Mona*Lisa

Mona*Lisa
ULTIMATUM



***


Hari hari bulan madu pasutri baru itu berjalan dengan tentram dan damai. Disiang hari mereka pergi jalan jalan ke berbagai tempat wisata yang ada disana sambil membeli oleh oleh untuk orang rumah, dan dimalam hari mereka habiskan untuk berkeringat di atas ranjang.


Ini hari terakhir mereka honeymoon, karena jadwal Armand yang padat, mereka hanya berbulan madu selama tiga hari, dan dihari terkahir ini mereka memutuskan untuk bermain di pantai sepuasnya.


"Kamu bisa berenang kan?" Tanya Armand sambil memasangkan peralatan snorkeling dikepala Lisa.


"He em, aku udah biasa diving apalagi cuma snorkeling" Jawab Lisa sebelum dia memasukan selang bantu napas dimulutnya.


Dia ga tau aku dijuluki putri duyung karena jago nyelem, dan cantik tentu saja.


Setelah semua perlengkapan terpasang dibadan mereka, Armand dan Lisa mulai memasukkan badan mereka perlahan kedalam air laut yang jernih itu. Ikan ikan kecil yang berwarna warni menghiasai sekeliling terumbu karang disana.


Mereka berenang beriringan diantara ikan ikan, tak lupa mereka juga mengabadikan momen tersebut dengan kamera bawah air yang dikalungkan dileher Armand.


Setelah dirasa puas mereka bermain air, Lisa dan Armand muncul ke permukaan dan mulai berenang ke tepian.


"Puah" Lisa melepaskan selang dan kacamata renang nya "Sudah lama sekali aku tidak berenang, rasanya benar benar menyenangkan"


Lisa tersenyum bahagia sambil menghadap ke arah lautan tanpa menyadari seseorang disebelahnya sedang memandanginya dengan tatapan tidak suka.


"Sejak kapan kau pakai bikini?" Suara Armand yang berat menyiratkan sedikit amarah dari nada bicaranya.


Lisa menoleh dan hanya melongo melihat wajah kesal Armand "Bukannya daritadi aku pakai ini, memang kapan aku ganti? kita kan baru aja beres snorkeling, kau ini memang kadang kadang suka aneh" Ucap Lisa sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Tadi waktu belum basah tidak terlihat seperti ini, kenapa sekarang bentuknya jadi begini?" Armand menunjuk bagian dada, perut dan paha Lisa yang kini terpampang sempurna.


Lisa memang memakai bikini tapi dilapisi crop top transparan juga rok pendek berwarna hitam, yang memang kalau saat kering tidak terlalu memperlihatkan bagian dalam tubuhnya, tapi lain cerita jika sudah basah.


"Ya kan abis nyemplung ke air, kalau basah ya jadi nyitak begini" Lisa hanya menggidikkan pundaknya tak acuh, wajarlah dia kan setengah bule, jadi sudah biasa berbikini, sekarang saja karena dia sudah bersuami makanya dia memakai sedikit penutup.


"Tapi aku ga suka kamu pamerin tubuh kamu ditempat umum kaya gini, ayo kita pulang sekarang" Armand meraup Lisa yang tengah duduk diatas pasir, dia tidak mau istrinya berjalan dengan minim pakaian dan ditonton banyak orang.


Padahal disana banyak bule bule lain bahkan warga lokal yang juga berbikini, tapi tidak untuk istrinya, TIDAK BOLEH.


Jarak tempat mereka menikmati terumbu karang ketempat villa mereka menginap cukup jauh, butuh waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki, diperjalanan pulang Armand mampir ketoko yang berada dipinggir pantai untuk membeli pakaian, tapi sayangnya disana hanya menjual souvenir, tapi untungnya Armand menemukan sarung pantai yang bertuliskan nama pulau itu ada dijual disana.


"Pakai ini saja dulu" Ucap Armand sambil melilitkan kain panjang itu ditubuh Lisa, membuatnya terlihat seperti lemper.


"Ga gini juga kali pakenya" Lisa membuka kembali lilitan ditubuhnya, kemudian dengan keterampilan tangannya kain panjang itu berubah jadi terlihat seperti dress.


"Hemm bagus juga" Armand hanya manggut manggut sambil menempelkan jarinya di dagu, seperti seorang juri yang sedang memberi komentar.


"Kamu sendiri ga pake baju aku ga masalah tuh"


Pasalnya Armand daritadi berenang hanya memakai kolor tanpa sehelai pakaian, dan jujur saja sebenarnya Lisa juga merasa tidak rela badan suaminya dilihat wanita lain, apalagi mereka banyak yang mencuri pandang kearah Armand, kalau bukan karena tatapan membunuh yang dikirim Lisa kearah wanita wanita itu, mereka pasti sudah mencari cari cara untuk mencoba mendekati suaminya.


"Aku kan laki laki, wajar kalau cuma telanjang dada, ga bakal membangkitkan birahi, beda halnya kalau perempuan yang telanjang dada"


Sudah menjadi sifat Armand yang tidak peka terhadap sekitar, apalagi kalau dia sedang fokus pada satu objek, apalagi objek nya kali ini adalah istrinya sendiri, ya istri, objek yang baru saja hadir dalam hidupnya.


"Kamu ga sadar gitu itu cewek cewek ngeliatin kamu ampe segitunya?" Lisa mencoba menyadarkan Armand bahwa badannya itu menjadi pemandangan indah bagi kaum hawa.


Dasar Bambang, ya iyalah mereka iri sama aku, karena aku yang jadi cewek kamu. Batin Lisa


Lisa memang sempat mendengar percakapan para wanita yang kecentilan mecoba mencari perhatian suaminya itu, mereka tau siapa Armand, dan tentu saja mereka menginginkan posisi Lisa sekarang.


"Bodo amat sama mereka, pokonya aku juga ga suka kamu keluyuran ga pake baju begitu" Lisa mengambil satu lagi sarung pantai yang sama dengan miliknya, dan melilitkannya dibagian atas tubuh Armand, membuatnya terlihat seperti memakai selimut.


"Nah kalau gini kan adil" Lisa tertawa puas melihat hasil karyanya.


"Apapun asal kau senang, tapi kau tidak lupa dengan persyaratan yang kuberikan sebelum kita menikah bukan?"


Lisa mencoba mengingat isi map yang diberikan oleh suruhan Armand padanya sebelum dia pergi dari panti "Tentang latar belakang baru yang kauberikan?"


Diingatan Lisa hanya itu hal yang menurutnya penting, karena dia harus mengingatnya dan memberi jawaban yang sama jika suatu saat ada yang bertanya padanya tentang siapa dia.


Armand menggelengkan kepalanya "Tentang menjadi istri penurut"


Lisa mengingat momen dimana mereka pertama kali bertatap muka di restoran hotel, dan seketika ingatannya kembali "Ah, yang itu ya"


"Ya yang itu, dan aku mau mulai sekarang kau harus menuruti semua perkataanku!"


Lisa menelan ludahnya, mencoba mempersiapkan diri untuk mendengar perintah apa yang akan keluar dari mulut Armand.


"Pertama, jangan memakai pakaian yang terlalu terbuka, tubuhmu itu hanya milikku, jadi jangan kau umbar sembarangan"


"Oke, yang itu sepertinya mudah"


Kalau cuma baju gampang,aku hanya perlu beli baju yang sesuai seleranya dengan kartu kredit yang dia berikan,HAHAHA.


"Masih ada lagi?"


"Kedua.."


Mudah mudahan yang kedua juga gampang.


"Jangan pernah berani menyembunyikan sesuatu dariku, apapun itu beritahu aku sebelum aku mengetahuinya sendiri"


GELK, sepertinya dia akan memasang cctv ditubuhku.


Perintah Armand yang kedua seperti sebuah ultimatum bagi Lisa, rencananya untuk diam diam menyelesaikan misinya tanpa sepengetahuan Armand tampaknya akan sulit.


Hah, dilema lagi, apa sebaiknya aku memang jujur saja padanya? tidak, lebih baik aku mengarang cerita lain untuk dipercayainya.


"Oke, aku akan melakukan semua yang kau mau" Lisa mencoba terlihat semeyakinkan mungkin didepan Armand, dan Armand tersenyum puas dengan jawaban Lisa.


Sejenak keheningan tercipta diantara mereka, mata mereka saling beradu, rambut Lisa yang masih setengah basah ditambah balutan dress dadakannya membuatnya terlihat seksi, membuat Armand ingin menerjangnya disitu juga.


Tapi untungnya dia masih sadar tempat, hanya tangannya yang mulai menyusuri pipi mulus Lisa, dan bibirnya sudah mulai mendekat dengan bibir Lisa, tiga centi lagi bibir mereka bertemu sampai sebuah suara berhasil menghentikan pergerakannya.


"Maaf pa, sarung pantai nya jadi dibeli?"


Tanya pelayan toko yang sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu, melihat mereka yang seperti lupa tempat membuatnya khawatir kalau mereka juga lupa membayar jadi dia beranikan diri untuk menghampiri mereka.