My Dream Is Mine

My Dream Is Mine
31. Awal Keretakan



...BAB 31...



...~♡♡♡~...


Di kursi sudut sana Nia menatap ketiga sahabat itu, jujur saja ia iri dengan mereka, terlebih lagi saat Nia mendengarkan kalau ketiga orang itu membicarakan dirinya, hal itu membuat amarah di hati kecilnya.


Nia Daniaty merupakan anak dari keluarga yang broken home, ibunya hamil di luar nikah, sementara ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan kabur, setelah melahirkan Nia ibunya menitipkannya kepada saudaranya, yang kemudian membesarkannya sampai saat ini.


Nia di besarkan oleh bibinya tanpa pernah melihat wajah sang ibu yang telah melahirkannya, hidupnya pun tidak sebaik teman sebayanya, bagaimana tidak, keluarga bibinya sangat tidak menyukainya, ia sering menerima tamparan, tanpa ia tau apa kesalahannya.


Pamannya suami dari bibinya adalah orang yang kasar dan suka melakukan kekerasan kepada bibinya, sehingga bibinya kadang melampiaskan emosinya kepada Nia setelah menerima kekerasan dari suaminya ia pun akan menyiksa Nia.


Menerima siksaan tanpa tau apa kesalahannya, itulah yang dirasakan Nia hampir setiap hari, sehingga ada rasa iri yang terbesit di hati kecilnya, saat melihat teman-temannya yang lain menikmati masa-masa SMA dengan tenang, karena orang tua mereka adalah orang-orang yang mampu.


Berbeda dengannya yang masuk ke SMA ini mengandalkan beasiswa, dan untuk memenuhi kekurangan biaya kebutuhan sehari-harinya ia harus kerja part time setelah pulang dari sekolah.


Dan yang membuat Nia sekarang emosi bukan hanya itu, melainkan karena ia yang sebelumnya diperingat 2 posisinya di geser oleh Windy menjadi peringkat 3, hal itu tentu saja akan mengancam beasiswa yang di terimanya.


Ia awalnya berencana bergabung di circle Aisyah namun sepertinya dia selalu menjadi orang yang tersisihkan. Terlebih Aisyah, Iren, dan Windy membicarakannya dari belakang dan sekarang malah tertawa bahagia tanpa merasa bersalah.


'Tringg' bunyi notifikasi yang membuyar lamunan Nia.


Nia menatap ponselnya dengan dangkal, mulai mengerutkan dahinya menatap nama yang barusan mengirim pesan singkat kepadanya.


"Hah Angga? mau apa dia.." bingung Nia.


Untuk mengatasi ke bingunannya Nia kemudian berdiri dari tempat duduknya, izin ke toilet sebentar. yang sebenarnya untuk menemui Angga di luar aula, seperti pesan singkat yang dikirimkan Angga yang berisi.


[Temui aku di luar aula sekarang, aku akan membantu mu]


Apa maksud dari pesan yang dikirimkan oleh Angga barusan, ia pun tidak tau namun untuk mengatasi rasa penasarannya ia harus menemui Angga si tukang buat masalah dikelasnya.


...~×ו♡•××~...


Setelah Nia melangkah keluar dari aula, tangannya tiba-tiba di tarik oleh seorang lelaki yang tak lain adalah Angga, yang membawanya ke ruang kosong cukup jauh dari aula, tidak ada siswa yang berlalu lalang, karena semua siswa berkumpul di Aula.


"Hah! kamu mau apa?" ucap Nia agak kaget dengan Angga yang membawanya ke ruangan kosong itu jauh dari keramaian.


"Huh, jangan salah paham, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu" jawab Angga membuang nafas berat.


"Mau apa kamu membawaku kesini?" ucap Nia lagi, semakin takut, sebab Angga bukan lah sosok pria baik, dia adalah tukang onar yang harusnya Nia hindari sejak awal.


"Aku akan membantu mu"


"Bantu.. Bantu apa?"


"Tentu saja menghancurkan mereka, kau tau kan aku membenci mereka".


Namun langkah Nia ditahan oleh Angga yang tiba-tiba menarik tangan nya dan memojokkan nya di dinding dekat pintu.


"Kamu mau kemana? aku belum selesai" ucap Angga mendekatkan wajahnya ke wajah Nia.


Wajah mereka berdua semakin dekat, Angga terus mendekatkan wajahnya ke Nia, sekitar 5 cm wajah mereka hampir bersentuhan.


Dengan sigap Nia segera memalingkan wajahnya agar tidak bersentuhan dengan wajah Angga. Laki-laki di depannya bukan orang yang harusnya ia percaya.


Angga tersenyum menyeringai melihat respon dari Nia, seakan puas mengerjai wanita di hadapannya, ia kemudian mendekatkan kembali wajahnya, dan membisikkan sesuatu pada Nia.


Mata Nia membola mendengar ucapan dari Angga, cukup lama Angga membisikkan beberapa hal kepada Nia, Angga pun melangkah mundur memberi jarak antara dia dan Nia yang ia pojokan tadi.


"Pikirkan baik-baik, kalau kau setuju, cukup hubungi aku" ucap Angga kemudian membuka pintu tidak jauh dari tempat berdirinya, kemudian pergi meninggalkan Nia yang masih dengan mata membola sempurna pada posisi berdirinya yang tidak jauh dari pintu.


Ucapan Angga barusan membuat Nia berpikir keras, tawaran Angga cukup menggiurkan, tapi jujur saja ia takut berurusan dengan laki-laki itu.


Anggara Wijaya adalah putra bungsu dari keluarga Wijaya, ayahnya merupakan politikus ternama yang masuk dalam jajaran anggota dewan yang sangat berpengaruh di kota ini. Sedangkan ibunya adalah seorang model senior, walaupun tidak sepopuler model yang berasal dari luar kota, namun cukup populer di kota tersebut, ibunyapun adalah owner dari beberapa salon kecantikan yang tersebar di kota ini.


Dengan kondisi keluarga yang demikian, Angga sering melakukan tindakan seenaknya, tanpa takut mendapat hukuman seburuk apapun yang ditimbulkannya, dia tidak pernah takut, karena yakin, orang tuanya pasti akan membereskan masalahnya.


Bagi Nia yang hidup berbanding terbalik dengan kehidupan Angga, berurusan dengan orang seperti Angga sangat berbahaya untuk nya, namun tawaran Angga tidak main-main, Angga bersedia membayar nya 10 kali lipat di bandingkan gajinya sebagai pekerja sambilan.


"Ah tidakk!, aku tidak boleh berurusan dengan pria gila itu!!" ucap Nia membuang jauh-jauh apa yang baru saja ia pikirkan.


Angga bisa memang bisa sangat menguntungkan nya terlebih lagi ia memang sedang kesulitan keuangan, namun ia tidak ingin terpengaruh dengan tawaran laki-laki itu, Karena Angga bukan sosok yang bisa di percaya, bisa jadi suatu saat jika ada masalah maka Nia lah yang menanggung semua kesalahannya.


Terlebih tawaran kerjasama Angga barusan bukan hal yang main-main, melainkan hal yang akan mengancurkan pertemanannya saat ini.


"Tidak seharusnya aku memikirkan hal menjijikkan ini!!, Dasar Angga sialan, bisa-bisanya ia merencanakan hal sejahat ini, Dasar tidak waras" umpatnya, sekali lagi menyadarkan dirinya, ia benar-benar tidak boleh melakukan hal ini, yang bisa saja menghancurkan kehidupan nya saat ini maupun kedepannya.


Cukup lama ia bergelut dengan pikirannya, antara akal dan hatinya, hingga ia benar-benar meyakinkan dirinya untuk tidak melakukan hal apapun yang membahayakan.


Setelah meyakinkan diri, Nia akhirnya memutuskan kembali ke Aula, entah berapa lama ia meninggalkan Aula padahal acara belum selesai di sana.


Nia kemudian meninggalkan ruangan itu, dan berjalan menuju ke aula sekolah. Satu hal yang Nia tidak sadari, keraguannya bisa saja menghancurkan segalanya, dan keputusan apapun yang akan ia ambil, akan menentukan nasib seseorang kedepannya.


...~♡♡♡~...



.......


.......


.......