
Selama tiga hari terakhir Armand hanya melakukan kegiatan seperti hari hari biasanya, tidak ada kegiatan lain diluar jadwal, dan juga
tidak ada orang asing yang dia temui. Dari pagi sampai malam Armand mengulangi kegiatan yang sama, dan itu membuat sang stalker Jay suruhan Bram tidak menemukan hal aneh tentang Armand, apalagi menemukan kelemahannya.
Tapi berbeda dengan hari ini, Armand tampak keluar dari rumahnya pagi pagi sekali dengan memakai setelan tuxedo, bahkan jas yang dipakai Dean pun terlihat berbeda dari yang biasa dia pakai untuk bekerja, membuat wajahnya terlihat dua kali lebih tampan.
Jay tentu saja tidak menyia nyiakan fenomena langka ini, dia langsung mengekori mobil yang ditumpangi Dean dan Armand, tapi tetap menjaga jarak aman agar tidak dicurigai, tak berselang lama Jay melihat mobil Armand berbelok memasuki parkiran sebuah hotel mewah yang juga biasa dijadikan tempat penyelengaraan acara acara penting.
Jay ikut memarkirkan mobilnya, dia menempatkan mobilnya di deretan yang sama dengan mobil Armand. Saat memasuki lobby hotel dia menuju meja resepsionis, dia berancana mencari tahu terlebih dahulu acara penting apa yang sedang berlangsung dihotel tersebut.
Kalau sedang ada pertemuan para pengusaha harusnya Bos juga hadir, tapi sepertinya dia malah tidak diundang, kalau dilihat dari setelan mereka tadi, kelihatannya mereka mau menghadiri kondangan. Batin Jay
"Permisi nona, saya mau tanya, disini sedang ada acara apa ya? ko kelihatannya banyak orang orang penting yang hadir" Tanya Jay pada salah satu resepsionis disana.
"Maaf pa, acaranya private jadi kami tidak diizinkan membaritahu sedang ada acara apa, dan para tamu juga hanya bisa masuk jika membawa kartu undangan" Jawab resepsionis hotel itu dengan sopan.
"Begitu ya, kalau gitu saya ganti pertanyaannya saja boleh?" Belum juga resepsionisnya sempat menjawab, Jay sudah mengajukan pertanyaan keduanya "Apa Armand Rahardja CEO Athena Corp yang mengadakan acaranya?"
Resepsionis cantik itu tersenyum manis kemudian menjawab pertanyaan Jay, "Maaf Pak, itu juga tidak bisa kami jawab"
Sepertinya hanya sia sia saja jika memaksa si resepsionis untuk menjawab semua rasa penasarannya, lebih baik dia mencari tahu sendiri ada acara apa didalam.
"Baiklah kalau begitu, maaf sudah mengganggu waktu anda nona" Jay pergi dari meja resepsionis, dia melihat sekeliling mencoba mencari celah untuk bisa menyusup ketempat acara berlangsung.
Dipintu masuk Jay melihat seorang pria paruh baya ditemani seorang wanita yang juga sudah paruh baya memasuki lobby hotel. Wajah pria tua itu sudah tidak asing lagi bagi Jay, karena beliau merupakan pemilik salah satu perusahaan besar yang ada di negeri ini Reyhan Sungkar.
Semenjak menjadi presdir, Bram mengincar pria tua itu untuk dia jadikan rekan bisnis, dan sekarang Bos nya itu sudah cukup akrab dengan pak Reyhan karena Bram sering mengajaknya bermain golf.
Sepertinya Pak Reyhan termasuk salah satu orang yang diundang, akan kujadikan dia sebagai jembatan.
Jay segera menghampiri sepasang suami istri itu, sebelum mereka memasuki lift.
"Selamat pagi pak Reyhan, kebetulan sekali kita bertemu disini ya?" Ucap Jay basa basi.
"Ah anda...siapa?" Pak Reyhan memicingkan kedua matanya kearah pria dihadapannya, dia tampak sedang berfikir keras mengingat ngingat siapa orang yang menyapanya itu, wajahnya memang terlihat tidak asing.
"Saya Jay Pak, asistennya Pak Bramasta" Ucap Jay sambil menempelkan sebelah tangannya didada dan membungkukkan sedikit badannya, membuatnya lebih terlihat seperti seorang pria yang mau mengajak wanita berdansa ketimbang sedang memperkenalkan diri.
"Oh iya, kau anak buahnya Bram ya, pantas wajahmu tidak asing, mana Bram? apa dia sudah sampai duluan?" Tanya pak Reyhan sambil celingukan mencari sosok Bram.
"Beliau sedang menghadiri acara penting, jadi saya yang datang kesini sebagai perwakilan" Ucap Jay penuh kebohongan.
"Memang ada acara yang lebih penting dari pernikahan sahabatnya sendiri? harusnya Bram menyempatkan diri untuk hadir demi Armand, aku saja yang super sibuk sengaja membatalkan semua jadwal hari ini untuk menyaksikan pernikahan Armand"
JEDERR
Ucapan Pak Reyhan terdengar seperti petir disiang bolong bagi Jay.
Bukannya penasaran dengan siapa Armand menikah, Jay lebih sakit hati karena bos nya yang tadinya bergelar sahabat Armand tidak diundang sama sekali.
"Kau sakit? kenapa wajahmu jadi merah begitu?" Tanya Pak Reyhan bingung melihat perubahan wajah Jay yang tiba tiba saja terlihat seperti sedang sakit panas.
"Saya baik baik saja pak,tapi ngomong ngomong pak Armand menikah dengan siapa?" Untungya otak Jay masih bisa berfungsi dengan baik ditengah rasa sakit hatinya.
Binggo,istri Armand bisa menjadi faktor kelemahannya.
Ditengah perbincangan mereka, pintu lift yang sedari tadi mereka tunggu itu akhirnya terbuka.
"Entahlah aku sendiri tidak tahu wanita itu berasal dari keluarga mana, diundangan hanya tertuliskan nama kedua mempelai" Jawab pak Reyhan sambil memasuki lift, diikuti istrinya dan juga Jay.
"Nama mempelai wanitanya siapa?" Tanya Jay lagi yang sekarang sudah berdiri disamping kiri Pak Reyhan.
"Kau itu wartawan ya? kenapa daritadi kau seperti sedang mewawancariku, kau baca sendiri saja namanya dikartu undangan"
Jay hanya nyengir sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan bilang kalau kau tidak punya undangan? DASAR BODOH,mana bisa masuk kalau tidak bawa undangan" Pak Reyhan jadi geregetan melihat Jay yang malah cengengesan, membuatnya tak tahan untuk tidak mengumpat.
"Seperti nya Bos lupa tidak memberikan undangannya pada saya" Ucap Jay masih cengengesan.
"Pulang lagi sana, percuma kau disini juga ga bakal bisa masuk" Akhirnya istri pak Reyhan yang sedari tadi diam kini ikut menyumbangkan suara, mewakili suaminya yang sudah hampir naik darah.
Pintu lift terbuka di lantai lima, Pak Reyhan dan istrinya keluar dari lift meninggalkan Jay seorang diri. Lagipula memang tidak mungkin dia ikut masuk ke aula, dilihat dari luar saja keamanannya sudah super ketat, sebaiknya sekarang dia kembali dan melaporkan semuanya pada Bram.
***
Sementara di ruang tunggu pengantin, nampak Lisa sudah berbalutkan kebaya modern pilihan ibu mertuanya, wajah blasterannya dipoles make up khas pengantin Jawa, membuat perpaduan yang sangat estetik.
"Lisa" Terdengar suara wanita dari arah pintu, Lisa menoleh ke asal suara dan seketika senyum diwajahnya mengembang.
Lisa yang merasa sendiri dihari spesialnya itu, merasa senang bukan main dengan kedatangan wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti ibu baginya.
"Bu Marta" Lisa langsung berdiri dan hendak berlari menghampirinya, tapi Bu Marta yang sigap segera mengangkat sebelah tangannya dan menggeleng geleng kepalanya.
"Diam ditempat, ini ibu lagi dijalan mau menghampiri kamu"
Selangkah, dua langkah, beberapa langkah kemudian, Bu Marta sampai ditempat Lisa berdiri, dipeluknya gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi mantan gadis itu.
Mereka berpelukan cukup lama,saling melepaskan rindu, Lisa susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Selamat menempuh hidup baru anakku"
Suara Bu Marta yang lembut merobohkan pertahan Lisa, air matanya seketika tumpah membasahi pipi merah nya.