Mona*Lisa

Mona*Lisa
TURNING PAGE



Mulai hari itu, Robin mengajarkan berbagai jenis hal kepada Lisa, dari mulai bela diri, menembak, dan juga mulai memperkenalkan bisnis yang dimilikinya. Pada awalnya Lisa terkejut mengetahui jenis usaha yang dikelola oleh kakek nya itu, tapi dia teringat kembali ucapan Hendrik saat berada di mobil, bahwa dunia ini memang kejam, demi bertahan hidup lebih baik kalau kau juga menjadi orang yang kejam.


Lisa melakukan semua pembelajarannya dengan tekun dan penuh tekad, tidak ada pertanyan apa atau kenapa yang keluar dari mulutnya, dia hanya menanyakan satu hal pada kakeknya, "Kek, apa penyebab ayah dan kakek tidak akur lagi?"


Robin melirik ke arah Lisa yang masih dengan santainya mengunyah sarapannya setelah tiba tiba memberi pertanyaan macam itu, "Karena ayahmu jatuh cinta pada wanita asing, dan tentu saja kakek tidak merestui mereka karena kakek sudah punya calon sendiri untuknya, tapi ayahmu malah memilih kabur dari rumah dan menikahi wanita yang menjadi ibumu itu."


"Dan....apa kakek menyesalinya?" Tanya Lisa lagi,kali ini dia sudah selesai menghabiskan sarapannya dan dilanjut minum susu.


"Sangat...kakek sangat menyesalinya sekarang, seaandainya waktu itu kakek langsung merestui hubungan mereka....kau tahu sendiri kalau ayahmu itu keras kepala bukan, dan sama hal nya dengan kakek, kita sama sama keras kepala dan lebih mementingkan ego masing masing, tapi kakek masih selalu memperhatikan kalian dari kejauhan."


Lisa yang kala itu polos dan naif mempercayai semua perkataan kakeknya, dan dalam waktu beberapa tahun, Lisa remaja berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin, dia membalaskan kematian orangtuanya tidak hanya pada si pelaku, tapi juga pada semua yang terlibat didalamnya termasuk atasan mereka, namun saat dia hendak membunuh pimpinan mereka, pria itu mengatakan sesuatu yang membuat Lisa meragukan apa yang diyakininya selama ini.


"Sebelum kau membunuhku,aku akan memberitahumu sebuah fakta tentang siapa penjahat yang sebenarnya, Robin lah, kakekmu lah monster yang sebenarnya."


Lisa masih menempelkan pistolnya di kening si bos mafia yang sudah babak belur itu, dia putuskan untuk mendengarkan dulu pesan terakhir dari si bos mafia sebelum dia menarik pelatuknya, "Kau juga seorang monster bukan? Jadi tidak ada salahnya jika monster membunuh monster, yang kuatlah yang akan bertahan."


"Kau benar, sistem kerja dunia ini memang tentang siapa yang kuat, tapi setidaknya aku masih lebih manusiawi daripada Robin."


"Apa sebenarnya tujuan dari ucapanmu? Bicara yang jelas sebelum aku melubangi kepalamu.!" Lisa sudah mulai bosan mendengar celotehannya, dia ingin sekali segera menyudahi hidup orang itu, tapi dia juga sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakannya.


"Robin membunuh semua anggota keluargaku hanya untuk mengambil alih usahaku dan daerah kekuasaanku, aku hanya membalaskan dendamku padanya, dan asal kau tahu, korbannya bukan hanya aku, aku cukup beruntung bisa membalaskan dendamku sebelum mati, sedangkan yang lain lebih dulu bertemu dengan ajal mereka sebelum sempat membalas dendam, uhukk, asal kau tahu, seburuk apa pun sistem kerja dunia ini, kami masih punya kode etik untuk tidak menyentuh keluarga masing masing,daan lihatlah dirimu sekarang? Robin sudah merubahmu menjadi monster juga, hahahaha" Bos Mafia itu menertawakan Lisa yang kini menjadi budak balas dendam, yang tidak ada bedanya dengan orang dihadapannya itu.


Aku monster? Ya aku tahu, tapi kenapa rasanya tidak enak didengar saat dia yang mengucapkannya....


DOR...Lisa menarik pelatuknya dan suara tawa orang itu pun hilang seketika. Tapi rasa tidak enak itu masih menjalar di seluruh tubuhnya, rasanya seperti ada semut yang menggerayangi seluruh tubuhnya, sangat tidak nyaman.


"AAAARRRGGGGGHHH......" Lisa berteriak frustasi, dia seperti merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya dan mencoba menggeliat ingin keluar, dia ingin melepaskannya agar dia merasa ringan dan lega.


Nyawa dibalas nyawa, itulah keyakinannya selama ini, tapi kini keyakinannya itu seolah runtuh, slogan laknat itu hanya akan membuat lingkaran setan yang tidak ada ujungnya, dan membuat dirinya semakin terjerumus ke lembah hitam terdalam, monster, benarkah dia ingin menjadi monster juga? Setelah mendengar sendiri seseorang mengatakannya tepat di depan wajahnya, indra kemanusiaannya menolak, dia tidak suka dan tidak mau menjadi monster.


"Kakek sialan, harusnya dia mengajarkan hal baik pada cucu satu satu nya, ahh tapi aku sendiri juga bodoh mau menjadi bonekanya, jika tahu rasanya akan seperti ini aku tidak akan pernah mau membunuh orang." Lisa menyandarkan punggungnya kedidinding, dia merosot dan terduduk, kemudian memeluk kedua kakinya dan membenamkan wajahnya dilutut, sedangkan air shower masih mengguyuri badannya yang masih berpakaian lengkap.


***


Keesokan harinya Lisa memilih pergi dari istana kakeknya, dia meninggalkan sepucuk surat untuk kakeknya sebagai ucapan perpisahaan, tanpa adanya rasa terimakasih, yang ada hanya ucapan 'Aku akan memanfaatkan ilmu darimu dijalan yang lain' yang Lisa tulis di akhir kalimat perpisahaannya.


Robin cukup syok dengan kepergian Lisa yang tiba tiba, apalagi Hendrik yang sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, dia bahkan memiliki panggilan sayang untuk Lisa yaitu 'Princess'. Tapi mereka berdua sadar keputusan Lisa untuk meninggalkan tempat yang buruk ini sudah tepat, meskipun mereka sangat menyayangi Lisa, mereka tahu seperti apa masa depan Lisa jika tetap berada disini, semoga Lisa menjalani kehidupan yang lebih baik diluar sana, hanya itu harapan mereka.


Lisa memutuskan untuk tinggal di negara kelahiran ibunya, dengan pengetahuannya tentang dunia hitam dan kemampuannya tentu saja, Lisa berpikir hanya ada satu pekerjaan yang akan cocok dengannya, seorang agen rahasia, terdengar jauh lebih keren daripada seorang pembunuh berdarah dingin bukan?. Begitu pikirnya dan darisanalah dia memulai karirnya sebagai Mona.


***


"Ceritaku terdengar seperti film thriller kan?"


Lisa bertanya kepada Armand yang tengah duduk manis disampingnya dan mendengarkan setiap detail dari ceritanya, Lisa masih belum menceritakan tentang dirinya yang bergabung di kesatuan pada Armand, dia hanya bilang pada Armand bahwa dia memilih untuk tinggal di tempat kelahiran ibunya sambil menjelajah setiap tempat dan menjadikan beberapa panti asuhan sebagai tempat tinggal sementaranya.


"Tidak, justru ceritamu itu lebih terdengar seperti film action, aku membayangkanmu sebagai Angelina Jolie, aku jadi penasaran ingin melihat secara live kau memegang pistol dan menembakkannya, wooaahh hanya membayangkannya saja, kau pasti terlihat ****."


Armand tidak mau membuat suasana yang sudah mencekam menjadi semakin horor, apalagi mengetahui fakta tentang masa lalu istrinya itu, sungguh diluar nalar, siapa yang akan menyangka jika wanita yang terlihat anggun dan sederhana ini dulunya seorang pembunuh dan cucu dari seoarang bos mafia, jika pria biasa nyalinya pasti sudah mengkerut, tapi tidak dengan Armand, karena dari awal dia sudah membulatkan hatinya untuk menerima Lisa apa adanya, dan dia juga yakin dengan sebaliknya, Lisa tidak akan menghianatinya apalagi sampai berbalik dan menodongkan pistol kearahnya.