Mona*Lisa

Mona*Lisa
OTW HONEYMOON



Acara akad dan resepsi berjalan dengan lancar, semua tamu undangan mematuhi peraturan untuk menitipkan handphone mereka pada petugas keamanan sehingga foto pernikahan Armand dan Lisa tidak merembes sedikitpun ke media masa.


Bahkan para pencari berita pun tidak mencium kabar tentang pernikahan sang CEO muda dan tampan tersebut, sungguh disayangkan memang, padahal itu bisa menjadi trending topik diseluruh chanel yang ada dipelosok negeri.


Tapi tidak bagi Bram, berkat anak buahnya yang tekun mengekori Armand, dia berhasil mengetahui kabar tentang pernikahan mantan sahabatnya itu, meskipun dia tidak tahu siapa yang menjadi istri Armand.


"Sekarang tugas utamamu mencari tahu siapa istri Armand, dan saat ada kesempatan, culik istrinya itu, kita jadikan dia sebagai alat untuk mengancam Armand, HAHAHAHA" Bram tertawa jahad membayangkan ide brilian nya berhasil membuat Armand memohon padanya, dan akhirnya dia mau berinvestasi di proyek baru Bram.


"Baik Bos, tapi saya capek Bos kalo cuman sendirian, apa boleh saya bawa anak buah saya?" Tanya Jay yang sudah mulai merasa lelah pada tugas yang diberikan Bram, bayangkan selama tiga hari tiga malam dia hanya mengikuti Armand kesana kemari, bahkan tidur pun dimobil yang diparkir dekat rumah Armand.


"Emang kau dari kemarin cuma kerja sendirian? buat apa kau punya anak buah JAELANI!!" Sekarang giliran Bram yang lelah menanggapi kecerdasan anak buah kesayangannya.


"Bos kan kemarin cuma bilang 'kamu harus ngikutin Armand', ga bilang 'suruh anak buah kamu ngikutin Armand'" Ucap Jay sambil menirukan gaya biacara Bram.


"Haaa" Bram mengusap kasar wajahnya, entah memang Jay itu terlalu patuh atau terlalu lugu, tapi kata lugu untuk seorang gangster, sungguh membuat tubuh bergidik geli.


"Terserah kau saja, lakukan saja apa maumu yang penting misi ini harus berhasil"


"Siap Bos, kalo gitu saya mau minta ditemenin si Sam saja, biar ada teman ngobrol"


"Si Samsudin? bukannya dia lagi cuti pulang kampung?" Tanya Bram


"Dia balik hari ini Bos, kemarin emak nya ulang tahun jadi dia pulang ngasih kado doang terus balik lagi kesini"


"Baik juga itu si Sam, biarpun sangar tapi masih bisa berbakti sama emak nya"


Ya meskipun mereka semua gengster, tapi mereka juga manusia yang masih punya hati, meskipun cuma secuil.


"Saya pamit dulu Bos, saya dan Sam akan memesan kamar hotel disebelah tempat kamar mereka malam pertama nanti malam" Jay rela melakukan apapun itu, demi berjalannya misi suci dari Bos nya, termasuk tidur sekamar dengan seorang pria.


Dan Bram yang sudah tidak dapat berkata kata hanya memandang kepergian Jay sampai dia menghilang dibalik pintu.


***


Langit senja mengantarkan kepergian dua sejoli yang kini tengah sah sebagai suami istri itu, pesta pernikahan mereka yang private dan simpel itu hanya berlangsung selama delapan jam.


Seusai acara, pengantin baru itu langsung pergi honeymoon di sebuah pulau dalam negeri yang terkenal dengan panorama alamnya, dan sekarang mereka sedang duduk manis didalam pesawat pribadi milik Armand.


"Kenapa daritadi liat jendela terus? pandangi suamimu ini" Ucap Armand seraya memegang dagu Lisa dan memutar arah pandangannya.


"Aku lagi liat awan" Jawab Lisa simpel.


"Awan tuh ga punya bentuk, lebih bagusan juga bentukan aku" Armand mendekatkan wajahnya dengan wajah Lisa sedangkan tangannya masih menempel didagu Lisa.


"Ga usah dideket deketin gitu juga aku udah nyadar kalo kamu ganteng, aku cuma seneng aja liatin awan, bikin hati jadi tenang"


Senyum manis Lisa membangkitkan sesuatu dibalik celana Armand, perjalanan dari ibukota ketempat tujuan hanya memerlukan waktu sekitar satu setengah jam, tapi bagi Armand sudah sarasa sepuluh jam.


"Lisa" Armand memanggil nama Lisa dengan lembut.


Lisa menoleh ke sumber suara, dan langsung disambut bibir hangat Armand. Itu merupakan ciuman pertama mereka sebagai suami istri.


Lisa membalas ciuman Armand, dan itu membuat Armand semakin memanas, tangannya mulai bergeriliya kedaerah sensitif Lisa, satu tangannya menyusup kedalam blouse yang dipakai Lisa dan meremas salah satu gundukan besar milik Lisa.


Lenguhan kecil keluar dari mulut Lisa akibat aksi Armand, memancing bibir Armand menjadi semakin ganas dia mulai berpindah keleher Lisa dan meninggalkan beberapa bekas kecupan dileher putih Lisa.


"Ar, ini masih dipesawat" Lisa kini dilema, dia ingin melakukannya ditempat yang lebih pantas, tapi disatu sisi dia juga menikmatinya.


"Sebentar lagi, aku juga ga mau kita ML dipesawat" Ucap Armand tanpa menghentikan aktifitas tangan dan bibirnya.


"Tap..." Bibir Armand kembali membungkam bibir Lisa.


Setelah dirasa cukup dengan hidangan pembukanya, Armand menarik dirinya dari dekapan Lisa, mata mereka masih saling mengunci, tapi seutas senyum terukir dari wajah keduanya.


"Kita lanjut menu utamanya dikamar hotel" Armand berbisik ditelinga Lisa ditambah sebuah kecupan dipipi.


"As you wish" (Seperti yang kau inginkan)


Mereka kembali duduk di posisi masing masing dengan jari yang masih saling terkait, Lisa menyenderkan kepalanya dipundak Armand, memejamkan matanya sambil menghirup aroma khas tubuh suaminya itu.


"Tidurlah dulu, masih ada waktu setengah jam lagi sebelum kita sampai" Ucap Armand sambil menyibak rambut Lisa yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya.


"Hemm, aku memang sangat mengantuk" Lisa semakin mengeratkan tangannya dan mulai menyelam ke alam mimpi.


"Tidur yang pulas sayang, kumpulkan tenagamu sebelum pertempuran kita nanti" Sayangnya Lisa sudah tidak di alam sadar, kalau dia mendengar perkataan Armand barusan, sebuah cubitan atau pukulan kecil pasti sudah mendarat dibahu Armand.


Setengah jam berlalu, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dengan sempurna dan Lisa sudah bangun lima menit sebelum mereka sampai. Saat keluar dari pesawat Lisa terkejut dengan orang orang berseragam sama yang berjejer menyambutnya.


"Ar, bukannya mereka pegawai bandara ini? mereka berjejer disana bukan untuk menyambut kita kan?" Tanya Lisa tidak percaya, meskipun dia tahu siapa suaminya, tetap saja ini terasa berlebihan.


"Sepertinya mereka cuma mau menyambut kedatanangan Bos mereka" Secara tidak langsung Armand memberitahu Lisa bahwa dialah pemilik bandara swasta yang megah itu.


"Wah, sepertinya aku harus banyak melatih jantungku, karena sepertinya kedepannya aku akan banyak terkejut"


Hanya secuil hal yang Lisa tahu tentang Armand, orang hebat macam apa sebenarnya suaminya itu, dia memang pernah membaca profil tentang dirinya, tapi mengahadapinya secara langsung, itu sungguh diluar kendali Lisa, dia yang terbiasa hidup bersembunyi dengan berbagai identitas dan berbagai wajah, kini harus menunjukan rupa aslinya didepan publik.


Bisa dibilang perubahaan ruang lingkupnya berbeda seratus delapan puluh derajat. Kini Lisa harus mulai belajar berakting menjadi istri seorang konglomerat, beauty, graceful and elegant menjadi moto hidup baru Lisa.