My Dream Is Mine

My Dream Is Mine
25. Anak yang Ditelantarkan



...BAB 25...



...~♡♡♡~...


-Di Restoran-


Aisyah datang bersama dengan Rafa, sebenarnya ia tidak mau, tapi Rafa memaksa menjemputnya dengan alasan tidak tau dimana letak restoran milik orang tua Iren.


Padahal Iren sudah mengirimkan Share loc ke grup The Bestod, tapi hal tersebut tetap membuat Rafa kekeh menjemput Aisyah.


Jadi terpaksa Aisyah mengiyakan hal tersebut, bukan kali ini saja Rafa jalan berdua bersama Aisyah, sebelum nya pun Rafa pernah meminta bantuan Aisyah menemaninya jalan jalan bersama dengan Cika, saat Cika ke kota tersebut.


Dan Cika pun sangat menyukai Aisyah, namun keesokan harinya ia harus kembali ke kota S lantaran Cika masih harus sekolah.


Satu pesan Cika kepada Rafa sebelum pulang, "Kak Rafa sama kak Aisyah harus pacaran, pokoknya klo Cika ke sini lagi harus udah pacaran yah kak" ucap Cika sebelum kembali ke kota S.


Hal itulah yang membuat pusing Rafa saat ini, yah dia sebenarnya memang menyukai Aisyah sejak pandangan pertama, namun sepertinya gadis itu tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


...ו••♡•••×...


Setelah memarkirkan mobilnya di depan restoran, Rafa segera turun dengan Aisyah, wanita itu terlihat sangat cantik, begitu pikir Rafa.


"Aisyah, nanti pulangnya bareng aku lagi yah" ucapnya membuka pembicaraan, karena saat di mobil mereka hanya saling diam.


"Lah, jangan bilang gak tau jalan pulang?" tanya Aisyah kesal.


"Aku kan masih baru di kota ini" ucap Rafa mencari alasan.


"Buat apa ada maps klo GK pernah digunain, lagian resto ini gak jauh dari jalan raya yang sering dilalui klo ke sekolah "lanjut Aisyah kesal dengan Rafa.


Yah Rafa memang sering kali terlihat mendekati Aisyah, hal itu yang membuat Aisyah risih, karena Aisyah tau kalau Rafa adalah pria yang disukai oleh temannya Iren.


"Ya bedalah ikuti maps sma dibimbing langsung, kmu ikut yah? Ok?" tanya Rafa lagi.


"Terserah.." ucap Aisyah kesal, kemudian mempercepat langkahnya memasuki Restoran tersebut.


Rafa tersenyum puas dengan jawaban Aisyah barusan, dan menurutnya Aisyah semakin cantik saat sedang kesal.


Setelahnya ia kemudian mengejar langkah Aisyah memasuki Restoran tersebut.


Tanpa mereka sadari Sahara menatap mereka sedari tadi dari dalam mobil.


...ו••♡•••×...


Didalam Restoran semua sudah berkumpul kecuali Rafa dan Aisyah, tak lama kemudian Aisyah datang bersama dengan Rafa.


Ezra yang melihatnya menatap tajam ke arah mereka berdua, dengan tatapan yang sulit di artikan.


Bukan hanya Ezra, tapi semua yang di sana pun heran dengan keduanya yang datang bersamaan. Tak terkecuali Iren yang langsung menanyakan kepada keduanya.


"Kalian kok barengan?" tanyanya mengintrogasi.


"Katanya Rafa gak tau jalan ke sini, dan kebetulan rumah kami searah dia ngajak aku sekalian barengan" ucap Aisyah menjelaskan.


"Owh gitu yah, yaudah sini duduk" ucap Iren mengerti, walaupun masih ada kejanggalan di hatinya, karena Aisyah dan Rafa selalu terlihat dekat.


Merekapun melanjutkan acara belajar bareng itu, karena besok tepatnya hari Senin merupakan hari dimana Ujian Akhir Semester untuk mereka dimulai.


Tidak terasa mereka akan segera naik ke kelas 3 SMA.


...ו••♡•••×...


Setelah mendengar kabar dari Bu Tuti bahwa anaknya sudah lama meninggal dunia, Sahara pun kembali ke kota S dengan penuh kekecewaan. Ia kecewa, harapan satu-satunya selama ini hancur seketika, sudah tidak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk menebus dosanya.


Buah hatinya yang pernah ia telantarkan sekarang sudah benar-benar hilang darinya, seperti keinginannya dulu, ia menyesal dan membenci diri sendiri karena pernah tidak menginginkan bahkan membenci bayi tidak berdosa yang lahir karena dosanya.


Disisi lain..


Hari sudah malam dan lampu kontrakan sekitar rumahnya pun sudah menyala semua, namun rumahnya masih saja gelap.


Ia terburu-buru masuk kedalam kontrakannya yang tidak terkunci, khawatir sesuatu terjadi kepada sang istri.


Sesampainya didalam kontrakan ia langsung menyalakan lampu, dan betapa terkejutnya ia melihat sang istri duduk di kursi ruang tamu menatap kosong kedepan.


"Bu.. Ibu kenapa?" tanyanya pada sang istri.


Lama menunggu jawaban tapi istrinya tidak kunjung menjawab, ia kemudian langsung mendekati sang istri dan menepuk pundak nya.


Bu Tuti tersadar dari lamunannya merasakan seseorang menepuk punggungnya, ia pun segera menoleh, dan melihat sang suami ternyata sudah ada di dekatnya.


"Bapak udah pulang?" tanyanya agak kaget dengan keberadaan suaminya.


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang istri pak Bram mengulangi pertanyaannya yang tadi.


"Bu, kenapa duduk di kegelapan begini?" tanyanya kembali.


"Dia datang pak" jawab Bu Tuti.


"Siapa yang datang Bu?" tanyanya bingung.


"Wanita yang 17 tahun lalu kita selamatkan pak"


"Terus bagaimana Bu? apa ibu mengatakan semuanya?" tanyanya khawatir.


"Tidak pak, aku bilang kalau anaknya sudah meninggal".


"Syukurlah kalau begitu Bu, lantas apa yang Ibu cemaskan?"


"Apa ini sudah benar pak?" tanya Tuti mencemaskan kebohongannya kepada Sahara.


"Maksud ibu apa?"


"Apa sudah benar kita menyembunyikan kebenaran padanya?".


"Ini adalah permintaan dari Bu Inah, ibu tak perlu cemas, mungkin ini yang terbaik".


"Ibu juga seorang wanita pak, ibu melihat penyesalan yang tulus dari wanita itu".


"Ibu memang tidak pernah merasakan menjadi seorang ibu, tapi ibu tau wanita itu tulus untuk memperbaiki semuanya, tapi ibu malah menutup kesempatan untuknya"


"Ibu sama saja memisahkan seorang anak dari ibunya, apa memang ibu tidak pantas menjadi seorang ibu, sehingga tuhan tidak memberi kepercayaan kepada ibu pak?.. Hiks" ucap Tuti sedih.


Pak Bram kemudian memeluk sang istri, ia hanya terdiam mendengar semua keluhan dari istrinya, ia tidak tau harus bagaimana menenangkannya.


Yah pak Bram dan bu Tuti sudah 30 tahun berumah tangga, namun sampai saat ini pun mereka tidak di karuniai seorang anak.


Awalnya merekalah yang ingin merawat bayi yang ditelantarkan oleh Sahara, namun takdir berkata lain saat mereka pindah ke kota ini untuk memulai hidup baru.


Karena penghasilan yang serba kekurangan, dan di tambah dengan bayi yang mereka bawa, yang pastinya memerlukan begitu banyak uang untuk keperluannya.


Karena kesulitan dalam hal ekonomi pak Bram memutuskan untuk menitipkan anak tersebut kepada pasangan muda yang tidak dapat memiliki keturunan.


Ia sebenarnya tidak tega karena melihat istrinya sangat menyayangi anak itu, tapi ia juga tidak bisa membiarkan anak itu ikut menderita bersama dengan keluarganya.


Sementara disisi lain ada pasangan muda serba berkecukupan, yang sanggup memenuhi segala kebutuhan anak itu, berbeda dengannya yang sudah tua dan tak mampu, akhirnya ia pun menitipkan anak tersebut.


Sampai 5 tahun lalu Bu Inah datang menemui mereka, mencari keberadaan anak itu, dan Bu Inah pun meminta mereka menjaga rahasia ini dari Sahara yang tak lain adalah ibu kandung dari anak itu.


...~♡♡♡~...



.......


.......