
...BAB 26...
...~♡♡♡~...
Tak terasa satu pekan lebih telah berlalu, akhirnya UAS semester Genap akan segera berakhir, berkat belajar bareng yang di lakukan Aisyah and the geng, mereka dapat mengerjakan UAS dengan lancar.
Dan hari ini merupakan hari Kamis yang tak lain adalah hari terakhir UAS, mereka tidak sabar menantikan libur panjang sekalian kenaikan kelas.
"Akhirnya beban selama ini dah kelar" keluh Windy keluar dari ruangan bersama dengan Aisyah dan Iren.
"Bentar lagi Libur, btw kalian mau liburan kemana?" tanya Aisyah.
"Aku sih mau bantu-bantu mam di Restoran" jawab Iren.
"Gak asik banget, liburan yok, sekitar sini aja" ucap Windy.
"Iyya tuh" lanjut Aisyah membenarkan.
"Liburan? Aku ikut dong" ucap Rafa yang entah dari mana mukanya tiba-tiba muncul di tengah-tengah Aisyah dah Iren.
Yah Aisyah, Windy dan Iren berjalan berjejer, Aisyah ditengah, dengan Windy di sisi kanan dan Iren di sisi kiri.
Dan Rafa kemudian muncul tiba-tiba di tengah Iren dan Aisyah.
Karena hal tersebut Aisyah terkejut, "Apaan sih Rafa kek hantu aja deh tiba-tiba nongol" ucap Aisyah kesal.
"Hehe maaf" ucap Rafa, kemudia ikut bejalan dengan para cewek itu.
"Udah sana pergi, ini Area para cewek, cowok gak usah ikutan"ucap Aisyah masih saja kesal.
Berbeda dengan Aisyah, Jantung Iren malah berdegup kencang, bagaimana tidak wajah Rafa tadi sangat dekat dengan wajah mereka berdua.
Pipi iren memerah, tapi ia berusaha menetralkan perasaannya agar tidak kentara, namun hal tersebut disadari oleh Rafa.
"Iren, kamu sakit? muka mu merah baget" ucapnya menatap Iren dengan seksama.
"Eh bener, kamu gapapa Ir?" sambung Aisyah menatap Iren.
"Eng.. Enggak kok gapapa" ucap iren gugup.
"Yakin?" tanya Rafa lagi.
"Iy.. ya gapapa kok Rafa" ucap iren meyakinkan.
Windy yang sadar dengan keadaan saat ini hanya memposisikan diri sebagai penonton saja, ia tidak ingin ikut serta dengan drama cinta yang rumit tersebut.
'Bagaimana gak merah kamu sedekat itu dengan dia. Aku gak tau harus dukung siapa, sudah jelas Iren suka Rafa, tapi kayaknya Rafa suka Aisyah?, dan Iren bilang Rafa sudah punya kekasih?, Entah drama macam apa ini, huft' ucap Windy dalam hati
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada dua pasang mata yang mengamati mereka dari jau, yang tak lain adalah Ezra dan ...?
"Ezra.. pulang bareng yok, rumah kita kan searah" ucap Nia yang akhirnya memberanikan diri bicara dengan Ezra.
Nia merupakan wakil ketua kelas dari kelas mereka yang tak lain Ezra ketua kelasnya, pengawas tadi meminta mereka berdua membawakan soal beserta lembar jawaban UAS para murid ke ruangan guru.
Sehingga Nia bisa bersama dengan Ezra saat ini. Sebelumnya ia memang jarang berbicara santai dengan Ezra diluar masalah kelas, terlebih dengan sikap Ezra yang cuek dan dingin.
Namun tatapan yang barusan di sadari Nia saat Ezra menatap keempat orang itu yang sedang berjalan pulang, bukan tatapan biasa, melainkan seperti tatapan cemburu seorang kekasih.
'Entah apa yang kamu pikirkan Nia, mana mungkin itu benar terjadi, kalaupun ia siapa yang Ezra cemburui? Rafa yang dekat dengan mereka? atau.. salah satu di antara mereka?, udahlah hilangkan Nething ini ya Allah' pikir Nia.
"Aku hari ini ada Les, aku duluan" ucap Ezra menjawab pertanyaan dari Nia tadi.
"Yasudah, Hati-hati yah"
Ezra kemudian berlalu meninggalkan Nia tanpa mempedulikan ucapan Nia.
"Bye" ucap Nia lagi dengan suara agak rendah, ia tau bahwa Ezra tidak memperdulikannya.
...ו••♡•••×...
"Tidak, maafkan ibu, maafkan ibu yang menelantarkan mu, maafkan ibu sayang, maafkan ibu"
"AAAAAKH" teriak Sahara kemudian terbangun dari mimpi buruknya.
Sahara membuka matanya melihat ruangan sekeliling nya, dan ia baru ingat bahwa dia tadi sedang bekerja, namun malah tertidur di meja ruangnya.
Karena beberapa hari ini ia lebih banyak begadang, bukan karena pekerjaan, tapi karena setiap tertidur ia selalu bermimpi buruk, mimpi yang selalu berulang.
"Anda tidak Apa-apa Mrs?" tanya Vina asisten pribadinya, yang entah sejak kapan ada disana.
"Tidak apa-apa hanya mimpi buruk itu lagi, sejak kapan kamu di sini Vin?" ucap Sahara, karena seingatnya ia memerintahkan Vina untuk menemani sang ibu di Rumah Sakit.
"Baru saja Mrs, namun saya tidak berani membangunkan Anda" ucap Vina.
"Apa yang terjadi Vin?" tanyanya lagi.
"Ibu Inah sedang kritis, dan dia meminta untuk menemui anda" ucap Vina.
"Benarkah? Akhirnya ibu ingin menemuiku" ucap Sahara, ia sedih namun juga terharu akhirnya sang ibu ingin menemuinya.
"Iyya Mrs, sebaiknya anda segera menemui beliau" ucap Vina.
"Aku akan segera kesana" ucap Sahara berdiri dari tempat duduknya, bergegas ke rumah sakit tempat ibunya dirawat, yang memang tidak jauh dari rumahnya.
...ו••♡•••×...
•FlasBack On•
Petir beserta Guntur bergemuruh, hujan deras malam ini seakan enggan untuk berhenti, Sahara berjalan dalam gelapnya malam, menelusuri dinginnya aspal yang ia injak.
Kekecewaannya menggelapkan hatinya, ia kecewa dengan kekasihnya yang meninggalkan nya begitu saja, dan ayahnya yang bahkan mengusirnya.
"Kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kamu meninggalkanku? Aku sudah membuang semuanya, bahkan mimpi mimpiku aku buang untukmu, tapi kenapa kau yang malah membuang ku? Sekarang kemana lagi aku harus kembali, bahkan orang tuaku pun tidak lagi menginginkanku."
"Kemana aku harus membawa anak ini? haruskah aku menggugurkan nya? atau haruskah aku membawanya pergi bersamaku (untuk selamanya)? Kenapa? kenapa harus begini? bukan seperti ini yang kamu janjikan. Tidak, Bukan seperti ini yang aku harapkan. Aku lelah, Aku benar-benar lelah.." ucapnya mengeluarkan seluruh beban di hatinya.
Tanpa memperdulikan kondisinya yang sedang mengandung ia terus berjalan menulusuri dinginnya malam, tapi manusia pun mempunyai batas, dan ia pun sudah tidak sanggup menampung keletihan dalam dirinya.
"Brukkk" Sahara terjatuh tak sadarkan diri.
Disisi lain ada mobil angkot yang baru saja pulang dari pasar menjemput sang istri, yang tak lain adalah angkot milik pak Bram dan bu Tuti.
"Tadi ramai sekali pak, sampai harus pulang larut begini" ucap Tuti kepada suaminya yang sedang menyetir di sampingnya.
"Iya toh Bu, tapi Alhamdulillah Allah masih memberikan kita rejeki melimpah" lanjut pak Bram.
"Iyya pak Alhamdulillah".
Angkot pun melaju melalui jalan yang bisa di bilang sangat sepi ini, karena memang sudah pukul 11 malam, dan hujan sangat deras sehingga jalan sangat sepi.
Pak Bram tiba-tiba menginjak Rem, karena melihat seperti ada seseorang yang pingsan didepan sana.
"Kenapa pak?" tanya Tuti kepada suaminya yang menginjak Rem tiba-tiba.
"Didepan sepertinya ada wanita pingsan Bu" jawab pak Bram.
...~♡♡♡~...
.......
.......