Mona*Lisa

Mona*Lisa
MIMPI NYATA



"Jadi menurutmu kapan aku siap?" Armand menatap lekat wajah Lisa.


"Suatu saat nanti" Lisa membalas tatapan mata Armand, dan menerbitkan senyum andalannya.


Senyum yang selalu mampu menggoyahkan iman Armand, senyum yang mengandung umpan untuk menarik sang mangsa, dan Armand merupakan mangsa yang dengan sukarela menjadi mangsa, eeehhh.


"Aku tunggu janjimu, suatu.saat.nanti" Ucap Armand dengan sengaja mengeja tiga kata dibait terakhirnya.


Cih, aku memang penasaran dengan latar belakangnya, tapi sekarang harus utamakan yang lebih penting dulu, MALAM PERTAMA.


"Makannya udah kan, ayok kita ke kamar" Armand mengerlingkan sebelah matanya, mencoba mengirimkan sinyal untuk Lisa.


Wajah Lisa memerah seketika setelah menangkap sinyal Armand, sudah saatnya kah? tapi tunggu aku belum mandi.


"Aku mandi dulu ya, badan aku masih terasa lengket soalnya"


"Kita mandi bareng aja" Armand kembali mengirimkan sinyal 4G nya dengan sebuah kedipan mata.


"Ar, kasih aku me time sebentar bisa?" Kali ini wajah Lisa tampak serius, ini pertama kalinya juga untuknya, jadi setidaknya dia perlu mempersiapkan dirinya lahir dan batin.


"Oke oke, aku persilahkan kamu untuk mandi sendiri, tapi jangan lama lama, cukup lima menit" Saat Lisa mandi Armand berencana mandi dikamar mandi yang ada dikamar tamu, untuk menghemat waktu mereka.


"Sepeluh menit, aku mau luluran juga" Tawar Lisa, lima menit terlalu singkat untuk seorang wanita melakukan ritual dikamar mandi.


Armand berdiri dari duduknya "Tujuh menit, deal, ga ada tawar tawaran lagi, kulit kamu udah halus kaya kapas, ga perlu digosok gosok lagi, langsung siram aja"


Mau tidak mau Lisa menerima perintah Armand, mereka pergi bersama meninggalkan meja makan, kemudian berpisah saat mereka berada didepan pintu kamar.


"Kamu mau kemana Ar" Tanya Lisa bingung melihat Armand yang malah membuka pintu kamar yang ada disampingnya.


"Aku mandi disini, kamu disana, jadi kita mandi bareng"


Bareng diwaktu yang sama tapi ditempat yang berbeda.Mereka menghabiskan me time mereka dikamar mandi masing masing, air hangat yang mengalir membasahi tubuh mereka mengendorkan urat urat syaraf yang tadi sempat menegang.


Tepat tujuh menit kemudian,Lisa keluar dari kamar mandi, dan menemukan sosok Armand yang sudah duduk bersandar diatas kasur masih mengenakan kimono handuknya.


"Cepet banget mandinya, jangan jangan ga pake sabun" Ucap Lisa basa basi sekedar menutupi kegugupannya.


"Aku udah wangi jadi ga perlu sabun" Armand menepuk nepuk kasur di bagian samping dia duduk "Sini!"


Lisa melangkah perlahan mendekati Armand, dia juga masih memakai kimono handuk, rambutnya bahkan masih setengah basah.


Lisa duduk dibgian ujung kasur, cukup jauh dari tempat Armand berada.


Ko aku gugup gini ya, masuk ke area musuh aja ga semenegangkan ini.


Armand menarik lengan Lisa, membuatnya terjerembab dalam pelukan Armand.


"Ar, kaget tau, main tarik tarik aja" Ucap Lisa sambil mencoba melepaskan diri dari Armand.


"Udah diem dulu sebentar" Armand semakin mengeratkan pelukannya, dan Lisa hanya pasrah dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Armand.


"Sa, kamu udah siap kan?" Tanya Armand sambil membelai rambut Lisa dan mengecup puncak kepala Lisa.


Tidak ada jawaban disana, hanya gerakan kepala Lisa yang mengarah keatas dan kebawah, yang dirasa oleh Armand.


Armand mengangkat wajah Lisa dan mereka bertatapan, saling menyelami mata masing masing.


"Siapapun kau, aku sudah bilang kalau aku tidak peduli bukan, jadi jangan pikirkan hal lain selain bagaimana caranya kau tetap berada disampingku, selamanya"


"Bolehkah?" Mungkinkah?


Mulut dan hati Lisa tidak sinkron satu sama lain, apa yang keluar dari mulutnya, berbeda dengan apa yang ada dihatinya.


"Aku akan membuat semuanya menjadi mungkin" Ucapan Armand justru menjawab apa yang ditanyakan oleh hati Lisa.


Armand pun mengecup bibir Lisa, sekali, dua kali, dan berlanjut dengan ciuman yang dalam.


Handuk kimono mereka sudah terlepas dari badan masing masing, malam yang panjang dan indah pun kini berlangsung dikamar villa bernuansa putih itu.


***


"M**A..!!" Teriak seorang gadis remaja kala melihat ibunya yang sudah terbujur kaku dan bersimbah darah didalam rumahnya.


Gadis itu berlari menghampiri mayat ibunya, didekapnya dengan erat tubuh yang dingin itu dengan air mata yang sudah tidak terbendung.


"MAMA, hiks...hiks..."


"LISA, CEPAT LARI..!!" Teriak ayah Lisa dari balik pintu dengan terngah engah sambil memegangi perut nya yang berdarah.


"Ma...Pa..." Lisa memanggil orangtuanya dengan lirih didalam tidurnya.


Saat saat terkahir Lisa melihat orangtuanya, menjadi momen yang tidak akan terlupakan sepanjang hidupnya, dan terkadang selalu datang sebagai mimpi buruk ditidur Lisa.


Armand yang mendengar suara Lisa terbangun dari Tidur nya.


"Sa, Lisa" Armand menggoyang goyangkan pundak Lisa, mencoba membangunkannya.


Keringat Lisa sudah membanjiri lingerie yang dipakainya, matanya masih terpejam, tapi air matanya mengalir membasahi pipi.


Diguncangnya lebih kuat tubuh Lisa, bahkan Armand menepuk nepuk pipi Lisa agar dia segera terbangun dan kembali ke alam nyata.


Usaha Armand membuahkan hasil, akhirnya Lisa membuka matanya, dan seketika dia langsung memeluk tubuh Armand dengan erat, air matanya masih mengalir, kematian orangtuanya yang tragis, menorehkan luka yang sangat dalam dihati Lisa.


Tapi setidaknya kini dia tidak sendiri, ada seseorang yang bisa dia jadikan sandaran.


"Sssttt,sstttt" Armand mengusap ngusap punggung Lisa, mencoba menenangkannya. "Itu hanya mimpi buruk sayang"


Seandainya memang itu hanya mimpi, tentu rasanya tidak akan sesakit ini, karena itu merupakan mimpi yang berawal dari kenyataan.


"Iya, itu mim-pi, hanya mim-pi" Ucap Lisa disela tangisnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, tangannya masih memeluk erat armand, dan wajahnya masih dia benamkan dipundak Armand.


"Apa yang kau mimpikan? sangat buruk kah?" Armand mencoba bertanya setelah tangis Lisa mereda.


"Sangat buruk, bahkan aku tidak mau mengingatnya"


"Kalau begitu tidak usah diingat, masukan kedalam kotak di memorimu, kunci lalu buang kuncinya biar bisa terbuka lagi" Armand mencoba berkata bijak, ya, memang apalagi yang bisa dia perbuat selain memberikan sebuah petuah.


"Ok, nanti aku coba, selain pasang kunci aku juga mau pasang sidik jari biar ga ada orang lain yang bisa buka"


Armand terkekeh mendengar jawaban Lisa, setidaknya sekarang dia merasa lega karena sepertinya Lisa sudah mulai baikan jika dia sudah bisa melucu.


Lisa ikut terkekeh membuat dadanya naik turun, mata Armand terpaku pada dua gundukan yang kini tercetak begitu jelas dibalik lingerie basah Lisa, dan itu berhasil membangunkan adik Armand yang baru juga tertidur beberapa saat lalu.


"Sa, lagi yuk"


Dan malam penuh gairah pun kembali berlanjut.