
***
"Dean menanyakan apa?" Tanya Lisa pada Jeremy yang kini sedang bermain catur dengannya.
"Dia menanyakan apa anda ada dirumah atau tidak" Jeremy menyimpan kembali ponsel nya dimeja dan lanjut fokus pada pion nya.
"Hemm, kenapa kau bilang aku sedang istirahat dikamar? lagipula memangnya kenapa kalau aku tidak dirumah?" Sambil memindahkan kuda putihnya dan mengambil anak pion Jeremy.
"Haruskah saya bilang kalau kita sedang bermain catur? tadi saya juga bertanya tapi kata Dean tuan hanya ingin tahu apa anda ada dirumah atau tidak" Kali ini jeremi memajukan benteng sebelah kanannya.
"Kenapa Armand tidak langsung menelponku saja, buat apa repot repot nyuruh Dean menelponmu" Lisa ikut memajukan bentengnya.
"Mana saya tahu nona, tuan Armand memang orang yang susah ditebak bukan" Jeremy melangkahkan lagi bentengnya untuk memakan pion Lisa.
"Ya dia memang suka bikin orang penasaran ckckck" Lisa berdecak sambil melangkahkan menterinya kedepan.
"Itulah yang menjadi pesona tuan, banyak perempuan yang mencoba dekat dengannya tapi dia tidak peka, dan itu hanya membuat mereka semakin berlomba mencuri perhatian tuan" Curhat Jeremy mengingat tuannya yang dulu sangat populer saat dibangku kuliah.
"Tapi pastinya ada yang nyantol kan, namanya juga laki laki dikasih perempuan cantik mana bisa nolak" Lisa sedikit menghentakkan pionnya di papan, sepertinya dia merasa cemburu dengan apa yang diucapkan Jeremy.
"Hahaha, kalau secara rasional harusnya iya, tapi tuan itu termasuk jenis langka, saya juga tidak mengerti kriteria seperti apa yang dicari tuan, sampai akhirnya saya bertemu anda" Jeremy malah terbahak teringat tuannya yang dulu dengan dinginnya menolak perempuan yang sengaja datang kerumahnya untuk memberi hadiah ulang tahun, padahal perempuan itu sangat cantik.
"Aku? kau tidak tahu saja kronologinya sampai kami menikah itu seperti apa, tapi yaa semoga saja Armand memang setidak peka itu jadi dia tidak akan berpaling" Lisa juga teringat waktu mereka honeymoon, bagaimana wanita wanita disana saling lomba mencuri perhatian Armand, dan untungnya suami nya itu memang tidak peka.
"Saya tidak perlu tahu kronologi anda bertemu tuan, dengan tuan memilih anda saja sudah menjadi bukti nyata bahwa anda mendapat tempat yang spesial dihati tuan" Jeremy kembali menggerakkan pionnya, kali ini dia memilih menteri nya.
Wajah Lisa beresemu merah mendengar ucapan Jeremy, rasa cemburu yang tadi sempat hadir sudah menguap berganti hawa panas dipipinya. Dan gara gara itu dia menjadi kehilangan fokus.
"SKAK" Jeremy berhasil mengunci raja milik Lisa, dan dialah yang menjadi pemenang.
"Hah, sejak kapan kau ada disana, tadi kan masih disini" Tunjuk Lisa pada menteri milik Jeremy, tidak terima bahwa dia yang kalah.
"Anda sedang memikirkan tuan muda ya? pikiran anda sampai tidak fokus begitu" Tanya Jeremy sambil berusaha menyembunyikan tawanya saat melihat wajah Lisa yang malah semakin merah.
"Hish, sudahlah aku sekarang benar benar mau istirahat dikamar" Lisa berdiri dari duduknya.
"Selamat beristirahat nona" Jeremy sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Hemm" Jawab Lisa singkat sambil berlalu meninggalkan Jeremy yang masih duduk di sofa ruang tamu tempat mereka bermain catur.
.
.
.
.
.
.
"Mobilnya tampak tidak asing, saya merasa sering melihat mobil itu disekitar kita" Setelah diingat ingat, Dean memang merasa sering melihat penampakkan mobil sedan hitam didekatnya akhir akhir ini, meskipun sayangnya dia tidak memperhatikan plat nomor nya.
"Bagaimana dengan asisten untuk Lisa, kau sudah menemukannya belum?" Melihat situasi yang semakin tidak baik membuat Armand lebih khawatir dengan keadaan istrinya.
"Saya sudah mempunyai beberapa kandidat, akan segera saya email data mereka pada anda" Dean kemudian menelpon seseorang dan tidak lama kemudian laptop Armand membunyikan notif email masuk.
Armand membukanya dan melihat nama dan profil para kandidat calon asisten Lisa, dan sepertinya mereka akan merangkap menjadi bodyguard juga.
"Hanya ini? mereka bisa beladiri juga bukan?"
Dean bingung menjawab pertanyaan terakhir Armand, pasalnya Dean tidak mengecek apa mereka bisa beladiri atau tidak, karena Armand hanya berpesan bahwa kandidatnya harus yang berpengalaman, dapat dipercaya, dan yang pasti harus perempuan.
"Kalo itu..saya..." Dean menjawab terbata.
"Ck, pasti kau juga tidak tahu kan" Armand memotong perkataan Dean karena dia sudah tau jawabannya.
"Kemarin anda tidak bilang harus bisa beladiri juga" Dean mencoba membela dirinya, karena toh memang bukan salahnya juga kalau dia tidak tahu.
"Kalau begitu coret semua kandidat yang ini, dan cari yang lain, ingat harus ada besok, aku akan pindah kerumah baru mulai besok jadi Lisa sudah harus ada yang mengawasi"
Perintah Armand malah terdengar seperti orang yang mengajak ribut ditelinga Dean.
Enak sekali dia kalau udah nyuruh orang, lagian itu guna asisten apa coba, paling cuma buat nganterin istrinya shopping atau kesalon atau paling buat temen negrumpi dirumahnya, oh iya teman, nona kan punya teman.
"Pa, saya punya kandidat yang lain, dia masih orang kita dan cukup dekat dengan nona, untuk masalah beladiri, saya pernah baca cv nya bahwa dia sabuk hitam taekwondo" Dean teringat dengan seseorang yang memiliki kriteria yang sesuai harapan majikannya.
"Siapa yang dekat dengan Lisa? dia perempuan kan?" Armand tidak bisa menebak seseorang yang dimaksudkan Dean.
"Nona Erika, yang dari panti asuhan Kasih Ibu" Panti asuhan Kasih Ibu masih dibawah naungan Athena Corp, jadi tentu saja Erika masih bisa disebut bawahan Armand juga, terlebih dia sudah berada disana cukup lama jadi tentu saja Dean juga sudah mengetahui latar belakangnya.
"Oh yang jadi brides maid itu ya" Armand mengingat Erika sebagai pendamping Lisa saat mereka menikah, itu juga karena hanya Erika seorang yang menjadi brides maid waktu itu.
"Iya pa, saya sudah mengenalnya cukup lama, jadi saya yakin dia bisa dipercaya"
"Hubungi dia dan suruh dia menemuiku secepatnya"
"Baik pa" Ucap Dean sambil menganggukkan kepalanya, "Tapi jarak dari panti kesini lumayan jauh pa, tidak apa apa kan kalau besok saja saya membawa nona Erika"
Sekarang sudah menunjukkan pukul empat sore disana, sudah waktunya bagi karyawan biasa untuk pulang dan beristirahat, Dean juga berharap dirinya bisa ikut pulang dan menikmati kebebasannya walau hanya sejenak.
"Besok dia harus sudah ada diruanganku saat aku datang, kau tau kan aku biasa datang ke kantor jam berapa, jadi kau atur saja waktunya" Ucap Armand sambil menepuk bahu Dean
"Aku mau pulang sekarang, kau tidak perlu mengantarku biar aku bawa mobil sendiri agar kau bisa lebih leluasa menggunakan waktumu" Lanjut Armand sambil memakai kembali jas nya kemudian mengambil kunci mobil dari tangan Dean.
Dean sudah pasrah, memang beginilah nasibnya kalau menjadi karyawan luar biasa "Selamat sore pa, semoga anda selamat sampai tujuan"
"Aku yang seharusnya bilang begitu, hati hati dijalan" Sambil tersenyum miring ke arah Dean kemudian Armand meraih gagang pintu dan keluar dari ruangannya, menuju rumah lama.