Mona*Lisa

Mona*Lisa
TUGAS GANDA



Suara dering telepon mengusik kedamaian tidurnya, dengan mata setengah terpejam Armand meraba raba nakas disamping tempat tidur untuk mencari keberadaan ponsel miliknya.


Saat tangannya menyentuh benda pipih tersebut, dia memaksakan tubuhnya untuk beringsut duduk bersandar dan mencoba memfokuskan penghlihatannya untuk melihat jam dan nama si penelepon yang tertera dilayar ponsel, nama Dean terpampang disana sedangkan waktu masih menunjukkan pukul enam pagi.


"Ngapain dia nelpon jam segini" Gerutu Armand sambil tetap menekan tombol berwarna hijau, "Ada apa?"


"Saya sekarang sedang dalam perjalanan bersama nona Erika Pak, sekitar satu jam lagi kami sampai di kantor" Ucap Dean dibalik telepon.


Ah iya, aku menyuruhnya langsung membawa Erika ke kantor.Batin Armand


Dengan langkah gontai Armand turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya, "Oke, aku mau bersiap dulu, bawa saja dia langsung keruanganku"


Meskipun matanya masih berat dan tubuhnya masih ingin direntangkan, Armand tetap harus pergi ke kantor menemui Dean, bagaimanapun juga dialah yang menyuruh Dean untuk langsung menjemput Erika dan sudah harus berada dikantornya sebelum dia datang, setidaknya Armand masih punya hati pada sekretaris kesayangannya itu, dia berencana menyuruh Dean libur hari ini setelah urusan mengenai asisten Lisa selesai.


Setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit dikamar mandi, Armand keluar dengan handuk putih yang melilit menutupi pinggangnya sampai ke lutut, dan sebuah handuk kecil ditangannya yang dia pakai untuk mengeringkan rambut.


Sambil berjalan kedalam ruang ganti, Armand melirik ketempat tidur melihat istrinya yang masih tertidur pulas, dia hanya menyunggingkan senyum menatap punggung polos istrinya, ada kepuasan tersendiri dari dalam dirinya, puas mengenai apa? Entahlah dia sendiri tidak bisa menafsirkannya dengan sebuah kata, yang jelas kini dia merasa bahagia.


Armand melanjutkan langkahnya, dia memasuki ruang ganti yang besarnya hampir sama dengan kamar tidurnya, dia memilih setelan jas, dasi dan jam tangan yang akan dikenakannya hari ini, kemudian dia keluar kembali setelah penampilannya dirasa sudah sempurna.


Dia berjalan menuju pintu kamar tapi berhenti terlebih dulu ditempat tidur, "Tidur yang nyenyak sayang, sampai jumpa dirumah baru kita" Bisik Armand ditelinga Lisa dan diakhiri sebuah kecupan dikening.


Jeremi sedikit terkejut melihat tuannya keluar seorang diri dari kamarnya sepagi ini dengan setelan kerja, karena beberapa hari terakhir ini pengantin baru itu biasanya memulai aktifitas pagi mereka dengan berolahraga bersama.


"Anda sudah mau berangkat kerja Tuan?" Tanya Jeremi sedikit heran.


"Iya aku ada janji pagi ini, jangan bangunkan Lisa, biar dia bangun sendiri, jika nanti dia sudah bangun dan sarapan, suruh Pak Eman langsung mengantarnya kerumah baru" Perintah Armand.


"Baik Tuan" Jeremi menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu saya akan siapkan sarapan untuk anda terlebih dulu"


"Tidak usah, aku sarapan dikantor saja nanti" Armand melirik Jeremi dengan sudut matanya, "Sebaiknya kau yang siap siap, kenapa kau masih dirumah ini, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk ikut pindah kerumah baruku"


Mengingat bahwa mereka akan segera menempati rumah baru mereka hari ini, membuat Armand teringat bahwa dia sudah menyuruh kepala asisten rumah tangganya itu untuk ikut pindah, tapi kenapa Jeremi masih berkeliaran dirumah ini.


"Barang barang saya sudah saya pindahkan kerumah anda, saya hanya tinggal membawa diri saya Tuan" Bela Jeremi.


"Kalau begitu pergi sekarang, kau menunggu apalagi, apa kau berencana baru akan pergi setelah aku dan istriku pergi duluan?" Tanya Armand dengan nada sedikit menyindir.


"Anda tidak memberitahu saya kalau anda akan pindah hari ini, jadi saya hanya ingin sedikit berlama lama terlebih dahulu untuk mengenang masa masa indah saya bersama anda dirumah ini sebelum akhirnya saya pergi" Jawab Jeremi dengan nada yang sedih tapi boong, membalas nada ejekan teman sekaligus tuannya itu dengan sedikit mendaramatisir.


"Cih, kenangan indah macam apa yang kau maksud, kau hanya mengikutiku kesana kemari itu juga karena perintah orangtuaku"


"Itu sebabnya setiap sudut rumah ini mengandung semua kenangan kita karena aku selalu mengikutimu kemana mana" Ucap Jeremi disela tawanya.


"Sudah diam kau, istriku bisa salah faham kalau sampai dia bangun dan mendengar omonganmu yang tidak berfaedah" Armand mencoba menghentikan tawa Jeremi, juga tawanya tentu saja, "Sana cepat pergi kerumahku, jangan sampai Lisa ada disana terlebih dulu, masa iya nanti majikan yang menyambut asisten rumah tangganya"


"Baik..baik.." Ucap Jeremi sambil menghela nafasnya, "Bawahanmu yang setia ini akan segera pergi sekarang juga" Jeremi membungkukkan sedikit tubuhnya kemudian berbalik dan berlalu sambil menggurutu meninggalkan Armand.


Armand hanya tersenyum melihat kelakuan Jeremi, dia sendiri segera bergegas turun menuju mobilnya yang sudah terparkir didepan pintu dan segera meluncur ke kantornya untuk menemui Dean dan Erika.


Jika biasanya Dean membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai diperusahannya, Armand hanya memerlukan waktu dua puluh menit karena dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berbeda dengan Dean yang selalu berhati hati.


Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit "Sepertinya Dean belum sampai", Armand menuju ruangannya, dia membuka pintu dan sedikit terkejut dengan penampakkan dua manusia berjenis kelamin berbeda yang duduk disofa ruang kerjanya, "Kau sampai lebih dulu rupanya".


Dean dan Erika berdiri bersama.


"Selamat pagi Pak"


"Selamat pagi Tuan"


Ucap Dean dan Erika secara bersamaan.


Armand menjawab mereka dengan menganggukkan kepalanya, "Duduklah!" Perintah Armand sambil duduk disofa yang bersebrangan dengan merka, kemudian Dean dan Erika juga duduk kembali.


"Baiklah langsung saja, tidak usah basa basi karena aku tahu kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh" Ucap Armand membuka percakapan, "Nona Erika, kau sudah mendengar dari Dean kenapa aku memintamu kemari bukan?"


"Menurut tuan Dean, Anda meminta saya menjadi asisten Nona Lisa, benar demikian Tuan?" Jawab Erika.


"Betul, tapi aku mau lebih dari sekedar asisten biasa"


"Maksud Anda?" Erika mulai penasaran, pasalnya Dean tidak menjelaskan lebih rinci mengenai tugas tugasnya sebagai asisten.


"Kau harus selalu mengawasinya selama aku tidak ada, dan jika ada tingkah lakunya yang menurutmu janggal segera lapor padaku, dan satu lagi, kau pandai beladiri bukan?"


"Maaf, boleh saya tahu maksud anda mengenai kelakuan nona Lisa yang janggal? dan beladiri macam apa yang anda maksud?" Erika masih bingung, bukannya orang didepannya ini suami dari Lisa, kenapa dia seolah menyuruhnya menjadi mata mata istrinya sendiri.


"Yaa seperti misal dia melakukan hal diluar kebiasannya, atau ada orang asing yang melakukan kontak dengannya, semacam itulah, dan untuk beladiri, terserah jenis beladiri apa yang kau kuasai, aku hanya ingin kau melindunginya jika ada yang mencoba membahayakannya"


Erika kini benar benar bingung, apa sebenarnya tujuan dari atasannya ini, dia menyuruhnya menjadi mata mata istrinya seolah dia tidak mempercayai istrinya sendiri, tapi disisi lain dia ingin Erika juga melindungi istrinya.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini? Batin Erika.