
Pada akhirnya dua sejoli yang masih bisa dibilang pengantin baru itu melawatkan jam makan malam mereka untuk bermain di atas ranjang, setelah lelah bergulat selama berjam jam perut mereka kini mulai terasa perih.
KRRIIUUUKK...
"Sepertinya kali ini aku harus makan sungguhan" Ucap Armand sambil beranjak dari tempat tidur yang menjadi tempat mereka bercinta dengan Lisa yang masih berbalutkan selimut putih.
"Aku kan dari tadi udah bilang makan dulu, siapa suruh ngeyel, aku juga laper tau" Lisa ikut beringsut dari tempat tidur masih berlilitkan selimut, padahal Armand sudah tahu setiap lekuk tubuhnya tapi Lisa tetap merasa malu kalau harus berkeliaran didepan Armand tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.
"Siapa suruh juga kau buat eksperimen di dapur, coba kau biarkan Jeremi yang memasak, sudah pasti makan malam kita akan berjalan lancar sebagaimana mestinya" Armand mengambil jubah mandi dari dalam lemari dekat tempat tidur nya dan kemudian menutup tubuh kekar nya yang terekspos sempurna itu.
"Ok, mulai sekarang aku tidak akan lagi menginjakkan kaki di dapur, jangan memintaku membuatkan kopi atau teh nanti, suruh saja Jeremi!" Lisa merajuk, dia hanya ingin terlihat layaknya istri teladan yang melayani semua kebutuhan suaminya, meskipun ending nya tidak sesuai harapan.
"Hahaha, oke oke maaf sayang, aku tidak menyalahkanmu, hanya saja aku tidak mau kau melakukan sesuatu diluar kebiasaanmu, jangan menjadi orang lain hanya untuk terlihat sempurna didepanku, karena bagiku kau yang sekarang ini sudah sempurna, tetaplah jadi dirimu sendiri"
Mendengar ucapan manis dari suami nya membuat hati Lisa menghangat, debaran di dadanya berpacu semakin cepat, dan pipinya mulai menunjukkan semburat warna pink, akhir akhir ini dia memang jadi seperti anak ABG yang sedang puber kalau sudah berhadapan dengan Armand.
Lisa mendekatkan badannya ke arah Armand, dia memeluk suaminya itu dengan sebelah tangan karena yang sebelah lagi masih dia gunakan untuk memegangi selimutnya agar tidak melorot.
Lisa menempelkan kepalanya di dada bidang Armand, dia hanya memeluk tanpa mengucapkan sepatah kata, sebenarnya banyak sekali untaian kata manis dibenak Lisa yang ingin dia ucapkan sebagai rasa terimakasih nya, namun sayangnya mulutnya tak sejalan dengan pikirannya.
"Tidak usah sungkan, karena aku mencintaimu dengan seluruh hidupku" Ucap Armand yang seolah memahami arti dari kebisuan Lisa.
Lisa semakin mengeratkan pelukannya, dan akhirnya dia mngutarakan apa yang hatinya rasakan saat ini, "Aku tidak bermaksud untuk terlihat seperti wanita lain, hanya saja saat bersamamu aku menjadi serakah, aku tidak suka perasaan itu tapi apa boleh buat, aku khawatir kau akan mulai bosan dan tidak menyukaiku lagi, jadi... aku berusaha melakukan apa saja yang mungkin akan membuatmu tetap berada disisiku"
"Mmm, istri yang serakah terhadap suaminya ya? bukannya aku memang sudah menjadi milikmu seutuhnya, kau bebas meluapkan semua keserakahan mu itu, tidak perlu kau tahan tahan, semua yang ada pada diriku hanya untukmu, apa sekarang kau juga masih mau lagi? ayo sini, mari kita lakukan lagi sampai rasa serakahmu itu terpuaskan"
Armand malah menggoda Lisa, dia menarik lagi tubuh Lisa mendekati tempat tidur, tapi Lisa tidak bergeming dan malah mencubit pinggang Armand sampai yang punya pinggang itu mengaduh kesakitan.
"Dasar mesum, arah pembicaraanku itu bukan kesana, maksudku itu hatimu, H.A.T.I, aku mau memilikinya sepenuhnya, dalam jangka waktu selamanya"
Selama ini Lisa mencoba untuk tidak serakah, dia selalu membentengi hatinya agar tidak mudah jatuh pada pesona Armand, karena dia tidak tahu sampai kapan mereka bisa tetap bersama, tapi perlahan bentengnya mulai roboh, setiap sentuhan dan ucapan manis Armand mampu meruntuhkan pertahanannya secara perlahan, dan keserakahannya pun mulai timbul, kini dia tidak mau melepaskan pria dihadapannya itu, tidak ada yang boleh memisahkan mereka, apapun itu dan siapapun itu.
Seraya menangkup wajah Lisa dengan kedua tangannya, Armand mulai menempelkan bibirnya dan mengecupnya dengan lembut, kecupan singkat namun mampu mebuat aliran darah Lisa berdesir lebih kencang, tatapan mereka bertemu dan senyuman terukir dari kedua wajah yang nampak serasi itu.
Namun tiba tiba Armand mendekatkan bibirnya ketelinga Lisa,dan membisikkan sesuatu, "Tapi ingat kalau ini semua tidaklah gratis" layaknya sebuah batu yang menjatuhkan burung yang sedang terbang tinggi untuk kembali ke bumi, itulah perasaan Lisa kini saat mendengar ucapan Armand barusan.
"Jadi kau tidak tulus begitu?" Marah, itu yang terpancar dari sorot mata Lisa, lalu berasal darimana kata kata mutiaranya tadi kalau dia tidak tulus? jangan bilang kalau dia mengcopy nya dari puisi milik seniman.
"Bukannya di dunia ini memang tidak ada yang gratis sayang? give and take, aku sudah memberikan hatiku sepenuhnya untukmu, lalu apa yang harusnya kau berikan padaku? kau bahkan masih belum bisa terbuka padaku, apa kau yakin kalau kau juga bisa memberikan sepenuhnya hatimu itu?"
DEG, jadi itu tujuannya.
"Sampai kapan kau mau menyembunyikan masa lalumu itu? Aku sudah sangat siap sayang, justru sepertinya kaulah yang belum juga siap, ingat, kita ini pasangan suami istri, susah senang, suka duka, sakit maupun sehat, kita akan selalu bersama, jangan ragu untuk membagi semuanya padaku"
Benar apa yang dikatakan Armand, momen seperti apa sebenarnya yang ditunggu Lisa, sekarang atau nanti bukannya sama saja, jika setelah mendengar kisah masa lalulnya Armand memutuskan untuk berpisah dengannya apa boleh buat. Bukannya itu memang konsukuensi yang sudah diantisipasi Lisa selama ini, tapi rasanya akan sangat menyakitkan bukan? Baru saja Armand mengatakan dia sepenuhnya milik Lisa, apa mungkin hatinya akan berubah 180 derajat setelah dia mengetahui semuanya? Tidak boleh, setidaknya jangan sekarang, biarkan Armand menjadi miliknya sedikit lebih lama.
"Mmm, bagaimana kalau sekarang kita makan dulu, aku kelaparan sekarang" Lisa mencoba mengalihkan pembicaraan dan tentu saja Armand mengerti tujuan Lisa.
"Oke, ayo isi dulu perut kita, biar aku suruh Jeremi menyiapkan makan malam agar setelah kita mandi makanannya sudah siap" Armand mengambil ponselnya dan menghubungi Jeremi yang berada di lantai bawah rumahnya.
Setelah selesai memberi instruksi, Armand berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi ke arah Lisa, tentu saja dia merasa kecewa, apa lagi yang masih membuat istrinya itu bimbang? dengan semua perkataan dan perlakuannya itu masih kurang meyakinkan kah? haruskah dia membuat perjanjian hitam di atas putih bahwa hatinya tidak akan berubah apapun masa lalu Lisa?
Melihat sedikit perubahan sikap Armand sudah membuat hati Lisa berdenyut, hanya sedikit, bagaimana kalau banyak? mungkin dia akan terkena serangan jantung.
Tunggu sebentar lagi, aku harus menata dulu susunan katanya, dan mempersiapkan perisai untuk melindungi hati dan diriku.
Sebelum memasuki kamar mandi, Armand berbalik terlebih dulu kearah Lisa, "Ayo kita mandi bersama agar lebih menghemat waktu!"
"Ah, oke"