
...BAB 22...
...~♡♡♡~...
Siang harinya Ratih memutuskan datang menemui wanita yang merebut suaminya darinya, ia terlihat berjalan memasuki kantor milik keluarga Setyawan.
Sesampainya di lobby kantor ia langsung menanyakan keberadaan Sahara kepada resepsionis disana, "Sahara, dimana dia? aku ingin menemuinya" ucapnya kepada resepsionis di lobby kantor itu.
"Sahara?" tanya resepsionis itu bingung dengan kedatangannya istri dari Bosnya itu.
"Yah SAHARA.. Aku ingin menemuinya, apa kurang jelas?" tegasnya menekan nama Sahara.
"Ti.. tidak, Sahara ada di lantai 4 ruangan sebelah kiri, Mrs" ucap resepsionis tersebut bingung.
Ratih memang jarang datang ke perusahaan suaminya, setelah menikah ia memilih mengabdikan hidupnya menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya, mulai dari memasak dan mengurus segala keperluan suami dan anaknya, walaupun rumah mereka memiliki asisten rumah tangga, ia lebih suka melakukan segalanya sendiri.
Itu adalah mimpinya sejak lama, membangun keluarga kecil yang bahagia, pernikahan sekali seumur hidup dengan orang yang ia cintai, namun itu dulu, sekarang keluarga impiannya hancur karena seorang wanita yang berani merenggut suaminya darinya.
'Sahara.., Sesempurna apa dia?' pertanyaan itu yang menghantuinya sekarang, entah wanita seperti apa yang menghancurkan pernikahannya, pernikahan yang berusaha ia pertahankan selama 10 tahun.
Ratih segera bergegas menaiki lift, menuju tempat Sahara. sesampainya ia disana, ia mencari keberadaan wanita itu, sampai matanya tertuju pada seorang wanita yang terlihat masih sangat muda bergelut dengan laptop didepan nya.
"Sahara?" ucapnya.
Sahara yang mendengar namanya dipanggil seseorang pun langsung berbalik, "Iya? ada apa? siapa anda?" ucapnya bingung dengan sosok wanita di depannya.
"Aku akan memberikan apapun yang kau inginkan, tapi tolong jauhi suamiku" lanjut Ratih.
"Apa maksud anda?" ucap Sahara bingung.
"Mahendra Setyawan adalah suamiku, jauhi dia" lanjut nya.
'Degg' ucapan wanita didepannya barusan seketika membuat jantung Sahara berdetak dengan cepat.
Ia pun tersadar bahwa posisinya sekarang tak lain adalah perebut suami orang, dan wanita didepannya merupakan istri sah dari laki-laki yang ia rebut darinya.
"Sahara, kau masih muda, kau cantik, aku yakin mudah bagimu mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada suamiku, jauhi dia kumohon" ucap Ratih kembali.
Sahara terus dia dengan ucapan wanita didepannya.
Ratih kemudian mendekat ke kursi tempat Sahara duduk, ia tidak dapat menahan rasa amarah dalam jiwanya ia ingin sekali menampar wanita perebut suaminya yang duduk tepat dihadapannya, tapi ia urungkan niatnya itu.
Ia kemudian menunjukkan badannya berlutut di kaki Sahara, wanita perusak kebahagiaan rumah tangganya, "Aku mohon tinggalkan suamiku, aku sangat mencintainya, dan kamipun mempunyai seorang anak, bagaimana dengannya jika mengetahui bahwa ayah dan ibunya berpisah" ucapnya memohon.
Ia menepikan seluruh rasa sakit hatinya, demi rumah tangga yang sudah ia bangun dengan susah payah selama 10 tahun, ia berharap wanita dihadapannya masih memiliki hati nurani, untuk melepaskan suaminya yang masih sangat ia cintai.
Melihat wanita yang bersimpuh memohon dihadapannya hati Sahara bergetar, ia tau betul bagaimana perasaan saat mencintai seseorang, apapun akan kita lakukan untuk orang tersebut, namun disisi lain ada keegoisan dalam dirinya ia tak rela bila apa yang sudah ia lakukan sejauh ini, segala bentuk pengorbanannya harus hancur karena empatinya semata.
Sahara kemudian membuka suara, "Maaf mbak, Aku tidak pernah berniat melukai siapapun, tapi untuk meningkatkan mas Mahendra aku tidak bisa, aku membutuhkannya" ucap Sahara.
"Terlalu banyak yang ku korbankan untuk sampai disini, harta maupun kekayaan itu bisa ku dapat setelah menikah dengan mas Mahendra" ucap Sahara larut mengikuti keegoisannya.
Perih, sakit, tercabik cabik, itulah yang di rasakan Ratih saat ini, namun ia masih bertahan dengan perasaan ini, demi memohon pada wanita yang merebut suaminya itu.
"Aku mohon, kaupun seorang wanita, kasihanilah aku dan demi anakku juga, jangan hancurkan keluarga kecil kami.." ucap Ratih kembali memohon.
Namun hati wanita didepannya sudah benar-benar tumpul, "Aku juga menyayangi Rafa, aku akan menjaganya untukmu, hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, pergilah mbak daripada memohon kepadaku lebih baik meminta kepada suamimu untuk meninggalkanku, aku tidak pernah menggoda suamimu tapi dialah yang menggoda ku" ucap Sahara.
Kemudian Sahara pun berdiri dari kursinya, ia meninggalkan Ratih yang sedari tadi berlutut di kakinya, karena ia tau bahwa posisinya saat ini sebagai perebut suami orang, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menenangkan wanita yang berlutut dihadapannya, jadi ia memutuskan meninggalkan ruangannya membiarkan wanita itu sendiri menenangkan dirinya.
Karena keputusan Sahara sudah bulat, ia tidak ingin menghancurkan mimpinya dua kali hanya karena perasaannya, apapun akan ia lakukan, sekalipun harus berstatus Perempuan Perebut Suami Orang.
...ו••♡•••×...
Tangis Ratih kembali pecah saat Sahara sudah meninggalkan ruangan tersebut, ia tau bahwa usahanya sudah gagal, entah apa lagi yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan rumah tangganya yang sekarang ada di ujung tanduk.
Tanpa Sahara maupun Ratih ketahui sedari tadi percakapan mereka didengar oleh orang lain, yang tak lain adalah Rafa anak kandung dari Ratih dan Mahendra.
Yah Rafa yang memang sering berkunjung ke perusahaan milik ayahnya itu tadi siang meminta supir jemputannya untuk singgah sebentar ke kantor milik keluarganya karena memang searah dengan rumah Meraka dari sekolah Rafa.
Namun sesampainya di kantor ayahnya ternyata ayah nya sedang ada rapat, sehingga ia memutuskan untuk ke ruangan 'Tante Cantik' yang paling ia gemari diantara seluruh karyawan ayahnya.
Sesuatu yang tak terduga terjadi saat ia ingin memasuki ruangan Sahara, di sela-sela pintu yang tidak tertutup rapat ia melihat ibunya sedang berlutut di hadapan Tante Cantik yang paling ia sukai itu, Rafapun memutuskan untuk mengurungkan niatnya memasuki ruangan itu, dan menguping dibalik pintu.
Apa yang dilihat tak seindah yang dibayangkan, Tante yang paling ia sayangi, tak lain dan tak bukan adalah orang yang menghancurkan keluarganya, Rafa tak pernah menyangka bahwa ayah dan ibunya akan segera berpisah, terlebih lagi mendengar jawaban dari Sahara yang tanpa perasaan tidak memperdulikan segala permohonan ibunya, bahkan dengan sengaja ingin menghancurkan keluarganya.
Rafa kecil marah dan sedih, namun ia langsung kembali bersembunyi saat Sahara keluar dari ruangan tersebut.
...ו••♡•••×...
Seminggu setelah kejadian tersebut, Ratih Setyawan meninggal dunia tepat satu hari sebelum sidang perceraiannya dengan Mahendra Setyawan, ia meninggal dunia masih dengan status nyonya Setyawan, sama seperti mimpinya selama ini, pernikahan sekali seumur hidup dengan orang yang ia cintai.
Walaupun pada akhir hayatnya ia tau betul bahwa laki-laki yang ia abdikan hidupnya selama 10 tahun, tidak pernah mencintainya. Namun hati tak sanggup berbohong, sampai akhirpun cintanya pada Mahendra masih tetap utuh, mautlah yang memisahkan mereka bukan palu sidang di pengadilan.
Ratih meninggal dengan bibir tersenyum walaupun setetes air mata jatuh dari kelompak matanya, disisi lain keinginannya terwujud, namun di sisi lain cinta tak terbalaslah yang harus ia rasakan, perpisahan maut mungkin lebih baik dibandingkan perpisahan secara hukum.
Semenjak kematian Ratih, Rafa menjadi sosok yang berbeda, sosok yang pendiam dan tidak banyak bicara, Rafa memendam rasa sakit hatinya sendiri, dan ia berjanji akan membalaskan seluruh penderitaan yang dirasakan oleh sang ibu.
•FlasBack Off•
...~♡♡♡~...
.......
.......