
...BAB 17...
...~♡♡♡~...
Diluar rumah yang terlihat sederhana namun megah nampak beberapa orang berdiri depan pagar, menengok kedalam halaman rumah tersebut seperti mencari sesuatu.
"Ini beneran rumah Rafa gak sih?" tanya Windy memastikan.
"Dari alamat nya sih disini" jawab Aisyah, menengok ke dalam pagar rumah tersebut tidak terlihat seseorang pun.
"Telfon gihh.." lanjut Iren.
"Ok waitt!!" ucap Windy kemudian mencari nomor Rafa di hpnya, nomor yang memang sudah ia minta kemarin.
"Tuuttt..Tuutt..Tuuu.. Halo Rafa, ini kami udah di luar, sesuai alamat yang kamu kirim tadi, cuman kok gak ada orang yahh?" ucapnya di telfon setelah telepon yang ia tuju menjawab.
"Ok deh aku langsung keluar" ucap Rafa di telpon, kemudian bergegas keluar ke depan.
Setelah sampai disana ia kemudian membuka kan pagar untuk teman-teman nya, kebetulan Satpam di rumahnya sedang pulang kampung, dan satpam pengganti baru datang nanti sore jadi tidak ada yang menjaga didepan.
"Selamat datang dirumah aku, anggap aja rumah sendiri" ucap Rafa ramah.
"Keren.. keren.. rumah gede tapi gk ada satpam" ucap Windy melihat lebih jelas rumah Rafa yang nampak lebih megah di bandingkan dilihat dari luar pagar tadi.
Rafa hanya cengengesan "Hehehe" dengan ucapan Windy barusan.
Mereka pun masuk ke rumah megah itu, menuju ke ruang tengah rumah Rafa.
Tak lama kemudian Ezra dan Nia pun tiba, saatnya mereka mengerjakan tugas kelompok mereka.
Yah kedatangan mereka ke sini tujuan nya memang mau mengerjakan tugas kelompok.
Aisyah terlihat hanya mematung, menatap Ezra yang menggambarkan di kanvas, ia ingin membantu tpi sayangnya gambar nya lebih buruk dari anak TK.
"Kalian mau gambar apa Aiss??" tanya Iren yg sedari tadi melihat Aisyah hanya menyimak.
"Gak tau Ezra mau gambar apa" jawabnya simpel.
"Dasar BEBANN!!" ucap Ezra kejam.
Seketika semua mata tertuju ke Ezra, tak terkecuali Aisyah yang menatap Ezra seperti ingin mencabik-cabik nya tapi ia menahan emosinya itu.
'Dasar Iblis bermuka datar' ucap Aisyah menyumpahi dalam hati.
Setelahnya Aisyah mencoba membantu Ezra sebisa mungkin, walaupun hanya sekedar menambahkan cat air, mengombinasikan warna, dan mengambilkan apa saja yang di butuhkan Ezra, yg menggambar di kanvas tetap lah Ezra.
Aisyah memperhatikan seksama apa yang Ezra gambar tapi tetap saja ia tak paham apa yang ingin di gambar laki-laki didepannya.
Ia kemudian memberanikan diri bertanya pada teman se tim nya itu, "Ezra kamu mau gambar apasih? biar aku bantu" ucapnya, dia juga tidak mau dianggap beban oleh Ezra.
"Diam aja, nanti juga tau" jawab Ezra datar, kemudian melanjutkan aktivitasnya melukis di kanvas itu.
Mendengar ucapan datar dari Ezra, Aisyah memilih diam, ia kesal namun dia sudah malas berurusan dengan Iblis bermuka datar itu.
Aisyah kemudian menatap seksama lukisan di kanvas itu, terlihat kombinasi warna orange, kuning dan abu-abu tipis.
'Mungkin mau gambar Sunrise atau Sunset' begitu pikir Aisyah.
...ו••♡•••×...
Waktu berlalu dengan cepat tak terasa siang sudah berganti sore, lukisan mereka pun perlahan selesai.
Aisyah kembali memperhatikan dengan seksama lukisan didepan nya, ia tak menyangka Ezra ternyata jago melukis, saking jagonya sampai membuat Aisyah mual.
Yah gambar yang Ezra lukis tak lain gambar yang menurut Aisyah sangat menjijikkan, ia pun tak dapat menahan nya, ia kemudian berlari menuju WC memuntahkan isi perutnya.
"Aiss..." ucap Iren dan Windy melihat sahabatnya berlari ke WC, is pun segera menyusul Aisyah.
Rafael sebenarnya khawatir dan ingin menyusul Windy dan Iren ke WC, tapi ia urungkan niat itu.
Cukup lama mereka di WC, setelah Aisyah sudah merasa lebih baik, mereka pun kembali ke ruang tengah.
"Aisyah kenapa?" tanya Rafa melihat Aisyah datang dengan wajah sangat pucat.
Bagaimana tidak ia hampir mengeluarkan seluruh makan siangnya.
Windy dan Irenpun menuntun Aisyah untuk duduk di sofa.
"Gak tau, Aiss gak cerita" jawab Iren pada pertanyaan Rafa tadi.
"Ezra... emangnya kamu gambar apa sih?" tanya Windy, ia curiga Aisyah begini ada kaitannya dengan Ezra, karena tadi Aisyah terlihat baik baik saja, kenapa Aisyah tiba-tiba mual setelah melihat lukisan satu timnya itu
Ezra tidak menjawab pertanyaan Windy tadi, ia hanya membalik kanvas menunjukkan kepada mereka hasil dari lukisannya.
Windy spontan menutup mata Aisyah, ia tak mau sahabatnya melihat lukisan itu lagi.
Iren, Windy, serta Nia menatap Ezra aneh, 'Menjijikkan' begitu pikir mereka.
Berbeda dengan para cewek, Rafa malah menatap kagum lukisan itu, "Wah keren bro" ucapnya mengangkat kedua jempol untuk Ezra.
"Dasar Cowok, emang punya selera Aneh" ucap Iren kesal dengan tanggapan Rafa barusan
"Pantas Aiss sampai mual, Aiss trauma sama Anjing apalagi Anjing liar" ucap Windy kesal
Yah lukisan yang digambar Ezra tak lain adalah lukisan gambar Anjing, lebih tepatnya anjing liar.
...Ilustrasi Lukisan Ezra...
Mendengar ucapan Windy barusan Ezra dan Rafa menatap Aisyah yg terlihat pucat, kasihan tapi juga penasaran, kenapa wanita itu trauma dengan Anjing.
"Emang kok bisa trauma sma Anjing?" tanya Rafa penasaran.
"Waktu kecil Aiss pernah dikejar Anjing liar" jawab Windy.
"Oowwhh" ucap Rafa.
Setelah mendengar jawaban dari Windy, Ezra hanya menatap gadis yang terlihat pucat itu cukup dalam, entah apa yang di pikirkannya, tidak ada yang tau isi pikiran Ezra dengan muka yang selalu datar itu, apakah ia senang, kasihan, atau malah.. ?
...ו••♡•••×...
Sore telah berlalu, malam pun menjemput, akhirnya lukisan dari ketiga tim itupun telah selesai semua.
Tim Ezra dan Aisyah melukis anjing, Windy dan Rafa melukis suasana kota, terakhir Iren dan Nia melukis taman bunga.
Hanya gambar Ezra yang paling aneh. Semenjak tau Aisyah trauma anjing, lukisan itupun ditutup kain, dapat diakui Ezra memang berbakat melukis namun mau tak mau lukisan itu ditutup untuk kebaikan Aisyah.
Setelah membersihkan barang barang yang mereka gunakan tadi, mereka pun di undang makan malam di rumah Rafa, bi Asih telah menyiapkan makan malam untuk teman teman majikannya itu.
Merekapun menikmati makanan dengan lahap, kemudian setelah nya memutuskan untuk istirahat sejenak dirumah Rafa, lelah dengan Aktivitas sepanjang hari yang menyibukkan ini.
Selanjutnya mereka pun duduk di ruang tamu, menonton tv dan memakan cemilan serta minuman yang disiapkan bi Asih.
Koreksi, mereka duduk di ruang tamu, menyalakan tv dan sibuk dengan hp masing-masing, karena seharian mereka bergelut dengan lukisan, tak sempat membuka pesan yang mungkin didapatkan.
Aisyah terlihat sibuk menscroll hpnya, tak lama kemudian, "Ting", bunyi suara notif di hp Aisyah.
...~♡♡♡~...
.......
.......
.......