
...BAB 09...
...~♡♡♡~...
Sahara Setyawan salah satu penulis terkenal di negara ini, dia mulai populer 7 Tahun lalu, saat novelnya yang berjudul 'Dream' menjadi best seller, sehingga dari kalangan remaja sampai lansia banyak yang mengidolakannya, selain itu ia mulai aktif di bidang motivator dan menginspirasi banyak orang.
Namun siapa sangka di balik kesuksesan wanita itu banyak misteri yang tidak diketahui kebanyakan orang. Kesuksesan maupun kehidupan yang mewah tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang.
...ו••♡•••×...
-Di Ruang Kerja-
Terlihat Sahara yang sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya, bergelut dengan laptop di depannya, yah jadi penulis memang terlihat cukup mudah, tapi sangat melelahkan.
"Tok tok tok" suara ketukan pintu di luar ruangan kerja Sahara.
"Masuk lah" ucapnya.
Kemudian seorang wanita membawa dokumen di tangan nya memasuki ruangan tersebut.
Sahara menatap wanita tersebut, sampai wanita tersebut berdiri tepat didepan nya, ia seperti ingin melaporkan sesuatu.
Saharapun mulai membuka suara "Vin, bagaimana dengan keadaannya sekarang?" tanyanya pada Vina yang ia sapa dengan nama Vin asisten pribadinya yang sudah bekerja dengannya cukup lama.
"Semakin buruk, dokter mengatakan kemungkinan besar beliau tidak akan bertahan lebih lama lagi" jawab Vina mengatakan yang sebenarnya pada bosnya itu.
Mendengar jawaban dari asistennya barusan membuatnya sangat cemas, ia kemudian lanjut bertanya, "Apa ia masih belum ingin menemui ku?" tanyanya kembali.
"Maaf, tapi ia bahkan tidak ingin mendengar nama anda nyonya" jawab Vina dengan nada yang sangat rendah seperti ragu memberi tau hal tersebut pada orang di depan nya, karna hal itu pasti menyakitkan untuk bosnya.
Sahara terdiam mendengar jawaban Vina, ia terlihat sedih, namun sepertinya sengaja terlihat kuat untuk menutupi kesedihannya, "Sampai akhir pun Ibu masih sangat membenciku" ucapnya.
Yang mereka berdua bicarakan adalah Inah ibu dari Sahara, sejak beberapa tahun terakhir ia menderita sakit, dan sampai sekarang masih di rawat di rumah sakit, namun ia masih enggan menemui putrinya itu.
Sahara pun hanya bisa secara diam diam menengok keadaan ibunya, dan sebagai gantinya ia meminta asisten pribadinya Vina untuk menjaga ibunya, ia pun masih berharap sang ibu bisa memaafkannya.
"Tapi saya yakin, beliau masih sangat menyayangi anda" ucap Vina seakan memberi semangat untuk Sahara.
"Aku harap pun begitu" ucap Sahara, ia tau betul bagaimana sang ibu sangat kecewa padanya.
Melihat bosnya yang terlihat sedih Vina tidak tau lagi apa yang bisa ia ucapkan untuk menyemangati nya. Ia sudah bekerja sejak lama dengan bosnya itu, namun sampai sekarang pun ia tak tau betul bagaimana perasaan sang bos.
Sahara larut dalam kesedihannya, ia sangat rindu dengan sosok sang ibu yang dulu sangat menyayangi nya, bahkan berapa kali pun Sahara membuat kesalahan ibunya adalah orang pertama yang mampu memaafkan kesalahannya.
Namun pada akhirnya manusia mempunyai batas, Kekecewaan adalah suatu kewajaran, untuk sebuah kesalahan yang tak akan bisa dimaafkan. Sahara ingin menangis namun air matanya seakan enggan menetes, karena ia tau semua ini adalah karma dari keegoisannya.
Sesaat ia kembali meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keinginan nya apapun konsekuensinya haruslah ia hadapi, jika masa lalu tak dapat di ubah, maka tak ada salahnya berusaha menebus kesalahannya sekarang.
"Untuk itu pun kami belum menemukan sesuatu, namun sepertinya Bu Inah sengaja menghapus semua jejak, sehingga sulit untuk kami menemukan petunjuk" jawab Vina menjelaskan.
Sahara membuang nafas berat, ia sungguh tak tau lagi, sepertinya sang ibu benar benar tidak memberi nya kesempatan untuk menebus kesalahan, atau lebih tepatnya menebus dosanya itu. "Terus lanjutkan, bahkan walaupun hanya ada secercah harapan" ucapnya kepada Asisten nya.
"Baik" ucap sang asisten kemudian berlalu keluar dari ruang kerja Sahara.
Sahara pun menghentikan pekerjaannya, ia kemudian meninggalkan ruangan kerjanya, menuju salah satu ruangan di Rumah nya itu, ia kemudian masuk ke ruang itu yang memang tidak terkunci, ruangan tersebut ternyata kamar tidur dengan dekorasi perpaduan warna putih dan pink, ia kemudian menatap gadis kecil yang sepertinya masih berusia 7 tahun terlelap dalam tidurnya.
Anichka Setyawan atau di panggil Cika itulah nama gadis kecil yang sedang terlelap dalam tidurnya, ia merupakan anak Bungsu dari Sahara dengan Mahendra, Cika adalah adik dari Rafael Setyawan.
Sahara kemudian menghampiri Cika yang terlihat lelap dalam tidurnya, ia mengelus lembut rambut putrinya. 'Mungkin yang kulakukan selama ini memanglah kesalahan, namun kamu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan dibalik semua kesalahan yang telah bunda lakukan' ucapnya dalam lamunannya
Cika yang tadinya terlelap seperti merasakan sesuatu di kepalanya "emm.." dia yang kemudian sadar dari tidurnya.
Cika perlahan membuka matanya ia melihat seorang wanita yang duduk disampingnya, "Bunda kok disini?" tanyanya pada wanita yang ia panggil bunda.
Saharapun tersadar dari lamunannya, ia kemudian menatap gadis kecil didepannya kemudian menjawab " Bunda kangen sama Cika, maaf akhir akhir ini bunda terlalu sibuk dengan pekerjaan bunda" jawabnya pada pertanyaan putrinya tadi, ia memang jarang menghabiskan waktu bersama putri kecilnya.
"Cika juga kangen sama bunda, tapi Cika lebih kangen sama kak Rafa" ucap Cika.
Ucapan Cika barusan malah menambah rasa bersalah dalam hati sahara, ia tau betul putranya Rafael pergi dari rumah karena tidak mau satu atap dengan nya, dan ia pun tau kalau putri bungsunya sangat menyayangi sang kakak melebihi siapapun.
Dari Cika kecil ia lebih sering menghabiskan waktu bersama kakaknya Rafael dan Art di rumahnya, karena ayah dan ibunya sama sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Sehingga kedekatan dan kasih sayangnya lebih besar ke sang kakak di bandingkan ibunya sendiri yang telah melahirkannya. Dan untuk pertama kalinya ia harus jauh dari sang kakak yang sangat ia sayangi.
"Bagaimana Weekend nanti kita ke tempat kak Rafa?" tanya Sahara, ia tak mau melihat putrinya sedih.
Cika yang mendengar perkataan bundanya itu langsung bangun dari posisinya yang sebelumnya berbaring, "Bunda gak bohong kan?" tanyanya girang.
Sahara hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan putrinya itu.
"Yeyyyy!!" ucap Cika melompat kegirangan di kasur nya, "Makasih bundaaaa" lanjut nya sambil memeluk sang bunda.
Sahara pun membalas pelukan putrinya, ia memang tidak bisa membawa Rafael kembali, tapi setidaknya ia bisa mempertemukan kedua adik kakak itu.
Malam yang gelap dengan rembulan yang tertutup awan, akan terasa sangat panjang, namun sepanjang apa pun malam pada akhirnya sang fajar akan datang dan menyinari. Begitulah dengan Sahara, ia hanya berharap, pada akhirnya, penebusannya atas kesalahan kesalahannya di masa lalu, akan ada kata maaf untuk nya"
...~♡♡♡~...
.......
.......
.......