
"Baskoro menghancurkan perusahan kakek?" Armand sudah tidak punya lagi rasa hormat untuk ayah mantan temannya itu, tidak ada lagi embel embel kata 'om' disana.
"Hampir, untungnya mama kamu datang nemuin papa untuk minta bantuan"
"Terus papa bantuin perusahaan kakek karena permintaan mama begitu?" Terka Armand.
"Ya begitulah, waktu itu papa belum punya rasa sama mama kamu, tapi papa ga tega juga liat dia kesusahan begitu, soalnya waktu kuliah kita juga cukup dekat, dan ga lama kemudian Baskoro tau kalau papa bantuin kakek dan mama kamu, dia datang menemui papa sambil marah mar..."
BUG, Armand memukul meja karena emosinya sudah tidak bisa lagi ditahan.
"Astaghfirulloh, papa kaget Ar, ngapain kamu mukul mukul meja?" Pa Eddie belum melanjutkan ceritanya karena terhalang rasa kaget.
"Kesel aku pa, kalau aku tau ceritanya begitu, aku ga bakal temenan sama Bram dari awal, papa kenapa baru cerita sekarang sih?"
"Ceritanya belum kelar Ar" Pa Eddie kembali mengingatkan, "Papa ga mau melarang kamu berteman, soalnya papa tau temen kamu itu cuma ada berapa biji, kalau papa larang habis udah semua temen kamu, dan karena papa juga yakin kalau kamu bisa menilai orang dengan baik, kalau udah ga suka, kamu sendiri yang akan manjauh bukan?"
"Iya sih pa, papa emang the best, selalu mengerti aku" Ucap Armand sambil nyengir kuda "Ayo lanjut lagi pa ceritanya"
"Iyalah, papanya siapa dulu" Pa Eddie ikut ikutan nyengir kuda menimpali ucapan anaknya.
"Oke lanjut ya, Baskoro datang nemuin papa sambil marah marah"
FLASHBACK
"Ed, ngapain lu tolongin itu tua bangka, udah bagus syaratnya gua cuma minta anaknya si Nadia bukan bunga pinjaman dua kali lipat" Ucap Baskoro dengan nada tinggi.
"Lu ga usah nyolot gitu Bas, lagian emang salah lu seenaknya minta anak gadis orang buat dijadiin penebus utang, bapa yang waras ga akan ngejual anaknya" Balas Eddie dengan nada tak kalah tinggi.
"Lu kan juga tau Ed kalo gua suka ama si Nadia, ya gua cuma manfaatin peluang yang ada lah" Baskoro mencoba membela diri.
"Itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan, lu pikir hidup orang tuh cuma mainan yang lu bisa mainin seenak jidat lu, dimana hati nurani lu Bas, Nadia juga temen kita, kalo lu suka dia, mestinya lu lamar dia, jadiin dia milik lu dengan cara yang bener, bukannya malah mengancam ayahnya dan menghancurkan keluarganya" Perkataan Eddie yang memang benar adanya hanya menambah api emosi pada diri Baskoro.
"Lu tau sendiri kalo gua udah dijodohin, kalopun Nadia mau juga ama gua, belum tentu bokap gua ngerestuin"
"Jujur sama diri lu Bas, sebenernya lu ga cinta sama Nadia kan? kalo lu emang cinta sama dia, harusnya lu mau berjuang, seenggaknya lu ada usaha buat dapetin hati Nadia atau restu ortu lu, tapi ini apa? ini semua cuma ego lu semata, dari dulu lu selalu menghalalkan segala cara buat dapetin apa yang lu mau" Kali ini perkataan Eddie tepat mengehujam jantung Baskoro karena dia sudah tidak punya hati.
"Lakuin apa yang lu mau, tapi ingat kalau Athena Corp bukan lawan sebanding untuk perusahaan berkembang macam perusahaanmu itu" Ancaman Baskoro sama sekali tidak membuat Eddie takut, pasalnya Athena Corp memiliki kekuatan yang tidak akan mudah dikalahkan begitu saja.
"Kita liat nanti siapa yang bakal duluan memohon minta ampun" Ucap Baskoro smbil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
"Siapkan saja dirimu, jangan sampai kau yang memohon padaku karena pintu ini sudah tertutup untukmu, dan jangan pernah menyebut dirimu sebagai sahabatku lagi" Ucap Eddie dengan kalimat baku disela kepergian Baskoro, tidak ada lagi lu gua yang menjadi tanda kedekatan mereka beberapa menit yang lalu.
Kali ini Baskoro memilih tidak menggubris perkataan Eddie, dia hanya berjalan lurus menuju pintu, dan membantingnya dengan keras.
***
"Papa sama Baskoro putus hubungan semenjak kejadian itu, dia terus berusaha buat menyerang perusahaan kita, tapi tentu saja gagal, dia pikir bisa menang hanya bermodal ancaman" Ucap Pa Eddie menyelesaikan ceritanya.
"Dan papa jadi deket sama mama gara gara kejadian itu juga?" Tanya Armand meskipun dia sudah bisa menebak jawabannya.
"Iya, kami jadi sering bertemu, sering jalan bareng, terus jadian, habis itu kita nikah, dan akhirnya lahirlah kau"
"Udah gitu doang, ga ada adegan action nya gitu?"
"Sebenernya kalo dilihat dari sifat Baskoro, harusnya dia bisa lebih nekat lagi, seperti menyewa tukang pukul atau pembunuh bayaran, tapi mungkin dia masih punya rasa sama papa, jadi ga tega kalo sampai sejauh itu"
Pa Eddie masih bisa merasakan bahwa mantan sahabatnya itu sepertinya memang pernah mencintai istrinya, mungkin perkataannya tentang memperjuangkan cinta mampu sedikit menyentuh hati Baskoro, sehingga dia tidak sampai hati jika harus melukai secara fisik.
"Tapi kau juga harus hati hati Ar, sifat Bram sepertinya lebih keras dibanding ayahnya, jika dia sampai dendam padamu gara gara proyek ini, bisa bisa dia bertindak nekad" Pa Eddie teringat sosok Bram yang juga terkenal dengan kekejamannya.
"Aku tahu pa, makanya aku ga mau pernikahanku disiarkan ke publik, aku ga mau Lisa jadi incaran mereka mereka yang punya niat buruk padaku"
"Tapi lambat laun berita tentang pernikahanmu pasti akan menyebar juga, dan kau harus sudah mempersiapkan diri untuk itu" Pa Eddie mencoba mengingatkan kembali anaknya tentang kejamnya dunia bisnis.
"Jangan khawatir pa, aku udah nyuruh orang untuk memperhatikan gerak gerik Bram, mereka akan segera lapor padaku kalau Bram mulai mencurigakan"
Armand memang sudah menyuruh Dean untuk memasang mata pada Bram, feeling Armand mengakatan ada sesuatu yang harus dia awasi dari Bram, masalah mengenai perusahaan memang sudah teratasi, tapi entah kenapa hatinya masih belum bisa tenang, dia belum bisa membiarkan Bram begitu saja tanpa pengawasan.