
...BAB 28...
...~♡♡♡~...
-Di Rumah Sakit-
Sahara sekarang sudah berada di halaman rumah sakit. Sahara yang mendengar ibu Inah sekarat dan ingin menemuinya memang langsung bergegas menuju kesana bersama Vina asisten pribadinya. Kebetulan rumah sakit itu memang tidak terlalu jauh dari kediamannya.
Sahara sengaja memasukkan ibunya ke rumah sakit yang dekat dengan tempat nya agar ia bisa sesekali menjenguk sang ibu, walaupun secara diam-diam karena Inah ibunya tidak ingin melihatnya apalagi menemuinya.
Namun kali ini berbeda, di saat ibu Inah sekarat ia malah ingin menemui putri semata wayangnya yakni Sahara.
Jauh di lubuk hati Sahara yang terdalam ia bahagia karena mungkin saja ibunya telah memaafkannya, tapi disisi lain ia tau betul bahwa sang ibu mungkin tidak akan bertahan lama lagi, sama seperti yang di katakan dokter beberapa bulan lalu.
Cukup lama ia menelusuri rumah sakit itu, akhirnya ia sampai ke VVIP room, tempat Inah ibunya dirawat. Ia kemudian langsung memasuki ruangan tersebut.
'Ckleekk' suara pintu terbuka.
Dada Sahara serasa sesak memasuki ruangan tersebut, terlihat ibu Inah berbaring di tempat pasien dengan beberapa alat bantu di tubuhnya.
Sahara langsung masuk dan duduk di kursi dekat tempat tidur pasien. Ia menggenggam tangan sang ibu yang dingin dengan selang infus yang terpasang, tangan yang sudah tua namun elusan dari tangan itu juga yang sangat Sahara rindukan selama ini.
Tanpa ia sadari setetes butiran bening tidak bisa ia tahan jatuh dari kelompak matanya, rasa rindu yang sangat mendalam seakan enggan melepas tangan tua yang sekarang sedang ia pegang, tangan sang ibu yang sepertinya sedang tertidur pulas.
"Ara.. apakah itu kau sayang?" suara yang terdengar kecil dan bergetar keluar dari mulut Inah yang sadar dengan kehadiran Sahara.
Mendengar nama masa kecilnya di sebut oleh sang ibu, membuat Sahara semakin larut dalam kesedihannya, suara itu adalah suara yang paling ia rindukan, suara lemah lembut dari sang ibu.
"Iyya ibu, Ara sudah datang.." ucap Sahara tak mampu menahan ke sedihannya.
Melihat putrinya menangis Inah kemudian mengangkat tangannya yang masih terpasang selang infus disana, lalu ia memegang wajah Sahara menghapus air mata yang terus menerus jatuh dari kelopak matanya dan berkata.
"Ara adalah anak ibu yang paling kuat, jika Ara jatuh saat bermain pun Ara langsung bangkit, Ara tidak pernah mengeluh kesakitan ataupun sampai menangis" ucapnya sambil menghapus air mata Sahara.
Tangis Sahara tak mampu ia bendung lagi, ia menangis sejadi jadinya di hadapan sang ibu dengan memegang erat tangan Inah yang menghapus matanya tadi, dan kemudian berkata.
"Maafkan Sahara Bu.., Maafkan Ara yang sudah mengecewakan ibu.. Ara menyesal, Ara ingin memperbaiki semuanya.. Walaupun Ara tau semua sudah terlambat.. Sangat pantas jika ibu membenci Ara selama ini.. hiks" ucapnya mengeluarkan segala penyesalannya selama ini.
Inah kembali mengusap lembut wajah sang anak.
"Ibu pernah marah padamu, ibu juga pernah mengabaikanmu, bahkan ibu juga pernah bersikap seolah tidak menganggapmu lagi, tapi satu hal yang harus kamu tau ibu tetaplah seorang ibu. Seorang ibu bisa saja marah ataupun kecewa putrinya, tapi ibu tidak pernah bisa membenci anaknya Ara.." ucap Inah dengan suara yang semakin melemah.
"Tidak ada kata terlambat untuk seseorang yang ingin memperbaiki kesalahannya, ibu selalu berharap kamu bahagia, jadikan kesalahanmu sebagai pembelajaran untuk mu, jangan larut dalam obsesi yang pada akhirnya akan membinasakanmu. Ara kuat, ibu selalu yakin itu, setelah ibu pergi Ara harus tetap menjadi sosok yang kuat, kejarlah kebahagiaan yang pernah kamu sia-siakan.." lanjut Inah dengan suara yang semakin melemah.
"Mimpi dari semua wanita.. Mimpi yang pernah kau sia-siakan" ucap Inah dengan suara yang bahkan sudah sangat rendah, dan akhirnya tangan Inah yang tadi mengusap lembut wajah sang anak, sekarang sudah terbujur kaku di kasur ranjang pasien.
Melihat kondisi sang ibu Sahara segera memanggil dokter, yang kemudian masuk dan memeriksa Bu Inah. Tapi takdir berkehendak lain ibu Inah telah dinyatakan meninggal dunia pukul 16:36 sore itu.
Setelahnya jenazah Inah akan dikuburkan di kampung halamannya, bersebelahan dengan makam Danu sang Ayah, yang meninggal lebih dulu.
Pemakaman dilakukan dengan lancar, Sahara ditemani oleh Mahendra suaminya dan Cika sang anak.
Kesedihan mendalam yang ia rasakan, selama ini ia mengira sang ibu sangat membencinya, tapi berbeda dari yang ia kira, sang ibu justru sangat menyayanginya sampai di akhir hayatnya.
Kasih sayang yang tidak akan pernah bisa ia dapatkan kembali, kasih sayang tulus tanpa menuntut balasan, kasih sayang seorang ibu.
Satu hal yang membuatnya tidak mengerti adalah tentang perkataan terakhir ibunya.
'Mimpi dari semua wanita.. Mimpi yang pernah kau sia-siakan'
Mimpi seperti apa yang dimaksud sang ibu, itu menjadi pertanyaan yang menghantui Sahara saat ini.
Setelah pemakaman selesai Sahara dan keluarga pun kembali ke kota. Mungkin Inah sudah pergi untuk selamanya, namun kenangannya akan terus ada di dalam hati Sahara.
...ו••♡•••×...
Sahara tidak ingin terus berlarut dalam kesedihannya, hari ini adalah hari ketujuh atau lebih tepatnya seminggu setelah kematian sang ibu, ia memutuskan kembali melakukan aktivitas seperti biasa, apalagi kalau bukan menulis karya terbarunya.
Sahara yang sedang di sibukkan dengan laptop di depannya tersadar saat seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya.
"Masuk" ucapnya.
Terlihat wanita cantik menggunakan jas hitam dan celana hitam juga yang memasuki ruangan tersebut, yang tak lain adalah Vina asisten pribadinya.
"Maaf Mrs saya tidak dapat menemani anda saat pemakaman ibu Inah" ucap Vina saat telah sampai ke depan meja sang bos.
"Tidak apa-apa justru aku tidak enak merepotkanmu selama ini, oh ya bagaimana dengan keluargamu? dan bagaimana soal perjodohan mu itu?" tanya Sahara.
"Alhamdulillah baik, Insyaallah resepsi pernikahannya bulan depan" jawab Vina.
Yah Vina Panduwinata yang sudah bertahun-tahun mengabdikan diri pada pekerjaannya hingga tidak menikah, akhirnya orang tuanya merencanakan perjodohan untuknya, itulah sebabnya ia tidak dapat ikut menghadiri pemakaman Bu Inah karena harus pulang ke kota halamannya.
"Selamat atas pernikahanmu" ucap Sahara.
"Terimakasih Mrs.. Oh ya saya datang kesini untuk memberikan ini, surat dari Ibu Inah yang saya temukan di laci kamar rumah sakit" ucap Vina menyerahkan sebuah surat kepada Sahara.
Sebenarnya Vina menemukan surat itu saat membereskan barang-barang Bu Inah sebelum ia kembali ke kota halamannya. Namun karena saat itu Sahara sedang mengurus pemakaman Bu Inah sehingga ia membawa surat itu bersamanya karena ingin memberikan langsung surat itu kepada bosnya, sehingga baru memberikan surat itu sekarang.
...~♡♡♡~...
.......
.......