
***
"Terus terus, habis itu gimana lagi?" Bu Nadia tampak bersemangat mendengarkan cerita honeymoon Lisa.
"Ya kita langsung bayar sarung pantai nya terus langsung balik ke villa"
"Hahaha, kalian malu maluin tau, masa bisa ampe lupa tempat segala, mama jadi kasian sama si pelayan tokonya,hahaha"
Lisa sengaja mengalihkan pertanyaan bu Nadia tentang malam pertama dengan menceritakan kejadian di toko souvenir, dan untungnya ceritanya berhasil menghibur sang mama dan membuatnya melupakan pertanyaan utamanya.
"Iya aku juga malu banget ma, hampir aja kita ciuman ditempat umum dan jadi tontonan" Lisa sengaja mendramatisir kejadian agar mama nya semakin hanyut dalam ceritanya.
"Lagian kalian ngapain juga mau ciuman ditoko souvenir, ga elit banget, kalo mau ditempat umum tuh harusnya kaya direstoran sambil candle light dinner, atau ditaman sambil melihat kembang api" Otak bu Nadia mulai travelling ke drama Korea yang baru ditontonnya kemarin.
"Haha, iya ga elit banget ya ma" iyain aja udah biar cepet.
"Terus terus sampai di villa kalian ngapain?"
Lisa menghela nafas panjang, sepertinya ini ga akan berakhir dengan cepat.
"Kita mandi, ganti baju, makan, terus bobo, besoknya kita pulang" Jawab Lisa singkat dengan diakhiri sebuah cengiran "Hehe", pliss jangan nanya lagi.
"Ih ga seru banget honeymoon kalian, ga ada romance romance nya gitu? Armand beneran g nyewa restoran atau bikin pesta kembang api?" Bu Nadia tampak kecewa dengan rangkaian bulan madu yang dilakukan anaknya, sama sekali tidak sesuai dengan bayangannya.
"Tanpa semua itupun Armand udah romantis ko ma, dengan dia yang sebegitu perhatiannya sama aku aja udah bikin aku melting (meleleh), jadi aku ga perlu hal hal mubazir kaya gitu"
Sangat perhatian sampai sampai dia mau masang cctv buat ngintai aku.
Makna dari perhatian yang disebut Lisa berbeda dengan apa yang dipikirkan mama nya, yang penting mamanya percaya kalau hubungan mereka memang seperti pasangan pada umunya.
"Yasudah kalo gitu, yang penting kalian have fun disana, mmm, mama boleh nannya ga?" Ucap Bu Nadia tampak ragu ragu.
Tumben minta izin dulu, biasanya juga langsung nanya.
"Mama mau nanya apa memangnya? tanya aja kalo bisa aku jawab pasti aku jawab ko ma"
"Kamu ga pake alat kontrasepsi kan?"
Mendengar pertanyaan bu Nadia Lisa langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengambil potongan buah apel yang tersaji dipiring.
"Engga ko ma" Ucap Lisa sambil melanjutkan aktifitasnya yang tadi sempat terhenti.
"Syukurlah kalo gitu, lagian ga baik menunda nunda rejeki, anak itu kan rejeki dari Tuhan, siapa tahu aja rejeki kalian cepat datangnya, amiinnn" Bu Nadia mengusap kedua tangannya kewajahnya untuk mengamini kata katanya sendiri.
"Iya mudah mudahan aja ma" Ucap Lisa sambil tersenyum tipis.
Maaf ya ma aku terpaksa bohong, bisa gawat kalau Armand juga tahu kalo aku minum pil kontrasepsi.
Tentu saja Lisa tidak mau jika dia harus hamil disaat dia sendiri tidak yakin akan bertahan berapa lama disisi Armand, dia tidak mau jika anaknya nanti yang akan menjadi korban.
.
.
.
.
.
.
"Masuk" Ucap Armand
"Pa, ini laporan tentang pergerakan pa Bram setelah pertemuan terakhir kalian di cafe" Dean menyerahkan sebuah amplop coklat ketangan Armand.
Armand membuka dan mengeluarkan isi amplop tersebut,didalamnya berisi foto foto keseharian Bram.
"Hanya ini?" Tanya Armand sambil melihat beberapa foto terakhir.
"Iya pa, sementara ini tidak ada gerak gerik yang mencurigakan, dia jarang ke kantor juga, dia sekarang lebih sering memanggil anak buahnya langsung ke apartemennya" Dean menjelaskan apa yang dikatakan suruhannya saat mengikuti Bram.
"Apa yang mereka bahas di apartemennya?" Sambil memasukkan kembali foto foto Bram kedalam amplop.
"Itu...saya sendiri kurang tau pa, karena kita tidak dapat menyusup sampai kedalam apartemennya" Dean juga sebenarnya ingin tau apa yang dilakukan Bram dan anak buahnya di apartemen Bram, karena akhir akhir ini mereka sering bertemu disana.
"Kalau begitu suruh orang untuk mengikuti anak buahnya juga, cari tau apa yang Bram perintahkan kepada anak buahnya!" Perintah Bram kepada Dean.
"Baik pa, saya permisi dulu" Dean sudah membalikkan badannya hendak pergi.
"Dean satu lagi"
"Iya pa, masih ada tugas yang lain" Sambil berbalik dan kembali menghampiri meja Armand.
"Tempatkan seseorang disamping istriku, seseorang yang berpengalaman dan dapat dipercaya, dan yang penting harus perempuan"
"Apa anda ingin mengawasi keseharian nona Lisa juga?"
"Tentu saja iya, meskipun sekarang kita sudah menikah, tapi aku kan tetap ga bisa 24 jam bersamanya" Jelas Armand, dia masih harus mengetahui lebih banyak lagi tentang istrinya, jika memang tidak ada yang perlu dia khawatirkan lagi, barulah dia akan membebaskan apapun yang ingin dilakukan Lisa tanpa pengawasan.
"Saya pikir setelah menikah anda tidak perlu mencurigai nona Lisa lagi, kelihatannya nona memang tidak memiliki niat buruk pada anda pa, buktinya dia mau menikah dengan anda secara cuma cuma" Dean si bijak kembali memberikan petuahnya.
"Cu-ma cu-ma?" Armand mengulang perkataan terakhir Dean dengan penekanan, "Aku yang menikahinya secara cuma cuma, dia yang beruntung seperti mendapat durian runtuh"
Tentu saja Armand merasa harga dirinya terlempar gara gara perkataan Dean, bisa bisanya dia bilang menikahinya dengan cuma cuma, meskipun sebenarnya memang itulah faktanya, Armand yang sudah menyeret Lisa dan mengikatnya dengan tali pernikahan.
"Ah iya maap pa, saya salah bicara maksud saya nona Lisa yang beruntung mendapatkan anda" Dean segera meralat ucapannya, dia takut kalau tugasnya akan bertambah lagi.
"Sudah ikuti saja perintahku jangan banyak omong lagi kau" Ancam Armand, yang selalu saja merasa tensi nya naik kalau bicara dengan Dean.
"Siap pa laksanakan, mmm" Masih ada yang ingin diucapkan Dean sepertinya.
"Apa lagi?" Tanya Armand masih dengan nada jutek.
"Saya hanya ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru, maap telat pa, waktu acara pernikahan anda saya tidak sempat mengucapkan"
Bukannya membalas ucapan Dean Armand malah mengulurkan tangannya ke arah Dean, dan Dean yang polos hanya meraih dan menjabat tangan Armand yang terulur.
"Bukan salaman" Sambil menepis tangan Dean "Kado, KA-DO, kau belum memberiku kado"
"Ha-ha-ha, anda mengecek setiap kado yang anda dapat pa?" Dean tertawa terbata, tidak terbayangkan olehnya bahwa atasannya akan menagih kado pernikahan padanya.
"Tentu saja aku mengecek setiap nama yang tercantum dan apa yang mereka beri, namamu tidak masuk dalam list" Ucap Armand masih mengulurkan tangannya ke arah Dean.
"Saya tidak tahu harus memberi kado apa pa, anda bisa potong saja dari gaji saya dan belikan apa yang anda mau, permisi" Setelah selesai dengan kalimatnya Dean segera pergi dari ruang kerja Armand, tidak mau membahas masalah kado lagi.
Dan Armand hanya tertawa terbahak dibalik meja kerjanya, dia sendiri mana tega meminta kado dari Dean, dia hanya senang mengerjai bawahannya yang polos itu.