My Dream Is Mine

My Dream Is Mine
36. Liburan Dimulai



...BAB 36...



...~♡♡♡~...


Hari liburan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, mereka sekarang sudah sampai di pulau Abc, tepatnya di villa milik keluarga Rafael Setyawan.


Villa itu di urus oleh seorang warga lokal yang tinggal di sana.


Sesampainya di sana mereka segera membereskan barang-barang milik mereka dan bersiap-siap untuk makan siang karena matahari sudah mulai meninggi menandakan hari sudah siang.


Karena kamar di Villa terbatas, hanya ada 4 kamar di sana jadi terpaksa mereka harus berbagi kamar, adapun pembagiannya seperti, Windy bersama dengan Iren, Nia dengan Aisyah, dan Rafa dengan Ezra. Sedangkan kamar yang satu lagi terletak di lantai bawah dan di tempati oleh pengurus Villa.


Ketiga kamar yang terletak di lantai dua, karena villa tersebut memang terdiri dari 2 lantai.


Setelah merapikan pakaian mereka, mereka pun berencana pergi ke resto dekat villa, kebetulan villa tersebut terletak tidak jauh dari pantai, mereka dapat melihat pemandangan laut hanya dengan mengintip lewat jendela.


Sesampainya di Resto itu, mereka pun memesan beberapa seafood khas sana untuk menjadi santapan siang mereka.


"Syukur lah diizinin sama ortu.. awalnya ortu aku ngelarang sih tapi dengan menggunakan nama kalian berdua mama aku langsung setuju aja haha" ucap Aisyah menceritakan bagaimana ia izin kepada orang tuanya.


"Gadai in nama temen kau Aiss.. tapi bener sih kalau izin cukup pake nama temen yang dikenal ortu, biasanya sih di izinin" lanjut Windy membenarkan.


"Mama aku sih izinin selama pergi nya sama kalian" sambung Iren.


"Kalian enak yah bisa izin pake nama temen, lah aku pergi pergi aja tanpa izin" ucap Rafa yang sedari tadi menyimak pun mulai ikut meramaikan.


"Kamu mah beda kasus yah, justru enak tinggal sendiri.. mandiri" ucap Aisyah.


"Iyya tuh, gak dapat Omelan dari mama tiap hari huftt" lanjut Windy.


Rafa hanya diam dan tersenyum, sebab ia tau teman-teman tidak mengetahui apa yang ia lalui selama ini, padahal jauh di lubuk hatinya ia pun sangat merindukan sosok seorang ibu.


Ezra yang tabiatnya memang cuek dan dingin hanya menyimak sambil memainkan ponsel di tangannya, mode menyimak dengan posisi cool yang tak terlepas darinya.


Berbeda dengan Nia dia sebenarnya ingin ikut mengobrol tapi tidak tau harus mulai dari mana, dan yang mereka bicarakan adalah keluarga, khusus hal itu ini tidak bisa mengatakan apa-apa. Nia pun mulai berfikir, 'Kenapa aku ikut kesini?' batinnya.


Ia kemudian menengok ke arah Ezra yang masih sibuk dengan ponselnya tak lupa dengan headset yang terpasang di telinga nya seakan tidak memperdulikan obrolan teman-teman, padahal sebenarnya headset itu hanya pajangan, dia sedang menyimak tapi tidak ingin ketahuan.


Nia menatap Ezra dan mengatakan, 'Yah aku datang karena dia..' ucapnya dalam benaknya, ia ikut karena Ezra juga ikut, tidak lebih.


"Sudahlah waktunya makaannn" ucap Rafael memecahkan keheningan, dia sangat antusias setelah makanan yang mereka pesan telah datang.


Mereka pun melahap habis makanan itu tanpa ragu-ragu. Liburan mereka pun resmi di mulai.


Setelah makan mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan ke tempat sekitar sebelum kembali ke Villa, tempat pertama yang mereka datangi adalah pantai, tujuan utama mereka ke sana pun adalah pantai.


Namun karena baru saja tiba mereka belum berencana untuk menyelam ataupun menikmati laut disana, mereka hanya sekedar berjalan-jalan menikmati suasana pemandangan pantai tersebut.


Dan tentu saja tidak ketinggalan foto bersama yang mereka lakukan, sebagai kebiasaan remaja saat ini, kemana-mana pasti foto lah yang menjadi agenda utama.


"Uuughh Capekk" keluh Aisyah langsung merebahkan badannya di kasur.


'Brukk...' suara benda berat terjatuh di kasur, siapa lagi kalau bukan Windy dan Iren yang sengaja datang ke kamar yang di tempati Aisyah dan Nia.


"Aaargg.. Shitt, kalian berat tau" omel Aisyah karena kedua sahabatnya menindih tubuh nya.


"Setelah libur nanti aku diet deh.. tapi selama libur harus makan sepuasnya dong" ucap Iren tanpa merasa bersalah menindih tangan Aisyah.


"Suasana disini adem banget sumpah, jadi pengen pindah ke sini aja deh" ucap Windy.


"Yups adem banget, pemandangan nya juga Wooww, pantes banyak seleb suka buat konten disini.. Eh.. tadi foto yang di ambil Rafa udah di kirim belum?" tanya Aisyah.


"Udah ada di grup tuh.. mau post? tandai aku jga yah" jawab Iren.


"Ok deh sip, lu tandain kalian berdua.. Lah..." ucap Aisyah, namun belum ucapnya selesai Aisyah yang sedang memainkan ponselnya di kagetkan oleh sesuatu.


"Kenapa Aiss??" tanya Windy.


"Si Ezra punya Ig?" ucapnya Aisyah menanyakan, ia sangat heran, sebab baru saja ia ingin upload foto tersebut, namun sudah ada akun yang menandainya, Nick name akun tersebut adalah Ezra.


"Hah?? Masa sih!!" ucap Windy dan Iren bersamaan, dan langsung mendekat kan kepala mereka kepada kepala Aisyah untuk melihat.


"Woowww Busett ternyata famous.." ucap Iren terkejut, sebab Aisyah mengetab akun tersebut, dan followers akun itu ada puluhan juta.


"Gak nyangka banget sumpah!!" lanjut Windy yang tentunya hal tersebut sulit untuk di percaya.


Ezra yang dingin dan cooll tidak pernah mereka menduga bahwa si ketua kelas memiliki akun yang followers nya tingkat seleb.


Rasa penasaran mereka pun terus berlanjut dan terus menscroll akun tersebut. Dan tanpa mereka sadari Nia masuk ke kamar itu dan ingin istirahat, namun melihat ketiga sahabat itu sedang rebahan di ranjang menguasai kasur tersebut membuat Nia mengurungkan niat dan kemudian keluar, ia kemudian duduk di sofa yang terletak tidak di tengah-tengah antara ke tiga kamar tersebut.


Nia kemudian membuka ponselnya dan mencari suatu akun, benar saja yang di bicarakan ke tiga sahabat itu tadi benar adanya. Ia kemudian ikut ngepoin akun tersebut.


Namun tiba-tiba ada notifikasi yang masuk ke ponsel nya, yang membuat Nia membelalakkan matanya, notifikasi itu dari seseorang yang sedang ia hindari saat ini.


Siapa lagi jika bukan dari Anggara Wijaya, lelaki paling berbahaya yang harusnya ia hindari, entah apa lagi yang laki-laki itu rencanakan.


'Apa sebaiknya aku membantunya saja? Mungkin saja dia lebih bisa di percaya.. hemm' benak Nia setelah membaca pesan dari Angga.


Terbesit di benaknya untuk berurusan dengan laki-laki itu, tanpa ia sadari hal itu mungkin saja akan membahayakan banyak orang termasuk dirinya sendiri, dan apa yang ia lakukan saat ini mungkin saja menjadi awal dari hal yang akan merugikan seseorang di masa depan.


...~♡♡♡~...



.......


.......


.......