra pun ada disana, mungkin agak mengherankan Iblis Bermuka Datar itu yang biasanya hanya berkeliaran disekitar perpustakaan mulai berkeliaran di sekitar Kantin.
Awalnya ia menjadi pusat perhatian, namun setelah lumayan lama siswa siswi pun mulai terbiasa dengan kehadiran Ezra di kantin sekolah.
Ezra memang tidak banyak bicara tapi ia selalu mengikuti dimana circle itu berkumpul, yah dengan terbentuknya grup WhatsApp 'The Bestod' mereka berenam memang sering menghabiskan waktu bersama, dan berbagi cerita bersama.
"Uh gk kerasa bentar lagi Ujian Akhir Semester" ucap Nia mengeluh.
"Semangat dong Nia, bentar lagi kita naek kelas 12, bakal jadi senior nih" ucap Windy menimpali.
"Gimana mau semangat, pekan depan dah UTS, otak ku mau meledak" ucap Nia lagi.
"Yaelah baru aja gitu dah mau meledak, lebay kau Nia" ucap Iren menanggapi.
"Udah-udah ngapain ribut, mending makan" ucap Aisyah yang sudah tak sabar menyantap makanan di depannya.
Ezra maupun Rafa memang lebih banyak diam dibandingkan berbicara saat berkumpul dengan pada gadis itu.
Lalu kenapa mereka berdua mau bergabung di circle anak cewek? yah mungkin mereka mempunyai alasan tersendiri.
Rafa yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara, ""Gimana kita belajar bareng aja?" ucapnya.
"Setuju!" respon Iren cepat.
"Yaelah Ir, cepet amat responnya, aku tau kamu gk mau jauh-jauh dari Rafa hhh" ucap Windy mengejek temannya.
Mereka pun kembali tertawa. Yah sudah rahasia milik bersama bahwa Iren memanglah menyukai Rafa, namun kembali lagi entah Rafa peka ataupun hanya menganggapnya candaan belaka, karena ejekan circle itu yang terus menerus menjodohkan nya dengan Iren hampir tiap hari terjadi, bahkan secara terang-terangan.
Ditambah dengan sikap Iren yang selalu Fast respon jika yang berbicara adalah Rafa.
"Tapi aku setuju sih klo kita belajar bareng, apalagi kan disini ada Ezra, murid terbaik satu sekolah, nah bisa jadi nilai kita meningkat dikit" ucap Nia menanggapi.
"Kalau mau nilai bagus ya belajar dong Nia" ucap Aisyah
"Lagian serius mau diajar sma Si Iblis Bermuka Datar?" ucapnya berbisik karena memang Nia duduk tepat di hadapannya.
Walaupun percuma karena Ezra tetap mendengar ucapan Aisyah barusan, tapi lagi-lagi ia hanya menatap Aisyah dengan muka datarnya.
"Nah kan, mulai lagi deh" ucap Aisyah kembali karena Ezra menatapnya dengan tatapan tajam dan susah di artikan. Namun hal tersebut mulai menjadi kebiasaan untuk mereka.
Melihat Ezra dan Aisyah terlihat dekat, dalam artian saling tukar pandangan walaupun pandangan yang bisa dibilang permusuhan yang tak bisa akur. Rafa kemudian menengahi.
"Udahlah, jdi fiks yah kita belajar bareng?" tanyanya lagi.
"Fiks lahh" ucap Iren, Nia, dan Windy serentak.
"Aisyah, Ezra,gimana?" tanyanya lagi kepada dua orang itu.
"Aku mah ngikut aja mau kalian" jawab Aisyah pasrah.
Mata semua tertuju kepada Ezra, menunggu jawaban dari pria itu, "Ezra kamu ikut kan?" tanya Windy kembali memastikan.
"Ok, aku ikut" jawab Ezra datar.
"Jadi kapan dan dimana nih?" tanya Nia.
"Em Weekend aja, klo kecepatan ntar materinya pada lupa, tpi bagusnya dimana yah?" jawab Windy.
"Direstoran mama aku aja, nanti aku siapin tempat khusus untuk kalian, gimana?" ucap Iren memberi saran.
"Setuju banget" ucap mereka serempak, lumayan mendapatkan makan gratis, begitu pikir mereka.
...~♡♡♡~...
.......
.......