
Setelah selesai memasukkan semua kardus berisi barang pindahan kedalam mobil box, para petugas jasa angkut itu kemudian pergi meninggalkan kediaman Rahardja yang diikuti oleh mobil yang dikendarai Jay dan Sam.
Tempat yang dituju mobil box itu tidak begitu jauh dari kediaman Rahardja, jaraknya hanya beberapa blok, dan hanya memerlukan waktu sepuluh menit menggunakan mobil.
"Sepertinya itu rumah baru mereka" Tunjuk Sam pada rumah bercat abu muda dengan design minimalis yang dimasuki mobil box.
"Iya bener, tuh liat kacung Armand ada disana" Benar saja, Dean tampak keluar dari dalam rumah itu menyambut para petugas jasa angkutan.
"Sekarang kita udah tau dimana Mona, kita tinggal laporan ke bos sekalian menyusun rencana selanjutnya, soalnya ini ga bakal mudah jika Athena Corp ikut terlibat" Mengikuti arahan Sam, Jay menyalakan kembali mesin mobilnya dan berlaju meninggalkan kediaman baru milik Armand.
Saat ikut memperhatikan para petugas angkutan mengeluarkan dus barang dari dalam mobil, pandangan Dean tak sengaja menangkap sekelebat mobil sedan hitam yang entah sejak kapan terparkir tidak jauh dari depan gerbang rumah, tapi saat dia melihat kearah mobil itu lagi, mobil itu sudah melaju kearah sebaliknya.
"Itu mobil siapa? kalau penduduk sini mana mungkin parkir mobil disana, atau jangan jangan" Dean memliki firasat buruk tentang majikannya, bisa jadi pengendara mobil sedan tadi sengaja membuntuti sampai kerumah barunya.
Tanpa menunggu lama lagi Dean langsung menghubumi Armand tentang apa yang dia lihat barusan.
Tuuttt....ttuuut...ceklek
"Halo pa, sepertinya kita dibuntuti" Tanpa basa basi Dean langsung mengatakan pokok masalah saat Armand mengangkat telepon, dan itu berhasil memancing emosi Armand.
"APA?? SIAPA PELAKUNYA?" Armand setengah berteriak dan menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
"Saya masih belum tahu pa, tapi kemungkinan mereka suruhannya pa Bramasta" Dean yang sudah bisa menebak reaksi Armand sudah tidak terkejut lagi dengan kemarahan Armand, dia menjawab pertanyaan Armand dengan nada tenang.
"SIALAN!!" Armand mengumpat dibalik telepon dan juga ada suara barang jatuh disana, "Bagaimana Lisa, dia tidak kenapa kenapa kan?"
"Saya belum mengecek keadaan nona, saya langsung laporan pada anda setelah melihat mobil penguntit itu pergi" Dean bicara apa adanya, memang baru sekitar lima menit yang lalu dia melihat mobil sipenguntit pergi.
"Harusnya kau cek dulu keadaan istriku, kalau dia kenapa kenapa bagaimana?" Armand belum bisa berifikiran jernih sepertinya, dia hawatir jika tujuan utama para penguntit itu memanglah istrinya.
"Maaf pa, saya akan segera ke rumah lama anda dan mengecek keadaan nona" Dean jadi ikut ikutan cemas, pasalnya baru kali ini bos nya itu sebegitu khawatirnya pada seseorang.
"Kau telepon saja dulu Jeremy untuk memastikan Lisa aman, jangan memberitahukan langsung pada Lisa nanti dia ikut cemas, setelah itu kau kembali kesini saja" Pesan terakhir Armand dari balik telepon sebelum akhirnya dia menutupnya.
"Baik pa" Ucap Dean pada diri sendiri karena sambungan teleponnya sudah terputus.
Dean segera menelepon Jeremy untuk mengecek apakah nonanya ada dirumah atau tidak, jika dia ada dirumah berarti semuanya baik baik saja.
"Halo" Jeremy mengangkat teleponnya.
"Nona Lisa ada dirumahkan?" Seperti biasa Dean langsung to the point.
"Nona? ada, dia sedang istirahat dikamarnya, kenapa? apa ada pesan dari tuan Armand?" Jeremy malah balik memberondong Dean dengan pertanyaan.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan kalau nona memang ada dirumah"
"Yakin tidak ada yang lain? memangnya kalau nona muda pergi keluar kenapa?" Jeremy masih penasaran, masa iya Dean hanya ingin menanyakan keberadaan nona mudanya.
***
Sementara Jay dan Sam sudah sampai di Mandala Grup, dan mereka segera menuju ruang presdir tempat bosnya berada.
"Gawat bos" Tanpa mengetuk pintu Jay langsung menorobos masuk keruangan Bram.
"Apanya yang gawat?" Bram yang sedang berkutat dengan dokumennya hanya mengangkat wajahnya kearah Jay.
"Mona bos Mona" Jay masih tampak histeris.
"Kita berhasil menemukan Mona bos" Sam yang masuk belakangan memberitahukan hasil temuan mereka dengan santai, "Lebay lu" Sambil menoyor pundak Jay.
"Terus kenapa kalian tidak menyeretnya kemari" Bram berdiri dari kursinya kemudian dia berjalan memutar dan duduk kembali diatas meja sambil menyilangkan tangannya didada.
"Itu dia masalahnya bos, Mona ternyata istri Armand"
"APA?" Bram yang terkejut berdiri kembali dari duduknya.
"MONA ISTRI SIAPA?" Simon yang baru saja masuk tidak sengaja mendengar obrolan mereka, dan dia ikut terkejut sama halnya seperti Bram.
Sebelum Sam melanjutkan ceritanya, Bram menyuruh mereka bertiga untuk duduk disofa termasuk dirinya.
"Tadi kami mengintai di kediaman Rahardja, dan Mona keluar dari dalam rumah itu" Jay ingin ikut dapat andil jadi dia menceritakan awal mulanya.
"Kenapa dia ada dirumah Armand? dan apa alasan kalian menyebutnya sebagai istri Armand?" kali ini Simon yang bertanya.
"Nama istri Armand disurat undangan adalah MONALISA, Mona, nama mereka sama kan bos?" Jawab Jay sambil melirik kearah Bram.
Bram tidak menjawab dia masih tampak berpikir mencoba mengaitkan semuanya agar lebih masuk akal.
"Penghuni rumah itu hanya orangtua Armand, Armand dan istrinya, bahkan sekarang mereka pindah rumah, dan Mona ikut membantu proses pindahannya" Sam mencoba menjelaskan lebih detail.
"Jadi kesimpulanmu, Armand menikahi Mona, dan sekarang mereka pindah rumah, tapi kenapa mereka menikah? itu yang menjadi pertanyaanku" Bram masih mencoba memecahkan teka teki ini, bahkan otak cerdasnya tidak mampu menjawab.
"Cinta itu buta bos" Ucap Jay mengulangi apa yang pernah dikatakan Sam.
Sayangnya, jawaban Jay hanya membuat Bram mendaratkan bantal kursi kewajahnya.
"Sepertinya mereka bekerja sama untuk menjatuhkan anda bos, Armand yang tiba tiba menolak bekerja sama bahkan sampai memutus hubungan pertemanan dengan anda, pasti itu akibat pengaruh dari wanita licik itu bos, bisa jadi sekarang mereka juga sedang menyusun rencana untuk semakin menjatuhkan anda, bukankah anda bilang sebelumnya bahwa rahasia perusahaan berhasil dicuri Mona?"
Otak Sam kembali berfungsi dengan baik, penjelasannya memang sangat masuk akal, bisa jadi Mona mengandalkan kecantikannya untuk merayu Armand, dan Armand yang berhasil dirayu mau saja memenuhi apa yang diminta wanita itu seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
"Keberadaan wanita itu semakin meresahkan, cepat tangkap dan seret dia kehadapanku sebelum dia berhasil memanfaatkan rahasia perusahaan kita, aku sudah tidak sabar ingin mencabik cabik wajah dan tubuhnya" Tentu saja Bram semakin geram mendengar fakta yang sangat mebgejutkan ini.
Mantan sahabatnya bekerja sama dengan musuhnya,ada bagusnya, jadi dia bisa membunuh dua nyamuk dalam satu tepukan.