
***
Jauh di belahan dunia bagian utara sana, seorang pria muda yang memiliki tubuh tinggi namun tidak terlalu berisi, sedang asyik bermain game di komputernya.
Itulah cara dia mengistirahatkan badan dan pikirannya setelah lelah mengerjakan rentetan tugas yang diberikan bos besar kepadanya. Saat sedang asyik baku tembak dengan lawan online nya, tiba tiba ada sebuah pesan masuk ke email pribadinya.
Dia cukup terkejut karena hanya beberapa orang tertentu saja yang mengetahui email tersebut, tanpa tunggu lama dia langsung keluar dari game dan mengklik kotak masuk, dia melonjak kaget dari kursi sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan saat melihat nama si pengirim.
"Thanks God she's still alive" (Terimakasih Tuhan dia ternyata masih hidup)
Ucap Hendrik setelah dapat menguasai kembali hatinya yang tiba tiba saja berdetak lebih kencang, dia mulai duduk kembali dan mengetik membalas pesan kepada si pengirim.
Rentetan pertanyaan dia lontarkan pada Lisa yang kini sedang berbalas pesan dengannya, tiga tahun lebih dia pergi dari rumah, dan selama itu belum pernah sekalipun Lisa menghubunginya, dan baru kali ini Hendrik mendapat pesan dari Lisa.
(Biasa ya ngobrolnya di translet, daripada salah nulisnya nanti malah malu-maluin ðŸ¤)
"Kenapa hidupmu selalu saja susah Princess, aku pikir kau akan menjalani hidup layaknya orang biasa disana, haaaa"
Hendrik menghela nafas panjang, sebenarnya hidupnya tidaklah jauh berbeda dengan yang dijalani Lisa, pada awalnya dia terpaksa ikut dengan bos besarnya itu,dan jika bukan karena Lisa mungkin dia sudah lama keluar dari naungan salah satu geng mafia terbesar di Belanda yang dipimpin oleh Robin Van Derrick, kakek Lisa.
FLASHBACK
Hendrik remaja merupakan anak yang jenius, hobinya pada game dan teknologi menuntunnya menjadi seorang hacker sekaligus programer handal, dan dari dialah Lisa belajar semua itu, namun sayang dia berasal dari keluarga broken sehingga menyebabkannya salah pergaulan.
Dia terjerumus kelembah hitam narkotika, dan darisanalah dia mulai mengenal nama Robin, sang bandar sekaligus bos besar mafia, karena Hendrik biasa membeli obat haram itu dari anak buah Robin.
Sampai saat dimana dia sudah kehabisan uang dan obat sedangkan sakau nya sudah tidak bisa ditahan, dia terpaksa meretas nomor ponsel yang biasa dia hubungi untuk melakukan transaksi, dan Hendrik jenius mampu melacak keberadaan si pemilik ponsel meskipun nomor tersebut berasal dari handphone ilegal dengan server berbeda.
Dan betapa terkejutnya para anak buah Robin saat markas mereka didatangi seorang bocah ingusan, tadinya mereka mengira Hendrik hanyalah anak sekolahan yang nyasar dan berniat mengusirnya sampai Hendrik berkata sesuatu.
"Ijinkan aku bergabung dengan kalian, tidak masalah kalian menempatkanku dimanapun, asalkan kalian mau memberiku obat" Ucap Hendrik dengan tubuh bergetar di depan pintu masuk.
Kelima orang yang ada diruang itu sontak tertawa bersama, rupanya anak ini tau ini tempat apa, itulah yang ada dipikiran mereka sekarang, dan salah satu dari mereka mengenali Hendrik yang pernah beberapa kali bertransaksi dengannya.
"Hei bocah, kau kan yang biasa beli obat kepadaku? kau kehabisan uang sepertinya sampai rela menawarkan dirimu untuk ditukar dengan permen kesukaanmu, hahahaha"
"Tolong saya tuan, saya sudah tidak tahan, kalian boleh menjadikanku budak kalian selama aku bisa mendapatkan obatnya" Hendrik mulai ambruk bersujud, getaran ditubuhnya semakin hebat, rasa sakitnya membuat dia lebih memilih mati saja.
"Heh bocah, kau pikir menjadi budak cukup setimpal dengan harga obat yang kau butuhkan itu" Tanya seorang pria bertubuh paling besar sambil menghampiri Hendrik yang masih ambruk dan bergetar dilantai.
Wajah Hendrik kala masih remaja memang tampan juga imut, tipikal favorit tante tante girang dan pria penyuka sesama jenis, jangankan mereka, wanita muda saja masih banyak yang antri untuk Hendrik.
"Kau benar, kalau ditempatkan disana dia akan menghasilkan banyak keuntungan untuk kita, tapi kita harus minta persetujuan bos besar dulu" Timpal salah satuanggota geng yang masih duduk mengitari meja bundar bersama ketiga pria lainnya.
"Hei bocah, kau beruntung karena memiliki wajah yang bagus, jadi kami tidak perlu repot repot mengotori tangan kami untuk melenyapkanmu karena berani masuk kemari"
Pikiran Hendrik entah sudah berada dimana, dia sama sekali tidak fokus dengan apa yang diucapkan pria pria dihadapnnya, sakaunya menghilangkan kesadaran dan akal sehatnya, dia sudah bertekad akan melakukan apapun asalkan rasa sakit ini bisa hilang.
Dua orang dari mereka mengangkat dan menyeret tubuh Hendrik, mereka memasukkan Hendrik kedalam mobil untuk dibawa menemui Robin. Dan sesampainya mereka di rumah pribadi milik Robin, kedua orang tersebut kembali menyeret Hendrik dan dibawanya dia keruang kerja.
Tok..Tok..Salah seorang dari mereka mengetuk pintu ruang kerja Robin.
"Masuk!" Terdengar suara berat Robin dari balik pintu.
Mereka kemudian masuk dan meletakkan tubuh tak berdaya Hendrik diatas sofa.
"Maaf mengganggu anda bos, bocah ini tiba tiba saja masuk ke markas kami dan menawarkan dirinya untuk dijadikan budak asal dia diberi obat, dan saya pikir wajah dan badannya cukup bagus untuk kita tempatkan di Bar saja" Jelas salah satu dari mereka.
"Dia datang kemarkas kalian? Bagaimana bisa?" Robin lebih terkejut dengan kenyataan bocah itu bisa mengetahui markas mereka daripada alasannya pergi kesana, fakta yang tidak disadari oleh kelima orang yang ada dimarkas tersebut.
"Ah iya anda benar, markas kita kan dari luar hanya terlihat seperti toko bangkrut yang tak berpenghuni, maaf saya lupa tidak menanyakan hal itu terlebih dulu bos" Mereka menundukkan kepala, menunggu semburan yang siap mereka terima karena ketidak pekaan mereka.
Diluar prediksi, Robin justru bangkit dari duduknya dan menghampiri Hendrik yang terkulai disofa, dia memperhatikan wajah Hendrik yang mengingatkannya pada wajah anaknya yaitu ayah Lisa saat masih remaja, dia sudah lama tidak tinggal lagi bersama Robin karena seorang wanita, ibunya Lisa.
"Beri dia obat yang dia butuhkan, dan tempatkan dia dikamar William (Ayah Lisa), beritahu aku jika dia sudah sadar"
Perintah Robin membuat syok kedua anak buahnya tersebut, bos nya itu memang selalu dapat melihat sesuatu dari diri orang lain, dan sepertinya bos nya kali ini menemukan sebuah berlian yang belum terasah.
Dan itulah awal Hendrik mulai terikat dengan Robin dan bekerja sebagai programer, hacker sekaligus penemu alat alat canggih yang mereka gunakan untuk menyerang lawan atau membentuk pertahanan agar segala macam bisnis mereka tetap aman dan tidak tercium pihak berwajib.
Simbiosis mutualisme yang membuat mereka saling terikat, sampai pada satu waktu Lisa hadir dikehidupan Hendrik, Robin membawanya kerumah saat orangtua Lisa meninggal, mereka akrab dengan cepat, Hendrik yang lebih tua berperan seperti kakak bagi Lisa, dan Lisa mulai membantu Hendrik untuk bisa terlepas dari ketergantungannya tanpa sepengetahuan kakeknya.
Segala cara mereka lakukan dari mulai obat herbal sampai latihan fisik, butuh beberapa tahun untuk Hendrik dapat sembuh total dari ketergantungannya, sampai akhirnya usaha mereka membuahkan hasil, Hendrik tidak lagi menjadi pecandu tapi sayangya disaat yang sama Lisa mulai mengetahui alasan dibalik kematian orangtuanya, dan memilih untuk pergi meninggalkannya.
Apa sebenarnya yang terjadi dimasa lalu? Biar Lisa sendiri yang cerita ya gaesss, saat Armand sudah siap mendengarkan tentu saja 😉
JANGAN LUPA VOTE,RATE,LIKE DAN SUBSCRIBE NYA YA PEMBACA YANG BUDIMAN.... 😄😄😄**