
...BAB 35...
...~♡♡♡~...
Pagi menyambut dengan cerahnya, pagi pagi sekali Aisyah sudah bangun dan bersiap-siap, dengan di bantu oleh mama Diana semalam Aisyah tidak terlalu pusing mempersiapkan pakaian yang akan di bawa nya.
Hari ini ia sengaja bangun sangat pagi agar dapat cepat bersiap dan berangkat, Aisyah sekarang masih terlihat mengeringkan rambutnya.
"Tingg Tong" bunyi Bell rumah Aisyah.
"Sebentar" Diana segera keluar dan membukakan pintu rumah tersebut.
Di luar terlihat seorang kurir paket yang membawa sebuah kotak cukup besar.
"Paket untuk siapa yah?" tanya Diana seingatnya dia tidak sedang menunggu paket, dan baik suami maupun Asiyah anaknya jika memesan paket pasti akan memberi tahunya terlebih dahulu.
"Sebentar yah.." pinta Diana masuk ke dalam rumah, ingin memastikan terlebih dahulu.
Diana adalah tipe ibu yang ekstra hati-hati, dia selalu memperhatikan bahkan hal sepele dan sangat detail.
"Aisyah kamu pesan paket sayang?" ucap Diana masuk ke kamar Aisyah tanpa mengetuk pintu, karena pintu kamar memang tidak di kunci.
"Paket? enggak tu mah" jawab Aisyah masih sibuk merapikan rambutnya di meja rias.
"Diluar ada kurir paket tuh, katanya buat kamu" ucap Diana.
"Hahh?? kok bisa" kaget Asiyah, sebab ia memang sedang tidak menunggu paket apapun.
"Cek dulu gih sayang, siapa tau dari temen kamu gitu" ucap mama Diana.
"Tapikan ultah Aiss masih lama mah, yasudah deh, Aisyah cek dulu" ucap Aisyah kemudian keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Aisyah menanyakan mengenai pengirim paket itu, namun kurir pun kurang tau dan tidak ada nama pengirimnya. Yasudah Aisyah terima saja, karena ia juga harus segera bersiap berangkat hari ini.
Aisyah berjalan menaiki tangga dengan membawa kardus paket itu yang sepertinya agak berat dan memasuki kamarnya, disana masih ada Diana yang sepertinya membereskan kamar tidur Aisyah yang berantakan. Diana yang melihatnya pun langsung bertanya.
"Paket dari siapa sayang?" tanya Diana penasaran.
"Gak tau mah" jawab Aisyah.
"Lah kok main di terima aja sih sayang" omel Diana.
"Siapa tau penting mah, lagian kasian kurirnya hehe" ucap Aisyah menanggapi.
"Yasudah.. mama mau siapin sarapan dulu" ucap mama Diana kemudian pergi dari kamar Aisyah.
Aisyah yang tidak sabaran langsung meletakkan paket itu di ranjangnya dan duduk segera mengeksekusi paket tersebut.
Ia merobek bungkusan paket yang terlihat rapih, setelah bungkusan paket itu benar telah ia robek, kemudian langsung membuka kardus yang cukup besar di dalamnya.
Dia di kagetkan dengan isi kardus yang berisikan beberapa barang seperti pakaian, sepatu, dan tas.
Bagaimana Aisyah tidak kaget, barang tersebut adalah barang yang ia pilihkan untuk hadiah yang akan Fahri berikan kepada wanita yang ia suka, tapi kenapa sekarang barang itu ada disini.
"Apa kak Fahri di tolak yah, terus karena patah hati dia malah kirimin aku barang-barang ini? Tapi kok bisa.. cewek mana yang sanggup nolak kak Fahri.." ucapnya bingung.
Ditengah kebingungannya Aisyah melihat ada surat dan masih kotak kecil yang terselip di antara pakaian dan tas yang ada di dalam kardus kotak itu.
Ia sedikit terkejut membaca surat itu, adapun surat itu berisikan;
...Hai Aisyah, aku tau kamu pasti terkejut saat menerima paket ini, sebenarnya aku gak bermaksud mengagetkan mu, tapi aku hanya tidak berani mengungkapkan perasaan ku kepadamu....
...Yah pastinya kamu bingung dengan sikap ku yang tiba-tiba ini, namun yang harus kamu tahu bahwa aku menyukai mu sejak lama, begitu pengecut nya aku yang bahkan tidak bisa mengungkapkan nya sampai akhir....
...Aku menulis surat ini tanpa niat apapun, jangan khawatir, aku hanya ingin mengatakan kepada mu perasaan ku sebelum aku pergi, aku tidak ingin menyesal jika aku tidak menyampaikan nya....
...Kamu gadis yang baik dan ceria, hal itulah yang membuat ku menyukai mu sejak lama, tapi aku sadar, perasaan ini hanya dirasakan oleh ku, berbeda dengan perasaan mu, aku harap kamu bahagia disana....
...Tidak perlu terima perasaan ku, tapi aku harap janga. menolak hadiah dari ku, anggap saja sebagai hadiah terakhir dari senior pengecut mu ini....
...-Fahri Dirgantara-...
Jujur Aisyah sangat bingung dengan surat yang baru saja ia baca, bagaimana tidak, hal tersebut tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Kak Fahri menyukai ku? jadi wanita yang ia suka adalah aku? sejak kapan? kenapa aku tidak sadar.." ucapnya bingung.
Aisyah kemudian membuka kotak kecil itu, dan benar saja kotak itu berisikan cincin yang ia pilih bersama Fahri tempo hari, ia benar tidak menyangka Fahri akan memberikan cincin mahal itu kepadanya.
"Astaga kak Fahri.. harus aku apakan barang-barang ini.." ucap Aisyah semakin bingung.
Namun tiba-tiba ponsel miliknya berdering, "Treettt Treettt" deringan ponsel yang berada di atas nakas.
Aisyah segera mengambil, dan mengangkat telepon yang merupakan telepon dari Windy sahabat nya.
"Aisyah kamu udah siap belum? aku sama Iren udah otw ke rumah mu nih" ucap Windy.
"Iyya dikit lagi aku siapp" jawab Aisyah.
"Hadehh, cepetan siap-siap sana, nanti kita ketinggalan penerbangan lagi" ucap Windy.
"Ok beb, aku mau siap-siap dulu, nanti sampai rumah langsung masuk aja, byeee..Tut.." ucap Aisyah langsung mematikan telepon sepihak tidak ingin mendengar omelan sahabat nya terlalu lama.
Aisyah pun langsung memasukkan kardus paket yang di kirim Fahri ke dalam lemarinya karena sudah tidak ada waktu untuk membereskan nya, adapun kotak kecil berisikan cincin itu, ia simpan di dalam laci meja riasnya. dan dengan segera ia bersiap merapikan rambut beserta make up nya, agar supaya saat kedua sahabatnya datang dia sudah siap.
...ו••♡•••×...
Disisi lain tepatnya di kota S seorang pria dalam mobil sedang menatap kaca jendela, pandangan nya tertuju kearah luar namun sepertiny berbeda dengan pikirannya yang masih tertinggal di suatu tempat.
'Aku harap suatu saat nanti, akan ada scane dimana aku dapat memperjuangkan mu, tanpa lari seperti pengecut saat ini, semoga kamu bahagia di sana.. Aisyah Asyifa aku menyukai mu, dan aku ragu perasaan ini akan memudar dengan cepat' ucap Fahri yang saat ini sudah berada di kota S.
Dia memang sudah meninggalkan kota itu namun hatinya masih ada disana, perasaan yang terlanjur jatuh kepada sosok wanita yang meluluh lantakkan hatinya.
Mungkin dia menjadi pengecut sampai akhir, namun ia harap akan ada takdir dimana ia tidak akan lari dan memperjuangkan perasaan nya yang saat ini.
Akankah ada takdir untuk nya yang tersirat dalam kisah Aisyah selanjutnya, atau ia hanya akan menjadi sepotong kenangan yang memudar seiring berjalannya waktu. Hanya waktu lah yang mampu menjawab.
...~♡♡♡~...
.......
.......
.......