
...BAB 24...
...~♡♡♡~...
Beberapa haripun berlalu sekarang Sahara sudah berada di kota C, dia sudah berada di bandara XXXX bandara yang tidak terlalu besar, karena memang kota C merupakan salah satu kota yang kecil bahkan jarang diketahui banyak orang di negara ini, tidak seperti kota S yang menjadi pusat ataupun ibukota negara ini.
Tak lama mobil beserta supir yang telah disiapkan oleh asistennya datang menjemputnya di bandara itu, Sahara langsung masuk kedalam mobil tersebut, masih lengkap dengan jaket serta kacamata hitam yang ia gunakan.
Perjalanannya ke kota C merupakan perjalanan rahasia, ia tak mau kalau sampai media meliputnya.
Dikarenakan padahalnya scadule Sahara hingga ia lupa untuk sarapan tadi bagi, ia pun meminta supir untuk singgah ke restoran didepan memberikannya makanan.
Mobil kemudian terparkir di depan restoran itu, supir kemudian turun dari mobil tersebut, yah Sahara tetap berada dalam mobil menunggu supir nya yang ia minta membelikan makanan.
Kemudian ia kembali menghubungi asisten pribadinya itu.
"Bagaimana kondisi disana?" tanyanya kepada sang Asisten
"Pak Bram sedari pagi tadi sudah meninggalkan kontrakan mereka, dan Bu Tuti masih di rumah. Maaf Mrs, saya tidak dapat menjemput anda di Bandara" ucap Vani yang sekarang sedang memantau kontrakan Bram dan Tuti.
"Tidak Apa-apa, saya akan segera kesana, tetap pantau disana" jawab Sahara.
Sahara yang sedang sibuk memegang telepon, matanya tertuju pada mobil yang terparkir tepat di sebelah mobil sewaannya itu, seorang pria dan wanita yang masih remaja keluar dari mobil tersebut, tak lain dua orang yang ia kenali.
Aisyah Asyifa gadis yang membuat secercah harapan untuknya terlihat keluar dari dalam mobil bersama dengan Rafael Setyawan anak sambungnya.
"Nanti aku hubungi lagi" ucap Sahara langsung memutuskan panggilan telepon tersebut.
Sahara menatap dengan dalam kedua orang itu yang berjalan beriringan memasuki Restoran tersebut. Bagaimana tidak, yang ia lihat bukan hanya pemandangan biasa tapi pemandangan yang ia rindukan, Rafael terlihat tersenyum manis dibalik kaca mobil tempat Sahara duduk.
Senyuman yang sudah lama tak nampak dari pria itu, Rafael pria yang bahkan tidak pernah tersenyum kepadanya, hari ini terlihat tersenyum manis bahkan terlihat sangat ceria di hadapan seorang wanita yang tidak akan pernah Sahara lupakan wajahnya.
'Aisyah Asyifa, siapa sebenarnya kamu?' ucap Sahara larut dalam lamunannya, terbayang malam dimana ia meninggalkan kediaman orang tuanya, ditengah sunyinya malam, Guntur dan petir, ia berjalan ditepi jalan raya yang hampir tidak ada seorangpun yang melewatinya, dengan perut besar, dan penyesalan yang selalu menggores luka di hatinya.
Tetapi lamunannya terhenti saat suara laki-laki terdengar, "Nyonya ini makanannya" ucap supir sementara Sahara, memberikan makanan kepada majikannya.
Mobilpun kembali melaju meninggalkan Restoran tadi, menuju ke jalan raya, kemudia tak lama kemudian terlihat memasuki area kontrakan yang cukup kumuh, pada akhirnya mobil berhenti di dekat sebuah pohon tepi jalan.
Vani yang melihat mobil yang ia tunggu telah sampai segera mendekati mobil tersebut, dan langsung masuk ke kursi tengah mobil itu.
"Selamat siang Mrs, rumah yang itu adalah rumah dari pak Bram dan bu Tuti" ucap Vani setelah duduk di jok mobil tersebut, menunjuk kearah rumah yang ada di seberang jalan tempat mereka parkir.
"Aku akan langsung masuk" ucap Sahara langsung membuka pintu mobil ingin menemui orang yang selama ini ia cari.
"Apakah anda yakin?" ucap Vani mengikuti langkah bosnya.
"Bertahun-tahun aku menunggu hal ini" ucap Sahara menjawab pertanyaan asistennya.
Tiga kali mengetuk, dan akhirnya ada jawaban dari dalam.
"Iya.. Sebentar.." teriak wanita dari dalam rumah tersebut.
Tak lama kemudian pintu pun terbuka,"Ckleekkk" suara pintu yang dibuka.
Tutiasni atau lebih sering disapa Bu Tuti terlihat bingung dengan kedua wanita asing di hadapannya, namun ia tetap menyambut wanita tersebut, dan mempersilahkannya masuk dan duduk di kursi rumahnya yang sederhana, sebagai bentuk menghormati tamu yang datang kerumahnya.
Setelah Sahara dan Vani duduk, Bu Tuti pun langsung membuka suara, "Siapa kalian? dan perlu apa mencari saya? saya bahkan tidak mengenal kalian berdua" ucap Bu Tuti, yang sedari tadi memang nampak bingung dengan kehadiran tamu yang bahkan dia tidak kenal.
Sahara mulai menjawab, "Bu, saya Sahara mungkin ibu lupa, tapi 17 tahun lalu, saya adalah orang yang pernah anda dan suami anda selamatkan" ucapnya menjelaskan.
Seketika Bu Tuti mengingat kenangan 17 tahun lalu, terlihat muka terkejut nan sulit di artikan, "Pergi kamu, ada perlu apa kau mencariku setelah 17 tahun lalu?" ucapnya marah dan mulai mengusir Sahara.
"Wanita sepertimu yang tidak memiliki hati dan nurani, beraninya menginjakkan kaki di rumah ku" lanjutnya, mengusir.
Wanita umur sekitar 50 tahunan itu memang sangat menghargai tamu, tetapi jika tamu yang datang kerumahnya adalah Sahara, ia benar-benar tidak tahan.
Sahara yang mendengar ucapan Tutiasni barusan turun dari kursinya bersimpuh duduk dilantai di hadapan wanita tua didepannya. "Bu, saya datang dengan niat baik, saya menyesali perbuatan saya 17 tahun yang lalu, dan saya datang ke sini untuk menebus segala dosa yang pernah saya lakukan" ucapnya menangis di hadapan Tuti.
"17 tahun telah berlalu, dan mengapa baru sekarang kau mencariku?, semua sudah terlambat" ucap Tuti.
"5 tahun belakangan ini saya selalu berusaha mencari anda tapi tak kunjung ketemu, saya sadar kesalahan saya mungkin tidak dapat ditebus dengan maaf, tapi saya ingin memperbaikinya dari awal" lanjut Sahara.
"Kesalahanmu bukan kepadaku, kenapa kau malah meminta maaf kepadaku?, Kesalahanmu adalah kepada bayi yang tak berdosa itu" ucap Bu Tuti kembali.
"Hiks.. Saya tau betul hal itu, itulah alasan mengapa saya datang kemari, saya ingin tau bagaimana, dan dimana anak saya sekarang" ucap Sahara yang tak dapat memendam kesedihan di hatinya.
"Hahaha, setelah 17 tahun kau muncul dan malah mengakui bahwa dia anakmu?, kemana wanita egois 17 tahun lalu, yang bahkan tidak ingin melihat anak yang baru saja ia lahirkan, bahkan kau sendiripun tidak tau apa jenis kelamin anak yang 9 bulan ada di rahimmu, dan sekarang kau muncul dan mencarinnya?" ucap Bu Tuti tertawa pahit dengan ucapan Sahara barusan.
"Saya tau saya salah, dan hal itu terus menerus menghantui saya, saya mohon Bu, bantu saya menebus dosa masalalu saya.. Hiks" tangis Sahara pecah mendengar ucapan Tuti yang memang semuanya benar.
"Andai kau datang lebih awal dan menyesalinya, tapi semua sudah terlambat, anak yang kau cari sudah lama meninggal" ucap Tutiasni.
Duarrr
Bagai disambar petir disiang bolong, perasaan Sahara hancur, harapannya selama ini seketika sirna, anak yang tak berdosa ia korbankan untuk keegoisannya semata, ia menyesal, ia sangat menyesali semua perbuatannya, tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Maafkan aku Tuhan, Maaafkan aku, Ampuni segala dosaku.. Hikss" hanya kalimat itu yang terus menerus keluar dari bibir wanita itu.
...~♡♡♡~
.......
.......