Mona*Lisa

Mona*Lisa
HACKER



Di ruang kerja, Lisa masih anteng mengotak atik mainan barunya, dia masuk ke sebuah situs khusus, situs yang hanya dirinyalah yang tahu, karena dialah yang membuatnya.


"Itu situs apa?, situs belanja online bukan?, tapi kok tampilannya begitu?" Tanya Erika penasaran.


Erika sedari tadi duduk disamping Lisa, memperhatikan setiap gerak gerik sahabatnya yang sekarang menjabat menjadi majikannya itu dengan diam tak bersuara, hanya sesekali mengunyah camilan dalam toples yang dipeluknya.


Dan saat Lisa memasukki laman web yang baru pertama kali dilihatnya, Erika jadi penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Lisa, bukannya tadi sebelum pulang Dean sempat menjelaskan padanya bahwa Lisa memiliki hobi mendesign jadi Armand membelikannya sebuah laptop canggih, tapi apa ini?


"HUH?" Lisa kaget, Erika yang terlalu tenang membuat Lisa hampir melupakan keberadaannya, kalau saja dia tidak bersuara Lisa sudah akan memasukkan id nya dan Erika akan melihat isi websitenya.


"Kenapa wajahmu begitu?" Tanya Erika lagi, kali ini heran dengan perubahan raut wajah Lisa.


"Aku kaget Eri, perasaan aku cuma seorang diri disini, aku lupa kalau kau masih nyempil dipojokan, sudahlah kau pergi atau tidur saja sana, aku ga bakal bilang ke Armand jadi pekerjannmu akan tetap aman ok." Lisa mencoba membujuk Eri agar mau meninggalkannya sendiri, dia tidak akan bisa bergerak bebas kalu terus terusan dipelototi seperti ini.


"Aku ga ngantuk, dan aku penasaran sama situs web ini, baru pertama kali aku lihat soalnya, jadi aku mau duduk manis saja disini, lagian melihatmu mengotak ngatik benda tipis ini benar benar hiburan, kalau aku sih mana bisa"


Hiburan kau bilang? Memangnya aku lagi bikin pertunjukan apa?. Batin Lisa


"Eri kawanku, bisa kau beri aku sedikit ruang?, Aku juga butuh privasi"


"Bisa aja sih, tapi nanti aku tetep harus lapor sama tuan Armand kalau kau menyuruhku memberimu privasi"


Kata kata Erika justru terdengar seperti sebuah ancaman ditelinga Lisa, kalau sampai dia lapor maka Armand akan memberondongnya dengan banyak pertanyaan dan bisa jadi dia akan dilarang menyentuh komputer lipatnya lagi.


SHIT, Lisa hanya bisa mengumpat didalam hati, tidak ada cara lain lagi, dia harus menunda rencananya.


"Ok, kalau begitu aku udahan aja mainnya, aku mau keluar rumah aja, penat dirumah seharian"


Lisa keluar dari website nya, dan mulai mematikan komputer nya, dia beranjak dari duduknya tapi tidak diikuti Erika.


"Kau masih mau disini?" Tanya Lisa yang heran dengan Erika yang masih saja anteng duduk.


"Mmm sebenarnya, tuan Armand melarang kau keluar rumah kalau tidak ada urusan yang terlalu penting" Meskipun Erika mendengar perintah itu dari Dean, tapi dia anggap itu sebagai perintah Armand juga, karena bagaimanapun Dean adalah perantara Armand.


"WHAT..!!" Lisa tampak tidak percaya dengan apa yang didengarnya, "Kenapa dia melarangku keluar rumah?, Dia mau menjadikanku tahanan rumah apa?"


Kesal, marah, dan kecewa, itulah yang kini dirasakan Lisa, sebegitu tidak percayanya kah Armand sampai melarangnya keluar rumah.


"Bukan begitu, Dean tidak memberitahuku alasan detailnya, tapi intinya tuan Armand hanya ingin melindungimu"


"Melindungiku dari apa?, apa memangnya yang akan terjadi kalau aku keluar rumah?" Lisa masih belum menyadari bahwa Bram sudah mengetahui jati dirinya dan dia kini menjadi incaran Bram dan juga Simon.


"Pokoknya bahaya, udah kamu nurut aja kenapa sih, kau mau kemana memangnya?, kalau ada yang mau kau beli biar aku saja yang belikan"


Erika juga sebenarnya tidak tahu siapa dan kenapa ada orang yang mengincar Lisa, tapi dia sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk menjauhkan dan melindungi Lisa dari bahaya.


Mendengar perkataan Erika membuat Lisa merasa memilliki kesempatan untuk lepas dari pengawasan Erika, dan melupakan amarah yang tadi sempat merasukinya.


"Ok kalau begitu, aku akan membuat daftarnya dulu"


Lisa pun mengeluarkan buku notes dari dalam laci meja kerja, dan mulai menuliskan apa apa saja yang ingin dia beli, dan isinya benar benar dilluar perkiraan Erika.


"Kau mau aku mebeli ini semua?" Erika tampak tak percaya dengan apa yang dillihatnya, kertas kecil itu penuh dengan nama nama barang dengan jenis yang berbeda beda, membuat nya harus loncat dari toko satu ketoko lain untuk membeli semuanya.


Erika pasrah, bagaimanapun dia hanya bawahan yang harus mengikuti kemauan majikannya, kalau Lisa berkata demikian bisa apa lagi dia.


"Ok aku akan pergi" Ucap Erika sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Apa?" Lisa tidak mengerti maksud dari Erika, dengan polosnya dia menjabat tangan Erika yang terulur.


"Bukan jabat tangan, uangnya mana?, kau tidak bermaksud menyuruhku membeli semuanya dengan uangku sendiri kan?"


"Ahahaha, iya lupa, sebentar aku ambil credit card Armand dulu" Lisa memang tidak terbiasa memegang keuangan membuatnya sering lupa bahwa dia sekarang adalah istri dari pewaris tunggal perusahaan Athena Corp.


Selang beberapa waktu Lisa kembali dari kamarnya setelah mengambill kredit card untuk dipakai Erika.


"Pakai ini, jangan hanya membeli yang ada di list saja, beli kebutuhanmu juga" Seraya menyerahkan black card nya ketangan Erika.


"Yes, terimakasih nyonya Rahardja, saya akan menggunakannya sebaik mungkin" Ucap Erika sambill membungkukkan sedikit badannya kearah Lisa.


"Dasar lebay, kau suruh Pak Eman mengantarmu saja, biar ada yang bawain belanjaannya nanti"


"Dengan senang hati nyonya, dan tolong diingat, kepergian saya bukan berarti membuat anda lepas dari pengawasan, saya akan meminta Jeremi menggantikan tugas saya" Ucap Erika masih dengan mode lebay nya.


"TER-SE-RAH" kita lihat saja nanti.


Lisa tidak mau berdebat lagi, biar Erika cepat pergi dan dia bisa segera melanjutkan pekerjannya yang tertunda, lalu bagaimana Jeremi? Lisa cukup mengenal karakter Jeremi, dia tidak akan berani membuat jarak terlalu dekat dengannya karena Armand tidak akan suka.


"Baiklah nyonya, saya permisi" Erika melangkahkan kakinya keluar ruang kerja disusul kemunculan Jeremi yang menggantikan posisi Erka.


Sesuai prediksi, Jeremi menempatkan dirinya dihadapan Lisa disebrang meja, bukan disampingnya seperti Erika.


Lisa kembali menyalakan Laptop tipisnya, membuka kembali situsnya dan memasukkan id nya.


Lisa mulai mengetikkan angka angka dan huruf yang hanya dia sendiri yang paham, tampak layar hitam dengan rentetan tulisan memenuhi layar, dan tidak lama kemudian cctv dari tempat tinggalnya muncul dari layar komputernya.


Web tersebut ternyata merupakan program hacking yang khusus Lisa buat untuk menbobol data atau cctv targetnya, dia melakukannya dengan mengganti server agar tidak terlacak dan kemudian dia mengirim sebuah email untuk seseorang.


"HUMMING BIRD"


Setelah mengklik tombol send, Lisa kini menunggu sebuah balasan.


TRING.. Notif pesan masuknya berbunyi setelah menunggu beberapa menit, dan balasan yang dia tunggu pun datang.


"SPEAK"


Itu merupakan sebuah kode sebelum mereka melakukan percakapan rahasia, dan dengan siapa sebenarnya Lisa berkirim pesan?


**TUNGGU CAHPTER SELANJUTNYA YA 😉


Jangan lupa jempolnya gaeesss...


Kirim kembang sekebon juga boleh banget**...