Mona*Lisa

Mona*Lisa
SSSAAAHHH



Pagi sekali Lisa sudah berada dihotel tempatnya melangsungkan pernikahan bersama Armand, dan sekarang wajahnya sedang di tampol tampol oleh spons dan kuas make up.


Lisa yang pasrah mau dijadiin apa pun tuh muka, hanya memejamkan mata, sesekali membuka mata kalau disuruh tanpa melihat kearah cermin, biar jadi surprise, ngacanya kalo udah beres aja.


"Lisa cantik sekali kamu sayang" Teriak Bu Nadia sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


"Masih belum selesai mah, kembang goyangnya masih belum ditancepin"


"Iya kan make up kamu nya mah udah beres, makanya ngaca" Bu Nadia memutar kursi tempat Lisa duduk kearah cermin, pasalnya Lisa dandan sengaja membelakangi cermin, bikin repot para MUA.


"Ko aku kelihatan aneh ya mah, bibirnya merah banget kaya vampir ga sih mah?" Tanya Lisa yang sebenarnya merasa gugup jadi otaknya sekarang sedang tidak fokus.


"Emang kenapa kalo kaya vampir, di pilem pilem juga kan mereka cantik cantik" Bu Nadia mencoba meyakinkan Lisa.


"Ya kan mereka artis makanya cantik, masa dibandingin sama aku"


"Wajah kamu tuh udah selevel artis, Kristen Stewart mah lewat" Bu Nadia membandingkan wajah Lisa dan artis pemeran vampir di pilem kesukaannya itu.


"Hahaha" Lisa tertawa mendengar lawakan Bu Nadia meskipun sebenarnya mendekati fakta, dan kegugupan yang tadi sempat menghinggapi Lisa kini sudah mulai pergi.


"Gitu dong ketawa sayang, jangan gugup jangan cemas, semua pasti berjalan lancar"


Bu Nadia memegang pundak Lisa, ditatapnya gadis yang sebentar lagi akan sah menjadi anaknya itu, ada rasa bangga sekaligus haru melihat Lisa yang begitu cantik tapi hanya seorang diri, tanpa keluarga atau teman.


"Keluargamu benar benar tidak ada yang datang? Kalau teman kamu gimana?" Tanya bu Nadia mencoba memastikan kembali.


"Keluarga aku masih di Amsterdam ma, tapi aku udah ngasih kabar ko ke mereka, kalo teman aku cuma punya sedikit, ga begitu akrab juga jadi ga usah diundang" Lisa meremas rok pengantinnya, berbohong memang salah satu keahliannya, tapi entah kenapa kali ini kebohongannya terasa begitu sakit.


"Hemm yaudah kalo gitu, tapi mama udah ngundang Marta sama Erika dari panti asuhan, kelihatannya kalian dekat jadi seenggaknya ada orang yang kamu kenal di acara pernikahan kamu sendiri"


Ucapan Bu Nadia terasa seperti angin segar bagi Lisa, karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa Lisa kini merasa sendiri, keluarga dan teman, ya..mereka berdua saja sudah cukup.


"Mama tinggal ya sayang, mama mau nyambut tamu undangan"


"Iya ma"


Bu Nadia pergi meninggalkan Lisa, digantikan para MUA yang mulai finishing riasan pengantinnya. Setelah selesai mereka juga keluar dari ruangan, Lisa hanya tinggal menunggu waktunya untuk muncul ke permukaan, sampai tiba tiba dia mendengar suara orang yang dia rindukan memanggil namanya dari arah pintu.


***


"Selamat menempuh hidup baru anakku"


Suara Bu Marta yang lembut merobohkan pertahan Lisa, air matanya seketika tumpah membasahi pipi merah nya.


"Kok malah nangis, make up mu nanti luntur" Ucap bu Marta seraya melepas pelukannya.


"Nangisnya sebentar aja ya, keluarin semuanya sekaligus, biar hati kamu lega, habis itu pasang senyum tercantikmu" Nasihat bijak bu Marta selalu berhasil menyentuh bagian terdalam Lisa, seolah olah beliau memang tahu apa yang ada didalam hati Lisa.


Bu Marta senantiasa mendampingi Lisa yang sesenggukan makin kencang, diusap usapnya pundak Lisa, dibiarkannya Lisa mengeluarkan semua beban dalam hatinya, sampai akhirnya tangis Lisa mulai mereda.


"Makasih udah mau hadir ya Bu"


"Masa ibu ga hadir dipernikahan anak ibu sendiri, bahkan Eri sampai ga bisa tidur dari kemarin gara gara ga sabar pengen cepet cepet hari ini"


Lisa jadi teringat Erika, teman pertamanya ditengah pelarian "Eri mana bu?"


"Dia disuruh bu Nadia buat jadi pager ayu, jadi tadi dia ganti kostum dulu"


KREEETTT


Pintu ruang tunggu pengantin itu terbuka kembali, Lisa dan bu Marta kompak menoleh ke arah pintu melihat siapa yang masuk.


"OMG Lisa, kamu cantik banget" Eri yang sudah ganti kostum memasuki ruangan dengan setengah berlari, disusul beberapa MUA yang tadi mendandani Lisa, dan mereka tampak syok melihat make up Lisa yang sedikit berantakan.


"Mba nya abis nangis ya, make up nya kan jadi harus dirapihin lagi" Pemimpin grup MUA itu segera membenahi make up Lisa, sedangkan asistennya mendandani Erika.


Setelah semua beres, bu Marta pamit keluar ruangan untuk bergabung bersama tamu undangn yang lain karena acara sudah dimulai, pidato pidato dari beberapa tamu penting sudah selesai, dan sekarang pidato terakhir dari presdir Athena Corp ayah Armand.


Setelah rangkaian pidato berakhir, tiba juga saatnya Armand mengucapkan ijab kobul, Lisa yang sedari tadi disembunyikan, keluar dari pintu samping aula dibantu Eri yang menjadi pager ayu.


Semua mata tertuju pada pengantin wanita, bahkan beberapa tamu pria tampak tidak berkedip, terkesima dengan kecantikan Lisa.


"Eri, make up aku ada yang luntur ya? ko aku ngerasa mereka liatinnya gitu banget" Lisa berbisik disamping Eri yang tengah menuntunnya ke kursi tempat Armand berada.


"You're perfect today, mereka semua tersepona dengan kecantikan kamu, liat pengantin pria aja ampe ga bisa mingkem gitu" Eri menunjuk Armand dengan dagunya, dan Lisa berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi Armand, matanya membulat sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka.


Sesampainya di meja ijab kobul, Lisa duduk disamping Armand.


"Ekhem, geser dikit" Mendengar suara Eri Armand langsung bergeser memberi tambahan ruang untuk Lisa duduk dikursi panjang itu.


Dug Dug Dug


Suara jantung Armand tiba tiba semakin kencang, momen yang dia nantikan kini sudah didepan mata, satu langkah lagi dan Lisa benar benar akan menjadi miliknya, seutuhnya.


"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA MONALISA VAN DERICK BINTI WILLIAM VAN DERRICK DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUUNNAAII"


Armand mengucapkan ijab kobulnya dengan mantap dan lantang, bahkan dengan sedikit penekanan di akhir kalimat, suara tepuk tangan para penonton bergumuruh, dan beberapa orang meneriakkan kata yang paling ditunggu Armand.


"SSSAAAHHHH"